
"Tante, gimana? Ada apa?" Tanya Frans, saat ia baru saja tiba di rumah Alisya.
"Duduk dulu dong kamu, baru ngomong, gimana sih..!" Kata Alisya.
"Oh iya." Frans tersenyum lalu duduk di sofa persis di samping Tantenya.
"Tante kesal deh sama Aris, bisa-bisanya dia mengabaikan Tante. Padahal dulu dia loh yang mengejar-ngejar Tante."
"Pepet terus Tante Jangan menyerah..!" Ucap Frans.
"Iya, tapi bagaimana caranya dia saja mengabaikan Tante..!"
"Bagaimana kamu saja yang menjebak Meli? dengan begitu Aris dan Meli akan berpisah." Sambung Alisya lagi.
"Haduh... Tante aku tuh sudah tidak boleh dekat dengan Meli, aku dipantau terus sama Om Aris. Lagi pula, Meli Tidak mau dekat-dekat dengan ku." Ucap Frans.
Alisya pun hanya mengangguk-angguk paham.
"Tapi, Tante Frans punya ide..!"
"Apa itu? katakan pada Tante." Ucap Alisya dengan antusias.
"Begini Tante, Tante adakan acara di sini dan mengundang teman-teman Tante untuk reunian. Terus, nanti Tante masukin deh sesuatu di minumannya Om Aris. Dan masukin Om Aris ke kamar, nanti ambil foto terus kirim ke nomor ponselnya Meli bagaimana?" Tanya Frans.
Alisya pun terbelalak mendengar ide dari keponakannya itu. Lalu, ia tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Frans.
"Kok kamu pinter sih? itu baru keponakan Tante...!" Ucap Alisya dengan bangga.
Frans pun tersenyum licik.
.....
Ting Ting Ting..!
Aris yang baru selesai sholat isya, dengan malas meraih ponselnya dari atas meja di samping ranjang. Lalu, ia membaca pesan yang baru saja ia terima.
Pesan broadcast dari Alisya
Dear Friends, saya mengadakan acara di rumahku dalam rangka makan malam bersama sekaligus reunian. Saya juga mengadakan acara untuk penggalangan dana bencana alam yang baru saja terjadi. Diharap semuanya datang demi mensukseskan acara penggalangan dana terima kasih.
"Dari siapa Mas? Tanya Meli.
"Dari teman, mereka mau mengadakan penggalangan dana untuk bencana alam, acaranya besok." Ucap Aris.
"Oh begitu."
"Tapi, aku malas sekali untuk datang."
"Loh kenapa Mas?"
"Tidak apa-apa, malas saja. Bawaannya kepengen pulang dan dekat kamu terus." Ucap Aris.
Meli pun tersipu malu mendengar jawaban dari suaminya.
Aris memeluk Meli yang sedang melipat mukena nya. Lalu, mencium kening istrinya.
"Mel, Aku ingin menghamili mu." Ucap Aris sambil tersenyum.
"Ih aneh bahasanya.." Ucap Meli sambil tertawa.
Tanpa basa-basi, Aris menggendong tubuh Meli dan menaruhnya di atas ranjang. Aris menatap kedua bola mata indah Meli.
"Bila aku memiliki anak darimu, pasti mewariskan kedua bola mata indah darimu. Pasti aku akan senang sekali."
Melly hanya tersenyum lalu menyentuh kedua pipi Aris dengan kedua telapak tangannya.
"Dan aku ingin mempunyai anak yang wajahnya mewarisi ketampanan kamu Mas," Ucap Meli.
__ADS_1
Mereka pun tersenyum penuh arti. Lalu, Aris mulai mencumbu Meli dengan hangat dan lembut dan mereka pun menghabiskan malam dengan penuh cinta.
Pagi ini seperti biasa, setelah Aris berangkat ke kantor Meli pun bergegas untuk pergi ke kampusnya. Saat ia ke garasi, ia melihat ban mobilnya kempes.
"Duh ada-ada saja, malah aku lagi buru-buru. Bagaimana ini?" Gumam Meli.
"Kenapa Neng?" Tanya Bik Parni yang sedang menyapu garasi.
"Nggak tahu nih Bik, kok tiba-tiba kempes ya. Malah Meli lagi buru-buru." Ucap Meli.
"Duh, gimana ya neng? apa diantar Jaja saja bagaimana? Tanya Bik Parni.
"Boleh Bik, Kang Jaja nya mana ya?" Tanya Meli.
"Sebentar, biar Bibik panggilkan si Jaja."
Bik Parni pun meninggalkan garasi dan berjalan menuju ke dapur.
"Ja.... Ja... kamu dimana?"
Bik Parni berteriak memanggil Jaja. Tetapi, tidak ada jawaban dari Jaja.
"Kemana sih si Jaja," Ucap Bik Parni, kesal.
Lalu, Bik Parni menuju ke taman belakang rumah. Di sana ia melihat Jaja dan Surti sedang duduk berdampingan berdua.
"Eh, Ja...! Kamu Bibik cariin dari tadi ke mana saja, ternyata ada disini..!" Ucap Bik Parni dengan kesal.
"Ganggu saja Bik Parni ini, Jaja itu lagi mengeluarkan jurus getaran cinta buat Surti. Memang ada apa sih..!"
"Getaran cinta, getaran cinta gayamu Ja...Ja. Itu Neng Meli minta di antarkan ke kampusnya"
"Hah...?"
Jaja langsung beranjak dari duduknya.
"Iya, buruan sana..!" Perintah Bik Parni.
"Siap laksanakan..!!!!!!!!" Ucap Jaja dengan bersemangat.
"Yeeee... Giliran disuruh nganter Neng Meli aja semangat. Coba kalau Bibik yang minta tolong anterin ke pasar, pasti kamu banyak alasan Ja.!" Kata Bik Parni dengan kesal.
"Ayam sori nih ya Bik, Neng Meli wangi. Sedangkan Bibik bau bawang. Jadi, Jaja sangat-sangat keberatan membonceng Bik Parni."
Mendengar ucapan Jaja, Bik Parni langsung melepaskan bakiak yang sedang ia pakai dan melemparkannya ke arah Jaja.
"Ngajak tawuran kamu ya Ja...!!!!!" Ucap Bik Parni geram.
Jaja lari tunggang langgang menuju halaman depan rumah.
"Neng Meli...! Jaja siap mengantarkan Neng Meli kemana pun Neng Meli pinta." Ucap Jaja saat ia baru saja sampai di halaman depan rumah.
Meli hanya tersenyum melihat tingkah Jaja.
"Sebentar, Jaja ambil dulu kereta kencana milik Jaja."
Jaja berjalan menuju motornya, lalu naik ke atas motor dan menyalakan motornya.
"Silahkan naik ke kereta kencana wahai Tuan Putri." Ucap Jaja, mempersilahkan Meli untuk naik ke motor nya.
"Ke kampus ya Kang."
"Ashiappppp tancap gasssss...!!!!!" Ucap Jaja dengan bersemangat. Lalu, mereka pun pergi menuju kampus Meli.
Dorrrrr....!!!!
Ban motor Jaja meledak saat melintasi jalan raya yang ramai. Jaja dan Meli pun langsung turun dari motor milik Jaja.
__ADS_1
"Ada apa Kang?" Tanya Meli sambil mengerutkan keningnya.
"Gak tahu nih Neng, kok bisa meledak ya. Kayak balon saja." Ucap Jaja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Duh, ada aja sih..! Malah Meli ada kelas lima menit lagi Kang." Ucap Meli, gusar.
"Gimana ya Neng, ini ban harus di ganti, malah gak ada tukang tambal ban lagi." Ucap Jaja, yang ikut bingung.
"Maaf ya Kang, kayak nya Meli naik taksi aja ya." Ucap Meli sambil melambaikan tangannya ke arah taksi yang melintas di jalan itu.
"Yah... Neng, terus Kang Jaja gimana nasibnya?"
Tanya Jaja kepada Meli yang sudah bersiap-siap untuk masuk kedalam taksi.
"Maaf ya Kang, sekarang Kang Jaja harus berjuang sendirian.. Fighting...!!!!!" Ujar Meli sambil tersenyum jahil dan meninggalkan Jaja dengan ban motornya yang kempes.
"Ya Tuhan... tau gitu tadi Jaja mending terus berjuang mepet si Surti." Ucap Jaja yang tercenung di trotoar.
..
Meli terdiam di dalam taxi. Hari ini, sudah dua kali ia mengalami ban bocor. Ia pun menangkap firasat yang buruk yang akan terjadi kepada dirinya.
"Astaghfirullah, semoga tidak terjadi apa-apa." Gumamnya.
Taksi yang mengantar Meli sampai di depan kampusnya. Saat akan turun, Meli pun mencari dompetnya di dalam tas. Tetapi, ia tidak menemukan dompetnya disana.
"Astaghfirullah..!!! dompet ketinggalan..!!!" Ucap Meli.
Meli pun kebingungan dengan situasi ini.
"Bang, dompet saya ketinggalan..!" Ucap Meli kepada supir taksi.
"Terus gimana mbak?" Tanya supir taxi tersebut.
"Sebentar ya Bang, saya cari bantuan teman saya dulu."
Meli memohon dengan supir taxi tersebut.
"Iya mbak.., tetapi jangan lama-lama." Ucap supir taksi.
Meli pun mengangguk lalu keluar dari taksi itu.
Meli menyapukan pandangannya untuk melihat seseorang yang mungkin ia kenal. Tetapi, dari sekian banyak orang yang melintas di gerbang kampus, tidak ada yang ia kenal saat itu.
Tiba-tiba saja dari belakangnya Frans menyapa Meli.
"Butuh bantuan Mel?" Tanya Frans.
Meli terdiam saat menatap lelaki itu.
"Lupa bawa dompet ya?" Tanya Frans lagi.
Meli tidak menjawab pertanyaan Frans. Lalu, Meli mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi teman-temannya.
"Berapa Pak?" Tanya Frans kepada supir taksi tersebut.
"Lima puluh enam ribu Mas." Ucap supir taksi.
Frans langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang seratus ribu kepada supir taxi.
"Ambil saja kembaliannya," Ucap Frans.
Supir taksi itu pun, tersenyum semringah. Lalu, mengucapkan terimakasih dan pergi.
"Aku berhutang, besok aku ganti. Terimakasih..!" Ucap Meli.
Lalu Meli pergi dari hadapan Frans begitu saja. Lelaki itu pun hanya tertawa kecil sambil memandangi wanita pujaannya itu.
__ADS_1