Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 74. Jasad lelaki itu


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Alisya pergi menuju bandara. Ia berniat untuk meninggalkan Jakarta dan kembali ke Yogyakarta dengan segera. Ia berniat untuk lari dari ancaman Meli. Alisya teringat betapa dinginnya wajah Meli saat mengancam dirinya. Sepertinya Meli tidak akan main-main kali ini. Ia sangat takut, bila dirinya akan bernasib sama dengan Frans.


Alisya mengambil penerbangan malam itu juga. Ia mencoba menghubungi Jono untuk menjemputnya di bandara.


"Halo, jemput saya di bandara nanti jam sembilan malam. Jangan telat..!" Perintah Alisya kepadanya Jono.


"Maaf Bu, saya mengundurkan diri. Saya akan bekerja di Jakarta bersama Bapak Aris." Ucap Jono. Alisya terkejut saat mendengar kata-kata Jono.


"Apa-apaan kamu..! Tidak bisa, kembali sekarang juga dan kerjakan tugasmu! Saya akan menggaji mu dua kali lipat..!" Ucap Alisya.


"Maaf Bu terima kasih. Saya hanya ingin bekerja dengan Bapak Aris." Ucap Jono.


Klik..!


Panggilan telepon itu pun diakhiri oleh Jono. Alisya terdiam. Kini, semua orang pergi dari hidupnya. Aris, Kakaknya, keponakannya bahkan sopirnya. Alisya pun melangkahkan kakinya dengan gontai masuk menuju badan pesawat.


Kini hidupnya benar-benar sendirian. Anak-anaknya marah kepadanya sejak mengetahui dirinya pindah ke Yogyakarta karena membawa lelaki asing yang cacat saat itu dan diakui sebagai suami, yaitu Aris.


Anak-anak Alisya marah, karena Alisya menghabiskan uang hanya demi lelaki cacat tersebut yang tidak mereka kenal. Anak-anak Alisya juga marah karena ternyata Alisya menghabiskan banyak uang warisan dari ayah mereka hanya demi menyembuhkan Aris.


Saat Alisya sudah duduk di kursi pesawat Ia pun mulai menangis. Alisya menyesali perbuatannya dan kebodohannya. Hanya karena cinta, ia terseret begitu jauh ke dalam jurang kebodohan.


..


Malam itu, Aris berada di dalam kamar Ar dan Re. Iya membacakan buku cerita untuk anak-anaknya. Aris ingin melayani anak-anaknya untuk menembus waktu yang telah ia lewati.


Meli berdiri di ambang pintu kamar anak-anaknya. Ia menatap Aris yang sedang bercerita, untuk mengantarkan tidur kedua anak mereka. Sorot mata Meli terlihat sangat bahagia. Ia tidak menyangka perjuangan nya selama ini dan do'a-do'anya selama ini dikabulkan oleh Allah.


Setiap malam, Meli selalu berdo'a dan meminta agar dirinya dan keluarganya selalu didekatkan dengan kebaikan. Serta ia meminta untuk kebahagiaannya dan anak-anaknya. Ternyata Allah mengabulkan doanya dengan mengembalikan Aris.


Meli melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Ia duduk di sana dengan segelas minuman coklat panas. Meli pun menyalakan laptopnya untuk memantau laporan dari para karyawan nya. Lalu Meli tenggelam dalam kesibukannya menjadi seorang pemimpin dan pemilik perusahaan.


Setengah jam kemudian, Aris menyusul Meli ke ruang keluarga. Ia menatap Meli yang sedang sibuk bekerja.


"Lagi ngerjain apa?" Tanya Aris kepada Meli.


Meli pun menoleh dan menatap Aris.


"Eh, Mas anak-anak sudah tidur?" Tanya Meli.


"Sudah." Jawab Aris. Lalu, ia duduk di samping Meli.

__ADS_1


"Ini aku sedang membaca laporan dari para karyawan." Ucap Meli.


"Kamu bekerja sungguh giat. Ini kan pekerjaanku, bagaimana kamu dengan cepat belajar menangani ini semua."


Aris ikut membaca laporan-laporan yang tertulis di layar laptop Meli.


"Aku terpaksa belajar Mas, bila tidak warisan darimu Bagaimana aku tangani?" Ucap Meli sambil tersenyum getir.


Aris hanya menghela nafasnya dengan berat. Lalu, ia menatap manik mata Meli dengan seksama.


"Maafkan aku ya, maafkan aku yang yang telah membuat kamu menunggu lama." Ucap Aris dengan tatapan sendu.


"Sudahlah Mas, yang terpenting saat ini Mas baik-baik saja dan semua akan kembali normal." Ucap Meli dengan bijak.


Aris semakin kagum melihat Meli. Jauh di lubuk hatinya, ia benar-benar sangat berterima kasih kepada Retno yang telah memilihkan Meli untuk nya.


"Oh iya Mas, jadi jasad yang dikubur itu siapa ya?"


Tiba-tiba saja Meli teringat dengan jasad yang telah Ia kira adalah Aris.


Aris menghela nafasnya lalu dia menatap Meli lekat-lekat.


"Jadi begini.."


flashback on


Malam itu, saat Aris dalam perjalanan menuju villa Frans, nyaris saja Aris kecelakaan karena hampir menabrak seekor anjing jalanan yang tiba-tiba melintas di depan mobilnya. Aris menepikan kendaraannya, lalu ia mencoba menenangkan diri sejenak.


Saat itu juga datanglah seorang yang lelaki, yang meminta pertolongan kepadanya. Lelaki itu mengetuk kaca jendela mobil Aris. Aris menatap lelaki itu dengan saksama, setelah ia meyakinkan bahwa lelaki itu tidak berbahaya, lalu ia membuka kaca mobil nya.


"Mas nya tidak apa-apa?" Tanya lelaki yang berusia sekitar tiga puluh tahun tersebut.


"Saya tidak apa-apa, terima kasih." Jawab Aris sambil tersenyum, lalu ia hendak menaikkan kembali kaca jendela mobilnya.


"Maaf Mas, Masnya mau ke arah sana?" Tanya lelaki itu lagi. Aris mengurungkan niatnya untuk menutup kaca jendela mobilnya.


"Iya saya mau kearah sana, kenapa ya Mas?" Tanya Aris.


"Maaf Mas saya mengganggu, kebetulan kita satu arah. Saya juga dari Jakarta. Tadi hujan begitu lebat di sini, karena tanggung, saya tetap melanjutkan perjalanan saya walaupun hujan-hujanan."


Aris melirik baju basah lelaki itu.

__ADS_1


"Tiba-tiba saja motor saya mogok. Maklum, motor tua Mas. Bila Mas tak keberatan, saya berniat untuk menumpang sampai ke sana. Dari tadi mungkin juga karena hujan lebat, tidak ada satupun kendaraan umum. Lagi pula sudah sangat malam sih Mas."


"Sudah beberapa kendaraan yang saya stop untuk meminta pertolongan, tetapi tidak ada satupun yang mau berhenti. Mungkin mereka takut begal. Saya pulang kampung mas, karena istri saya mau melahirkan." Ucap lelaki itu.


Aris menatap lelaki itu dengan iba, lalu ia membolehkan lelaki itu untuk naik ke dalam mobilnya.


"Motornya mana Mas?" Tanya Aris sambil celingukan mencari motor lelaki itu.


"Motor saya titipkan kepada warga Mas, biar besok saya ke sini lagi untuk mengurus motor saya yang mogok untuk membawanya ke bengkel. Yang terpenting, saya bertemu dulu dengan anak saya yang akan lahir." Ucap lelaki itu.


Sebagai sesama lelaki Aris merasa haru melihat perjuangan lelaki itu.


"Oh ya Mas, kalau bisa bajunya diganti saja dulu, kebetulan saya bawa baju ganti."


Aris menggapaikan tangannya kearah jok belakang Lalu mengambil baju ganti yang biasa ia taruh di jok belakang. Lalu, Aris memberikan lelaki itu baju dan celananya. Kebetulan sekali ukuran mereka sama. Jadi baju Aris, cukup untuk dipakai oleh lelaki itu.


"Terima kasih Mas." Ucap lelaki itu dengan mata yang berbinar.


"Tidak masalah Mas." Ucap Aris.


Tanpa membuang-buang waktu, lelaki itu pun mengganti pakaiannya dengan pakaian Aris. Setelah lelaki itu selesai mengganti pakaiannya, Aris membiarkan lelaki itu menumpang di mobilnya. Aris pun kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Lelaki itu tampak ketakutan, saat Aris mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Awalnya ia mencoba untuk tenang, tetapi pada akhirnya ia pun tidak kuasa untuk memperingati Aris.


"Maaf Mas, hati-hati ya." Ucap lelaki itu.


"Iya Mas, saya juga sedang berjuang demi istri saya yang sedang hamil." Ucap Aris sambil tersenyum dan menoleh sekilas kepada lelaki tersebut.


Ternyata peringatan itu adalah peringatan terakhir lelaki itu. Saat Aris kembali menatap jalan, ia terkejut saat melihat Meli melintas di depan mobilnya.


Kecelakaan tidak bisa dihindari. Aris menahan sakitnya di kursi kemudi. Posisi Aris tidak berubah dari kursi kemudi karena ia memakai safety belt. Tetapi posisi badan lelaki itu, menimpa dirinya,sedangkan kaki nya tembus menerjang kaca depan mobil. Itu semua terjadi, karena lelaki itu tidak memakai safety belt dan mobil yang terperosok ke jurang dengan posisi terbalik.


Kondisi lelaki itu sangat parah, wajahnya hancur tulangnya patah patah. Sudah dipastikan ia telah meninggal di tempat. Setelah Aris berhasil dikeluarkan dari mobil tersebut.


Salah seorang bodyguard yang sedang merokok, membuang puntung rokoknya ke arah mobil Aris, yang ternyata terjadi kebocoran di tangki bensinnya. tidak menunggu lama api pun menjalar dan membakar mobil tersebut.


flashback off


"Jadi Begitu ceritanya, itu adalah jasad lelaki itu. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya mobil itu bisa terbakar. Yang jelas, saat kami terjatuh, aku melihat lelaki itu sudah tidak bergerak. Kondisinya sangat parah dan aku pun tidak bisa bergerak dan lalu tak sadarkan diri." Cerita Aris.


Meli pun merasa iba kepada istri lelaki itu. Tidak ada bedanya dengan dirinya, pasti istri dari lelaki itu sangat menderita saat menghadapi semuanya tanpa suami.

__ADS_1


"Nanti, setelah ini semua selesai, aku akan mencari keluarganya dan menyerahkan jasad lelaki itu kepada keluarganya." Aris berjanji.


__ADS_2