
"Kita sudah sampai, turun kan dia..!"
Meli terbangun dari tidurnya dan merasa lengan nya di tarik oleh seseorang dan di tuntun turun dari mobil itu.
Suara binatang malam memecah keheningan malam. Bau tanah yang menyeruak hidung Meli yang matanya masih tertutup kain pun, mengingatkan dirinya pada Kampung halaman nya.
Meli begitu yakin bila dirinya kini berada di sebuah perkampungan yang jauh dari rumahnya. Meli mulai meronta-ronta, tetapi, cengkraman keras di lengannya membuat ia tak berdaya.
Meli di bawa masuk ke sebuah rumah yang dapat Meli rasakan kehangatannya. Meli merasa itu bukan lah rumah biasa, melainkan sebuah Villa.
"Taruh dia di kamar, dan jaga dia."
Perintah seorang lelaki yang suaranya terdengar tak asing bagi Meli.
Meli di bawa masuk kedalam sebuah kamar, lalu kain di mata dan mulutnya di buka oleh seseorang. Saat matanya terbuka, Meli menatap dua orang bodyguard itu dengan sinis.
"Siapa yang menyuruh kalian..!" Tanya Meli dengan tak bersahabat.
"Diam disini, jangan berani macam-macam kepada kami..!" Bentak lelaki bertubuh tegap itu.
Meli pun merasa gentar, ia sadar betul dirinya tidak akan bisa melawan satu saja lelaki di antara keduanya, apa lagi harus menghadapi dua orang yang bertubuh tegap itu.
Dua lelaki itu meninggalkan Meli sendirian di dalam kamar yang mewah itu. Meli pun langsung mencari cara untuk keluar dari sana. Ia melihat ada jendela kayu di sana, ia pun berusaha membuka jendela itu. Tetapi apa daya, jendela itu pun sepertinya sudah di paku dari luar agar mencegah dirinya untuk pergi.
*
"Ja, kok Meli belum pulang ya?"
"Saya juga tidak tahu Tuan" Jawab Jaja.
Aris mulai gelisah, ia beranjak dari duduk nya dan mengambil kunci mobil dan lalu Ia pun pergi ke kampus untuk menyusul Meli.
Setibanya di kampus, Aris melihat suasana kampus begitu gelap. Gerbang pun sudah di kunci, karena sudah lewat tengah malam. Aris menjadi panik saat ia mengintip dari sela pagar bahwa mobil Meli masih berada di parkiran. Ia pun memaksa penjaga gerbang untuk mengecek keberadaan Meli di dalam kampus.
Pencarian pun di lakukan, menurut satpam kampus pun sejak dari tadi mereka sudah mencari pemilik dari mobil yang terparkir di sana. Tetapi, setelah di cari-cari, tidak ada seorangpun yang berada di dalam kampus. Tetapi demi membunuh rasa penasaran Aris, para penjaga kampus pun melakukan pencarian ulang.
Pukul tiga malam, Aris dan para penjaga pun menyerah. Meli memang tidak sedang berada di kampus, yang ada hanya mobilnya saja dengan ban yang kempis.
__ADS_1
Aris tidak mau membuang-buang waktu lagi, ia pun pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan Meli.
..
Meli membuka matanya saat dirinya mendengar adzan subuh yang berkumandang samar di telinganya. Meli merasa Villa ini memang jauh dari rumah penduduk atau sangat luas.
Meli beranjak dari ranjang nya lalu ia mencoba menggedor-gedor pintu kamar itu dari dalam.
"Bukaaaa....!!!!"
Meli berteriak sekuat tenaga. Tetapi, berapa kali pun ia mencoba berteriak untuk meminta di bukakan pintu, tidak ada seorang pun yang mau menanggapinya.
Meli pun menyerah, ia menyenderkan tubuhnya di daun pintu dan duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Meli mulai menangis dan berdo'a untuk keselamatan dirinya.
"Siapa yang tega berbuat seperti ini kepada ku" Ucap Meli lirih.
Meli melihat kesekeliling kamar itu. Di kamar itu semua fasilitas sangat lengkap. Kamar mandi di dalam dan pemanas air untuk mandi dan membuat minuman. Meli beranjak dari duduk nya, lalu ia membuat segelas teh hangat untuk mengusir rasa dingin yang begitu menusuk tulangnya.
Walaupun sudah membuat dan menyeruput teh nya, Meli tetap kedinginan, hingga ia menggigil. Ia kembali naik ke atas ranjang dan meringkuk di balik selimut.
Polisi pun bergerak mencari keberadaan Meli. Termasuk mengecek CCTV di parkiran kampus. Tetapi, keberuntungan tidak berpihak kepada Aris. CCTV itu rusak dan tidak bisa merekam kejadian bagaimana menghilangnya Meli.
Akhirnya Aris pun pulang saat hari mulai beranjak siang. Ia pulang untuk beristirahat sejenak, sambil menunggu kabar dari petugas. Di kamar, Aris mulai berpikir, apakah kejadian ini ada hubungan nya dengan Alisya?
Ia pun mencoba menghubungi Alisya untuk menanyakan keberadaan Meli.
Cukup lama, akhirnya Alisya mengangkat telepon dari Aris.
"Halo Aris" Sapa Alisya dengan suara yang manja.
"Kamu jangan main-main ya sama aku..!!!" Bentak Aris tanpa berbasa basi.
"Maaf, maksud mu apa ya Ris?" Tanya Alisya, yang merasa kebingungan saat Aris marah-marah kepadanya.
"Dimana Meli..!!! Dimana Istriku..!!!" Tanya Aris dengan suara yang lantang.
"Loh, kok bertanya dengan ku? Aku tidak tahu. Bukannya dia istrimu?" Jawab Alisya.
__ADS_1
"Jangan pura-pura tidak tahu kamu ya Lis..!!!! Atau aku akan kasih kamu pelajaran..!!!! kesabaran ku sudah habis, ini bukan main-main lagi bagiku..!!!!!" Ancam Aris.
"Aku benar-benar tidak tahu Ris, aku tahu aku memang salah kepadamu kemarin. Tetapi aku tidak melakukan hal ini. Aku tidak tahu apa-apa tentang istrimu..!!" Ucap Alisya dengan tegas.
Aris pun terdiam, lalu ia mengakhiri panggilan telpon nya. Ia duduk termenung sambil mencoba berpikir kemana perginya Meli.
Ting... Ting...Ting..!
Tiba-tiba ponsel Aris berbunyi. Aris langsung mengecek pesan yang baru saja ia terima. Saat itu juga wajah nya memerah dan matanya pun terbelalak melihat layar ponselnya.
My Wife
Mas, lupakan aku. Aku tidak bisa melupakan dan memaafkan perselingkuhan Mas dengan Alisya. Aku mohon maaf, aku pergi meninggalkan semua nya. Lupakan aku, dan berbahagialah dengan Alisya.
Aris membanting ponselnya di atas ranjang.
"Apa-apaan ini...!!!!" Teriak nya. Ia pun kembali meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Meli. Namun, nomor ponsel Meli kembali tidak dapat di hubungi.
"Bukan kah masalah ku dan Alisya sudah selesai dan Meli pun sudah memaafkan aku? Mengapa sekarang Meli masih mengungkitnya? Sudah jelas aku dan Alisya tidak terjadi apa-apa, mengapa Meli masih mengatakan bahwa aku berselingkuh?"
Aris terdiam sejenak.
"Ada yang aneh," Gumam nya lagi.
Aris mulai stress memikirkan kejadian ini. Ia pun mulai mengumpulkan orang-orang kepercayaannya untuk melakukan penyelidikan sambil menunggu kabar dari petugas kepolisian.
..
Bik Parni pun mulai panik saat melihat orang-orang kepercayaannya Aris berkumpul di rumah untuk membicarakan keberadaan Meli.
Tak sengaja, Bik Parni mendengar bila Meli menghilang tanpa jejak. Bik Parni pun menangis meraung-raung. Surti pun mencoba untuk menenangkan Bik Parni. Tetapi, wanita paruh baya itu terus menangis seperti kehilangan anak nya sendiri. Bik Parni pun ikut stress memikirkan keberadaan Meli.
Begitupun Jaja yang merasa kehilangan Meli. Ia terus berdo'a, semoga Meli segera di temukan.
Aris pun sama dengan mereka, ia pun kini lebih sering termenung memikirkan nasib Meli. Dan Aris percaya, bila yang menulis pesan tersebut bukan lah Meli. Tetapi, ada seseorang di belakang Meli yang memaksa Meli mengirim pesan itu.
"Siapa pun kamu, aku tidak takut. Bila istri ku kenapa-kenapa, habis lah kamu." Gumam nya dengan geram.
__ADS_1