
Meli, Aris dan anak-anak mereka makan siang bersama. Terlihat kebahagiaan terpancar dari keluarga kecil tersebut. Meli menyendokkan lauk dan menaruhnya di atas piring Aris. Aris tersenyum menerima perlakuan Meli kepadanya.
Aris terus memandangi Meli yang terlihat semakin dewasa saat ini. Meli yang dulu bukanlah yang sekarang, Meli terlihat lebih elegan dan anggun, mirip seperti Retno. Lalu, Aris tertawa kecil.
Meli yang merasa sedang dipandangi oleh Aris, pun merasa salah tingkah.
"Kenapa Mas?" Tanya Meli.
"Tidak apa-apa." Jawab Aris sambil tersenyum.
"Ih, kenapa coba senyum-senyum sendiri." Ucap Meli sambil membalas tatapan Aris.
"Tidak bermaksud apa-apa. Hanya kamu jauh lebih dewasa saat ini dan lebih anggun." Ucap Aris memuji Meli.
Pipi Meli merona merah saat Aris memujinya.
"Retno benar-benar tidak salah mencarikan istri untukku." Ucap Aris, memandang Meli penuh dengan cinta.
"Mengapa kamu tiba-tiba yakin aku adalah Aris?" Tanya Aris.
Meli terdiam sejenak lalu ia tersenyum menatap Aris.
"Aku tidak tahu. Tetapi, semakin keras aku berusaha menolak Mas, hatiku semakin berkata bahwa Mas adalah Mas Aris."
Aris tersenyum mendengar jawaban Meli.
"Ayah, wajah Ayah kok berbeda dengan foto?" Tanya Ar dengan polosnya.
Aris tersenyum mendengar pertanyaan dari Ar.
"Dulu Ayah seperti difoto, tetapi karena usia, wajah Ayah berubah. Nanti Ar juga akan seperti Ayah kalau sudah besar. wajah Ar juga akan berubah menjadi lebih tampan." Ucap Aris.
"Berarti, kalau Re sudah besar. Nanti bisa secantik Bunda ya ayah?" Tanya Re.
"Bisa dong, bahkan lebih cantik dari Bunda." Ucap Aris, Re pun tersenyum dengan semringah."
"Jadi Ayah, beneran Ayahnya kami?" Tanya Ar lagi.
"Seratus persen..!" Ucap Aris sambil tersenyum, lalu mengusap lembut rambut Ar dan Rey.
"Mana dia wanita j*lang itu..! Hei..! keluar kamu..!"
Alisya berteriak di depan pintu rumah Meli.
"Maaf Bu, Ibu lebih baik pergi..!"
Satpam sudah berusaha untuk mencegah Alisya masuk ke dalam rumah. Tetapi, wanita itu tidak peduli, ia menerobos masuk mencari Meli dan Aris.
Aris dan Meli yang mendengar ribut-ribut di depan rumah nya, pun langsung beranjak menuju pintu depan.
__ADS_1
"Kalian di sini saja ya." Pesan Aris kepada si kembar. Ia menyusul Meli ke pintu depan.
"Iya Ayah." Jawab Ar dan Re.
"Ngapain kamu ke rumah saya?" Tanya Meli kepada Alisya.
"Oh, ini dia perempuan j*lang nya sudah keluar." Ucap Alisya, ia menatap Meli dengan mata yang memerah menahan amarahnya.
"J*lang?"
Meli menatap Alisya dengan tak percaya dengan ucapan wanita tersebut.
"Iya kamu j*lang dan pelakor..!" Ucap Alisya lalu ia menerobos masuk ke dalam rumah Meli.
"Aryaaaaaaa keluar kamu..!"
Alisya memanggil Aris dengan berteriak. Aris pun muncul dari dalam dan menatap Alisya dengan terkejut.
"Alisya? ngapain kamu di sini..!" Ucap Aris, kesal.
"Pulang sekarang juga..! Aku adalah istrimu, bukan pelakor ini.!" Ucap Alisya sambil menarik pergelangan tangan Aris.
Dengan cepat Aris menepis tangan Alisa dari pergelangan tangannya.
"Siapa kamu mengatur-ngatur saya?" Ucap Aris.
Aris pun tersenyum sinis, Lalu ia meraih lengan Alisya dan menyeretnya keluar dari rumah itu. Mau tidak mau, wanita itu pun mengikuti langkah kaki Aris yang membawanya ke depan pintu.
"Kamu kok kasar sama aku? lepaskan..!" Ucap Alisya sambil berusaha untuk melepaskan tangan Aris dari lengannya.
"Diam kamu..!"
Aris menghentikan langkahnya dan menunjuk wajah Alisya dengan emosi.
"Aku tidak meminta kamu untuk melakukan apapun untukku. Memang kamu telah menyelamatkan aku, aku berterima kasih untuk itu. Tetapi, cara mu menyembunyikan aku dari keluargaku hingga keluargaku menderita. Aku tidak bisa menerima itu semua..!" Ucap Aris.
Alisya pun terdiam dan menatap Aris dengan seksama.
"Sayang, apa ingatanmu sudah kembali?" Tanya Alisya dengan bibir yang gemetar.
"Ya, Meli adalah istriku. Ini adalah rumahku dan kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kamu adalah manusia licik yang berusaha untuk menjebak ku dan mengambil kesempatan dariku." Ucap Aris.
Alyssa pun terbelalak menatap Aris, Ia tidak percaya Aris sudah mengingat semuanya.
"Tetapi, tidakkah kau hargai semua usahaku untukmu Arya."
"Diam..! Namaku bukan Arya, namaku Aris." Ucap Aris, lalu ia mendorong Alisya keluar dari rumahnya.
"Keluarkan dia dari sini, jaga pintu gerbang dengan ketat. Jangan ulangi lagi kejadian seperti ini..!" Perintah Aris kepada Tejo, satpam rumahnya.
__ADS_1
"Ba-baik Tuan." Ucap Tejo dengan terbata. Lalu, Tejo menggiring Alisya keluar dari sana.
"Tunggu.!" Ucap Meli.
Tejo pun menghentikan langkah kakinya, sedangkan Alisya menatap Meli dengan tajam. Meli pun menghampiri Alisya dengan wajah yang dingin.
"Aku bukan perempuan j*lang, tapi kamulah yang perempuan j*lang. Kamu rela melakukan apa saja untuk mendapatkan suami orang lain, apa namanya kalau tidak j*lang?" Ucap Meli, tepat didepan wajah Alisya.
"Kamu yang mengambil suamiku dan menyembunyikan suamiku selama enam tahun dariku. Baiknya kamu harus bersiap-siap untuk menghadapi hukum. Karena aku akan menuntut mu. Aku yakin, kamu masih mengingat kata-kataku tadi di kantor. Bila terbukti Arya adalah Aris aku tidak segan-segan menjebloskan kamu ke dalam penjara." Ucapan Meli dan suara Meli yang datar terdengar sangat menakutkan di telinga Alisya. Ia pun menatap Meli tak percaya.
"Aku bukan orang yang kamu kenal enam tahun yang lalu. Kini aku adalah orang yang bisa melakukan apa saja untuk membuatmu berhenti mengganggu keluargaku. Paham?" Ucap Meli, sambil tersenyum dingin kepada Alisya. Aris tercengang melihat Meli yang berani mengancam Alisya. Ia tidak menyangka Meli setegas itu.
Alisya terdiam, tatapan tajam nya pun mereda kepada Meli. Ia mulai merasa takut kepada Meli. Meli membalikkan badannya lalu melangkah menghampiri Aris. Meli tersenyum kepada Aris, lalu ia menggandeng tangan Aris untuk masuk ke dalam rumah nya.
Melihat itu semua, Alisya terdiam terpaku. Dengan sigap, Tejo kembali mengiring Alisya keluar dari rumah itu. Alisya menuruti Tejo. Kali ini ia tidak memberontak Alisya keluar dari sana dengan kekalahan yang ia terima.
Sambil berjalan menuju ke ruang makan, Aris terus menatap Meli dengan kagum.
"Kenapa Mas ngeliatin aku terus?" Tanya Meli, ia menjadi salah tingkah karena Aris terus-menerus menatap dirinya.
"Kok, kamu luar biasa sekali ya sekarang. Kamu terlihat sangat keren dan aku semakin jatuh cinta." Ucap Aris sambil tersenyum kagum.
Meli menghentikan langkahnya dan menatap Aris dengan seksama.
"Enam tahun mengajarkanku banyak hal, aku harus berani dan aku harus kuat demi keluargaku." Ucap Meli sambil tersenyum. Lalu, Aris mendekatkan tubuhnya kepada meli.
"Aku menjadi semakin gemas, rasanya pengin mencium kamu deh,"
Ucap Aris, lalu ia mendekatkan bibirnya ke bibir Meli.
"Hmmm, Mas."
Meli mengelak lalu menjauhkan dirinya dari Aris.
"Loh, kenapa?"
Air muka Aris pun berubah saat Meli menghindarinya.
"Kita sudah enam tahun berpisah, saat tes DNA keluar sebaiknya kita menikah lagi. Aku memang tidak tahu hukumnya. Tetapi, sepertinya tiga bulan saja sudah otomatis jatuh talak. Baiknya, kita menikah lagi saja agar lebih nyaman." Ucap Meli sambil tersenyum malu-malu.
"Jadi, nanti malam aku belum bisa tidur denganmu?" Tanya Aris.
Meli mengangguk sambil tersenyum jahil.
"Ya sudahlah apa boleh, kamu yakin saja kepada ku, itu sudah Alhamdulillah. Ya sudah aku harus sabar menunggu dua minggu lagi." Ucap Aris.
Mereka berdua pun tersenyum, lalu mereka melanjutkan langkah kaki mereka menuju ruang makan. Di mana anak-anak mereka sedang menunggu mereka di sana.
Mereka pun melanjutkan makan siang mereka yang tertunda. Setelah makan siang, Meli tidak kembali ke kantor. Ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Aris dan anak-anak mereka.
__ADS_1