Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 22. Om Om keren dong..


__ADS_3

Aris menunggu Meli di depan teras rumahnya. Ia mondar mandir dengan gelisah sambil menggigit kukunya. Tidak lama kemudian, mobil Meli datang dan gadis itu pun turun dari mobilnya.


"Mel, kamu kenapa sih..? Coba cerita sama aku."


Aris menghalangi Meli yang hendak masuk kedalam rumah dengan berdiri di ambang pintu.


"Gak ada apa-apa." Jawab Meli sambil menahan tangis.


"Mel, aku itu suami mu. Coba jawab jujur. Mana tau aku bisa membantumu."


Aris memegang kedua pundak Meli dan mencoba meyakinkan Meli dengan menatap mata gadis itu dengan sungguh-sungguh.


Meli membalas tatapan Aris dengan mata yang memerah. Lalu, ia pun menangis di dada Aris. Aris memeluk erat gadis itu tanpa tau alasannya mengapa gadis itu menangis.


Setelah tenang, Aris membawa Meli ke kamarnya dan kembali mencoba bertanya tentang masalah yang sedang dihadapi gadis itu.


"Aku di bully Mas, gara-gara Frans sakit hati aku tolak cintanya. Lalu, dia bilang kesemua orang kalau aku main sama Om-om." Ucap Meli sambil menangis.


Mendengar penjelasan Meli, Aris pun merasa geram.


"Seenak nya saja nyebar fitnah. Dia mengatakan kamu main sama Om-om, memangnya dia pernah liat kamu jalan sama Om-om?" Tanya Aris dengan emosi


"Pernah." Ucap Meli sambil menangis sesenggukan.


"Kapan? jadi benar kamu pernah jalan sama Om-om?" Tanya Aris dengan tak percaya.


"Kan Om-omnya mas Aris." Ucap Meli dengan polos.


Mendengar jawaban Meli, Aris pun tertawa terbahak-bahak.


"Kamu serius Om-omnya aku? Apa aku terlihat seperti Om-om?" Tanya Aris sambil melihat bayangan dirinya di kaca.


"Enggak sih, cuma aku gak tau kenapa Frans ngomong gitu." Jawab Meli.


"Mmmmm..., ada-ada saja kelakuan bocah." Gumam Aris.


"Ya sudah, aku pastikan gosip ini akan berakhir secepatnya." Ucap Aris Sambil tertawa geli.


"Caranya?" Tanya Meli.


"Sudah, lihat saja besok ya." Ucap Aris sambil membelai lembut rambut istrinya.


Esoknya Aris sudah berdiri didepan kampus Meli dengan mobil sport yang baru saja dibelinya. Aris pun mengubah total gaya busananya.


Sekarang, Aris memakai kemeja putih yang ia gulung lengannya sampai ke siku dan celana jeans, lengkap dengan sepatu kasual dan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.


Lelaki itu terlihat tampan sekali, terutama di mata mahasiswi-mahasiswi yang sedang melintas di depannya. Semua mahasiswi menatapnya terpesona, bahkan ada beberapa mahasiswi yang memberanikan diri untuk menyapa bahkan menggodanya.


"Cowok idaman gue banget nih." Celetuk salah satu dari segerombolan mahasiswi yang sedang lewat didepan Aris.


Meli yang baru saja selesai mengikuti kelasnya, keluar dari gedung Fakultas itu dan berjalan menuju ke luar kampus.


Hari ini Meli tidak membawa mobil, karena mesin mobilnya kembali bermasalah. Meli pun berniat untuk pulang dengan menumpang taksi.


Dari jauh, Aris melihat Meli yang sedang berjalan kearah gerbang kampus. Ia pun langsung memasang gaya terkeren nya, berharap Gadis itu akan terpesona saat melihat dirinya.

__ADS_1


Tetapi, di luar dugaan Aris, Meli tidak sama sekali memperhatikan orang lain saat ia berjalan. Bahkan saat Meli lewat di depan Aris, gadis itu tidak sama sekali melirik dirinya.


Sikap Meli membuat Aris gemas dan sekaligus bangga karena istrinya tidak suka melirik pria lain. akhirnya ia pun menyapa Meli.


"Hai, boleh kenalan.." Sapa Aris sambil membuka kaca mata hitamnya.


Meli terperangah melihat Aris dengan penampilan barunya. Selama ini Meli tidak pernah melihat Aris berpenampilan seperti yang saat ini ia lihat. Selama ini, Aris selalu mengenakan kemeja dan celana bahan, serta sepatu fantofel yang biasa dipakai orang kantoran.


"Mas Aris..!" Seru Meli, tak percaya.


Aris pun tersenyum, lalu ia menghampiri Meli.


"Masa sama suami sendiri tidak mengenali." Ucap Aris sambil mengecup lembut kening Meli.


Meli pun mulai merasa malu saat Semua mata memandang dirinya dan Aris.


Meli menatap kagum lelaki itu, Aris lebih cocok mendapat gelar mahasiswa dari pada gelar Om-om.


"Ayo jalan-jalan." Ucapnya sambil menggandeng mesra tangan Meli.


Semua orang tercengang saat melihat Meli dan Aris.


"Masa begitu Om-om sih kata Frans, itu mah suami masa depan." Celetuk salah satu mahasiswi yang sedang menyaksikan aksi romantis Aris terhadap Meli.


"Iya ih, sudah ganteng, kaya, so sweet lagi. Bikin jealous saja si Meli." Timpal mahasiswi satu lagi.


"Gue yakin nih, si Frans cuma sirik aja sama laki-laki itu dan sakit hati sama Meli. Makanya si Frans menyebar gosip. Padahal kalau Om-om nya begitu mah, gue mau banget. Langsung hamil juga gak masalah deh." Ucap mahasiswi satu lagi, yang disambut sorakan dan tawa canda dari teman-temannya.


Aris dan Melly pun pergi meninggalkan kampus. Aris merasa puas dengan aksinya, terutama saat melihat Frans menatapnya cemburu saat melihat dirinya mencium kening Meli di depan gerbang kampus.


..


"Iya, ada apa Frans?" Ucap Alisya.


"Ada yang mau Frans katakan Tante, Tante ada waktu..?"


"Ada, kamu ke rumah saja." Sahut Alisya dari ujung telepon.


"Oke Tante, nanti Frans ke sana ya." Ucap Frans, lalu ia mengakhiri panggilan teleponnya.


..


Diam-diam Alisya mencari tahu tentang Aris. Sejak pertemuannya dengan Aris kemarin, Alisya menjadi penasaran kepada lelaki itu.


Perasaan cinta nostalgia saat SMA pun kembali membara. Terutama, saat ia melihat Aris kini sudah menjadi pengusaha sukses.


Alisya yang kini single dan aris yang kini juga single membuat Alisya mulai terobsesi dengan Aris. Alisya merasa ada harapan untuk kembali kepada Aris.


Sudah beberapa hari ini sejak pertemuannya dengan Aris, Alisya terus berusaha menghubungi Aris. Tetapi, tampaknya lelaki itu sangat dingin kepadanya.


Tok Tok Tok...!


Frans mengetuk pintu rumah Alisya.


Tak berapa lama kemudian asisten rumah tangga Alisya membukakan pintu untuk Frans dan mempersilahkan lelaki itu untuk masuk dan menemui Alisya di ruang keluarga.

__ADS_1


Frans melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Alisya. Lalu, ia menyapa Alisya yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga.


"Halo Tante." Sapa Frans.


"Hai, apa kabar kamu? kok tumben ke rumah Tante?" Tanya Alisya. Lalu ia memeluk dan mencium keponakannya itu.


"Ada yang mau Frans omongin Tante."


"Apa itu?" Tanya Tante Alisya, penasaran.


"Begini Tante, Tante waktu itu bersama dengan Om siapa namanya itu yang kita ketemu di restoran itu?"


"Aris?"


"Ah...! iya Aris," Ucap Frans.


"Iya kenapa Kok tumben nanyain dia?" Tanya Alisya penasaran.


"Begini Tante, sebenarnya Tante punya hubungan apa sama Om Aris?" Tanya Frans.


"Hmmmm, untuk saat ini belum ada hubungan apa-apa. Tapi, dia mantan kekasih Tante waktu SMA. Kenapa ya?" Tanya Alisa sambil tersenyum simpul.


"Oh, Frans kira Tante punya hubungan spesial dengan Om Aris."


"Maunya sih punya hubungan lagi." Ucap Alisya sambil tersipu malu.


"Memangnya kenapa? kok aneh sih kamu nanya-nanya tentang lelaki yang dekat dengan Tante?" Tanya Alisya lagi.


"Tante masih ingat nggak dengan gadis yang duduk bersama Frans waktu di restoran?"


"Iya ingat, dia kekasih kamu kan? Kalau tidak salah namanya Meli kan?"


"Bukan Tante dia bukan kekasih Frans. Tapi, Frans ingin dia menjadi pacar Frans."


"Oh, tante kira dia kekasih kamu. Kenapa tidak kamu katakan saja kalau kamu suka sama dia?" Ucap Alisya sambil mengernyitkan dahinya.


"Begini Tante, ternyata dia itu istrinya Om Aris. Frans juga baru tahu saat beberapa hari lalu di kampus. Om Aris menjemput Meli di kampus dan mengatakan kepada Frans bahwa Meli adalah istrinya."


Alisya terbelalak menatap Frans dengan tak percaya.


"Kamu ngomong apa sih jangan sembarangan ah..!" Ucap Alisya.


"Frans serius Tante, kalau memang Tante ingin bersama Om Aris, Tante bisa kan bantu Frans untuk membubarkan pernikahan mereka..?"


Frans menatap Tante Alisya dengan seksama, ia menunggu jawaban dari Tantenya itu. Alisya pun hanya bisa terdiam, ia masih tidak percaya dengan apa yang dibilang keponakannya itu.


"Kamu serius dia istrinya Aris?" Alisya kembali memastikan ucapan Frans.


"Ya serius lah Tante. Kalau tidak serius, ngapain Frans minta tolong sama Tante?"


Ucapan Frans kali ini membuat Alisya menghela napas dengan berat.


"Pantas saja kau mengabaikan aku Aris, ternyata kamu sudah punya istri baru. Sepertinya aku tidak bisa terima." Gumamnya.


Lalu Alisya menatap Frans dengan penuh arti dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2