
Malam itu Aris sekeluarga membawa Elis dan Neneknya untuk menginap di villa yang sudah di sewa oleh Aris. Elis terlihat sangat bahagia karena itulah pertama kalinya Ia tidur di Villa.
"Seperti mimpi ya Ni." Ucap Elis kepada Neneknya.
Neneknya hanya tersenyum dan menatap Elis dengan penuh kasih sayang.
"Kamu harus jadi anak baik nak, harus nurut kepada Ayah dan Bunda mu."
"Iya Ni." Ucap Elis.
Lalu, ia kembali bermain bersama Ar dan Re.
Meli tersenyum melihat keakraban Elis dengan kedua anaknya. Ia memperhatikan Elis, melihat gadis kecil itu, ia terbayang akan masa kecilnya dulu. Walaupun orang tua Meli masih lengkap, tetapi kemiskinan yang dirasakan cukup membekas di hatinya. Maka dari itu, Meli tidak akan membiarkan Elis merasakan penderitaan yang sama dengan dirinya.
Esok harinya mereka kembali ke Jakarta dengan membawa serta Elis dan Neneknya. Sejak saat itulah Elis dan neneknya tinggal di rumah Aris dan Meli.
Kini, Meli dan keluarga menjalani hidup dengan sangat baik dan bahagia. Tanpa gangguan dari siapapun lagi. Seakan-akan masalah yang berat sudah lulus mereka jalani dan kini tinggal menikmati hasil dari kesabaran mereka.
Alisya pun sudah menerima ganjaran atas perbuatannya. Dari hasil sidang yang digelar sebanyak empat kali, akhirnya Alisa diputuskan hukuman penjara selama sepuluh tahun.
Alisya histeris saat mendengar hukuman yang diberikan untuk dirinya. Alisya benar-benar sendirian, ia menghadapi masalah ini hanya dibantu oleh pengacaranya saja.
Sedangkan anak-anaknya merasa sangat malu dengan Ibu mereka yang menjadi narapidana. Semua orang meninggalkannya, semua orang tidak peduli dengan hidupnya dan deritanya.
Sedangkan Frans, kini mondok di pesantren untuk memperbaiki akhlak dan ilmu agamanya. Ia mulai mengerti jalan satu-satunya untuk menebus kesalahan dan penyesalan adalah mendekatkan diri dengan Tuhan.
Aris kini kembali mengurus perusahaannya. Perusahaan nya kini sangat berkembang dengan pesat, berkat Meli yang selama ini memegang perusahaan tersebut. Aris sangat bangga atas kerja keras Meli. Ia benar-benar tidak menyangka Meli secerdas itu.
Meli bagaikan anugerah di dalam hidupnya. Tidak terbayangkan apabila dia menolak isi surat wasiat dari Retno dan tidak menikahi Meli. Mungkin saja dia tidak akan pernah menemukan wanita yang setia, cantik dan secerdas Meli.
Hari demi hari perasaan cintanya kepada Meli semakin terasa luar biasa. Meli benar-benar membuat Aris jatuh cinta setiap harinya. Kelembutan Meli, senyum Meli, sikap Meli serta perlakuan Meli yang benar-benar membuat Aris semakin tergila-gila kepada istri nya itu.
Sedangkan Meli kini menjalani hidup sebagai Ibu rumah tangga sekaligus boss restoran, dimana setiap cabang restorannya sangat ramai dan sukses.
Meli mempunyai banyak pegawai, serta kepala cabang yang bertugas untuk mengendalikan jalannya restoran milik Meli di masing-masing cabang restoran.
Meli tinggal duduk manis di rumah dan mengendalikan usahanya dari rumah.
Kini kesibukan Meli sehari-hari adalah mempersiapkan anak-anaknya berangkat ke sekolah. Serta mengantar dan menjemput anak-anak nya tanpa bantuan supir. Menjemput dan mengantar anak-anak ke sekolah adalah rutinitas yang sangat membuat Meli bahagia.
Ar dan Re kini sudah duduk di sekolah dasar. Sedangkan Elis, sudah duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Elis mendapatkan kasih sayang yang sama seperti Ar dan Re dapatkan. Tidak ada kata anak angkat di dalam rumah tersebut. Semua sama, tanpa terkecuali.
Meli menyekolahkan Elis di sekolah yang bagus. Elis juga termasuk anak yang cerdas, walaupun Elis anak pindahan dari sekolah yang biasa saja, tetapi Elis mampu untuk mempelajari sistem belajar di sekolah baru nya.
Meli benar-benar seperti berkaca kepada Elis. Bahkan ia merasa, Elis adalah dirinya dalam versi mini. Meli benar-benar jatuh cinta kepada gadis kecil itu.
Sedangkan Ibunda Agus, kini sudah tiada. Tubuh tuanya menyerah kepada sakit yang selama ini diam-diam dideritanya. Selama ini ini dia tidak pernah mengeluh dan menampakan bahwa dirinya sedang sakit parah kepada Elis atau orang-orang disekitarnya.
Ibunda Agus, hanya tinggal selama satu bulan di rumah Aris. Beliau meninggal setelah melaksanakan salat subuh. Seperti menunggu keajaiban dan kedatangan Aris. Dia tidak menyerah sebelum Elis benar-benar hidup dengan baik.
Kini, Elis sudah berada di tangan keluarga yang tepat. Hidupnya sudah tidak ada beban lagi, dan ia pun pergi untuk selama-lamanya. Nenek Elis dikebumikan di samping makam Agus. Ruang kosong yang sempat Meli beli untuk dirinya kelak bila ia berpulang, kini terisi jasad ibunda Agus.
Aris sengaja tidak memindahkan makam Agus karena Elis dan neneknya bersedia untuk ikut ke Jakarta. Dan Ibunda Agus pun setuju untuk membiarkan saja jasad anaknya terkubur di sana. Hanya namanya saja yang diganti, agar makam tersebut jelas siapa pemiliknya.
__ADS_1
Jono dan Surti akhirnya menikah, Mereka ternyata sudah saling jatuh cinta sejak pandangan pertama. Sedangkan Tejo memilih untuk resign, ia sangat merasa patah hati karena pernikahannya dengan Surti gagal karena Surti lebih memilih Jono dari pada dirinya.
Sedangkan Kang Jaja dan Bik Parni memilih untuk kembali ke kampung mereka dan menikmati masa tua di sana. Meli dan Aris memberikan mereka bekal untuk masa tua, sebagai tanda terima kasih kepada sepasang suami istri itu yang telah mengabdi dan bekerja dengan baik selama dengan mereka.
.....
Tok tok tok..!
"Masuk."
Ucap Aris, sesaat setelah mendengar pintu kantornya di ketuk. Perlahan pintu ruangan nya terbuka, ia melihat Meli melangkah masuk menghampiri nya.
"Assalamualaikum, Bapak Aris, apa saya mengganggu?" Ucap Meli menggoda Aris.
"Waalaikumsalam, Kok tumben ke sini sayang? Kamu tidak mengganggu kok."
Aris berdiri dari kursinya, lalu ia menghampiri Meli.
"Kamu dari mana sayang kok dandan yang cantik sekali?" Ucap Aris sambil memeluk dan mencium Meli.
"Dari rumah mau ke sini." Ucap Meli sambil tersenyum manis.
"Loh, kok tumben."
Aris menatap Meli dengan bingung.
Meli tersenyum-senyum melihat Aris bertanya-tanya.
"Ada apa sih sayang? kelihatan nya bahagia banget, ini bukan ulang tahun ku atau ulang tahun mu kan ya?"
"Bukan." Ucap Meli.
"Terus? ulang tahun Ar dan Re? atau Elis?" Tanya Aris, penasaran.
"Bukan." Ucap Meli lagi.
Aris menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia memandangi senyum istrinya yang semakin membuat ia penasaran.
"Ah... aku tahu, kamu pasti lagi kangen sama aku kan?" Ucap Aris, lalu ia kembali memeluk Meli dan mencium bibir istri nya itu.
"Hmmm.. bukan." Ucap Meli sambil melepaskan pelukan Aris.
"Ya terus apa sayang?" Ucap Aris, putus asa.
"Aku datang cuma mau memberikan kamu kado ini." Ucap Meli, ia mengulurkan sebuah kotak kado kecil kepada Aris.
"Apa ini?" Tanya Aris sambil menyambut kotak kado tersebut.
"Buka saja." Ucap Meli.
Aris memandangi Meli sambil tertawa semringah, ia pun membuka kotak kado tersebut. Lalu, Aris menatap Meli dengan tatapan tak percaya.
"Serius..?" Tanya Aris sambil membuka lebar kedua matanya menatap dua buah testpack di dalam kotak tersebut.
__ADS_1
"Lihat saja, itu kan ada foto USG nya di bawah." Ucap Meli.
Aris meraih Foto USG dari tumpukan potongan-potongan kertas warna-warni di dalam kotak tersebut.
"Kembar?" Tanya Aris tak percaya.
Meli hanya tersenyum menatap Aris.
"Kembar? ini kembar, ada lingkaran dua..! ini kembar..!!" Ucap Aris, ia tampak sangat antusias melihat foto hasil USG itu.
"Ini serius kan sayang?"
Meli menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Aris.
"Alhamdulillah...! istri ku hamil lagi...!"
Aris menggendong tubuh Meli dan mengecup bibir Meli dengan mesra. Lalu, ia keluar dari ruangan nya masih dengan menggendong Meli.
"Mas, apa-apaan sih, malu di lihat karyawan kamu..!" Ucap Meli sambil menutupi wajahnya.
"Perhatian...! Makan siang hari ini, saya yang traktir..! Istri saya hamil... tolong di umumkan di speaker ya..! istri saya hamillll...!" Teriak Aris dari depan pintu ruangannya.
Suasana tenang pun menjadi ramai dengan ucapan-ucapan dan do'a-do'a untuk Meli dan calon bayi mereka.
Aris kembali membawa Meli ke dalam ruangan nya. Lalu, ia menurunkan tubuh Meli dan kembali memeluk Meli dengan erat.
"Terima kasih ya Allah, terimakasih sayang. Kejadian kembar dua kali ini langka loh, tetapi kita dapat merasakan nya. Akhirnya aku bisa merasakan mengantar kamu dan menemani kamu kelak melahirkan."
Aris menangis bahagia di depan Meli, lalu ia mengusap-usap perut Meli yang masih rata.
"Semoga kalian sehat ya nak." Ucap Aris, dengan semringah.
....
Sembilan bulan pun berlalu, suara tangis bayi kembar laki-laki menggema di ruang operasi. Aris menatap dua bayi kembarnya dengan haru, saat bayi-bayinya di bersihkan dari sisa-sisa air ketuban.
Setelah selesai dibersihkan, Aris mulai mengumandangkan adzan di telinga masing-masing bayi nya. Air mata bahagia terus mengalir di pipinya saat ia mengumandangkan Adzan.
Meli pun di pindahkan di ruangan rawat inap, sementara bayi nya masih di ruangan bayi untuk di periksa oleh dokter anak terlebih dahulu.
Aris menghampiri Meli yang terbaring di atas ranjang. Ia mencium kening Meli dengan lembut lalu membelai rambut Meli dengan penuh kasih.
"Kamu perempuan hebat, aku sangat mencintaimu." Ucap Aris, lalu ia menggenggam dan mengecup buku-buku tangan Meli.
"Cepat sembuh ya sayang."
Meli tersenyum lalu mengangguk dengan lemah.
"Kita kasih nama siapa Mas, bayi-bayi kita?"
"Fathan dan Nathan." Ucap Aris dengan bersemangat.
"Ok, semoga mereka selalu sehat dan bahagia."
__ADS_1
"Aamiin"
_The End_