Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 43. Sepucuk surat dari album foto


__ADS_3

Jaja termenung di depan pintu rumah dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya dan segelas kopi yang ia taruh di sampingnya.


"Neng, kok belum pulang-pulang sih Neng. Neng Meli sudah seperti bang Toyib saja." Keluh Jaja, matanya menerawang jauh menatap pepohonan di halaman rumah.


"Kang Jaja... tidur Kang, sudah malam."


Surti yang ingin mengunci pintu depan rumah menyuruh Jaja untuk masuk kedalam rumah.


"Neng, Akang tidur nya nanti saja. Akang mau menunggu Neng Meli pulang." Ucap Jaja dengan raut wajah yang sedih.


"Memang nya Nyonya Meli mau pulang ya Kang?" Tanya Surti dengan polos.


"Mau atuh Neng, tapi gak tau kapan Neng."


"Oh gitu ya Kang, kasihan ya Nyonya Meli."


Surti duduk di samping Jaja dan ikut termenung bersama Jaja.


"Kang, kalau nyonya tidak pulang-pulang bagaimana Kang?" Tanya Surti lagi.


"Jangan atuh Neng, pokok nya harus pulang. Kang Jaja gak mau kalau Neng Surti nanti di nikahi sama Tuan Aris..!" Ucap Jaja sambil menatap Surti dengan tatapan khawatir.


"Loh, apa hubungannya Kang dengan Nyonya tidak pulang dan Tuan Aris menikahi Surti?" Tanya Surti sambil membalas tatapan Jaja.


"Ah, enggak kok Neng. Oh iya Neng, Kanga Jaja sudah siap lahir batin. Bagaimana Neng Surti menikah dengan kang Jaja. Lalu, kita hidup di sini selamanya"


Surti menatap Jaja dengan mengernyitkan dahinya.


"Hidup disini selamanya?"


Surti mengulangi ucapan Jaja. Jaja pun mengangguk dengan antusias.


"Jadi maksud Akang Surti di suruh selamanya bekerja disini bersama Akang juga?"


Surti menatap Jaja tak percaya.


"Iya Neng," Ucap Jaja dengan dengan bersemangat.


"Enak banget sih Kang..! Surti di suruh kerja begini selamanya. Surti mau nya setelah nikah, jadi Nyonya gitu Kang..!"


Jaja menatap Surti tak percaya.


"Maksud Neng Surti, mau nikah sama Tuan Aris?" .


"Barangkali kan Kang." Jawab Surti sambil tersenyum manis.


"Yah... jangan atuh Neng, masa dua kali sih gebetan Akang di rebut Tuan Aris."

__ADS_1


Jaja mulai panik dan merengek di depan Surti.


"Makanya Kang, buruan jadi Tuan jangan jadi tukang kebon terus." Ucap Surti, lalu gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Jaja sendirian di teras rumah.


"Ya ampun gustiiiiiiii...! Jangan sampai pujaan hati Jaja di rebut Tuan Aris untuk yang kedua kalinya."


Jaja tampak sangat panik.


..


Aris duduk termenung memandangi foto Retno di album pernikahan dirinya dan Retno dahulu. Ia meraba foto Retno sambil mengusap air matanya.


"Apa kabar kamu disana sayang?" Bisik nya lirih.


"Kamu yang memilihkan Meli untuk ku, apakah Meli mampu menghianati aku Retno?"


Aris seakan-akan sedang berkomunikasi dengan almarhumah istrinya itu.


"Apakah benar Meli sedang hamil saat ini? Apakah benar anak yang ia kandung itu bukan anak ku ya Retno?"


Tidak bisa di pungkiri, Aris sedikit terganggu dengan ucapan-ucapan Frans yang mengatakan Meli sedang hamil dan anak yang Meli kandung adalah anak Frans.


Aris ingin sekali semua ini berakhir. Ia terus berusaha memantau lewat orang-orang suruhannya. Ia tidak mungkin bisa melakukan semuanya sendirian. Mungkin selama ini Aris terlihat tidak berbuat apa-apa. Tetapi, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Aris sangat khawatir dan sangat takut kehilangan Meli.


"Retno, apakah semuanya benar? Bila semua yang dikatakan oleh Frans itu benar adanya, maafkan aku Retno. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ku dengan Meli." Ucap nya dengan suara yang tercekat.


Ting... Ting.. Ting....!


Dengan cepat Aris mengangkat panggilan yang baru saja masuk di ponselnya.


"Halo Pak, kami sedang mengikuti Frans. Dia ke arah Bandung saat ini. Bila ada yang mencurigakan kami akan informasikan kepada Bapak," Ucap orang suruhan Aris, dari ujung sana.


"Jangan sampai lepas," Ucap Aris.


Lalu ia mematikan sambungan telepon dari orang suruhannya. Ia kembali menatap Foto Retno, lalu ia membuka halaman selanjutnya untuk melihat lebih banyak foto almarhumah istrinya.


Aris mengeryitkan dahinya saat ia melihat ada sepucuk surat di dalam album tersebut. Dengan perlahan ia memperhatikan surat yang terselip di halaman kedua di album itu.


To: Suamiku Aris.


From: Retno


"Surat apa ini?"


Gumam Aris sambil membolak-balikkan surat tersebut.


Ia pun membuka sampul surat itu dan mulai membacanya.

__ADS_1


Dear sayang..


Bila kamu sedang membaca surat ini, berarti kamu sedang merindukan aku. Atau bisa juga kamu sedang mempunyai masalah dengan istri mu, Meli.


Sayang... apa pun yang terjadi, jangan pernah meragukan Meli ya. Dia adalah istri terbaik yang aku pilihkan untuk mu. Sebelum aku memutuskan dirinya layak untuk mendampingi dirimu, aku sudah terlebih dahulu menguji seorang Meli.


Aku menguji kesetiaan nya dalam melayani, aku menguji kejujuran nya dalam hal apa saja. Dan yang membuat aku kagum dengan Meli, adalah ketulusannya. Gadis itu benar-benar berhati malaikat. Aku sangat terpesona dengan nya.


Bagaimana saat ini sayang? apakah Meli sudah mengandung anak mu? Atau mungkin kalian sudah di karuniai seorang anak?


Pasti anak kalian sangat lucu dan cerdas.


Maafkan aku yang tidak bisa memberikan kamu keturunan sehingga aku meninggalkan kamu sendiri.


Sayang, di dalam rumah tangga pasti ada cobaan nya. Kamu yang sabar ya menghadapi Meli yang jauh umurnya di bawah kamu. Bagaimana pun dirinya memang masih sangat muda.


Tetapi yakinlah, dia adalah sebaik-baiknya istri yang berada di muka bumi ini. Dia adalah orang yang setia dan sangat baik. Aku yakin itu, karena aku sendiri yang memilih nya untuk mu.


Sekarang, buang sedih mu. Lupakan aku, dan sayangi lah Meli. Meli seperti diriku, tidak kah kau sadari itu sayang?


With love Almarhumah istri mu.


Aris melihat tanggal pembuatan surat itu. Surat itu di buat seminggu sebelum Retno berpulang ke sang pemilik kehidupan. Tidak terasa air mata pun, meleleh di pipi Aris.


Aris mengangguk dengan pasti.


"Ya, aku tidak akan pernah meragukan pilihan dari mu Retno. Bila kau sangat yakin atas Meli, aku pun yakin atas dirinya," Ucap Aris lirih.


Ia pun langsung menghubungi orang suruhannya dan menanyakan keberadaan Frans saat ini. Aris pun menyambar jaket nya dan meraih kunci mobilnya. Ia pun pergi menyusul orang suruhannya untuk ikut mengintai Frans.


..


"Neng, bangun."


Ceu Romlah mengguncang tubuh Meli dengan pelan. Perlahan Meli membuka kedua matanya dan menatap Ceu Romlah dengan seksama.


"Ya Teh," Ucap Meli sambil mengusap kedua matanya.


"Ikut Teteh yuk."


Ceu Romlah menarik tangan Meli untuk mengikuti dirinya.


"Teteh mau bawa Meli kemana?"


"Teteh mau mengeluarkan kamu dari sini," Ucap Ceu Romlah dengan berbisik.


"Tapi kamu jangan berisik, mumpung bodyguard lagi pada tidur. Hayo atuh... jangan lama-lama." Ucap Ceu Romlah sambil kembali menarik tangan Meli dengan panik.

__ADS_1


Meli mengangguk, lalu ia beranjak dari ranjang dan mengikuti langkah Ceu Romlah. Lalu, mereka berdua berjalan mengendap-endap agar tidak membangunkan para bodyguard yang sedang berjaga tidak jauh dari kamar Meli.


Ceu Romlah menutup pintu dengan hati-hati lalu ia menggiring Meli menuju pintu belakang. Dengan perlahan mereka pun dapat melewati bodyguard yang sedang tertidur dengan pulas di lorong kamar Meli.


__ADS_2