Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 25. Alisya


__ADS_3

Alisya melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung kantor milik Aris. Hari ini ia berniat untuk bertemu dengan Aris di kantor lelaki itu. Karena selama ini Aris selalu mengabaikan ajakannya untuk bertemu di luar.


"Selamat siang ada yang bisa saya bantu?" Sapa resepsionis kantor Aris.


Alisya menghentikan langkah kakinya. dan melihat ke arah resepsionis yang baru saja ia lewati. Lalu, ia menghampiri meja resepsionis.


"Saya ingin bertemu dengan Bapak Aris." Ucapnya dengan percaya diri.


"Sudah buat janji Bu?" Tanya resepsionis itu lagi.


"Saya teman lamanya tidak perlu membuat janji," Ucap Alisya dengan tegas.


"Sebelumnya mohon maaf Ibu, bertemu dengan Bapak Aris harus membuat janji terlebih dahulu." Ujar resepsionis.


"Hubungi Aris sekarang atau kamu siap-siap dipecat..! kamu tidak tahu siapa saya?" Ucap Alisya kesal.


"Saya tidak tahu Bu siapa Anda." Sahut resepsionis.


"Kurang ajar kamu ya..! Saya pastikan kamu dipecat..!" Ancam Alisya.


Aris baru saja turun dari lantai atas menuju ke lobby kantornya. Di lobby, ia melihat Alisya sedang beradu argumen dengan resepsionis, ia pun langsung menghampiri Alisya.


"Ada apa ribut-ribut?" Tanya Aris kepada resepsionis.


"Aris apa kabar?" Alisya menyapa Aris.


"Begini Pak, Ibu ini memaksa ingin bertemu dengan Bapak." Kata resepsionis itu.


Aris pun langsung menatap Alisya.


"Dia tidak mengizinkan aku masuk, wajar saja aku marah..!" Ucap Alisya.


"Tumben kamu ke kantorku Lis, Ada apa?" Tanya Aris.


"Aku kangen Ris, kamu sih tidak pernah mau aku ajak untuk bertemu di luar. Akhirnya aku datangin deh kamu ke kantor," Ucap Alisya.


"Maaf ya akhir-akhir Ini aku sibuk," Ucap Aris.


"Ya sudah, kamu kembali bekerja." Ucap Aris kepada resepsionis.


"Yuk Lis, ke ruangan ku saja."


Alisya pun tersenyum lalu menggandeng lengan Aris. Semua mata karyawan yang sedang berada di lobby memperhatikan mereka berdua. Aris pun mulai merasa risih dan dengan sopan ia melepaskan tangan Alisya dari lengannya. Lalu, Aris berjalan mendahului Alisya menuju lift. Wanita itu pun mengikuti Aris dari belakang dengan wajah yang cemberut.


Pintu lift pun terbuka, lalu mereka berdua masuk kedalam lift. Di dalam lift mereka hanya berdua, Alisya pun kembali menggandeng lengan Aris dan mencium pipi kiri lelaki itu.


"Aku tuh kangen banget tau," Ucap Alisya sambil bergelayutan manja di lengan Aris.

__ADS_1


"Hmmm, Lis, tidak enak apabila dilihat orang," Ucap Aris.


"Di sini kan cuman kita berdua." Ucap Alisya sambil menatap Aris dan tersenyum manis.


"Ya, kalau pintunya tiba-tiba terbuka kan nggak enak dilihat orang ucap Aris."


Ia kembali melepaskan tangan Alisya dari lengannya. Alisya pun hanya terdiam dan menyembunyikan wajah kesalnya.


Pintu lift terbuka, lalu Aris dan Alisya melangkah menuju ke ruangan kerja Aris. Aris pun, mempersilahkan Alisya untuk duduk di sofa tamu di ruangannya.


"Apa kabar kamu?" Tanya Aris memulai obrolannya.


"Baik, seperti yang kamu lihat," Ucap Alisya.


"Kok tumben ke sini? Ada apa?" Tanya Aris lagi.


"Seperti yang aku bilang tadi, aku hanya kangen sama kamu. Habisnya kamu tidak pernah mau untuk menemui ku di luar," Ucap Alisya.


"Oh, kukira mau memberikan aku undangan pernikahan." Seloroh Aris.


"Aku itu belum ada calon, kecuali kalau kamu mau menjadi mempelai pria nya ya tidak apa-apa." Ucap Alisya.


Aris hanya tertawa menanggapi ucapan Alisya.


"Aku serius loh Ris, mana tahu kan bisa CLBK. Cinta lama bersemi kembali." Seloroh Alisya.


"Dan kamu... Kenapa kamu masih betah sendirian?"


Alisya pura-pura tidak tahu bila Aris sudah menikah dengan Meli. Alisya hanya ingin mengetahui dari Aris sendiri bahwa lelaki itu sudah menikah dengan Meli.


"Sebenarnya, aku sudah menikah Lis. Aku sudah mempunyai istri." Ucap Aris.


"Oh ya? mengapa aku dan teman-teman semua tidak tahu?"


Alisya pura-pura terkejut.


"Memang tidak dirayakan, dan tidak ramai-ramai." Ucap Aris.


"Oh begitu, kapan-kapan aku boleh kenalan dengan istrimu? Tanya Alisya.


"Boleh, ya kapan-kapan aku kenalin." Ucap Aris.


Merekapun bertukar cerita seperti biasanya. Alisya mencoba menggali informasi tentang sosok istri Aris, kepada Aris. Tetapi, Aris sangat melindungi privasi istrinya.


Waktu pun beranjak sore, Alisya pun pamit pulang. Begitupun Aris yang akan segera pulang ke rumahnya.


Di parkiran, Alisya kembali membujuk Aris untuk makan malam bersamanya. Tetapi, dengan sopan Aris menolak ajakan Alisya. Karena ia ingin segera pulang dan makan malam bersama Meli.

__ADS_1


Alisya merasa dirinya diabaikan, hatinya pun terasa sakit. Lalu, ia memutuskan untuk mengikuti mobil Aris, agar ia mengetahui di mana kediaman Aris.


Mobil Aris memasuki komplek perumahan mewah. Alisya pun terperangah melihat deretan rumah-rumah mewah di komplek itu.


"Beruntung sekali Meli, dinikahi oleh Aris yang kaya raya. Aku sangat menyesal, tidak menikah dengan Aris dulu. Andaikan waktu bisa diulang dan aku mengetahui bahwa Aris akan menjadi sesukses seperti ini, aku pasti tidak akan melepaskannya." Gumam Alisya.


Seorang satpam membukakan gerbang untuk Aris. Lalu, mobil Aris masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Oh, jadi di sini rumahnya." Gumam Alisya sambil memperhatikan rumah mewah itu.


"Halo sayang, apa kabar kamu?" Tanya Aris kepada Meli yang sedang menyambutnya di depan pintu.


"Baik Mas, Mas apa kabar?" Tanya Meli sambil mencium tangan suaminya.


"Baik." Jawab Aris.


Lalu, Meli mengiringi Aris menuju kamar mereka. Seperti biasa setelah seharian tidak bertemu, mereka bertukar cerita. Meli menceritakan tentang dirinya di kampus, sedangkan Aris menceritakan tentang dirinya di kantor. Lalu, setelah itu mereka beranjak ke ruang makan untuk makan malam bersama.


"Halo Frans, ternyata benar apa kata kamu kalau Aris sudah menikah dengan Meli. Tante setuju untuk mengikuti idemu, sebaiknya kita bertemu di rumah Tante ya... Oke, Tante tunggu."


Alisya menutup panggilannya. Ia menatap Meli yang menyambut Aris di depan pintu rumah mewah itu. Alisya menghela napasnya. Lalu, ia menyalakan dan mengemudikan mobilnya menuju kediamannya.


...


"Hello Neng Surti... how ar yu tudey?" Tanya Jaja, dengan bahasa Inggris yang seadanya.


"Mas Jaja iki ngomong opo toh? Surti ndak ngerti Mas." Ucap Surti sambil tersipu malu.


"kol mi Kang Jaja, jangan Mas Jaja. Ok..?" Ucap Jaja, sambil mengangkat kacamata hitam nya dan membiarkan kacamatanya tersangkut di puncak kepalanya.


"Kol pakai mi? Mas Jaja mau Surti buatkan kol pakai mi?" Tanya Surti polos.


Jaja mengangkat kedua alisnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bik Parni yang sedang menyiangi sayur, menahan senyumnya melihat pembicaraan yang tidak nyambung antara Jaja dan Surti.


"Jaaa... Jaaa... kamu itu gak usah belagak seperti orang barat. Gak cocok Ja, dari segi kulit saja sudah tidak meyakinkan. Apalagi wajah..!" Celetuk Bik Parni sambil terkekeh melihat wajah Jaja yang memerah.


Jaja pun mengabaikan Bik Parni yang terus menertawai dirinya.


"Neng, malam ini kita jalan-jalan yuk..!"


"Kemana Mas?" Tanya Surti.


"Ke taman surgawi nya Kang Jaja." Jawab Jaja, yang bermaksud untuk menggombal Surti.


"Innalilahi Mas, Surti masih mau hidup. Walaupun katanya surga itu indah. Tapi, Surti ndak mau buru-buru masuk surga.!" Ucap Surti sambil mengeluarkan baju-baju yang baru saja selesai di cuci dari tabung mesin cuci.


"Ya ampunnnn.... Surti polos apa b*go ya..?" Gumam Jaja.

__ADS_1


__ADS_2