Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 35. Rencana apa lagi?


__ADS_3

Tok Tok Tok..!


"Ya,"


Sahut Meli yang sedang mengerjakan tugas nya di kamar. Bik Parni membuka pintu kamar dan mengatakan ada seseorang yang mencari Meli. Meli mengeryitkan dahinya, baru kali ini ada seseorang yang mencari dirinya.


"Siapa Bik?" Tanya Meli kepada Bik Parni.


"Ibu Alisya Neng,"


Meli terhenyak saat dirinya mendengar nama Alisya.


"Loh, bukan nya dia di penjara?" Tanya Meli di dalam hati.


"Ya sudah Bik, aku temui sekarang. Suruh dia duduk di ruang tamu ya Bik," Ucap Meli, lalu ia bersiap-siap untuk menemui Alisya.


Alisya menyapu pandangan nya di sekeliling ruang tamu. Ia merasa takjub dengan kediaman mantan pacar nya itu.


"Hhhmmm, andaikan aku yang menjadi istrinya Aris." Gumamnya.


"Ada apa?" Tanya Meli yang baru saja muncul di ruang tamu.


Alisya menatap Meli, lalu ia tersenyum culas.


"Aku mau bicara," Ucap Alisya. Lalu ia duduk di depan Meli.


"Silahkan,"


Meli mempersilahkan wanita itu untuk berbicara kepadanya. Mata Meli terlihat cemburu kepada Alisya.


"Kamu tahu mengapa Aris membiarkan aku bebas? karena dia masih mencintai ku," Ucap Alisya dengan senyuman sinis nya.


"Oh ya? cinta? oh.. luar biasa," Ucap Meli sambil tersenyum hambar.


Alisya tampak tak suka saat melihat ekspresi Meli yang biasa saja saat ia berusaha membuat Meli cemburu.


"Oh iya, aku baru tahu kamu itu hanya pembantu ya? yang di wasiat kan untuk menikah dengan Aris. Sadar lah, kamu tidak pantas untuk Aris. Level kalian berbeda jauh. Aku lah yang pantas dengan nya. Lepaskan lah Aris, maka ia akan bahagia. Jangan membuat Aris terikat dengan hubungan yang hanya di wasiatkan seperti ini. Apa kamu tahu dia benar-benar mencintai mu atau tidak? Atau.... dia hanya terpaksa menikahi kamu." Ucap Alisya dengan tersenyum sinis.


Meli terkejut saat mendengar ucapan Alisya. Ia tidak menyangka bila Alisya tahu siapa dirinya dan asal nya.

__ADS_1


Mata Meli mulai memerah menahan amarah.


"Lalu, apa yang membuat Tante pantas buat Mas Aris? Apakah Tante juga yakin Mas Aris berminat dengan Tante?"


Pertanyaan Meli membuat telinga Alisya terasa panas.


"Begini Meli, kamu lebih baik dengan keponakan ku Frans. Usia kalian se-umur dan pantas untuk bersanding.


Sedangkan kamu dan Aris tidak pantas. Aris orang kaya, kamu orang miskin. Aris sudah sangat dewasa, dan kamu masih anak-anak loh," Ucap Alisya lagi.


"Urusan hidup saya mengapa anda yang mengatur nya Tante? Tante tidak malu? Tante sudah tua, tetapi pikiran Tante sungguh kekanak-kanakan sekali. Tidak sesuai umur loh Tante. Terus, apa Tante pikir saya minat dengan keponakan Tante itu? saya tidak berminat, maaf. Aris suami saya, dia pun tidak berminat dengan Tante. Jadi, tahu diri lah Tante," Ucap Meli dengan tenang.


Entah mengapa kali ini Meli bisa berbicara seperti itu. Tampaknya Meli sungguh cepat belajar untuk pantas mendampingi Aris.


"Kamu ini kurang ajar..!" Ucap Alisya.


Wanita itu berdiri dari duduk nya dan hendak menampar pipi Meli. Dengan cepat Meli menahan tangan Alisya.


"Hati-hati untuk menampar wanita yang lebih muda Tante, karena bila di balas, tenaga Tante tidak akan bisa melawan wanita yang lebih muda. Karena Tante sudah tua," Ucap Meli sambil tersenyum manis.


Lalu, Meli menghempaskan tangan Alisya dengan kasar.


"Kamu bocah kurang ajar..!!! Lihat nanti balasan yang akan kamu terima..!!!! Kamu akan tercampak dari rumah ini dan saya yang akan menjadi istri nya Aris. Paham?" Ucap Alisya dengan penuh dendam.


Meli hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Apa pun rencana Tante, silahkan lakukan. Hal itu tidak akan bisa memisahkan saya dengan Mas Aris, kecuali Tuhan memang berkehendak," Ucap Meli.


Alisya mengepal kedua tangannya, lalu ia beranjak pergi dari rumah itu.


Meli tercenung di atas sofa. Jantung nya berdebar kencang, lutut nya terasa lemas, tangan nya gemetar.


Ia tidak menyangka dapat melawan wanita itu. Walaupun ia merasa puas karena dapat melawan Alisya, tetapi ia merasa khawatir bila Alisya akan berbuat lebih nekat lagi.


Meli hanya berdoa, agar dirinya dan Aris terhindar dari rencana jahat Alisya. Meli tidak pernah menyangka, ada orang yang senekat itu dan seobsesi itu terhadap seorang lelaki.


Meli menghela napas panjang, ia mencoba menenangkan dirinya. Lalu, Meli kembali ke kamar dan kembali menyelesaikan tugas kuliahnya.


Alisya membanting pintu mobilnya, saat ia baru saja masuk kedalam mobil. Ia mengumpat dan mengutuk Meli sejadi-jadinya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan lagi untuk mengusir Meli dari hidup Aris. Emosinya tidak tertahankan, lalu wanita itu memukul keras kemudinya.

__ADS_1


"Sialan...!!!!!!" Umpat nya.


"Dia pikir dia siapa? Meli kamu cuma pembantu, aku saja yang terlambat bertemu Aris lagi. Kamu hanya beruntung saat ini, tetapi tidak untuk kedepan nya. Kamu lihat saja, kamu akan terusir dari rumah dalam waktu dekat ini. Jangan sombong kamu Meli..!!!!!!!" Gumam Alisya, lalu dengan perasaan dendam, ia pergi meninggalkan kediaman Aris dan Meli.


*


Meli sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya, Untuk mendaftar ulang kuliahnya. Saat ini ia baru saja naik semester, dengan IPK yang lumayan tinggi.


Meli mengendarai mobilnya dengan berhati-hati. Setelah ia selesai mengurus semua keperluannya, seperti biasa, Meli duduk bersama Lastri sahabat karib nya. Mereka bercanda dan bercerita tentang banyak hal yang membuat mereka tertawa bersama.


Lastri adalah anak tunggal, ia bahagia sekali dekat dengan Meli. Walaupun mereka seusia, tetapi Lastri kerap menganggap Meli adalah kakak nya. Pembawaan Meli yang dewasa, di tambah Meli yang sudah menikah. Cukup membuat Lastri merasa Meli jauh lebih dewasa darinya.


"Eh, sebentar ya, gue baru ingat, gue mau ketemu sama Bu Shopia dulu. Gue ada ulangan Her nih," Ucap Lastri di sela-sela obrolan mereka.


Meli pun hanya mengangguk dan membiarkan Lastri meninggalkan dirinya sendirian.


Saat itu kampus lumayan sepi. Meli hanya duduk sendiri di bawah pohon di belakang gedung Fakultas nya. Meli tenggelam dengan Novel yang ia baca di tangan nya. Sambil menunggu Lestari yang sedang ujian Her.


Tiba-tiba saja Frans memeluk Meli dari belakang dengan mesra. Meli terkejut saat Frans melakukan hal itu kepadanya. Meli pun membalikan badannya dan menampar keras pipi Frans.


PLAKKKKK..!


"Kurang ajar kamu ya..!" Hardik Meli kepada Frans. Lelaki itu hanya tersenyum kepada Meli.


"Lagi apa sayang?" Tanya Frans mencoba tidak peduli dengan amarah Meli.


"Pergi kamu..! dasar gila..!" Hardik Meli.


"Ok, ok.. aku pergi. Sampai jumpa lagi ya manis," Ucap Frans, sambil mencium kening Meli dengan cepat tanpa bisa di elakkan oleh Meli.


Lelaki itu beranjak pergi dari hadapan Meli. Meli menahan emosinya kepada Frans, ingin sekali ia berteriak memaki Frans. Tetapi, hal itu percuma, ia merasa hanya membuat keributan di sana.


"Bagaimana? Coba gue liat fotonya, meyakinkan atau tidak?" Tanya Frans kepada Andika temannya.


"Aman Bro, meyakinkan banget kok. Nih lu lihat sendiri Foto nya," Ucap Andika sambil memberikan ponselnya kepada Frans.


Frans melihat foto-foto yang di ambil oleh Andika. Keren Bro.., thank you ya..!" Ucap Frans dengan puas.


"Tapi gila lu Bro, kalau dia pisah sama suaminya bagaimana?"

__ADS_1


"Itu yang gue mau Bro" Ucap Frans sambil tersenyum penuh arti.


__ADS_2