Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 61. Bantu aku mengingat masa lalu


__ADS_3

Taksi Arya berhenti di salah satu gedung perkantoran yang tidak asing baginya. Ia mencoba mengingat-ingat gedung perkantoran itu. Setelah membayar ongkos taksi, Arya pun turun dari taksi tersebut. Dengan ragu ia masuk ke dalam gedung perkantoran itu.


"Selamat siang Mbak, saya sudah membuat janji kepada Ibu Meli." Ucap Arya kepada seorang resepsionis di lobby gedung tersebut.


"Sebentar ya Pak, saya hubungi Ibu Meli dulu, nama bapak siapa?" Tanya resepsionis itu.


"Saya Arya, dari Yogyakarta." Ucap Arya.


Resepsionis itu mengangguk lalu mengangkat gagang teleponnya dan menghubungi Meli yang sedang berada di ruangannya.


"Halo Bu, ada seseorang yang mencari Ibu, bernama Bapak Arya. Apakah sudah membuat janji kepada Ibu sebelumnya?" Tanya resepsionis itu lewat sambungan telepon ke ruangan Meli.


"Suruh dia masuk langsung ke ruangan saya. Terima kasih ya.." Ucap Meli.


"Baik Bu sama-sama." Ucap wanita resepsionis itu, lalu ia menaruh gagang teleponnya dan mempersilahkan Arya untuk langsung menuju ruangan Meli.


Arya pun berjalan menuju lift. Suasana di gedung perkantoran itu tidak asing lagi baginya. Ia melihat beberapa orang yang sedang lalu lalang di lobby gedung kantor tersebut.


"Sepertinya aku pernah bekerja di sini." Gumam Arya.


Arya menekan tombol lift untuk menuju lantai ruangan Meli. Setelah tiba di lantai ruangan Meli, Arya pun menjadi semakin yakin bila ia pernah bekerja di kantor itu.


Arya mengetuk pintu ruangan Meli. Terdengar suara Meli yang lembut dari dalam, mempersilahkan dirinya masuk ke dalam ruangan tersebut.


Arya membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Lalu, ia melihat sosok wanita yang tak asing lagi baginya, yang sedang duduk menunggu dirinya.


"Silakan duduk," Ucap Meli sambil mengarahkan tangan nya ke sofa di ruangan kantor milik nya.


Arya terdiam saat melihat suasana di kantor Meli. Ia memperhatikan meja kerja yang terletak di tengah ruangan tersebut. Ia ingat betul, bila di masa lalu ia pernah duduk di ruangan ini.


Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit, bunyi bising pun memenuhi telinganya.


Arya memejamkan matanya beberapa detik lalu, kilasan masa lalu kembali menghampirinya.


Arya melihat dirinya dengan wajah yang berbeda sedang duduk di ruangan tersebut. Ia pun mengingat karyawannya memanggil dirinya dengan sebutan Bapak Aris.


"Mel," Ucapnya.


Meli menatap Arya dengan seksama.


"Ya." Jawab Meli.

__ADS_1


"Aku sepertinya pernah duduk di ruangan ini, di sana."


Arya menunjuk kursi direktur utama milik Meli. Meli mengernyitkan dahinya dan menatap Arya dengan tak percaya.


"Maaf Mas, maksud nya apa ya?" Tanya Meli, dengan wajah yang bingung.


"Aku pernah duduk di situ, namaku Aris." Ucapnya lagi.


Meli berdiri dari duduk nya, lalu menatap Arya dengan tatapan yang kesal.


"Saya tidak punya waktu untuk bermain-main, Saya tidak tahu maksud kedatangan Mas kesini. Bila Mas mengatakan saya punya hubungan di masa lalu dengan Mas Arya, saya tegaskan, kita tidak pernah mempunyai hubungan apapun. Dan Aris adalah nama pemilik perusahaan ini sebelum saya dan dia sudah meninggal dunia." Ucap Meli.


"Mel, Apa kamu pernah nyaris saja tertabrak mobil?" Tanya Arya.


Meli kembali menatap Arya dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya. Ia mengernyitkan dahinya dan mencoba menilai lelaki yang sedang duduk di depannya.


"Di ingatanku yang terakhir sebelum aku kecelakaan, aku sedang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Lalu, tiba-tiba saja seorang wanita muncul dari arah semak-semak ke tengah jalan, pada malam yang sangat gelap dan dingin. Aku sempat melihat wajah wanita itu, ia mirip sekali dengan dirimu Mel..! Maka dari itu, aku mengatakan bahwa kamu ada di dalam masa laluku."


Meli menelan salivanya. Kejadian yang diceritakan oleh Arya sama persis dengan kejadian enam tahun yang lalu, saat dirinya hampir saja tertabrak mobil yang dikendarai oleh Aris, suaminya.


"Kamu jangan bercanda Mas, ini tidak lucu," Ucap Meli sambil menatap Arya dengan tajam.


"Aku tidak bercanda Mel..!"


"Tidak Mel, aku ingat betul wanita yang menyebrang itu adalah dirimu. Wajahnya mirip sekali denganmu aku menghindarinya hingga aku terperosok ke dalam jurang dan aku lupa ingatan," Ucap Arya dengan yakin.


"Terus, lalu Mas Arya, merasa diri Mas adalah Aris?"


Meli tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada kemungkinan aku adalah Aris, soalnya istriku pernah memanggilku dengan sebutan Aris," Ucap Arya.


"Cukup bercandanya Mas Arya, saya tidak banyak waktu untuk bercanda. Dan asal Mas tahu, Aris adalah suami saya dia sudah meninggal dunia karena kecelakaan. Dan Mas Arya Jangan pernah sekali-kali mengaku bahwa Mas Arya adalah Mas Aris. Saya melihat sendiri suami saya dikebumikan..!"


"Suami?" Tanya Arya.


Meli terdiam, lalu ia melangkah ke arah pintu ruangannya dan membuka pintu ruangan tersebut.


"Silakan pergi, saya tidak banyak waktu untuk bercanda," Ucap Meli, kepada Arya.


"Apakah suamimu kecelakaan karena menghindar agar tidak menabrak kamu?" Tanya Arya.

__ADS_1


Meli menghela nafasnya dengan berat. Lalu, sekali lagi ia mempersilahkan Arya untuk meninggalkan ruangannya.


"Mel, aku yakin aku adalah Aris..!" Ucap Arya.


"Keluar," Ucap Meli.


"Mel..!"


Arya menatap Meli dengan tatapan memohon.


"Aku memang seorang janda, tetapi aku tidak senang dipermainkan seperti ini. Terlebih saat kamu mempermainkan nama suami saya. Suami saya sudah meninggal dunia enam tahun yang lalu, sebelum anak-anak saya lahir. Jadi, jangan pernah mengaku-ngaku sebagai suami saya. Kecelakaan yang kamu alami hanya kebetulan sama dengan apa yang dialami suami saya. Tetapi, seberapa keras kamu mencoba meyakinkan saya, saya tidak akan percaya denganmu. Karena saya melihat sendiri jasad suami saya dikebumikan." Ucap Meli dengan tegas.


Arya hanya bisa terdiam, ia tidak tahu lagi bagaimana caranya mengatakan apa yang ada di pikiran nya kepada Meli.


Lalu l, Arya mengingat Alisya pernah menyebut nama Meli saat dirinya sedang dirawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Arya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebelum dirinya benar-benar diusir oleh Meli.


"Apa kamu mengenal Alisya?" Tanya Arya kepada Meli.


Meli pun terbelalak saat Arya mengucapkan nama Alisya. Meli ingat betul, Alisya adalah wanita penganggu rumah tangganya bersama Aris.


"Bagaimana kamu tahu tentang Alisya?" Tanya Meli.


"Apakah kamu mengenal istriku? Alisya adalah istriku? Apakah kamu yang dimaksud istriku, wanita muda itu?"


"Aku semakin tidak mengerti. Wanita muda? istrimu? Alisya?" Tanya Meli, dirinya semakin pusing dengan ucapan-ucapan Arya.


"Alisya mengatakan aku kecelakaan bersama dengan wanita muda kekasihku. Aku berselingkuh lalu terjadilah kecelakaan itu."


"Bila aku wanita muda yang dimaksud, mengapa saat kecelakaan kamu sedang menghindari aku?" Tanya Meli. Arya pun terdiam.


"Sudah cukup permainannya. Aku rasa kamu sedang bekerja sama dengan Alisya, aku tidak percaya," Ucap Meli.


Lalu Meli menelpon security kantor untuk mengusir Arya dari ruangannya.


"Mel, bagaimana agar kamu percaya denganku Mel? Bantu aku untuk mengingat masa lalu ku Mel. Aku tidak sedang bekerja sama dengan Alisya justru aku akan menghindarinya."


"Alisya adalah wanita perusak rumah tanggaku dengan Aris. Aku tidak sudi bila aku mempunyai hubungan lagi dengannya ataupun keponakannya yang bernama Frans. Sekarang tinggalkan ruangan saya atau saya memaksa anda untuk meninggalkan ruangan saya." Tegas Meli.


Meli merasa, ia sedang dipermainkan oleh Arya dengan mengungkit masa lalunya. Pasti Alisya yang menugaskan Arya untuk mendekati dirinya dengan mengaku-ngaku dirinya adalah Aris. Hal yang mustahil bagi Meli untuk percaya.


"Ok, aku bisa pergi sendiri tanpa di paksa. Tetapi, bila kamu berubah pikiran, kamu bisa menghubungi aku. Aku tidak mempermainkan kamu, tidak mungkin juga aku adalah orang suruhan Alisya. Bila aku dan Alisya bermaksud jahat dengan mu, aku tidak akan mengatakan atau menyebut nama Alisya. Aku jauh-jauh ke sini hanya demi mengungkap siapa diriku sebenarnya. Aku terlalu banyak berharap bahwa kamu adalah orang dari masa laluku dan kamu mampu untuk membantu ku mengingat semua tentang masa laluku. Aku ingin lepas dari Alisya yang mengaku sebagai istri ku. Tetapi aku salah, kamu tidak sama sekali memberikanku kesempatan. Apa boleh buat? Terima kasih atas waktunya," Ucap Arya.

__ADS_1


Lalu, lelaki itu melangkah keluar dari ruangan Meli. Meli hanya terdiam mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Arya. Entah mengapa hatinya merasa sedih, Meli pun mulai menangis karena menyesali sikap nya kepada Arya.


__ADS_2