
Sudah seminggu sejak kepergian Meli. Aris terus menunggu kabar baik pencarian Meli. Aris terus berdo'a di atas sajadahnya agar Meli dapat di temukan kembali. Bila memang pesan itu dari Meli, maka ia ingin sekali bertemu dengan Meli dan menanyakan alasannya mengapa Meli berubah pikiran terhadap dirinya.
Aris sedang melipat sajadahnya saat ponsel nya berbunyi. Aris meletakan sajadahnya di atas sofa, lalu ia meraih ponselnya yang ia taruh di atas ranjang.
Aris membuka pesan yang di kirimkan dari nomor yang tak ia kenal. Aris terperanjat saat melihat foto yang di kirimkan oleh pemilik nomor tersebut.
"Selamat siang, apakah ini istri anda?"
*Terlampir sebuah foto*
"Siang ini saya melihat istri anda di kampus nya. Ia sedang berpelukan dengan seorang lelaki disana."
Aris memperhatikan Foto tersebut. Memang benar itu adalah Meli yang di peluk oleh Frans dari belakang.
Tiba-tiba saja, masuk kembali sebuah foto yang membuat Aris semakin emosi.
*Terlampir sebuah foto*
Frans sedang mencium kening meli dengan mesra.
Aris terdiam sejenak. Ia mencoba zoom foto tersebut. Dan memang benar adanya, sosok gadis yang ada di foto itu adalah Meli, istrinya.
Aris mulai terbakar cemburu. Ia buru-buru mengucapkan istighfar dan terduduk di ranjang. Ia terus saja memandang foto tersebut.
"Apa maksudnya ini, dan siapa anda?"
Aris membalas pesan tersebut. Tetapi, orang tersebut tidak membalas pesan dari Aris. Aris mencoba menghubungi nomor itu dan nomor itu pun tidak aktif.
Aris kembali melihat foto itu, dirinya tidak percaya bila Meli telah mengkhianatinya.
Tetapi, apa yang ada di foto-foto itu, membuat Aris mulai ragu. Apakah benar Meli memang mencampakkan dirinya dan pergi bersama Frans.
Aris pun memerintahkan anak buah nya menyelidiki Frans dan mencari tahu hubungan Frans dengan Meli. Ia tidak bisa terima dengan apa yang telah ia lihat. Hati nya mulai terasa sangat panas karena terbakar cemburu.
Ting...ting...ting...!
Tiba-tiba ponsel Aris berdering. Ia melihat panggilan masuk tersebut dan lalu mengangkat nya dengan cepat.
"Meli...!!!!" Sapa nya dengan penuh khawatir.
"Mas, maafkan aku. Aku sudah tidak bisa bersama dengan Mas, aku ingin kita berpisah dan aku ingin kita bercerai" Ucap Meli dengan suara yang terdengar gugup.
"Mel, ada apa sebenarnya..? dan kamu dimana?" Tanya Aris khawatir.
__ADS_1
"Aku sudah bahagia dengan orang lain. Aku mohon TOLONG LEPASKAN AKU."
Meli memberi penekanan saat ia mengatakan "Tolong lepaskan aku"
"Mel... kamu di mana..!!!!" Tanya Aris lagi. Ia tidak memperdulikan apa yang Meli katakan, ia hanya ingin mengetahui dimana keberadaan Meli.
Tanpa di jawab, sambungan telepon itu pun terputus.
"Ini pasti Frans yang punya ulah..!!" Gumam Aris, geram.
...
"Bila kamu memang mencintai aku, kamu bilang dengan suami mu, kalau kamu ingin bercerai."
Meli terperangah saat mendengar ucapan Frans.
Frans menyodorkan ponsel milik Meli yang sudah tertera nomor ponsel Aris di layarnya.
Meli tidak mempunyai pilihan, dengan ragu, ia menerima ponselnya dan menghubungi Aris.
Frans terus memperhatikan Meli dan menyuruh Meli untuk menyalakan speaker ponselnya. Meli pun menuruti semua perintah Frans.
Setelah panggilan itu di jawab oleh Aris, Meli pun langsung berbicara dengan Aris. Setelah itu, Meli mengakhiri panggilan telpon nya dan menyerahkan ponsel milik nya kepada Frans sambil berusaha untuk tersenyum manis.
"Apakah kini kamu percaya dengan ku Frans?" Tanya Meli sambil menatap mata Frans dengan seksama.
Frans tersenyum puas saat ia menerima ponsel itu dari Meli. Lalu, ia memeluk tubuh Meli dengan erat.
"Terima kasih ya sayang," Ucap Frans, lalu lelaki itu mengecup kening Meli dengan lembut.
Meli menjerit di dalam hatinya. Ia merasa begitu berdosa dengan Aris, saat menerima kecupan dari Frans. Tetapi, ia tidak bisa menolak nya, ia tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi kepada dirinya.
Mendadak saja Meli terasa mual dan ingin muntah, dengan cepat Meli beranjak dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Ia memuntahkan isi lambungnya dengan tak terkendali.
Meli merasa dirinya sangat stress belakangan ini. Mungkin juga ia sedang masuk angin karena ia tidak selera makan sejak berada di villa itu.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Frans dengan khawatir.
"Aku seperti nya sak...........
Bruggggg..!
Meli terjatuh pingsan.
__ADS_1
Frans terlihat sangat khawatir. Frans menggendong tubuh Meli dan menaruhnya di atas ranjang. Lalu, ia keluar dari kamar Meli dan memanggil pelayannya untuk menghubungi dokter.
Frans termenung di samping ranjang Meli. Meli terlihat sangat lemah dengan bibir yang pucat.
"Maafkan aku," Ucap Frans dengan suara yang bergetar. Ia terus mencium punggung tangan Meli dengan lembut dan memandangi wajah Meli dengan rasa bersalah.
"Lama sekali dokternya..!"
Frans mulai merasa tak sabar, ia pun meninggalkan Meli dan mencoba mencari anak buahnya di depan. Pintu kamar ia biarkan saja terbuka dengan lebar.
Meli membuka kedua matanya. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia melihat pintu kamar yang terbuka lebar, tiba-tiba saja kekuatan menghampiri diri Meli. Meli berusaha beranjak dari ranjangnya dan mencoba untuk keluar dari kamar itu.
Meli mengendap menyusuri lorong vila itu. Ia mencoba mencari jalan keluar, Meli cukup paham bila ia tidak mungkin keluar dari pintu depan villa itu. Ia pun mencoba mencari jalan menuju belakang villa.
Meli masuk kedalam dapur, dan menuju pintu belakang dapur tersebut. Tetapi, langkah kakinya terhenti saat ia melihat pelayanan wanita yang selalu mengantarkan makanan untuk dirinya setiap hari. Wanita itu menatap Meli dengan tatapan yang dingin.
"Ssttttt...!" Meli menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"aku mohon, biarkan aku pergi." Ucap Meli kepada wanita itu.
"Cari dia...! gue gak mau tahu..! dia harus ketemu...!"
Terdengar suara Frans dari lorong atas villa itu. Meli pun mulai ketakutan, ia terus menatap wanita pelayan itu dengan tatapan memohon.
Wanita itu hanya diam mematung menatap wajah Meli. Wanita itu pun sebenarnya kasihan melihat Meli. Tetapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia bekerja dengan Frans. Ia membutuhkan uang untuk melanjutkan hidup nya. Bila Frans tahu ia melepaskan Meli, dirinya pasti akan dapat pelajaran dari Frans, Tuan nya.
"Aku mohon, kita sama-sama wanita Teh.." Ucap Meli dengan bibir yang bergetar.
Langkah kaki Frans terdengar mendekati dapur. Meli cukup panik, lalu ia mencoba melarikan diri menuju pintu belakang. Dengan cepat tangan Meli di tahan oleh pelayan wanita itu.
"Tuan, saya dapatkan dia..!" Seru wanita itu.
Meli terkejut melihat wanita itu melaporkan dirinya kepada Frans. Dengan cepat, Frans berlari menuju dapur dan mencengkram lengan Meli. Frans pun, menyeret Meli kembali ke kamarnya.
Meli menangis meraung-raung ketakutan. Tetapi, tidak ada yang berpihak kepadanya. Meli harus menerima nasib nya untuk saat itu. Mungkin kali ini Frans tidak akan percaya lagi kepada dirinya.
Rasa takut Meli semakin menjadi saat Frans menghempaskan Meli di atas ranjang. Tatapan Frans begitu buas, dendam, marah dan merasa tersakiti menjadi satu.
Tubuh meli gemetar, keringat jagung mengalir dari dahinya. Frans mulai mendekatinya secara perlahan.
"JANGAN PERNAH PERGI DARI KU...!!!! RASAKAN INI...!!!!!" Teriak Frans.
Lelaki itu pun kembali mencoba memaksa Meli untuk melayani nya. Meli berusaha mempertahankan harga dirinya. Hingga tidak sengaja Frans menarik Meli dengan kasar hingga Meli tersungkur ke lantai.
__ADS_1
Meli pun tidak bergerak lagi, Frans pun mulai panik. Ia menggendong tubuh Meli dan memindahkan nya di atas ranjang. Dokter yang di nanti pun datang untuk memeriksa keadaan Meli.
Frans hanya terduduk lesu di atas sofa saat melihat Meli sedang di periksa oleh dokter. Ia menyesal karena telah kasar dengan Meli. Ia takut terjadi apa-apa dengan Meli, tanpa sadar Frans pun menangis dalam diam.