
"Ayo kita makan." Ucap Meli kepada si kembar. Si kembar pun mengangguk, lalu menarik tangan Arya yang sedang memandang Meli.
"Ayo Ayah kita makan siang." Ucap Re kepada Arya.
Arya mengangguk lalu tersenyum kepada Re. Lalu, mereka berjalan menuju restoran di dalam mall tersebut.
Mereka memesan menu makan siang untuk keluarga. Saat mereka sedang makan Arya terus menatap Meli. Tatapan Arya membuat Meli menjadi salah tingkah. Tetapi, Meli memilih tetap berusaha terlihat biasa saja.
Mereka makan siang layaknya keluarga kecil yang bahagia. Ar dan Re terlihat sangat bahagia, karena Bunda mereka memberikan kesempatan kepada mereka untuk merasakan bagaimana mempunyai seorang Ayah.
"Bunda terima kasih." Ucap Re.
"Terima kasih untuk apa sayang?" Tanya Meli.
"Terima kasih karena sudah mempertemukan kami dengan Ayah." Ucap Re.
Meli terdiam dan menatap Arya sesaat, lalu, ia kembali menatap Re.
"Iya sayang." Jawab Meli dengan suara yang tercekat.
"Ayo kita pulang, sudah kan makannya?" Ucap Meli.
"Yahhh... Bunda, kami masih ingin bersama Ayah." Ucap Ar.
"Ayah juga mau pulang kok." Ucap Meli, sambil melirik Arya.
"Kami mau pulang bila Ayah ikut ke rumah, Bunda." Ucap Re.
Meli mengernyitkan dahinya, lalu ia menatap Re dengan seksama.
"Sayang besok boleh ketemu Ayah lagi ya, Ayah juga mau pulang ke rumahnya." Ucap Meli memberi pengertian kepada Re.
Re menekuk wajahnya, Begitu juga dengan Ar.
"Anak-anak Ayah yang pintar, turuti apa omongan Bunda ya.. Besok kita ketemu lagi. Ayah janji besok akan bermain dengan kalian, seharian pokoknya." Ucap Arya.
"Seharian?"
Meli menata Arya tak percaya. Arya hanya tersenyum melihat Meli yang sedang menatapnya.
"Baiklah Ayah." Ucap Ar dan Re.
Hari ini pertemuan mereka hanya sampai disitu. Arya kembali ke hotel nya sedangkan Meli bersama anak-anaknya kembali ke rumah.
..
"Ke mana sebenarnya Aris? Apakah ia kembali ke rumah itu ya?" Gumam Alisya.
"Aku harus mengawasi rumah Aris mulai besok." Gumam Alisya lagi.
__ADS_1
"Apa lagi yang mau Tante rencanakan?" Tanya Frans yang sedang melihat Alisya duduk merenung di ruang keluarga sendirian.
Alisya memandang Frans dengan seksama.
"Eh, Frans, duduk deh, sini sebentar." Ucap Alisya.
Frans tersenyum sinis, lalu ia duduk di depan Alisya.
"Frans, Apa kamu masih ingin memiliki Meli?" Tanya Alisya.
Frans menatap Alisya dengan tatapan yang dingin.
"Apa rencana Tante?" Tanya Frans.
"Meli sekarang sudah sendiri, Kamu sekarang bebas loh mendekati Meli." Ucap Alisya.
Frans hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Alisya.
"Jadi Tante ingin mengambinghitamkan aku lagi?" Tanya Frans.
Alisya menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Frans.
"Bu-bukan seperti itu, tetapi bila kamu ingin mendekati Meli saat ini status dia single loh." Ucap Alisya dengan alasan nya.
Frans menghela nafasnya dengan berat, lalu menatap Alisya dengan seksama.
Alisya menatap Frans dengan tidak percaya.
"Sok bijak kamu Frans." Ucap Alisya dengan kesal.
"Tante mau tetap serakah? silakan. Tetapi, lihat nanti akibatnya." Ucap Frans.
Alisya terdiam mendengar kata-kata Frans.
"Anak kecil sok tahu." Gumam Alisya.
"Eh, Frans. kamu bilang tadi Meli sudah mempunyai suami baru?" Tanya Alisya. Frans hanya tersenyum sinis menatap Alisya, Lalu lelaki itu beranjak dari sofa. dan berlalu menuju ke kamarnya.
"Suami? apakah itu Aris? Jadi Aris sudah bertemu dengan Meli..! Tidak bisa di biarkan..! Aris harus kembali kepada ku..!" Ucap Alisya, geram.
.
Frans termenung di atas ranjangnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Tantenya, Alisya. Frans menata foto Meli yang berada di layar laptopnya.
"Kasihan kamu Mel." Ucap Frans sambil mengusap-usap foto Meli di layar laptop.
"Aku minta maaf atas kesalahan aku Mel, tidak seharusnya aku melakukan hal yang justru membuatmu menderita. Maafkan rasa cinta yang berlebihan saat itu. Aku salah, ini semua terjadi karena diriku." Ucap Frans dengan raut wajah yang sedih.
"Andaikan aku masih bisa mendekatimu, aku akan mengatakan bahwa Aris masih hidup dan selama ini di sembunyikan oleh Tante Alisya.
__ADS_1
"Tetapi, aku tidak bisa mendekatimu karena aku sudah menandatangani surat perjanjian untuk menjaga jarak darimu."
"Aku tahu kamu sangat trauma karena ku. Makanya kamu menulis perjanjian itu agar aku tidak bisa mendekatimu lagi."
Tadi siang, kebetulan Frans sedang berada di mall yang sama dengan Meli. Ia melihat Meli yg sedang makan bersama dengan seorang lelaki dan anak-anak nya.
Saat itu Frans sedang mengantar mamanya berbelanja. Saat melintasi sebuah restoran di dalam Mall tersebut, tidak sengaja Frans melihat Meli. Ingin sekali ia menghampiri Meli, tetapi ia teringat dengan surat perjanjian yang sudah ia tanda tangani.
Frans pun mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih menghindari Meli daripada Meli histeris melihat dirinya. Frans kini sudah jauh berubah, enam tahun lamanya ia dipenjara, ia mulai banyak belajar tentang kebaikan.
Kehidupan penjara yang begitu keras, serta rutinitas keagamaan yang diadakan di lapas tersebut. membuat Frans semakin lebih baik.
Pengalaman yang berharga bagi Frans untuk lebih menahan diri daripada harus mengumbar emosi dan nafsu nya.
"Semoga secepatnya ini semua terungkap Mel, aku tidak bisa membantu apa-apa selain do'a yang tulus untukmu sebagai salah satu penebus dosa ku padamu." Ucap Frans.
...
Ting...ting...ting..!
Ponsel Meli berdering saat baru saja selesai menjalankan shalat Isya. Meli meraih ponselnya yang terletak di atas ranjang. Ia melihat nama Arya tertera di layar ponselnya.
"Mas Arya? ada apa dia meneleponku?" Gumam Meli.
Dengan ragu ia mengangkat panggilan dari Arya.
"Assalamualaikum Mas." Sapa Meli.
"Waalaikumsalam Mel, Maaf aku menelepon mu. Aku sudah berjanji kepada anak-anak akan bermain dengan mereka seharian esok hari. Aku rasa kamu tidak akan mengijinkan anak-anak untuk pergi sendirian tanpa dirimu. Aku juga tahu kamu harus pergi ke kantor, bagaimana bila aku saja yang datang ke rumahmu dan menemani mereka seharian. Itupun bila kamu tidak merasa keberatan." Ucap Arya.
Meli terdiam sejenak, lalu ia menghela napasnya dengan berat. Ia sadar dia tidak pernah ada untuk anak-anaknya selama ia pergi ke kantor. Lalu, Meli berpikir, tidak ada salahnya bila Arya menemani anak-anaknya di rumah. Toh ada Bik Parni dan Kang Jaja yang ikut menjaga anak-anaknya dirumah.
"I-Iya Mas, tidak apa-apa." Ucap Meli terbata-bata.
"Terima kasih Mel, bisakah kamu kirimkan aku alamat rumahmu?"
"Aku akan mengirim nya lewat pesan." Ucap Meli.
"Ok aku tunggu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Meli duduk di tepi ranjangnya saat Arya baru saja mengakhiri panggilan nya. Lalu dengan ragu, Meli mulai mengetik pesan yang berisi alamat rumahnya untuk ia kirimkan kepada Arya.
Arya tersenyum saat menerima pesan berisi alamat rumah dari Meli. Arya sengaja membuat janji kepada si kembar, agar ia bisa mengunjungi rumah Meli. Arya yakin, rumah adalah kenangan terbanyak yang dimiliki oleh manusia. Maka dari itu, ia bertekad untuk menggali kenangan di rumah Meli.
Arya merebahkan dirinya di atas ranjang hotel dengan nyaman. Dia tidak sabar menunggu pagi menjelang. Wajah Ar dan Re, terus terlintas di benaknya.
"Kalian pasti anak ku, sayangnya kita belum bisa bersama. Bunda kalian butuh pembuktian, sedangkan butuh dua minggu untuk menunggu hasil tes DNA keluar. Untuk sementara Ayah harus mencari-cari alasan untuk dapat terus dekat dengan kalian." Gumam Arya.
__ADS_1