
Aris termenung di kantornya. Dirinya terus memikirkan Meli. Apakah Meli masih belum mencintainya, ataukah Meli masih belum terima dengan pernikahan mereka. Semua pertanyaan itu muncul mengganggu dirinya.
"Apa aku harus mengajaknya bulan madu dulu ya?" Gumam Aris.
Aris pun, langsung menyuruh sekretarisnya untuk mengecek jadwal dan membooking Hotel diluar Pulau. Untuk dirinya dan Meli.
Setelah semuanya dapat, Aris pun langsung bergegas menuju ke kampus Meli.
Meli sudah menunggu Aris di depan kampusnya. Gadis itu tersenyum manis saat melihat Aris datang dan langsung masuk kedalam mobil.
"Gimana kabar kamu hari ini?"
Meli tersenyum mendengar Aris menanyakan kabarnya. Perhatian Aris membuat hatinya meleleh. Walaupun satu rumah, Aris selalu menanyakan kabar kepada Meli saat mereka bertemu setelah kegiatan seharian.
"Baik, Mas apa kabar?"
"Baik."
Aris tersenyum menatap Meli, lalu ia berpikir bagaimana caranya untuk mengatakan kepada Meli bahwa ia berniat ingin mengajak gadis itu berbulan madu. Setelah cukup lama Ia berpikir, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengatakannya kepada Meli.
"Hmmmm, aku mau mengajak kamu untuk berbulan madu. Selama ini kita belum pernah bulan madu."
Meli pun terdiam saat mendengar ajakan Aris.
"Kenapa?" Tanya Aris.
"Tidak apa-apa Mas."
"Kamu tidak mau?" Tanya Aris lagi.
"Bagaimana ya......"
Meli menggigit sudut bibirnya.
Aris pun melirik Meli mencoba mencari jawaban.
"Aku takut." Jawab meli dengan wajah yang mulai panik.
"Kenapa harus takut kan kita suami istri."
Aris mencoba meyakinkan Meli.
"Aku takut saja," Ucap nya sambil memberanikan diri untuk melirik Aris.
"Bisa tidak dijelaskan kenapa kamu takut?"
"Aku takut hamil Mas," Ucap Meli dengan polos.
"HAH...!"
Aris terkejut mendengar alasan Meli, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampunnnn, kini aku benar-benar merasa seperti Om-om yang menggoda anak kecil untuk bersetubuh dengannya."
Aris menepuk keningnya dan tertawa terpingkal-pingkal.
Sedangkan Meli hanya menundukkan kepalanya.
Aris menghentikan mobilnya di tepi jalan. Lalu, ia menggenggam erat tangan Meli.
"Mel, kita sudah menikah. Apa kamu belum menyadari itu? Kalau kamu hamil aku tanggung jawab, karena aku suamimu."
Meli menatap Aris dengan ragu.
"Kalau tidak mau hamil ya pakai kontrasepsi, tetapi aku memang ingin kamu hamil Mel. Karena umurku sudah tidak muda lagi. Aku ingin anak."
Aris mencoba meyakinkan Meli. Gadis lugu itu pun kembali menundukkan pandangannya.
Cukup lama Meli terdiam, hingga akhirnya ia pun mengangguk.
"Ya sudah, kita pergi berbulan madu."
"Beneran kamu mau?" Tanya Aris tak percaya.
__ADS_1
"Iya aku mau."
Aris pun tersenyum bahagia mendengar jawaban Meli, lalu ia memeluk istrinya dengan erat.
"Ayo kita bahagia bersama sampai tua nanti."
.
Esok harinya, Aris dan Meli bergegas menuju ke Bandara. Bik Parni melepas kepergian mereka dengan gembira. Sedangkan Kang Jaja melepas kepergian mereka dengan hati yang terluka.
Seperti biasa, Jaja tidak rela melihat pujaan hatinya pergi berdua saja dengan Aris.
"Bik, kalau Meli di apa-apain sama Tuan bagaimana?"
Mendengar pertanyaan Jaja, Bik Parni pun langsung mencubit lengan Jaja.
"Kamu itu ya Ja, sudah jelas mereka suami istri. Ya wajar diapa-apain...! Kalau kamu yang apa-apain Neng Meli itu baru apa-apa buat Tuan dan Bibik."
Bik Parni melotot kepada Jaja. Jaja pun hanya bisa cemberut.
"Sudah ah, Bibik males ngomong sma kamu Ja. Omongan mu Meliiiiiii terus. Bosen Bibik..!"
Bik Parni meninggalkan Jaja yang masih berdiri di depan pintu.
"Meliiiiiiiiiii...!" Jaja berteriak memanggil nama Meli sambil menangis.
...
Meli dan Aris sudah sampai di Bali.
Mereka pun segera menuju Hotel tempat mereka menginap.
Sepanjang jalan Meli terperangah melihat indahnya Pulau Bali. Ia pun tidak percaya bahwa dirinya bisa menginjak Pulau Dewata itu. Aris tersenyum melihat Meli yang begitu antusias.
"Kamu senang?" Tanya Aris.
Gadis itu pun hanya mengangguk sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya kepada Aris.
Setelah turun, Meli tersenyum-senyum sendiri ketika melihat banyak turis di sana. Setelah check-in mereka pun menuju kamar yang nomornya sesuai dengan kunci yang diberikan resepsionis.
Setelah di kamar, Meli mulai kelihatan gelisah.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Aris sambil menggenggam tangan mungil Meli.
"I-iya Mas." Jawab Meli dengan terbata.
Aris langsung memahami kenapa Meli terlihat sangat gelisah. Aris memutuskan untuk bersikap biasa saja. Aris takut apabila Meli merasa tidak nyaman berada di sampingnya saat mereka berbulan madu.
"Ayo kita pergi hangout.."
Ajak Aris sambil memegang tangan Meli untuk mengikuti dirinya. Meli menatap Aris dengan tak percaya.
Yang membuat Aris menjadi kebingungan melihat ekspresi Meli.
"Kenapa?" Tanya Aris kepada Meli.
"Katanya bulan madu. masa hangout?"
Kata-kata Meli membuat Aris menjadi tertawa.
"Memangnya bulan madu harus di ranjang terus gitu? Aku gak mau memaksa kamu. Sebelum kamu benar-benar siap," Ucap Aris lalu tersenyum simpul.
"Ayo kita senang-senang diluar saja, anggap saja ini liburan," Ucap Aris sambil membelai lembut rambut Meli.
Lalu, Aris bergegas untuk keluar dari kamar. Meli menahan lengan Aris lalu memeluk lelaki itu dari belakang.
"Aku sudah siap..!" Ucapnya.
Aris langsung membalik kan badannya dan menatap Meli dengan tak percaya.
"Kamu yakin? kamu gak takut hamil.?" Tanyanya dengan wajah yang serius.
"Aku istrimu Mas, aku tidak takut," Ucap Meli sambil tersipu malu.
__ADS_1
Aris tersenyum penuh arti dan langsung membalas pelukan Meli.
"Ok... let's gooooo."
Aris langsung menggendong tubuh Meli dan menaruhnya di atas ranjang. Meli pun tersenyum malu-malu.
Saat itu juga, Meli menjadi milik Aris seutuhnya. Meli menunaikan kewajiban dirinya sebagai seorang istri untuk Aris.
...
Seminggu sudah mereka berada di Bali. Hari ini mereka harus kembali pulang ke rumah. Sejak saat itu mereka sudah menjalankan kehidupan rumah tangganya seperti normalnya pasangan yang berumah tangga. Hal-hal yang indah pun selalu menghiasi hari-hari mereka.
Meli bahagia, begitu juga dengan Aris.
Wasiat Retno adalah wasiat cinta. Hingga akhir hayat nya, Retno ingin yang terbaik buat orang-orang yang ia cintai. Meli adalah yang terbaik untuk Aris, begitu juga sebaliknya.
Dan semenjak saat itu pula Jaja lebih sering termenung sendirian. Harapannya pupus terhadap Meli. Jaja seperti tidak punya semangat hidup.
"Sudah Ja, jangan dipikirkan lagi lupakan Neng Meli, mimpimu jangan ketinggian. Kalau ketinggian ya begini Ini, akhirnya kamu jatuh tersungkur. Gimana enak rasanya Ja?" Tanya Bik Parni.
Jaja melirik Bik Parni dengan kesal.
"Pokoknya Jaja menunggu Neng Meli jadi janda." Kata Jaja.
"Hus...! mulutmu itu ja sembarangan aja ngomong..!"
Lagi-lagi Parni melemparkan baskom ke arah Jaja.
"Wekkksss.. nggak kena," Ucap Jaja sambil mengulurkan lidah
nya kepada Bik Parni.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Meli kepada Jaja dan Bik Parni.
"Ini Neng, Jaja mulutnya kurang ajar," Ucap Bik Parni.
Jaja hanya bisa menundukkan kepalanya, ia takut Bik Parni akan mengadukan kepada Melly apa yang telah Ia katakan.
Meli hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah Bik Parni dan Kang Jaja.
"Ini siapa Neng?" Tanya Bik Parni sambil menunjuk wanita muda yang berdiri di samping Meli.
"Oh iya, kenalkan. Ini Surti, mulai hari ini dia akan menggantikan Meli untuk membantu Bibik bekerja," Ucap Meli.
Gadis di samping Meli pun menyalami Bik Parni dan Kang Jaja.
Jaja menatap gadis didepannya dengan terpesona. Gadis itu pun tersenyum kepada Jaja dengan malu-malu. Begitupun Jaja yang membalas senyuman Gadis itu dengan salah tingkah.
"Surti."
Gadis itu menyebut namanya, lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Jaja.
"Jaja pria tampan seantero Negeri," Ucap Jaja sambil menyambut tangan gadis itu.
Surti pun tersenyum kepada Jaja.
"Oke, mulai sekarang kamu sudah bisa bekerja ya Surti. Tolong dibantu Bik Parni. Jangan sampai Bik Parni terlalu capek."
Kata Meli kepada Surti.
"Iya Nyah." Jawab Surti sambil mengangguk sopan.
"Ya sudah, biar Bibik yang menunjukkan kamar untukmu. Saya mau ke depan dulu ya," Ucap Meli. Surti pun mengangguk.
Lalu, Meli meninggalkan Bik Parni, Kang Jaja dan Surti dan melangkahkan kakinya menujuk ke ruang depan.
"Ayo Neng, Bibik tunjukkan kamarnya."
Bik Parni mengajak Surti untuk menuju ke kamar bekas Meli dulu. Gadis itu mengangguk, lalu mengikuti langkah Bik Parni.
Jaja masih terpaku melihat cantiknya wajah Surti. Jantungnya berdebar begitu kencang, kedua lututnya pun terasa lemas.
"Jaja rasa, Jaja sedang jatuh cinta." Ucapnya, sambil tersenyum malu-malu.
__ADS_1