
Dua minggu kemudian,
Pagi ini Meli menggunakan kemeja putih dan rok hitam yang dibelinya dari gaji yang baru saja dia dapatkan tiga hari yang lalu.
Meli sudah siap untuk berangkat mengikuti ujian paket C. Meli senang bukan kepalang saat Aris mengatakan dirinya akan segera mengikuti ujian dan juga akan segera mendapatkan ijasah SMA nya
Selama dua minggu ini, Meli selalu giat belajar di sela-sela kesibukannya. Itu semua demi mempersiapkan dirinya untuk menghadapi soal-soal ujian yang akan ia hadapi. Dengan riang, Meli berangkat menuju lokasi ujiannya di antarkan oleh Jaja.
Jaja yang naksir berat sama Meli, selalu mengharapkan bisa jalan berdua terus dengan Meli. Pagi itu ia pun sangat bersemangat mengantar Meli dan menunggui gadis itu sampai selesai ujian.
Dari beranda lantai atas, Aris memperhatikan Meli. Ia melihat gadis riang itu melambaikan tangannya kepada Bik Parni yang melepas kepergian Meli untuk berangkat ujian.
Meli terlihat seperti anak TK yang hendak berangkat ke sekolah.
Tanpa di sadari, Aris tersenyum sendiri melihat tingkah laku Meli. Kini ia merasa gadis itu sedikit lucu, dan seperti layaknya anak kecil.
Saat meli sudah tidak terlihat lagi, Aris langsung meninggalkan balkon dan hendak kembali ke kamarnya. Tidak sengaja Aris melihat foto Retno yang terpampang di dinding lantai atas.
Aris Tersenyum menatap foto almarhumah istrinya.
"Sayang, dia sudah aku daftarkan paket C." Ucapnya.
Lalu, ia kembali melangkahkan kakinya menuju lantai bawah. Baru saja beberapa meter ia beranjak dari depan foto Retno, tiba-tiba saja foto itu bergeser miring secara misterius.
"Astaghfirullah." Ucapnya.
Dengan sedikit rasa takut, perlahan Aris kembali menghampiri foto Almarhumah istrinya itu. Lalu, dengan berhati-hati, ia mencoba untuk meluruskan kembali bingkai foto tersebut.
Tiba-tiba Aris teringat kata-kata Bik Parni.
"Bila tidak menepati wasiat, orang yang memberi wasiat bisa gentayangan."
Aris pun, bergidik ngeri.
"Sayang, jangan gentayangan ya.. I love you."
Setelah itu, Aris langsung buru-buru meninggalkan ruangan itu. Lalu, pergi menuju kamarnya dan berdiam diri karena ketakutan.
.
Waktu beranjak begitu cepat, sebulan pun telah berlalu. Hari ini Meli menerima ijasah paket C nya. Meli tersenyum bangga sambil menimang ijasah yang baru saja dia terima.
"Bikkkk.., lihat, Meli sekarang lulus SMA Bik..! Serunya sambil berlari ke dapur.
"Alhamdulillah Neng..., Neng Meli pinter. Neng Meli besok bisa kuliah dong ya."
Bik Parni menyambut Meli dengan hangat.
"Insyaallah Bik." Ucap Meli sambil tersenyum manis.
"Pokoknya Meli mau pulang ke Kampung, Ibu dan Ayah harus tahu, kalau Meli sudah lulus SMA." Sambungnya.
"Kapan?" Tanya Aris yang berdiri diambang pintu dapur.
__ADS_1
"Eh, Tuan." Sapa bik Parni.
"Saya boleh pulang Tuan?"
Meli menatap Aris dengan mata yang berbinar-binar.
"Boleh, tapi kamu gak kepengen bilang terima kasih gitu?" Tanya Aris, sambil menyenderkan punggungnya di dinding dapur.
"Eh..., anu Tuan.. Terima kasih banyak sebelumnya." Ucap Meli, yang menjadi salah tingkah.
Bik Parni pun tersenyum dan diam-diam beranjak pergi dari hadapan Aris dan Meli. Kini, hanya tinggal mereka berdua di dapur.
"Saya antar, kalau mau pulang Kampung. Sekalian saya ingin berbicara kepada Ayah dan Ibumu."
Kata-kata Aris membuat Meli terperanjat.
"Tuan mau ngapain ke Kampung saya? Kok mau ngomong dengan Ayah dan Ibu saya?" Tanya Meli dengan jantung yang berdebar-debar.
Aris menghampiri Meli dan berdiri tepat di hadapan gadis itu. Kini Aris hanya berjarak dua jengkal dari Meli. Aris menatap Meli dengan seksama. Lalu, ia memasukkan kedua tangan ke saku celananya dan terus memandangi wajah Meli yang mulai memerah.
Karena grogi, Meli semakin menundukkan pandangannya. Jantungnya tak dapat berdetak dengan normal saat berada di hadapan lelaki itu.
Meli juga dapat mencium aroma parfume Aris, karena lelaki itu berdiri sangat dekat dengannya.
"Kamu lupa isi surat wasiat itu?" Tanya Aris dengan berbisik pelan.
"Ti-ti-tidak Tuan,"
Meli menjawab dengan terbata-bata. kedua dengkul Meli mulai terasa lemas, tubuhnya pun gemetar.
Lalu, ia beranjak pergi meninggalkan Meli sendiri di dapur.
Sepeninggal Aris, Meli langsung terduduk lemas di atas lantai. Kata-kata Aris membuat Meli merasa takut.
"Apa yang harus aku lakukan?" Bisik nya lirih.
........
Hari Sabtu pun tiba, Aris sudah mengemaskan barang-barang pribadinya yang akan ia bawa untuk ikut ke Kampung halaman Meli.
Setelah mengemasi barang-barang pribadinya, Aris pun, mencari Meli ke dapur. Tetapi, Meli tidak sedang berada di dapur. Aris pun mengeryitkan dahinya, lalu ia beranjak menuju ke kamar Meli dan mengetuk kamar gadis itu.
Tak lama, pintu kamar itu pun terbuka. Meli terkejut saat mengetahui Aris lah yang mengetuk kamarnya.
"Iya Tuan," Tanya meli sambil menatap Aris dengan bingung. Karena, ini adalah pertama kalinya Aris mengetuk pintu kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Aris dengan ekspresinya yang datar.
"Sa-saya sedang menyetrika Tuan." Jawab Meli dengan wajah polosnya.
Aris menyapukan pandangannya kedalam ruangan berukuran 4x3 itu. Lalu, ia melihat setumpuk baju yang belum di setrika, di atas ranjang Meli.
"Siap-siap, bawa bajumu. Kita pergi ke Kampung mu hari ini. Saya tunggu, satu jam mulai dari sekarang." Ucap nya.
__ADS_1
Lalu, Aris berlalu begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Meli. Antara senang dan tak percaya, Meli memandangi punggung Aris yang berjalan kembali ke kamarnya.
Meli senang akan pulang ke Kampungnya di Kuningan, Jawa Barat. Satu sisi dirinya juga takut, bila Aris mengatakan wasiat itu kepada kedua orangtuanya. Karena, Meli belum siap untuk menikah. Tetapi, satu sisi yang lainnya, ia juga tidak mungkin untuk tidak menuruti keinginan terakhir Retno yang sangat ia hormati.
Dengan tergesa-gesa Meli mengumpulkan baju-baju yang akan ia bawa, lalu ia bergegas untuk mandi.
Satu jam kemudian, Meli sudah berdiri di hadapan Aris yang sedang menikmati segelas kopi di halaman belakang rumahnya. Aris menatap Meli yang selalu menundukkan kepala bila di depan nya. Meli membawa sebuah tas lusuh di tangannya.
"Saya sudah siap Tuan." Ucap Meli.
Aris mengangkat kedua Alisnya sambil memperhatikan busana yang dipakai Meli. Lalu, ia menghela napasnya dengan perlahan.
"Ikuti aku." Perintahnya.
Meli mengangguk, lalu ia mengikuti Aris dengan tergopoh-gopoh mengimbangi langkah kaki panjang lelaki itu. Hingga sampailah mereka berdua di depan kamar Aris.
Aris membuka pintu kamarnya.
"Masuk." Perintahnya kepada Meli.
"Hah...? mau ngapain Tuan?"
Meli tampak mulai ketakutan.
"Masuk saja, atau mau aku paksa?"
Meli menatap majikannya itu, terlihat sorot mata majikannya yang sedang tidak bermain-main.
"Tapi, Tuan..."
Aris tidak sabar, ia langsung menarik tangan Meli dan membawanya masuk kedalam kamarnya. Lalu, ia menutup pintu kamarnya degan cepat.
"Tu-tu-tuan mau apa?"
Meli menjatuhkan tasnya, lalu menyilang kan kedua tangan di dadanya.
Aris menyapukan pandangannya ke tubuh Meli. Lalu, ia berjalan menghampiri gadis lugu itu.
"Tuan dosa Tuan..dosa.."
Wajah Meli langsung pucat menahan rasa takut. Air matanya sudah mulai menetes dari sudut matanya yang indah.
Sedangkan Aris terus mendekatinya dengan perlahan, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Meli. Gadis itu menggigil ketakutan dan memejamkan kedua matanya saat Aris begitu dekat dengannya.
"Jangan geer." Ucap Aris.
Meli langsung membuka matanya dengan perlahan. Lalu, memberanikan diri untuk menatap Aris, masih dengan wajahnya yang ketakutan.
"Ambil baju yang mau kamu bawa dari lemari Retno, itu semua milikmu. Aku tidak mau jalan denganmu kalau bajumu seperti ini. Jangan lama-lama, gak usah pake dandan, bisa berdebu aku menunggunya." Ucap Aris.
Lalu, ia meninggalkan Meli sendirian di kamarnya.
Meli terdiam mendengar ucapan Aris. Setelah Aris pergi, barulah dirinya menghembuskan napas lega.
__ADS_1
Dengan ragu, Meli mulai membuka lemari Almarhumah Retno. Semua baju yang indah ada di sana, mulai dari baju sederhana, baju rumah, baju ke pesta dan baju sexy yang mungkin hanya dipakai Retno saat berdua saja dengan Aris.
Meli mulai menyentuh satu persatu baju-baju indah itu dan mulai memilih beberapa baju untuk di bawanya ke Kampung halamannya.