Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 60. Jakarta


__ADS_3

Bik Parni sedang asyik berduaan dengan Kang Jaja di dapur. Jaja sedang membantu Bik Parni menyiangi sayur bayam yang akan dimasak oleh Bik Parni.


"Ayang mbeb udah nih, tinggal di cuci."


Jaja menyodorkan sayur bayam yang di taruh di baskom yang sudah ia siangi kepada Bik Parni.


"Terima kasih ayam mbeb ku," Ucap Bik Parni sambil tersenyum manis kepada Jaja.


"Ayam.., Ayank tau..!" Ucap Jaja, sambil tersenyum geli.


Bik Parni hanya tertawa sambil mengiris bawang merah untuk membuat bawang goreng kesukaan Ar dan Re.


"Katanya Neng Meli mau seminggu di Yogyakarta, tapi kok cuma beberapa hari ya?"


"Gak tahu tuh.. kok berubah rencana nya." Sahut Bik Parni.


"Neng Meli semakin hari semakin cantik ya Ayank mbeb. Neng Meli sudah seperti artis sekarang, beda sama yang dulu," Ucap Jaja sambil tersenyum-senyum membayangkan wajah cantik Meli.


PRAKKKKK...!


DUARRRRRR...!


GOMPRYAAAANG..!


Bik Parni menghempaskan ember, baskom dan panci kedalam wastafel.


"Neng Meli mah benar-benar cantik luar dalam, wajah sama hati nya mecing, sama-sama aduhai," Ucap Jaja lagi sambil menutup kedua matanya, membayangkan sosok Meli yang sedang menggunakan baju ala bidadari khayangan dan sayap di punggung nya.


PRAKKKKK..!


Bik Parni melemparkan baskom kearah Jaja, hingga mendarat di kepala Jaja.


"Aduh....! Sakit ayank mbeb...!"


"Jangan sebut aku ayam mbeb mu lagi kalau kamu masih membayangkan Neng Meli..!"


Bik Parni menghentakkan kakinya lantai. Lalu, ia menatap Jaja dengan tatapan yang tajam dan wajah ditekuk.


"Ma-maaf ayang mbeb, Jaja kan hanya mengatakan sesuai fakta gitu loh.."


"Gak ada fakta-fakta..!" Bentak Bik Parni sambil mulai menangis karena cemburu.

__ADS_1


"lah, lah, lah.. kok nangis ayang mbeb. Maafkan suami mu yang tertampan di Asia tenggara ini ya yank."


"Lepaskan kang..! aku jijik dengan mu..! kamu membayangkan wanita lain selain aku..!" Ucap Bik Parni persis seperti di sinetron-sinetron yang di putar di televisi.


"Maafkan Akang ya mbeb."


Jaja merasa bersalah melihat istri nya yang mulai menangis.


"Parni tau, kalau Parni jelek, tidak secantik Neng Meli atau Surti. Parni sudah tua..! Huaaaaaaaaa..!"


Bik Parni menangis dengan kencang.


"Siapa bilang, ayang mbeb nya kang Jaja seperti bidadari kok, sedangkan kang Jaja tampan seperti Sangkuriang."


Parni menatap Jaja dengan tatapan sebal.


"Gak nyambung..!!!" Ucap Bik Parni kepada Jaja. Lalu, ia beranjak dari hadapan Jaja menuju kamar nya.


"Ya sudah Jaka Tarub kalau begitu yank..! yank..! yank..!. Lah, malah pergi."


Jaja bersungut-sungut sambil mengunyah sayur bayam yang tadi ia siangi.


..


Arya beranjak ke lemari pakaian Alisya. Ia ingin mencari surat nikah mereka yang selama ini tidak pernah ia lihat. Arya mencari di setiap laci yang berada di dalam lemari.


"Dimana sih, Alisya menyimpannya." Gumam Arya.


Saat itu juga Arya teringat akan lemari brankas yang berada di balik pigura foto yang tergantung di dinding kamar mereka. Lalu, Arya menuju ke lemari brankas tersebut. Ia mencoba membuka lemari itu dengan semua kode yang ia ingat. Tetapi, selalu di tolak.


Arya terduduk di pinggir ranjang. Lalu ia berusaha mengingat apa pun yang kemungkinan menjadi kode lemari brankas itu. Setelah berulang kali ia mencoba tetapi selalu gagal, akhirnya Arya menyerah.


Arya mengingat Alisya yang tadi menyebut nya dengan nama Aris. Arya mencoba berpikir dan mengingat nama Aris, tetapi tidak sekali pun ia mengingat bahwa namanya adalah Aris.


Arya pun memukul-mukul kepala nya, ia merasa frustasi dengan keadaan dirinya saat ini.


Setelah beberapa menit ia merenung akhirnya Arya bangkit dari duduk nya dan bertekad hari ini juga untuk pergi ke Jakarta mencari Meli.


"Hanya Meli yang muncul dari ingatan masa laluku. Aku harap, ia benar-benar wanita yang hampir saja aku tabrak pada malam itu." Gumam Arya.


Arya mengemasi beberapa baju yang akan ia bawa ke Jakarta. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun pergi meninggalkan kamar nya dan menemui Jono.

__ADS_1


"Jon, antar saya ke bandara sekarang juga." Perintah nya.


Lalu, Arya membuka aplikasi untuk mencari tiket penerbangan pada hari itu menuju Jakarta.


..


Meli baru saja selesai meeting dengan para karyawannya. Ia masih saja belum beranjak dari ruang meeting. Meli termenung mengingat Arya, lelaki yang bertemu dengan nya di Yogyakarta.


Meli menghela napasnya dengan berat. Lalu, ia meneguk teh yang sudah dingin yang tadi di sediakan oleh asisten nya saat baru saja meeting di mulai.


Meli membuka ponselnya, dan membaca lagi pesan-pesan yang di kirim oleh Arya kemarin. Tiba-tiba saja, sebuah pesan masuk di ponsel Meli.


Meli pun membaca pesan dari nomor yang tak ia kenal.


Nomor yang tak dikenal


Mel ini aku Arya, Aku sekarang sudah berada di Jakarta. Aku ingin bertemu, berikan aku kesempatan sekali saja untuk bertemu denganmu. Aku melihat kamu di masa lalu ku. Aku sedang tidak bercanda Meli. Kamu benar-benar ada di masa laluku, saat aku kecelakaan dulu.


Mel, aku mohon bantu aku mengingat masa laluku. ingatan satu-satunya yang aku temukan adalah kamu.


Meli mengernyitkan dahinya saat membaca pesan dari Arya.


"Aku ada waktu dia kecelakaan?" Tanya Meli di dalam hati.


"Tidak mungkin, aku tidak pernah melihat kecelakaan sebelumnya. Kecuali saat Mas Aris kecelakaan." Gumam Meli lagi.


Ada dorongan yang kuat didalam hati Meli untuk membalas pesan dari lelaki itu. Tanpa pikir panjang, Meli pun memberikan lokasinya saat ini. Lalu, ia mengetik pesan untuk dikirimkan kepada Arya.


Aku sedang di kantor. Untuk menghindari fitnah, silakan datang saja ke kantor ku.


Tulis Meli lalu ia mengirimkan nya kepada Arya.


Meli berharap inilah terakhir kali ia bertemu dengan Arya, setelah Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah ada didalam masa lalu Arya.


Setelah pesan nya terkirim, Meli menyandarkan tubuhnya punggung kursi. Ia pun mulai gelisah menunggu kedatangan Arya.


Arya tersenyum saat Meli membalas pesan darinya. Ia sengaja membeli nomor ponsel yang baru untuk menghubungi Meli. Karena nomor ponsel sebelumnya sudah diblokir oleh Meli.


Arya langsung menghentikan sebuah taksi, untuk membawa nya menuju kantor Meli. Arya terlihat sangat gelisah, seakan-akan ia akan segera bertemu dengan masa lalunya.


"Pak bisa lebih cepat?" Tanya Arya kepada sopir taksi tersebut.

__ADS_1


"Baik Pak," Ucap supir taksi itu. Dengan cepat, pengemudi taksi itu pun meluncurkan mobilnya menuju kantor Meli.


__ADS_2