
Hari yang dinanti pun tiba. Hari ini adalah hari pernikahan Aris dan Meli. Meli baru saja selesai dirias oleh perias pengantin. Sambil menunggu yang lainnya siap, Ia berdiam diri di dalam kamarnya.
Kebaya putih, dan kain batik membalut tubuh rampingnya. Sedangkan make-up dan sanggul semakin mempercantik penampilannya. Ibunya menghampiri meli yang duduk melihat keluar jendela.
"Neng, kamu sudah siap lahir dan batin?" Tanya Ibunya sambil mengusap lembut punggung Meli. Meli hanya tersenyum dan mengangguk pelan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangisnya.
"Neng, bila ini yang terbaik untukmu, Ibu ikhlas Neng."
Meli menatap Ibunya. Lalu, memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Terima kasih Bu, doakan Meli ya Bu." Ucapnya, haru.
Diluar, Aris sudah siap dengan setelan Jasnya. Dirinya terlihat sangat tampan. Semua orang menatapnya dengan terkagum-kagum.
Aris berjalan menuju mobilnya dan setelah itu ia menyalakan mesin mobilnya. Bapaknya Meli sudah duduk di dalam mobil disamping jok kemudi. Mereka sudah siap untuk berangkat ke KUA, hanya tinggal menunggu mempelai wanita beserta Ibu dan adik-adik Meli siap untuk berangkat.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Meli keluar dengan anggunnya. Aris dan orang sekitar terpana melihat paras cantik Meli. Kali ini, Meli seperti bukan Meli yang biasanya. Meli si bocah kampung yang lusuh kini menjelma menjadi seorang bidadari yang cantik rupawan.
Cukup lama Aris terpana olehnya, menikmati pesona wajah cantik Meli pada pagi ini. Meli pun, menatap Aris dengan malu. Lalu, ia menundukkan pandangannya dan beranjak mendekati mobil yang sudah siap untuk membawa mereka semua ke KUA.
"Ayo berangkat." Ucap Bapaknya Meli. Aris pun mengangguk, lalu ia duduk di balik kemudinya. Sedangkan Meli duduk di belakang, di samping ibu dan ketiga adiknya.
Berkali-kali Aris menatap Meli melalui spion tengah mobilnya. Hanya untuk melihat wajah cantik calon istrinya itu.
Lima belas menit kemudian mereka tiba di KUA. Rombongan itu pun bergegas turun dan menuju kedalam kantor tersebut. Beberapa saksi dan orang-orang terdekat keluarga Meli, sudah dari tadi menunggu mereka di KUA.
Aris dengan mantap masuk kedalam kantor KUA. Sedangkan Meli terlihat agak ragu. Dirinya masih diam mematung memandangi kantor tersebut.
"Neng, ayo.." Panggil Ibunya.
Meli menghela napasnya dalam-dalam, memastikan semua akan baik-baik saja. Lalu, ia melangkah dengan pasti.
Dihadapan penghulu, Aris dan Meli duduk berdampingan. Didepan Aris, Bapaknya meli sudah terlihat siap untuk menikahkan anaknya. Setelah kata pembuka dan nasehat-nasehat dalam dalam perkawinan disampaikan, ijab kabul pun dimulai.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Aris Suryo bin Sutrisno admojo dengan anak kandung saya Meli Andini binti Tatang Supriyatna dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai...!"
Ucap Bapaknya Meli dengan mantap.
"Bismillahirrahmanirrahim, Retno.. aku akan menikahi gadis ini atas permintaanmu. Aku harap kau akan tenang di alam sana." Gumam Aris di dalam hatinya.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Meli Andini binti Tatang Supriyatna dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai..!" Serunya dengan mantap tanpa ada kesalahan sedikitpun.
"Sah..?" Tanya penghulu kepada para saksi.
"SAH....!!!!" Seru semua orang didalam ruangan itu.
"Alhamdulillah,"
Lalu, mereka berdo'a bersama. Suasana haru menyelimuti ruangan tersebut. Ibunya Meli menangis tersedu, begitu pun juga Bapaknya Meli yang mengusap air mata yang menetes di pipi tuanya.
Meli mencium tangan suaminya dengan ragu. Beberapa kamera ponsel dengan rosolusi rendah mengambil momen tersebut. Tidak ada fotografer khusus untuk mengabadikan pernikahan mereka. Di pikiran Aris saat ini adalah, yang penting pernikahan ini berjalan dengan lancar.
Setelah menikah, mereka pulang ke rumah Meli dan mengadakan syukuran kecil-kecilan atas pernikahan mereka hari ini. Bangku-bangku plastik menghiasi halaman rumah Meli. Sedangkan beranda dan ruang tamu yang sudah rapi di bangun ulang, tersaji makanan-makanan yang disediakan untuk para tamu yang juga tetangga-tetangga sekitar rumah Meli.
...
Malam harinya, Aris masih meringkuk di atas tikar seperti biasanya. Tetapi, kali ini dirinya sepertinya sudah terbiasa dengan hal itu. Dia tertidur dengan nyaman dan mempersiapkan tenaga untuk pulang esok hari.
Pagi-pagi sekali, Aris dan Meli sudah siap untuk kembali ke Jakarta. Mereka pun, berpamitan kepada kedua orangtua Meli.
"Bu, Meli pamit dulu ya."
"Hati-hati ya Nak.." Ucap Ibunya sambil menangis tersedu-sedu.
"Iya Bu," Sahut Meli sambil mengusap air matanya.
Lalu, Meli mencium tangan dan memeluk Bapaknya.
"Kamu baik-baik disana ya Neng, kamu juga baik-baik dengan suami, hormati dia."
Pesan Bapaknya Meli membuat Aris tertunduk haru.
"Iya Pak," Ucap Meli.
Aris pun melakukan hal yang sama.
Semua orang yang melihat pun terharu.
Selama Aris di kampung Meli, kehidupannya bagaikan Artis yang selalu di amati oleh orang-orang sekitar. Mereka selalu bergerombol untuk mengawasi gerak gerik dirinya dan Meli. Awalnya Aris merasa risih, tetapi lama-lama Aris mencoba untuk masa bodoh.
Setelah berpamitan juga dengan semua orang, Aris dan Meli pun pergi meninggalkan Kampung halaman Meli.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua. Suasana menjadi kikuk dan membosankan. Perjalanan pun terasa sangat lama.
Tepat jam tiga sore, mereka sampai dirumah Aris. Disambut oleh kang Jaja dan Bik Parni yang antusias melihat kedatangan mereka berdua.
Meli memeluk Bik Parni. Lalu, menyapa Kang Jaja dengan ramah. Jaja pun tersenyum malu-malu saat Meli menyapanya.
"Duh, Neng geulis... Kang Jaja rindu setengah mati." Gumamnya sambil cengar-cengir menatap Meli.
"Jaja bantu saya." Perintah Aris yang sedang mengeluarkan tas dari bagasi mobilnya.
"Eh, iya Tuan maaf.."
Jaja pun bergegas membantu Aris untuk mengeluarkan tas dari bagasi mobil dan membawanya masuk kedalam rumah. Tas milik Aris, Jaja taruh di kamar Aris. Sedangkan tas Meli, akan di bawanya ke kamar Meli.
"Eh, tas itu taruh di kamar yang disebelah kamar saya." Ucap Aris dengan tatapannya yang tajam.
"Ini kan tasnya Neng Meli Tuan."
"Saya tahu, taruh itu di kamar sebelah kamar saya. Mulai hari ini kamar Meli di sebelah kamar saya." Ucapnya dengan lantang.
"Ba-baik Tuan."
Jaja mengangguk dan membawa tas Meli ke kamar kedua tepat di sebelah kamar Aris.
Sedangkan Meli dan Bik Parni hanya saling berpandangan.
Saat makan malam pun tiba, Aris menyuruh Jaja untuk mengumpulkan semua orang yang bekerja di rumahnya. Meli yang duduk di depannya hanya bisa menunduk dan diam tanpa sepatah kata pun. Setelah semuanya berkumpul, Aris pun langsung menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan kepada para pekerjanya itu.
"Perhatian untuk kalian semua. Sekarang Meli adalah istriku, kalian harus menghormatinya sebagaimana kalian menghormati almarhumah Nyonya Retno. Dan mulai saat ini, jangan ada yang memanggil Meli dengan sebutan Neng lagi..!"
Aris melirik Jaja dengan tatapan dingin, yang membuat Jaja menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Panggil dia Nyonya." Sambung Aris lagi.
Semua pegawainya pun, langsung saling berpandangan.
"Ya sudah sana bubar."
Semua pegawainya mengangguk dan membubarkan diri satu persatu. Sedangkan Meli tetap duduk di depan Aris dan mereka pun, makan malam bersama. Walaupun, tanpa ada sepatah kata pun, diantara mereka berdua.
.....
__ADS_1