Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 79. Perjalanan ke Bandung


__ADS_3

"Permisi Mas, apa ini rumahnya Bapak Aris dan Ibu Meli?"


Tanya Jono kepada Tejo yang sedang berjaga di pos gerbang depan rumah Aris dan Meli. Tejo memperhatikan Jono dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.


"Iya betul, Anda siapa ya? Meminta sumbangan? Maaf tidak ada." Ucap Tejo dengan gaya sombongnya.


Jono hanya tersenyum dengan ramah, lalu ia menunjukkan fotonya dengan Aris.


"Saya mantan sopirnya Bapak Aris, saya dipanggil Bapak Aris untuk datang ke sini. Untuk menjadi supir pribadinya lagi Mas." Terang Jono.


Tejo memperhatikan foto dari ponsel Jono lalu ia membandingkan wajah Jono di dalam foto tersebut, dengan wajah Jono yang asli.


"Loh kok beda, yang di foto bersih yang ini butek." Ucap Tejo.


"Hehehe, iya Mas. Saya pakai filter biar mulus, tak kalah mulus nya sama Bapak Aris." Ucap Jono, tersipu malu.


"Owalah gayamu, yo wes masuk." Ucap Tejo sambil membukakan pintu gerbang untuk Jono.


Jono hanya tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yo wes masok, temui Bapak sana Bapak ada di dalam." Ucap Tejo lagi.


"Ngeh Mas, matur nuwun." Ucap Jono sambil membungkukkan badan nya.


"Iyo." Jawab Tejo, acuh tak acuh.


Ting...tong..ting...tong...!


Bunyi bell dari pintu depan rumah Meli dan Aris berbunyi. Dengan tergesa-gesa Surti menuju ke arah pintu depan rumah. Lalu, ia membuka pintu dengan perlahan.


Surti menatap wajah Jono yang tersenyum ramah kepadanya.


"Assalamualaikum, perkenalkan saya Jono." Ucap Jono kepada Surti.


Surti terperangah menatap wajah Jono yang agak mirip dengan Lee min ho, tetapi versi Jawanya.


"Saya ingin bertemu dengan Bapak Aris dan Ibu Meli. Apakah mereka ada di rumah Mbak?" Tanya Jono.


Surti masih diam saja menatap wajah tampan Jono.


"Mbak..." Jono melambaikan tangannya kedepan wajah Surti.


"Ah iya pujaan hati Surti, monggo masuk. Biar Surti panggilkan Tuan Aris." Ucap Surti.


"Pujaan hati?" Gumam Jono sambil mengernyitkan dahinya.


"Ngeh mbak, terima kasih." Ucap Jono dengan sopan.


Surti pun bergegas ke halaman belakang untuk memanggil Aris.


"Tuan, ada Oppa Korea berkulit agak gelap mencari Tuan." Ucap Surti kepada Aris yang sedang duduk bercengkrama dengan Meli.


"Oppa Korea?" Tanya Aris, bingung.


"Iya Tuan."


"Nama nya siapa?" Tanya Meli kepada Surti.

__ADS_1


"Jono kalau tidak salah Nyah." Ucap Surti dengan polos.


"Ya ampun, pakai segala oppa Korea." Ucap Aris, lalu Meli dan Aris tertawa geli, yang membuat Surti menjadi salah tingkah.


"Ya sudah, kamu buatkan minum dan sediakan makan siang untuk kita ya."


"Baik Tuan"


Surti pun bergegas menuju dapur. Aris dan Meli kembali saling berpandangan lalu mereka pun kembali tertawa geli.


.


"Wah, sudah datang kamu Jon."


Sapa Aris saat melihat Jono yang duduk di ruang tamu rumah nya. Jono pun berdiri menyambut Aris yang baru saja muncul di ruangan itu.


"Pak, Bu, apa kabar?"


Sapa Jono lalu ia mencium tangan Aris, dan menyalami Meli. Tanda hormat nya kepada orang yang lebih tua darinya.


"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar? Saya kangen loh sama kamu." Ucap Aris seperti bertemu dengan sahabat lama nya.


"Saya juga kangen sama Bapak." Ucap Jono malu-malu.


Surti muncul dari arah dapur membawa sebuah nampan yang berisi minuman untuk majikannya dan Jono.


"Monggo Tuan, Mas."


Surti mempersilahkan majikannya dan Jono.


"Terima kasih mbak Surti." Ucap Jono dengan ramah.


"Tadi kan mbak Surti menyebutkan nama mbak waktu di depan." Ucap Jono dengan polos.


"Wah, benar-benar may putur husben ini." Gumam Surti sambil tersenyum-senyum malu.


"Ya sudah, Surti mau memasak dengan cinta dulu. Permisi." Ucap Surti sambil mesem-mesem.


Aris dan Meli hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa, melihat tingkah Surti.


"Bikkkkk, ada may putur husben..!" Ucap Surti saat bertemu Bik Parni di lorong belakang, kamar mereka.


"Eleh..eleh...kamu kenapa Sur?" Tanya Bik Parni.


"Ada may putur hasben Bik..!" Ucap Surti lagi dengan semringah.


"Hedehhhh, kamu sudah mirip dengan Kang Jaja, pakai bahasa linggis segala."


"Ingris Bik bukan linggis." Ucap Surti, kesal.


"Ya, apa saja lah..!" Ucap Bik Parni kesal, sambil berlalu menuju dapur.


"Ganteng nya mantap Bik, Surti langsung paling in lope." Ucap Surti dengan semringah.


Bik Parni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Surti.


"Oh kang Jono. aku padamu..!" Ucap Surti sambil menyenderkan punggungnya di samping kulkas.

__ADS_1


Trettttt...!


"Duh, kok rasanya kok seperti kesetrum gini ya bila jatuh cinta sama Mas-Mas rasa Oppa." Ucap Surti, lalu ia kembali menyenderkan punggung nya di samping kulkas.


Tretttt..!


"Tuh kan, rasa nya seperti kesetrum..! Ucap Surti lagi.


Bik Parni menghampiri Surti lalu menekan jari telunjuk nya di dahi Surti.


"Kamu itu memang lagi kesetrum kulkas..!" Ucap Bik Parni yang kesal melihat kepolosan Surti.


"Oh, Surti kira begini rasanya jatuh cinta sama Oppa-oppa." Ucap Surti sambil tersenyum-senyum malu.


"Borokokok sia..!" Ucap Bik Parni, sambil membuka pintu kulkas untuk mengambil sayuran di dalam kulkas.


...


"Pak, mobil nya sudah siap." Ucap Jono yang hari ini sudah mulai bekerja untuk Aris.


"Terima kasih Jon, kamu semakin tampan saja sekarang." Puji Aris saat melihat Jono mengenakan seragam supir nya.


"Ah, Bapak bisa saja." Ucap Jono sambil tersipu malu.


Meli dan si kembar berjalan menghampiri Aris dan Jono. Sedangkan di belakang mereka terlihat Surti yang sedang menarik koper milik Ar dan Re.


"Sudah siap?" Tanya Aris kepada Meli.


"Sudah Mas." Sahut Meli, sambil tersenyum.


"Pagi Om Jono." Sapa Ar dan Re.


"Pagi anak-anak pintar." Sahut Jono sambil membungkukkan tubuhnya.


"Anak-anak Ayah sudah siap?" Tanya Aris kepada Ar dan Re.


"Siap Ayah..!" Seru Ar dan Re.


"Ok...kita berangkat ke Bandung."


"Yeayyyy...!"


Seru si kembar dengan bersemangat. Lalu, mereka pun berangkat ke Bandung bersama Jono yang menyetir mobil untuk keluarga kecil itu.


Sebelum Aris dan keluarganya berangkat ke Bandung, Aris sudah terlebih dahulu menyuruh asistennya mencari tahu tentang keluarga dan alamat rumah lelaki yang ikut kecelakaan bersama dirinya waktu itu.


Karena Aris masih mengingat lokasi yang menjadi tujuan lelaki itu dengan jelas, maka keluarga lelaki itu sangat gampang di temui oleh asisten Aris. Tentunya atas bantuan dan informasi para warga.


"Mas, aku kok deg degan ya." Ucap Meli saat mereka baru saja berada di jalan tol ke arah Bandung. Aris menggenggam tangan Meli lalu tersenyum kepada Meli.


"Semoga mereka menerima kita dengan baik, maksud dan tujuan kita baik." Ucap Aris mencoba menenangkan Meli.


Meli mengangguk dengan ragu. Lalu, ia menyenderkan kepalanya di bahu Aris.


"Ih, Bunda sama Ayah nempel terus..!" Protes Ar dan Re.


Aris pun tertawa mendengar ucapan anak-anak nya.

__ADS_1


"Iya dong." Ucap Aris sambil mengedipkan matanya.


Ar dan Re pun menatap mereka dengan sebal. Meli dan Aris pun tertawa geli melihat ekspresi wajah anak-anaknya.


__ADS_2