
"Bagaimana sudah dapat kabar? apa keberadaan Frans kalian temui?"
"Belum Boss," Ucap orang suruhan Aris.
Aris menahan emosinya, tetapi ia tidak mau menyalahkan anak buah nya yang sudah bekerja keras untuk dirinya.
"Ya sudah, bekerja lah lebih baik lagi."
Anak buah Aris pun mengangguk, lalu membubarkan diri. Mereka mencoba kembali bekerja mencari Meli yang hilang.
Aris termenung sendirian di ruang tamu, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu, ia bernapas dengan berat. Air matanya mulai mengembang. Ia merasa sangat kehilangan Meli.
"Tuan, apa mau Bibik buatkan kopi?" Tanya Bik Parni kepada Aris.
Aris hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan.
"Baik Tuan, Bibik buatkan. Sebentar ya Tuan," Ucap Bik Parni dengan sopan. Lalu, ia pergi ke dapur untuk membuatkan Aris segelas kopi.
"Bik, sebenarnya Neng Meli teh kemana?" Tanya Jaja kepada Bik Parni.
Bik Parni hanya mengangkat kedua bahunya.
"Sudah seminggu Bik, gimana ya keadaan Neng Meli. Dia ada di mana ya Bik?" Ucap Jaja lagi.
"Gak tahu Ja, Bibik pun sedih. Apalagi melihat Tuan Aris yang seperti itu. Kasihan Ja.." Ucap Bik Parni sambil menyeduh kopi di gelas keramik untuk Aris. Lalu, meletakan nya di atas meja dapur.
Bik Parni pun mengambil sendok di rak piring.
"Apa lagi Jaja Bik, bagaikan langit tanpa bintang bila Neng Meli tidak disini Bik," Ucap Jaja sambil menyeruput Kopi.
Bik Parni membalikan badannya dan hendak mengaduk kopi yang baru saja ia buat untuk Aris.
"Andai Jaja itu dukun Bik, Jaja pasti bisa mendeteksi dimana Neng Meli berada. Pasti Jaja sudah datangin itu tempatnya dan Jaja berubah menjadi superhero yang menyelamatkan Neng Meli," Ucap Jaja.
Bik Parni hanya menatap Jaja dengan kesal.
"Ada apa atuh Bik? Kok melihat Jaja terpesona seperti itu?"
Bik Parni menggigit bibirnya dengan gemas.
"Duh.. Bik Parni napsu gitu dengan Jaja? Kok bibirnya di gigit? Jangan atuh Bik," Ucap Jaja lagi, sambil menatap Bik Parni dengan seksama.
Tukkkkkk...!
Bik Parni memukul pelan kening Jaja dengan sendok di tangannya.
"Aduh...! Kenapa gitu Jaja di pukul pakai sendok?" Tanya Jaja sambil mengusap keningnya.
"Eh, Ja..! itu teh kopi untuk Tuan Aris..! Bukan untuk kamu..!" Ucap Bik Parni kesal.
__ADS_1
"Oh, maaf ya Bik..! Jaja pikir Bik Parni membuat nya untuk Jaja."
Jaja tersenyum salah tingkah.
"Hhhhhhh.....! Kamu ini Ja..!"
Bik Parni kembali mengambil gelas baru dan membuat secangkir kopi lagi untuk Aris.
"Jadi orang itu, kalau mau apa-apa tanya dulu. Jangan main nyelonong aja Ja..!"
"Ja.."
"Ja..."
Bik Parni menengok ke belakang. Tetapi, Jaja sudah tidak ada di sana beserta segelas kopi yang tadi Bik Parni buat.
"Hhhhhh.. si Jaja....!" Ucap Bik Parni kesal.
Bik Parni membawakan segelas kopi untuk Aris. Lalu, menaruhnya di atas meja tepat di depan Aris yang sedang berdiam diri memikirkan Meli.
"Terima kasih ya Bik" Ucap Aris.
"Sama-sama Tuan." Jawab Bik Parni, lalu wanita paruh baya itu akan beranjak meninggalkan Aris sendiri.
Tetapi, Aris mencegah Bik Parni pergi. Lalu, menyuruh Bik Parni untuk duduk di hadapannya.
"Ada apa Tuan?" Tanya Bik Parni.
"Bik, apa benar Meli pergi dengan sengaja ya Bik?" Tanya Aris dengan raut wajah yang sedih.
"Hmmm.. Tidak mungkin lah Tuan, Nyonya Meli bukan wanita seperti itu." Ucap Bik Parni, mencoba menenangkan majikan itu.
"Bik, apa benar Meli hanya pura-pura lugu ya? Tetapi ia menginginkan lelaki lain di belakang ku."
Pertanyaan itu sebenernya sudah bersarang di otak Aris, sejak ia menerima telepon dari Meli yang mengatakan bahwa dirinya ingin bercerai dari Aris.
"Astaghfirullah Tuan, Nyonya Meli tidak seperti itu Tuan. Bibik memang tidak terlalu mengenal Nyonya Meli. Tetapi, Bibik bisa merasakan bila Nyonya itu orangnya baik dan tulus Tuan. Nyonya tidak akan macam-macam Tuan."
Aris terdiam mendengar penjelasan Bik Parni. Satu sisi keyakinan di hatinya mengatakan hal yang sama dengan apa yang Bik Parni katakan. Tetapi, satu sisi yang lain, Aris terganggu dengan ucapan Meli, walaupun ia masih ragu.
"Ya sudah Bik, terima kasih." Ucap Aris.
Bik Parni pun hanya mengangguk dan beranjak kembali ke dapur.
"Ya Allah Neng, semoga kamu cepat ketemu ya Neng. Semoga apa yang ada di pikiran nya Tuan tidak benar ya Neng." Ucap Bik Parni khawatir, saat dirinya sudah berada di dapur.
*
"Bagaimana istri saya Dok?" Tanya Frans kepada Dokter yang memeriksa keadaan Meli.
__ADS_1
"Saya curiga Istri anda sedang hamil dan juga kurang nutrisi. Coba di cek dan mulai konsultasi dengan Dokter obgyn. Untuk sementara, Istri anda cukup saya infus saja. Nanti saya akan mengirimkan seorang perawat untuk merawat istri anda." Ujar Dokter itu.
Frans hanya terdiam saat Dokter itu mengatakan ada kemungkinan Meli sedang hamil.
"Oh iya, terima kasih Dokter." Ucap Frans dengan terbata.
Dokter itu pun pergi dan Frans hanya berdiri terpaku melihat Meli yang sedang terbaring lemah.
"Hamil? Meli ku hamil? Tidak mungkin..! Dia hamil anak nya Om Aris? Tidak... tidak bisa ku biarkan... Meli hanya milik ku seorang..!" Ucap Frans dengan panik.
"Hamil?" Tanya Meli.
Meli baru saja membuka matanya. Tetapi, ia sempat mendengar kata-kata Frans yang panik saat menyebut dirinya hamil.
Frans menatap Meli dengan tajam.
"Mengapa kamu hamil dengan Aris? Hah..! Jawab..!!!"
Meli terlihat bingung.
Meli mulai berpikir, bulan ini ia memang haid tetapi hanya flek saja, tidak seperti biasanya. Meli mulai merasa dirinya memang terasa aneh belakangan ini. Nafsu makan yang tak terkontrol dan perasaan sensitif yang tak bisa ia tolak.
"Apa benar aku hamil?" Ucap Meli pelan.
"Kamu tidak boleh hamil anak dia Mel..!" Ucap Frans dengan emosi.
"Frans, aku tidak tahu aku hamil atau tidak. Bisakah kamu membelikan aku testpack?"
Meli menatap Frans dengan seksama.
"Aku mohon."
Wajah Meli memelas menatap Frans.
Lelaki itu membuang pandangannya, lalu ia keluar dari kamar dan mengunci kamar itu. Frans pun memerintahkan kepada pelayan nya untuk membelikan alat uji kehamilan untuk Meli. Setelah itu ia terduduk di sofa ruang tamu villa milik orang tuanya itu.
"Tidak mungkin, bila ada anak itu. Meli pasti tidak jadi bercerai dengan Om Aris. Bagaimana pun aku harus menyingkirkan anak itu." Gumam Frans sambil mengepalkan kedua tangannya.
Satu jam berlalu, Frans datang membawa alat uji kehamilan untuk Meli. Ia menyerahkan kepada Meli tanpa kata-kata. Meli pun menerimanya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk menguji alat itu.
Frans menunggu Meli dengan gelisah. Ia terus berpikir, bagaimana bila Meli benar-benar hamil dan ia pun berharap Meli tidak hamil. Karena, ia tidak ingin Meli mempunyai anak dari orang lain selain dirinya.
Pikiran Frans kacau. Ia pun berteriak menyuruh Meli untuk segera menggunakan testpack itu.
Meli yang sedang berada di dalam kamar Mandi dengan infus ditangannya pun, gemetar saat mendengar teriakan Frans dari luar kamar mandi.
Meli menghela napas dengan berat. Lalu, ia membuka bungkus tastpack itu. Dengan perlahan, ia pun mencelupkan ujung testpack kedalam air seninya yang sudah ia tampung. Lalu, Meli pun duduk di atas closet sambil menunggu hasil dari testpack tersebut.
"Bila aku hamil, aku sangat bahagia. Semoga aku bisa keluar dari sini secepatnya dan memberitahukan kepada Mas Aris, bila di rahimku ada buah cinta kami berdua." Gumam Meli.
__ADS_1