Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 11. Bapak, Ibu maafkan Meli


__ADS_3

"Aku pergi dulu, mau ikut Bapak."


"Iya Tuan."


Aris menatap Meli dengan tatapan yang kesal.


"Kenapa Tuan?" Tanya Meli dengan wajah polosnya.


"Jangan panggil aku Tuan lagi, mulai sekarang panggil apa pun sebutan yang kamu mau, asal jangan Tuan." Bisik nya.


Meli mengangguk ragu. Lalu, ia menundukkan wajahnya dan berlalu dari hadapan Aris.


Aris dan Bapaknya Meli, berangkat ke KUA di wilayah Desa itu. Mereka juga mampir ke rumah tukang yang akan memperbaiki rumah Meli.


Setelah semuanya selesai, Aris pun menemani Bapaknya Meli ke kebun milik orang, untuk di bersihkan oleh Bapaknya Meli dengan upah harian yang sangat minim.


Aris turut membantu Bapaknya Meli, mencabut rumput. Beberapakali tangannya terluka terkena gesekan duri bunga liar.


Matahari semakin tinggi, dirinya mulai merasa kehausan dan kelaparan. Tiba-tiba saja dari kejauhan Aris melihat seorang gadis cantik dengan empat susun rantang dan termos di jinjingannya.


Gadis itu adalah Meli. Aris yang sedang kehausan dan kelaparan, melihat kedatangan Meli seperti melihat bidadari yang turun dari kayangan. Yang membawa misi menyelamatkan para petani dan tukang kebun dari kelaparan dan kehausan di teriknya sinar matahari.


Bapaknya Meli memperhatikan Aris yang menatap anaknya dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan.


"Hust, jangan tatap anak saya seperti itu..!!! Sabar, lusa kalian sudah sah menjadi suami istri."


Mendengar ucapan Bapaknya Meli, Aris menjadi malu. Lalu, ia menundukkan pandangannya.


"Bapak...., ini Meli bawakan makan siangnya dan ini kopinya."


Meli menaruh rantang dan termos yang dia bawa diatas lantai saung kecil di tepi kebun.


"Ya, terima kasih." Sahut Bapaknya Meli.


"Ya sudah, Meli pulang dulu ya Pak," Ujar Meli. Lalu, ia bergegas untuk pulang.


"Tunggu Nak,"


Langkah kaki Meli tertahan saat Bapaknya memanggil dirinya.


"Ya Pak,"


"Lusa kamu akan menikah, Bapak sendiri yang akan menjadi Wali kamu. Bapak harap kamu akan bahagia Nak."


Meli menghampiri Bapaknya dengan perlahan. Lalu, ia duduk disamping Bapaknya.


"Pak, Meli akan bahagia. Bapak jangan khawatir ya. Mas Aris akan selalu menjaga Meli dengan baik."


Aris terpaku mendengar ucapan yang keluar dari bibir mungil Meli. Dirinya merasa bersalah karena niatnya menikahi Meli, hanya karena mematuhi wasiat dari Retno saja.


Bapaknya Meli menghela napasnya dengan perlahan, lalu mengangguk-angguk dengan pelan. Terlihat raut kesedihan di wajah Bapaknya Meli. Karena, sebentar lagi ia akan melepas anak gadisnya untuk lelaki pilihan anaknya sendiri.


.


Meli baru saja tiba di rumahnya, ia terkejut saat melihat sekelompok orang yang sedang bersiap-siap untuk membongkar rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa ya Pak?" Tanya Meli dengan cemas.


"Rumah ini mau diperbaiki Neng, kami kesini disuruh Bapak dan calon suaminya Neng."


"Hah?"


Meli terpaku tak percaya.


"Ayo kerja."


Komando Pak mandor kepada anak buahnya.


"Sebentar Pak, Bapak yakin kalau rumah ini di bongkar atas perintah Bapak saya dan calon suami saya?" Tanya Meli.


"Iya, tadi pagi mereka kerumah saya." Ucap Pak Mandor, mencoba untuk meyakinkan Meli.


"Oh begitu....." Ucap Meli.


Meli hanya pasrah saat melihat sebagian sisi rumahnya di bongkar oleh para tukang.


Sore harinya, Aris dan Bapaknya Meli tiba dirumah. Mereka langsung membantu para tukang yang sedang sibuk bekerja.


Meli melihat Aris begitu menikmati saat membantu pekerjaan para tukang. Dan Aris pun terlihat sangat menikmati menjalani hari di Kampung halaman Meli.


"Neng, kamu dapat dimana calon suami yang baik seperti itu? Sudah ganteng, kaya lagi."


Ibunya Meli ikut berdiri disamping Meli yang sedang melihat Aris berbaur bersama para kuli bangunan.


Meli menatap Ibu nya dan ia pun tersenyum.


"Allah yang kasih Bu," Ucap Meli.


"Kata Bapak, lusa kalian akan menikah, Ibu cuma bisa doakan semoga kalian bahagia. Mempunyai keturunan yang baik dan tentunya Ibu selalu berharap semoga kalian bisa awet sampai maut memisahkan."


Meli merasa bersalah saat mendengar ucapan Ibunya. Air pun, matanya mulai menetes di pipinya.


"Terima kasih ya Bu." Ucapnya dengan lembut.


Ibunya Meli hanya mengangguk dan memeluk tubuh Meli dengan erat.


"Bersyukur kamu Nak mendapatkan Aris" Ucap Ibunya Meli.


"Bapak, Ibu, maafkan Meli." Bisik Meli lirik di dalam hatinya.


..


Setelah bercengkrama dengan Ibunya, Meli termenung sendirian di samping jendela kamar. Dirinya terus merasa bersalah kepada kedua orangtuanya karena telah berbohong agar dapat menikah dengan Aris.


Dirinya paham kenapa Aris juga berbohong. Tidak akan ada orangtua yang mau anaknya menikah karena wasiat orang yang tak di kenalnya dan tidak akan ada orangtua yang mau melihat putrinya terpaksa menikah dengan orang yang belum pernah di kenalnya secara pribadi terlebih dahulu.


Tetapi, pernikahan ini harus tetap terjadi. Bagaimana pun caranya, ini harus terjadi. Demi memenuhi keinginan terakhir almarhumah Retno yang ia hormati.


Meli kembali melihat lelaki yang tak pernah ia sangka-sangka sebelumnya. Lelaki yang akan menjadi suaminya pada lusa nanti.


Dari jauh, Aris menyadari bila dirinya di perhatikan oleh Meli. Mata merekapun bertemu pandang. Meli menjadi salah tingkah lalu ia melemparkan senyum tipis nya kepada Aris. Tanpa Meli duga sebelumnya, Aris pun membalas senyuman Meli dengan tulus.

__ADS_1


Meli terpana, lalu ia terlihat gelagapan dan langsung menundukkan wajahnya.


..


Senja berganti malam, malam ini Aris meringkuk di beranda rumah. Karena ruang tamu masih dalam renovasi. Rasa dingin membuatnya menggigil di dalam tidurnya.


Tiba-tiba, seseorang datang dan menyelimutinya dengan selimut yang lebih tebal. Samar, ia melihat wajah orang tersebut.


"Bidadari," Gumamnya. Lalu, ia tertidur dengan pulas.


Suara Adzan Subuh berkumandang dengan merdu. Aris membuka matanya perlahan. Ia melihat selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya hingga terasa hangat dan nyaman. Dengan malas, ia beranjak dari beranda rumah Meli, dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Saat itu juga ia melihat Meli yang sudah memakai mukenanya. Gadis itu tersenyum lalu menundukkan pandangannya saat melihat wajah Aris.


Aris terpesona melihat wajah cantik Meli. Dengan grogi, ia melewati Meli dan langsung menuju ke kamar mandi.


Setelah ia selesai berwudhu, Aris beranjak ke depan untuk menunaikan sholat subuh.


"Mau sholat duluan?"


Terdengar suara lembut Meli dari belakangnya. Aris langsung menoleh kebelakang.


"Soal nya sajadah nya tinggal ini." Meli menunjukan sajadah yang sedang ia pegang.


"Oh.."


Meli menggelar sajadahnya di ruang sempit yang tidak terkena bongkaran dan material bangunan.


"Silahkan duluan saja." Ucap Meli.


"Baik lah." Sahut Aris.


Meli menatap punggung Aris yang sedang menunaikan sholat. Tidak bisa ia pungkiri, ia mulai kagum dengan sosok lelaki itu. Lelaki yang besok akan menjadi imam di dalam hidupnya.


Meli tersenyum saat Aris menoleh kepadanya setelah selesai menunaikan sholat.


"Sudah?"


"Sudah." Sahut Aris.


"Kalau begitu gantian ya." Ucap Meli.


Aris pun mengangguk dan beranjak dari atas sajadah. Lalu, ia duduk di beranda rumah Meli.


Sinar mentari mulai menerpa pagi, para pekerja pun mulai berdatangan. Dengan senang hati Aris berbaur dan membantu mereka yang sedang bekerja. Tidak ada rasa malu dan gengsi bagi lelaki itu. Dirinya tidak segan-segan bercanda kepada para kuli bangunan. Sifatnya yang tidak memandang status sosial, membuat Meli semakin terpesona kepada Aris. Ia pun mulai merasa ikhlas menerima Aris, yang esok akan menjadi bagian dari hidupnya.


"Apakah aku mulai jatuh cinta kepada Tuan Aris ya?" Gumam Meli sambil terus memandangi calon suaminya itu.


"Ahhh..., tidak, tidak, tidak..!!! Jangan seperti itu Meli....!! Kamu hanya melaksanakan wasiat dari Nyonya Retno. Tidak mungkin kamu pantas untuk Tuan Aris." Bisiknya di dalam hati.


"Kamu kenapa Neng?" Tanya Ibunya Meli yang melintas di depan kamar.


"Tidak apa-apa Bu." Jawab Meli sambil beranjak dari depan jendela kamar.


"Pasti kamu memandang calon suami mu lagi ya?" Terka Ibunya.

__ADS_1


Pipi Meli mulai bersemu memerah.


"Sabar atuh Neng, besok sudah halal.." Goda Ibunya sambil tertawa jahil. Meli pun tersenyum malu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


__ADS_2