
"Anak-anak kita sudah sampai."
Meli membangunkan Ar dan Re yang terlelap di pelukannya. Meli mengecup puncak kepala kedua anaknya, lalu membelai lembut kening menggeser tubuhnya yang menjadi sandaran Ar dan Re.
"Hmmmm.. kita sudah sampai di rumah Ayah ya Bun?" Tanya Ar sambil mengusap kedua matanya.
"Sudah sayang," Ucap Meli, lalu ia mengajak anak-anak nya untuk turun dari mobil setelah supir membukakan pintu mobil untuk Meli dan kedua anaknya.
Mereka berjalan menyusuri komplek pemakaman itu, lalu langkah kaki Meli, Ar dan Re berhenti di sebuah makam yang bertuliskan nama lelaki yang Meli cintai itu.
"Mas, aku datang," Ucap Meli dengan suara yang lirih.
Angin bertiup kencang seakan Aris menyambut kedatangan Meli dan anak-anak mereka.
"Assalamualaikum Ayah, Ar membawakan bunga cantik untuk Ayah. Selamat ulang tahun Ayah, semoga Ayah bahagia di surga." Ucap Ar dengan wajah polos nya.
"Assalamualaikum Ayah, Re juga membawakan bunga untuk Ayah. Ini bunga pilihan Re loh Ayah, semoga Ayah suka ya. Selamat ulang tahun Ayah." Ucap Re dengan mimik wajah yang gembira.
Dada Meli terasa sesak saat melihat anak-anak mengucapkan ulang tahun kepada Aris yang sudah beristirahat di alam sana.
Kini, mereka hanya bisa melihat gundukan tanah yang mengubur jasad Aris beberapa meter di dalam sana. Kedua anak Meli meletakan buket bunga itu di atas kepala kuburan Aris. Sedangkan Meli duduk di bebatuan di samping kuburan Aris.
"Mas, terimakasih atas buah cinta dari mu. Berkat Ar dan Re, aku tidak merasa kesepian setelah kepergian dirimu." Ucap Meli lirih, sambil mencabut beberapa rumput liar yang tumbuh di atas kuburan Aris.
"Maafkan segala kesalahanku ya Mas."
Meli pun mulai menangis tersedu-sedu. Ar dan Re menatap Meli dengan wajah iba. Lalu, mereka berdua memeluk Bunda nya dengan erat.
"Bunda kenapa menangis?" Tanya Ar dan Re.
"Bunda tidak apa-apa sayang, Bunda hanya rindu dengan Ayah," Ucap Meli, ia berusaha tegar dan menghapus air matanya dengan perlahan.
"Kami juga rindu dengan Ayah."
Degg..!!
Hati Meli semakin terasa sakit mendengar ucapan dari bibir mungil Re.
"Maafkan Bunda ya anak-anak Bunda," Ucap Meli, ia pun kembali menangis di pelukan anak kembarnya.
Setelah sedikit tenang, Meli pun menghampiri kuburan yang berada di sebelah kuburan milik Aris. Ia pun duduk bersimpuh di samping kuburan itu.
"Nyonya Retno, terimakasih atas wasiat cinta nya. Berkat nyonya, Meli kini mempunyai anak-anak yang cantik dan tampan dari Mas Aris. Mas Aris adalah lelaki yang penyayang dan hebat. Meli bahagia bersamanya. Tetapi, Meli mohon maaf Nyonya. Karena Meli juga kecelakaan itu terjadi sehingga menyebabkan Mas Aris meninggal dunia. Meli berharap, Nyonya kelak kembali bersama di alam sana bersama Mas Aris." Ucap Meli sambil menaruh buket bunga yang ia beli untuk Retno.
__ADS_1
Setiap Meli mengunjungi makam Aris dan Retno, ia selalu mengulangi kata-kata yang sama sebagai bentuk penyesalan dirinya terhadap apa yang sudah terjadi.
Meli dan anak-anak nya pun berdo'a bersama di antara makam Aris dan Retno. Setelah selesai berdo'a bersama, mereka menebarkan bunga di atas makam Aris dan Retno.
Setelah itu Meli menaruh kartu ucapan nya di atas kuburan Aris. Kartu ucapan berwarna putih bersih dengan corak bunga dan gambar hati di sampulnya.
Di dalam kartu ucapan itu sudah tertulis isi hati Meli.
Untuk mu yang tersayang, Aris Suryo.
Selamat ulang tahun suami ku, walaupun kita berpisah fisik, tetapi kita tidak akan pernah terpisah secara batin.
Di hari ulang tahun mu ini, aku hanya ingin mengucapkan. Terima kasih atas cinta mu selama ini, dan terima kasih atas kehadiran anak-anak yang selalu membuat ku merasa, kamu selalu ada di sisi ku dalam keadaan apa pun.
Mas, kamu adalah cinta pertama dan terakhir ku. Hidup ku hanya untuk anak-anak kita saat ini. Aku ingin suatu saat aku pun tertidur di samping mu. Aku sudah membeli sebidang tanah tepat di sisi peristirahatan mu. Agar aku bisa dekat dengan mu saat aku menutup mata nanti.
Dengan sepenuh cinta ku.
Meli, istri mu.
"Aris, Retno.. Ayo kita pulang, sepertinya hari ini mau hujan lebat," Ucap Meli kepada kedua anak nya.
"Iya Bunda."
"Mas, Nyonya Retno, kami pulang dulu ya." Ucap Meli.
Matanya menatap kosong ke arah kuburan dua orang yang sangat ia sayangi itu. Lalu, ia melangkah meninggalkan komplek pemakaman umum tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang, Meli terus mendekap kedua anak-anak nya. Lalu, ia menghela napasnya dengan berat. Ia harus melanjutkan hidup dengan baik demi kedua anak nya. Walaupun berat baginya menjadi orang tua tunggal yang bertekad mendedikasikan sisa hidup nya hanya untuk anak-anak nya.
...
"Neng, Bibik mau ngomong Neng."
Bik Parni dan Kang Jaja berdiri di samping sofa ruang keluarga saat Meli sedang sibuk dengan laptopnya.
Meli menatap Bik Parni dan Kang Jaja dengan seksama, lalu ia tersenyum dan mempersilahkan Bik Parni dan Kang Jaja duduk di hadapannya.
"Mau ngomong apa Bik?" Ucap Meli sambil menutup laptopnya.
"Begini Neng, Bibik dan Kang Jaja mau pulang Kampung." Ucap Bik Parni dengan ragu.
"Loh, ada apa Bik? Kang? Apa Meli berbuat kesalahan kepada Bibik dan Kang Jaja?" Tanya Meli dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Bukan Neng.. tidak ada kesalahan kok, selama ini justru Neng Meli memperlakukan kami begitu baik," Ucap Kang Jaja.
"Terus, kenapa pulang kampung Bik? Kang?" Tanya Meli lagi.
"Anu Neng... Anu.."
"Anu apa Bik?" Tanya Meli penasaran.
"Begini Neng, Bibik dengan Kang Jaja mau menikah."
Meli terbelalak menatap Bik Parni dan Kang Jaja.
"Hah...!!!!!!"
Kang Jaja dan Bik Parni pun saling berpandangan saat melihat reaksi Meli.
Meli pun mulai tersenyum dan menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya.
"Iya Neng, kita mau menikah." Bik Parni mengulangi ucapannya dengan malu-malu.
"Ya ampun, selamat ya Bik, Kang...." Ucap Meli sambil menatap kedua orang yang ia sayangi itu dengan mata yang berbinar.
"Terima kasih, Neng, " Ucap Kang Jaja dan Bik Parni.
"Begini saja, dari pada acara nikahan nya di Kampung, biar kita panggil saja keluarga yang di Kampung untuk datang kesini." Ucap Meli dengan bersemangat.
"Kita tidak punya uang sebanyak itu Neng, bila memanggil keluarga semua untuk datang ke Jakarta." Ucap Bik Parni.
Meli memandang Bik Parni dan Kang Jaja dengan seksama.
"Bik, Kang, Meli bahagia sekali bila Bibik dan Kang Jaja bahagia. Menikahlah disini, biar Meli yang mempersiapkan semuanya ya." Ucap Meli dengan tatapan mata yang tulus.
"Bibik gak enak Neng," Ucap Bik Parni.
"Bik, Kang, kita keluarga."
Meli menatap Kang Jaja dan Bik Parni.
Mereka pun menjadi terharu dengan kebaikan Meli.
"Terimabkasih Neng." Ucap Kang Jaja dan Bik Parni.
Lalu Bik Parni memeluk Meli dengan haru. Sedangkan Jaja hanya mampu mengusap tangis haru nya dan menatap Meli dengan rasa syukur.
__ADS_1