
Sore itu sepulang dari kantor, Arya meminta Jono untuk mengantarkan dirinya makan malam di restoran alam langganan mereka. Jono hanya tersenyum dan mengangguk saat Arya meminta nya untuk terus kembali ke restoran itu.
Jono bahagia saat dirinya melihat Arya yang mulai sedikit menemukan kebahagiaan nya walaupun hanya sekedar makan di restoran yang direkomendasi dirinya.
"Jon, apa kamu tahu aku pernah punya anak?" Tanya Arya kepada Jono.
"Setahu saya sih Pak, Bapak punya anak sudah besar-besar. Ada dua atau tiga begitu." Jawab Jono yang sedang konsentrasi mengemudikan mobil.
"Sekarang mereka dimana?" Tanya Arya penasaran.
"Mereka sepertinya ada yang kuliah dan ada yang sudah bekerja. Waktu Bapak di rawat di rumah sakit, anak-anak Bapak pernah singgah kerumah." Ucap Jono lagi.
"Mengapa istri saya tidak pernah membahas mereka ya?" Tanya Arya, ia mengeryitkan dahi nya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Jono.
"Saya serius Pak, soal nya anak-anak muda itu memanggil Ibu dengan sebutan Mami."
Arya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bisa jadi itu dari pernikahan istri saya sebelumnya?"
Jono melirik Arya dari kaca spion tengah. Ia pun merasa memang tidak ada kemiripan antara Arya dan anak-anak muda yang memanggil Alisya dengan sebutan Mami.
"Kalau hal itu saya tidak berani ikut campur Pak." Jawab Jono lalu ia pun terdiam.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di restoran alam tersebut dan memesan beberapa menu untuk mereka berdua.
...
"Asik, kita pergi ke Yogyakarta..!"
Re dan Ar melompat-lompat kegirangan. Surti yang membantu mereka mengemas baju dan perlengkapan untuk di bawa berlibur pun, hanya tersenyum melihat tingkah anak kembar itu.
"Mbak Surti, gak di ajak sih," Ucap Surti sambil mengerutkan dagu nya.
"Maaf ya Mbak Surti, tiket nya hanya untuk Bunda dan kita-kita," Ucap Ar sambil meledek Surti.
"Ih jahat deh."
Surti pun, pura-pura merajuk.
"Maaf ya Mbak Surti. Next, Re akan minta Bunda untuk ajak Mbak deh."
Re mengangkat dua jari nya untuk meyakinkan Surti.
"Benar ya?"
"Janji deh," Ucap Re sambil tersenyum manis. Surti pun langsung memeluk Re dan Ar, lalu mencium kedua bocah lucu itu.
__ADS_1
"Hati-hati ya, jagain Bunda, ok..!"
"Ok mbak Surti..!" Ucap mereka dengan kompak.
"Re, Ar.. sudah siap?" Tanya Meli, yang masih sibuk dengan ponselnya yang terselip antara bahu dan telinganya.
"Sudah Bunda..!" Ucap Ar dan Re.
"Ok, Surti, tolong bawa anak-anak masuk kedalam mobil ya, jangan lupa koper mereka. Tolong ya Surti," Ucap Meli sambil tersenyum kepada Surti.
"Baik Nyah," Ucap Surti.
Lalu, Surti membawa satu koper yang berisi pakaian dan keperluan Ar dan Re selama liburan dan meminta anak-anak untuk mengikuti dirinya ke depan.
Meli mengenakan sepatunya sambil terus berbicara melalui sambungan telepon kepada orang kantor nya.
"Iya saya tidak datang selama seminggu ini, tolong kamu kordinasi yang lain nya untuk segala sesuatunya. Senin depan saya mulai ke kantor lagi. Ya.. Ok...saya pergi dulu. Terima kasih,"
Meli langsung mengakhiri panggilan teleponnya, lalu buru-buru ia mengantongi ponselnya dan menyambar tas dan kopernya. Meli menyusul kedepan dan masuk kedalam mobil. Sedangkan supirnya menaruh koper Meli kedalam bagasi.
Meli berpamitan kepada Surti dan meminta Surti dan yang lain nya untuk menjaga rumah mereka.
"Sudah Nyah?"
"Sudah Pak Min, kita berangkat." Ucap Meli, lalu ia meminta anak-anak nya untuk berdo'a bersama untuk keselamatan mereka.
"Dia kemana sih..! Jam segini belum pulang..!"
Alisya yang sedang menunggu suaminya pulang, terlihat sangat gelisah.
"Awas saja bila dia macam-macam, aku akan menghubungi si Jono. Sebenarnya apa sih yang di sembunyikan Arya dan Jono?" Gumam Alisya.
Alisya mencoba menghubungi Jono, supirnya. Beberapa saat kemudian, panggilan itu pun di jawab oleh Jono.
"Jon..! kamu dimana! Bapak sama kamu atau tidak?" Tanya Alisya dengan nada suara yang kesal saat Jono mengangkat panggilan telepon dari dirinya.
"Ba-Bapak minta di antarkan makan Bu. Kata Bapak, Bapak lapar dan tak kuat menahannya, jadi kita mampir ke restoran sebentar Bu."
"Kamu sedang tidak berbohong kan Jon..! Mana Bapak? mengapa ponselnya mati..?" Tanya Alisya dengan kesal.
"Ba-Bapak ada kok Bu."
"Berikan ponsel mu kepadanya..! saya ingin bicara..!" Perintah Alisya.
Jono menatap Arya yang duduk di depannya.
"Maaf Pak, Ibu ingin berbicara dengan Bapak." Ucap Jono.
__ADS_1
Lalu, ia memberikan ponsel miliknya kepada Arya. Arya yang sedang makan, meraih ponsel itu. Lalu, ia pun berbicara dengan Alisya.
"Kenapa ponselmu mati? Kenapa kamu tidak izin terlebih dahulu kepada ku, kalau memang mau makan di luar?"
Alisya begitu posesif nya, ia begitu takut bila Arya meninggalkan dirinya.
"Al, berhenti seperti itu..! Aku bukan boneka mu..! Aku bukan anak kecil yang harus laporan apa saja kepada mu..!" Bentak Arya dan ia pun mengakhiri sambungan telepon nya dengan Alisya.
Lalu, ia menyerahkan ponsel itu kepada Jono.
"Pak, bila Ibu marah bagaimana?" Tanya Jono dengan bibir nya yang gemetar sambil meraih ponselnya dari tangan Arya.
"Saya pastikan kamu tidak akan di pecat. Jadi kamu tenang saja," Ucap Arya, lalu ia melanjutkan makan malam nya.
Alisya membanting ponselnya di atas ranjang. Ia pun duduk di pinggir ranjangnya dan mendengus dengan kesal.
"Aris..! walaupun kamu hilang ingatan dan menjadi Arya, kamu tetap tidak bisa bersikap manis kepadaku..! dasar lelaki keras kepala..!!!" Ucap Alisya dengan geram.
Angan nya pun melayang ke enam tahun yang lalu, saat ia menyelamatkan Aris dari kecelakaan maut tersebut.
Flashback on
Malam kejadian itu, Alisya dan beberapa bodyguard nya mengikuti Aris menuju ke Bandung dengan mobilnya untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan antara Aris dan keponakan nya Frans.
Beberapa kali ia melihat Aris nyaris saja kecelakaan karena Aris mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat beberapa menit lagi sampai di villa milik orangtua Frans, Alisya melihat Aris membanting setir nya dan terjatuh ke dalam jurang.
Supir Alisya pun mendadak menghentikan mobilnya dan semua orang yang berada di mobil itu pun terkesima menyaksikan kecelakaan itu.
Alisya juga melihat seorang wanita dengan kondisi yang sangat berantakan sedang berdiri di tengah jalan. Alisya pun paham, kecelakaan itu terjadi karena Aris menghindari wanita itu.
Alisya juga melihat wanita itu terduduk lemas di atas aspal, lalu tidak lama kemudian wanita itu pun pingsan saat melihat mobil yang menghindarinya terjatuh kedalam jurang dengan kondisi yang memprihatinkan.
Alisya tidak mau membuang-buang waktu, ia meminta anak buah nya turun ke jurang itu untuk menyelamatkan Aris.
Para anak buah Alisya pun bergerak cepat di malam yang dingin dan sunyi itu. Hingga akhirnya Aris dapat di selamatkan dan di angkat ke atas oleh anak buah Alisya.
Alisya dan anak buahnya pun membawa Aris ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Alisya tidak tahu mengapa Aris diberitakan meninggal dunia. Ia pun tidak mengerti jasad siapa yang di sebut-sebut sebagai Aris.
Yang ia tahu, saat dirinya menonton televisi. Reporter mengatakan bahwa Aris dan mobil nya terbakar hingga nyaris hangus di dalam jurang itu.
Alisya pun merasa di untungkan karena pemberitaan itu, semakin beruntung saat ia mengetahui Aris hilang ingatan. Ia pun melancarkan aksinya untuk mengakui Aris sebagai suami nya. Terlebih saat Aris pertama kali siuman dari koma nya, tanpa berpikir panjang, Alisya langsung menyebut dirinya adalah istri Aris. Aris pun percaya, dan ia mengubah nama Aris menjadi Arya.
Dan wajah Aris pun terpaksa harus di ubah, karena memang kondisi wajah Aris yang sangat memprihatikan. Tentu saja Aris membutuhkan operasi plastik untuk memperbaiki wajahnya.
Kini wajah Aris sudah berbeda dengan Aris yang dulu. Tetapi, itu semua tidak akan pernah mengubah sikap Aris kepadanya.
Hati tetaplah hati, wajah bisa saja berubah, tetapi hati tetap tidak akan pernah mengingkarinya. Alisya merasa putus asa, ia tidak tahu akan berbuat apa lagi untuk Aris. Semua yang ia punya, harta, waktu dan tubuhnya sudah untuk Aris semua. Tetapi, ia tetap tidak bisa mendapatkan cinta dari lelaki yang kini ia akui sebagai suami tanpa ikatan pernikahan.
__ADS_1