
"Kita mau kemana Bun?" Tanya Ar dengan wajah polosnya.
Meli tersenyum menatap anak laki-lakinya itu.
"Kita mau ke restoran milik Bunda." Jawab Meli sambil mengecup puncak kepala Ar.
"Wahhh, Bunda hebat..! Bunda punya restoran di Yogyakarta..!" Ucap Re, sambil menepuk tangannya dan menatap Meli dengan terkagum-kagum.
Meli hanya tersenyum, lalu mencubit gemas pipi Re.
Meli dan anak-anak nya sudah tiba di Yogyakarta siang tadi. Setelah sampai di hotel, mereka pun beristirahat terlebih dahulu di hotel dan malam ini mereka berencana makan malam di restoran milik Meli, sekalian melihat perkembangan restoran itu.
.
"Pak, tidak pulang? kita sudah dua jam di sini Pak," Ucap Jono kepada Arya.
Arya hanya tersenyum menatap Jono, lalu ia menggelengkan kepalanya. Jono pun terdiam, ia melirik gelas kopi nya yang sudah kosong. Itu adalah gelas kopi kedua pesanan nya selama duduk di restoran itu.
"Masa harus pesan kopi lagi, saya sungkan," Ucap Jono di dalam hati.
Arya masih menatap kelap kelip lampu di seberang sana. Ia tidak ingin bertemu dengan Alisya, hal itulah yang membuat ia bertahan duduk di restoran itu.
Arya malas bila harus bertengkar terus menerus dengan Alisya, Ia jenuh dengan wanita itu. Entah mengapa, walaupun mereka suami istri, Arya merasa ada ganjalan disana. Awalnya ia mengira itu semua karena dirinya yang sedang lupa ingatan. Tetapi, setelah bertahun-tahun ia jalani, rasa cinta tidak kunjung tumbuh di dalam hatinya kepada Alisya.
Saat itulah ia mulai bertanya-tanya, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alisya, istrinya.
Terlebih saat Alisya begitu pelit atas informasi masa lalu tentang dirinya. Alisya selalu mengatakan bahwa Arya kecelakaan karena dirinya telah berselingkuh dengan wanita muda.
Arya selalu berusaha untuk mengingat wajah wanita muda yang disebut-sebut selingkuhannya oleh Alisya. Tetapi, ia benar-benar tidak mengingat apapun tentang masa lalunya. Selama ini, ia selalu merasa hidupnya penuh dengan skenario yang diceritakan oleh istrinya.
Arya benar-benar ingin keluar dari zona tidak nyaman itu.
Arya kembali memesan dua gelas kopi untuk dirinya dan Jono. Jono menggelengkan kepalanya Dan tersenyum.
"Kalau begini, bisa-bisa saya tidak tidur nanti malam Pak," Ucap Jono sambil tersenyum.
Arya pun tertawa terbahak-bahak, dan akhirnya mereka berdua pun tertawa bersama hanya gara-gara segelas kopi.
"Selamat datang Ibu, Apa kabarnya?" Sapa manager restoran alam tersebut kepada Meli.
"Terima kasih Pak Sucipto, kabar saya baik. Bapak Apa kabar?" Ucap Meli dengan ramah.
"Kabar saya baik Bu, Ibu kapan datangnya?" Tanya manager itu lagi.
__ADS_1
"Tadi siang Pak, bagaimana restorannya?"
"Semua terkendali dengan baik Bu, jangan khawatir. Sekarang Ibu mau mesan apa? biar langsung kami buatkan untuk Ibu."
"Oh iya, kami sudah siapkan tempat khusus untuk Ibu di ruangan VIP."
Sambung manager itu lagi.
"Tidak usah VIP, saya ingin duduk di sebelah sana," Ucap Meli sambil menunjuk meja kosong yang menghadap pemandangan alam.
"Oh, baik Bu, silakan."
Manager itu berjalan mendahului Meli menuju meja kosong tersebut. Setelah sampai di meja tersebut, manager itu menarik kursi untuk Meli dan anak-anak nya.
Ar dan Re dengan antusias berlari melihat pemandangan. Karena terlalu antusias, kaki Ar tersangkut di kaki kursi Arya. Hingga membuat anak laki-laki itu terjatuh tersungkur di belakang Arya.
Dengan cepat Arya menoleh ke belakang dan membantu anak laki-laki itu untuk bangun.
"Aris...!"
Meli berteriak dengan panik saat melihat anak laki-lakinya terjatuh. Dengan cepat ia menghampiri Ar, lalu Meli meminta maaf kepada lelaki yang telah membantu anaknya tersebut.
"Maaf Mas anak saya ceroboh," Ucap Meli kepada Arya.
Arya menatap wanita muda itu dengan seksama.
"Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak," Ucap Arya kepada Meli.
Meli menundukkan kepalanya dan sekali lagi mengucapkan maaf dan terima kasih.
Arya hanya tersenyum, lalu ia berjongkok dihadapan Ar.
"Jagoan tidak kenapa-napa kan?" Tanya Arya kepada Ar.
"Tidak apa-apa Om, maaf ya Om, Ar sudah menabrak kursi Om" Ucap Ar dengan sopan.
"No problem," Ucap Arya.
Aris menatap Ar dengan seksama. Entah mengapa hatinya sangat menyukai anak itu, lalu ia melirik ke arah Re. Ia pun sangat terpesona dengan wajah cantik anak perempuan itu.
"Kalian adik kakak?" Tanya Arya kepada Ar.
"Iya Om, tetapi kami seumuran dan ulang tahun kami sama," Ucap Ar dengan matanya yang berbinar-binar.
__ADS_1
"Oh kembar." Gumam Arya, yang terkagum-kagum menatap anak kembar itu.
"Iya Om." Ucap Ar dengan memberikan senyuman manisnya.
"Maaf sudah mengganggu kenyamanan nya, silakan dilanjutkan," Ucap Meli kepada Arya.
"Sayang, ayo duduk di kursi kita."
Meli menggandeng tangan Ar untuk mengikutinya.
Entah mengapa ada perasaan yang tidak biasa yang muncul secara tiba-tiba, saat Arya menatap Meli. Arya belum pernah merasakan hal itu kepada Alisya, istrinya. Perasaan itu seperti perasaan rindu, gelisah serta perasaan sedih yang mendalam.
Arya menggelengkan kepalanya, ia berusaha untuk mendapatkan akal sehatnya lagi. Tidak mungkin dia terpesona dengan wanita lain selain istrinya. Lalu, Arya kembali duduk di bangkunya. Tetapi, perasaan itu tidak mau hilang dari benaknya.
Sekali lagi ia melihat ke arah meja wanita muda dan anak-anaknya itu. Arya memperhatikan betapa cekatannya wanita muda itu saat melayani anak kembarnya. Arya pun terkagum-kagum melihat sikap keibuan wanita muda itu.
Lalu, Arya kembali melihat ke anak kembar itu wanita muda itu. Tiba-tiba saja, perasaan bahagianya muncul, rindu dan haru semakin menguasainya. Tidak terasa, air mata meleleh di pipinya. Dengan cepat Arya mengusap air matanya.
"Apakah aku punya hubungan masa lalu dengan mereka? Apakah wanita muda ini adikku? Apakah anak-anak itu keponakanku? Apakah.... ah..tidak..! Tidak mungkin dia lupa dengan wajahku bila kami mempunyai hubungan keluarga," Ucap Arya di dalam hatinya.
"Jon, kita tukar tempat duduk."
Arya beranjak dari kursinya, lalu ia menyuruh Jono duduk di kursinya. Arya berpindah kursi hanya demi bisa melihat keluarga kecil itu tanpa harus menoleh kebelakang.
Jono hanya mengaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia pun duduk di kursi Arya sambil menatap majikan nya itu dengan tatapan yang bingung.
"Masa iya Pak Arya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Mama muda itu?" Gumam Jono
Lalu, ia tersenyum geli saat melihat sikap Arya yang begitu antusias melihat keluarga kecil itu.
Arya terlihat begitu gelisah, hingga akhirnya ia tidak mampu membendung perasaannya. Ia pun memutuskan untuk menghampiri meja wanita itu, lalu menyapa wanita itu dan anak-anak nya.
Arya tahu perbuatan nya itu tidak lah pantas dan mengganggu bagi wanita itu. Tetapi, ia sama sekali tidak bisa menguasai dirinya. Perasaan itu begitu dahsyat mendorongnya untuk berkenalan dengan keluarga kecil itu.
Bukan karena kecantikan wanita itu, bukan pula karena anak-anak wanita itu. Tetapi, karena rasa bahagia yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Selama ia bangun dari koma nya, karena kecelakaan yang membuat nya lupa ingatan dan menjalani hidup baru dengan istrinya. Selama itu pula ia tidak pernah merasakan kebahagiaan.
Melihat keluarga kecil itu membuat ia hidup kembali. Ia ingin mengenal keluarga kecil itu secara pribadi.
"Permisi, nama saya Arya."
Arya mengulurkan tangannya ke hadapan Meli. Meli yang sedang bercanda dengan anak-anak, menoleh dan menatap Arya dengan kening yang berkerut.
Arya tersenyum dengan manis saat menatap Meli. Ia tidak peduli dengan apa yang di pikirkan oleh wanita itu.
__ADS_1
Ia hanya ingin kenal, dan dapat bermain dengan anak-anak dari wanita itu.