
Arya, Meli dan anak-anaknya memasuki salah satu Mall. Arya menggandeng tangan Ar dan Re. Meli menatap cemburu, saat melihat Ar dan Re yang tidak mau lepas dari genggaman tangan Arya.
"Jadi Bunda di cuekin nih." Ucap Meli yang berjalan di belakang Arya dan si kembar. Arya dan si kembar menoleh ke belakang dan menatap Meli.
"Maaf ya Bunda, kalau sama Bunda kan sudah sering. Tetapi, kalau sama Ayah ke Mall nya kan baru sekarang." Ucap Re.
Meli menghela nafas panjang lalu menghempaskan nya perlahan.
"Iya deh, Bunda nonton kalian saja." Ucap Meli. Arya dan si kembar pun tersenyum jahil.
Arya mengajak si kembar ke Kids zone. Arya dan si kembar bermain semua permainan yang yang ada di sana. Meli hanya bisa menatap mereka sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Begini ternyata rasanya bila ada sosok seorang ayah di dalam keluarga." Gumam Meli.
Ia pun mulai memperhatikan Arya. Meli tertawa saat melihat Arya terkena pantulan bola basket yang di lempar oleh Ar. Sekilas Arya menatap Meli yang sedang tertawa.
Tiba-tiba kilasan tentang masa lalunya pun muncul. Ia mengingat Meli yang tersenyum kepadanya saat Meli duduk di dekat jendela kamar di sebuah rumah gubuk di perkampungan. Ingatan itu semakin kuat, ia pun mengingat saat sholat berjamaah bersama Meli di gubuk tersebut.
Di tengah keramaian mereka masih saling berpandangan. Perlahan Arya mendekati Meli, kini Arya sudah berada di hadapan Meli.
"Mel, apakah aku pernah bersamamu di sebuah rumah gubuk di perkampungan? saat itu kamu duduk di dekat jendela kamar rumah tersebut. Lalu, kamu tersenyum kepadaku, setelah itu kita sholat berjamaah?" Tanya Arya ditengah keramaian tersebut.
Meli menatap Arya tak percaya, ia menggigit sudut bibirnya sendiri.
"Apakah Mas mengingat itu?" Tanya Meli dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
"Iya.., aku baru mengingat nya." Ucap Arya.
"Itu di rumah orangtuaku di Kuningan. saat itu aku dan Mas Aris.........
Meli tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Apakah kini kamu mulai yakin bahwa aku adalah Aris?" Tanya Arya.
Perlahan Arya meraih kedua tangan Meli. Lalu ia menggenggam nya dengan erat.
"Apakah genggaman ini juga tidak asing bagimu?" Tanya Arya.
Meli tidak mampu menahan air matanya. Ia pun terbawa suasana, lalu tanpa sadar Meli memeluk tubuh Arya. Arya terkejut saat Meli memeluk tubuhnya, Ia hanya diam terpaku saat dipeluk oleh Meli.
Meli menyandarkan kepalanya di dada Arya. Lalu, ia memejamkan matanya dan mendengarkan detak jantung Arya yang berdegup dengan kencang. Meli merasakan saat ini dirinya sedang memeluk Aris.
Setelah beberapa detik kemudian, Meli pun tersadar bila apa yang ia lakukan itu tidak pantas.
Meli melepaskan pelukannya dari tubuh lelaki itu. Meli menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud." Ucap Meli.
Rasa rindunya kepada Aris membuat Meli sedikit tidak bisa mengontrol dirinya. Terlebih cerita-cerita Arya yang mengingatkannya tentang Aris membuat Meli sejenak menganggap Arya adalah Aris.
"Aku mau ke toilet dulu." Ucap Meli.
Lalu ia meninggalkan Arya bersama anak-anak nya. Arya masih terpaku menatap Meli yang berjalan menuju toilet, hingga Meli menghilang di keramaian. Ia tidak menyangka wanita dingin dan keras kepala itu, baru saja memeluk tubuhnya di keramaian.
"Ayah Ayo main lagi." Ucap Re sambil menarik-narik tangan Arya.
"Eh, iya." Ucap Arya, lalu ia menggendong Re dan kembali bermain bersama bocah itu.
Meli menyesali dirinya yang tidak bisa mengontrol rasa di hati nya, sehingga ia berbuat bodoh dengan memeluk Arya. Meli mencuci tangannya di wastafel, lalu ia menatap bayangan dirinya di depan cermin.
"Sekarang bagaimana aku akan bersikap dengan Arya?" Gumamnya.
..
"Ayank mbeb, Neng Meli bersama anak-anak kemana sih? kok belum pulang?" Tanya bik Parni kepada Kang Jaja yang sedang duduk di ambang pintu belakang dapur dengan segelas kopi dan rokok nya.
"Akang nggak tahu mbeb." Ucap Jaja.
"Kemarin, anak-anak cerita kepadaku mbeb, mereka di Yogyakarta bertemu dengan Ayah. Nggak tahu Ayah nya siapa. Apa jangan-jangan Neng Meli diam-diam sudah menikah lagi ya?" Ucap Bik Parni.
Jaja membesarkan kedua bola matanya dan menatap Bik Parni dengan seksama.
"Iya mbeb, anak-anak cerita begitu." Ucap Bik Parni lagi.
"Wah, bisa jadi mbeb, kalau Neng Meli sudah menikah lagi dan suami nya tinggal di Yogyakarta." Ucap Jaja.
"Tetapi, tidak mungkin ah. Untuk apa Neng Meli sembunyi-sembunyi dari kita?" Sambung Jaja.
Bik Parni pun hanya mengangguk-angguk membenarkan ucapan Jaja.
"Aku sebenarnya kasihan melihat Neng Meli melewati semuanya sendirian. Apa lagi saat kepergian Tuan Aris dan waktu Neng Meli melahirkan. Aku tuh sedih sekali." Ucap Bik Parni. Angan Bik Parni pun melayang ke enam tahun yang lalu.
Flashback on
Bik Parni menuntun Meli masuk ke dalam rumah setelah mereka baru saja pulang dari pemakaman Aris. Air mata terus membasahi pipi Meli.
"Sabar ya Neng, ingat Neng sedang hamil. Neng haru jaga kondisi biar tetap sehat." Ucap Bik Parni, saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar Meli.
Meli hanya diam seribu bahasa, lalu Meli naik ke atas ranjangnya dan meringkuk di sana. Meli mulai kembali menangis tersedu-sedu. Ia merasa, bahwa dialah yang telah membunuh Aris.
Meli sempat depresi, ia tidak mau makan dan tidak mau keluar dari kamarnya. Orangtua Meli pun datang ke Jakarta hanya untuk mengurus Meli yang baru saja ditinggal oleh suaminya.
__ADS_1
Karena semua orang memberikan Meli semangat, akhirnya perlahan-lahan meli mulai bangkit. Meli mulai melanjutkan kuliahnya hingga selesai. Selama itu juga, ia mulai memegang bisnis Aris dan Retno.
Hal yang paling menyedihkan adalah saat Meli akan melahirkan. Saat itu Meli baru saja bangkit dari keterpurukannya. Dan ia harus kembali menghadapi cobaan melahirkan tanpa sosok seorang suami.
Meli mengetahui ia sedang mengandung anak kembar, sejak usia kandungannya berumur dua bulan. Tetapi belum genap sembilan bulan, Meli mengalami pendarahan. Meli terlalu lelah karena sibuk kuliah dan bekerja.
Saat itu Meli sedang mengendarai mobilnya. Ia baru saja pulang dari kantor pada pukul sembilan malam.
Tiba-tiba saja ia merasakan ada cairan yang mengalir dari organ intimnya. Meli pun menepikan kendaraannya, perutnya mulai terasa keram dan mulas.
Meli meraba jok mobilnya. ia menyentuh cairan yang semakin lama semakin membanjiri jok mobil itu. Meli menyalakan lampu mobilnya. Ia pun mulai menyadari bahwa dirinya sedang pendarahan.
Dengan tergesa-gesa, dalam keadaan pendarahan dan menahan rasa mulas yang luar biasa. Meli mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Meli tetap mencoba tenang dan tetap berkonsentrasi dengan kemudinya.
Setengah jam kemudian Meli pun tiba di rumah sakit tujuannya. Saat itu Meli benar-benar sudah lemah. Meli keluar dari mobil, lalu berteriak meminta pertolongan. Satpam dan beberapa orang yang sedang berada di sana, langsung membopong Meli masuk ke dalam ruang UGD. Malam itu juga Meli terpaksa harus di operasi caesar.
Bik Parni dan kedua orang tua Meli pun tiba di rumah sakit setelah mereka mendapat telepon dari rumah sakit tersebut. Saat itu Meli sudah selesai di operasi. Keadaan Meli begitu lemah hingga ia harus menerima beberapa kantung transfusi darah.
Beruntung, kedua anak nya lahir dengan selamat. Walaupun harus bernafas di bantu oleh oksigen dan membutuhkan perawatan yang lebih lama dari pada bayi pada umum nya.
Setelah di perbolehkan pulang, Meli harus rela meninggalkan si kembar di rumah sakit, karena masih membutuhkan perawatan intensif.
Begitupun saat si kembar di perbolehkan pulang, Meli harus siap mengurus anak-anak nya tanpa adanya suami.
Semua masa sulit yang di alami Meli cukup luar biasa. Hal itu lah yang menempa Meli menjadi kuat hati dan mental nya, serta tangguh dalam menjalani kehidupan.
Flashback off
"Semoga saja, Neng Meli bertemu dengan seorang lelaki yang benar-benar bisa menggantikan tuan Aris ya mbeb." Ucap Bik Parni dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
"Aamiin, Baik dan tampan seperti Jaja ya mbeb." Ucap Jaja dengan semringah.
Bik Parni pun menatap Jaja dengan kesal.
"Ia ganteng kalau di lihat dari ujung berung..! pede banget sih..!" Ucap Bik Parni sambil menjewer telinga suami nya dengan gemas.
"Aduh..aduh..aduh.. sakit mbeb..!" Ucap Jaja sambil mengusap-usap telinga nya saat Bik Parni baru saja melepaskan tangan nya dari telinga Jaja.
"Buruan ke kamar, pijetin aku..!" Perintah Bik Parni.
"Iya mbeb." Ucap Jaja dengan wajah yang memelas.
"Cieee Kang Jaja, ikatan suami takut istri cieeee..!" Ledek Tejo yang sedang menggandeng Surti. Jaja melirik mereka berdua, lalu ia melepaskan sandal jepit nya dan melemparkan ke arah Surti dan Tejo.
__ADS_1
"Berisikkkkkkkk...!" Ucap Jaja.
Surti dan Tejo pun tertawa terbahak-bahak meledek Jaja. Jaja mulai menangis dan menyusul Bik Parni ke kamar mereka.