
"Kita mau ke mana Bun?" Tanya Ar dan Re kepada Meli yang sedang berkemas-kemas.
"Kita mau pulang nak," Ucap Meli, sambil melipat pakaian kotor dan mengumpulkannya menjadi satu ke dalam plastik khusus laundry.
"Kok pulang sih Bun? bukannya liburan kita masih ada beberapa hari lagi Bun?" Tanya Re. Re memang anak yang lebih kritis dari pada Ar.
Meli menatap Ar dan Re dengan saksama, lalu ia tersenyum.
"Bunda ada pekerjaan mendadak di Jakarta. Next time kita liburan lagi ya nak," Ucap Meli.
"Bagaimana dengan ayah?"
Meli menghela nafasnya dengan panjang. Lalu, ia duduk di tepi ranjang dan menatap kedua anaknya.
"Ar, Re, Bunda boleh minta sesuatu tidak kepada kalian?" Ucap Meli.
"Apa itu Bunda?" Tanya Ar dan Re.
"Bunda ingin kalian berhenti memanggil om Arya dengan sebutan Ayah."
Ar dan Re menatap Meli dengan tatapan kecewa.
"Om Arya bukan Ayah kalian, dia hanya orang asing yang kebetulan kita temui. Dia mempunyai keluarga lain, jadi kita tidak pantas memanggil seseorang yang tidak ada hubungan kekeluargaan dengan panggilan Ayah."
Meli mencoba memberikan pengertian kepada anak-anaknya.
"Tetapi, kami ingin dia menjadi Ayah kami Bunda," Ucap Ar dan Re.
Meli kembali menghela nafasnya dan menatap kedua anaknya dengan perasaan iba.
"Maafkan Ayah ya, yang tidak bisa menemani kita. Tetapi, Ayah tidak akan pernah tergantikan. Om Arya hanya orang asing bagi kita, setelah ini kita tidak akan pernah ketemu dengan om Arya lagi," Ucap Meli.
Kedua anaknya pun tertunduk sedih, mereka merasa kecewa dengan Meli.
"Ya sudah sekarang kalian mandi, sebentar lagi kita berangkat ke bandara," Ucap Meli.
Dengan malas, Ar menuju ke kamar mandi. Sedangkan Re menunggu Ar selesai mandi.
"Bunda, Re sayang sekali kepada Om Arya. Mengapa Om Arya tidak bisa menjadi Ayah kami Bunda?" Tanya Re dengan wajah yang bersedih.
Meli menatap Re, dengan seksama. Lalu, ia membelai dengan lembut rambut panjang Re.
"Karena Om Arya sudah mempunyai keluarga. Dan ayah, tidak akan bisa digantikan oleh om Arya," Tegas Meli.
"Ayah orangnya seperti apa Bunda?" Tanya Re.
Meli tersenyum lalu duduk disamping Re.
__ADS_1
"Ayah orang yang hebat, tampan serta berwibawa. Ayah adalah orang yang penuh dengan kasih sayang, Ayah juga sangat mencintai kita semua."
"Ciri-ciri Ayah sama persis seperti om Arya ya Bun?" Pertanyaan Re membuat Meli salah tingkah.
"Om Arya juga mirip dengan ayah." Sambung Re lagi.
"Mirip apanya?" Tanya Meli.
"Mirip Bun, wajahnya, senyumnya, sayangnya kepada kita," Ucap Re.
Meli tersenyum tipis, Ia tidak menyangka bila anak-anaknya sependapat dengan dirinya.
"Bunda, bolehkah kita mampir ke rumah sakit sebelum kita berangkat ke Jakarta?" Tanya Re lagi.
"Kita sudah terlambat, sekarang Re mandi ya.. Ar sudah selesai tuh."
Re mengangguk, lalu ia pergi ke kamar mandi. Sedangkan Meli membantu Ar mengenakan baju nya.
"Bunda, Bagaimana bila ternyata om Arya itu adalah ayah?" Ucap Ar yang sedang menggulung lengan baju nya.
Meli tersenyum tipis, lalu ia menatap wajah Ar.
"Tidak mungkin dia Ayah, karena Ayah sudah meninggal dunia," Ucap Meli.
Ar terdiam, lalu ia duduk di atas sofa.
Meli terdiam atas pertanyaan dari anak laki-lakinya itu.
"Apa Bunda tidak menginginkan kan kami untuk memiliki seorang ayah?" Tanya Ar.
Meli mencoba menahan tangisnya. Lalu ia menatap Ar dengan seksama.
"Sayang, Bunda bisa menjadi Ayah dan juga menjadi seorang bunda bagimu dan Re," Ucap Meli, menahan sesak di dadanya.
"Tidak Bunda, Bunda sibuk. Bunda juga seorang wanita bukan laki-laki. Bunda tidak bisa menjadi Ayah, Bunda tidak bisa menemani bermain layangan. Bermain mobil-mobilan serta memanjat pohon."
Ucapan Ar membuat hati Meli terasa pilu. Ia tertunduk sedih di depan Ar.
"Sayang, suatu saat kamu juga akan mengerti," Ucap Meli, lalu ia beranjak dari hadapan Ar.
Ar hanya terdiam, ia tidak mengerti dengan kata-kata Meli.
Setelah semuanya beres, Meli dan anak-anaknya pun pergi menuju bandara. Tepat pukul tujuh pagi, pesawat Mereka pun take off meninggalkan Yogyakarta.
Meli berharap, tidak akan ada pertemuan lagi dengan lelaki yang bernama Arya.
...
__ADS_1
"Kenapa bisa sampai dirawat?" Tanya Alisya kepada Jono, saat ia baru saja sampai di rumah sakit.
"Bapak pingsan Bu. Orang-orang memaksa saya untuk membawanya ke rumah sakit."
"Orang-orang mana? kalian di mana saat itu?" Tanya Alisya.
"Kami sedang keluar, makan. Bu," Ucap Jono.
Alisa menatap Jono dengan tajam, lalu ia menghela nafasnya dan meninggalkan Jono begitu saja. Alisya masuk ke dalam ruangan rawat inap Arya. Ia melihat lelaki itu sedang berbaring, tertidur.
Alisya menghampiri Arya, lalu duduk di samping ranjang Arya.
"Ada-ada saja sih kamu ini..!" Gumamnya.
Lalu, Alisya menyentuh dahi Arya dengan lembut.
"Tidak demam." Gumamnya lagi.
Tidak sengaja ia melihat ponsel Arya yang tergeletak tepat di samping bantal lelaki itu. Entah mengapa ada dorongan di hati Alisya untuk mengecek ponsel Arya. Dengan ragu Alisya meraih ponsel milik Arya, lalu ia membuka ponsel Arya dan mengecek isi ponsel tersebut.
Kotak pesan tidak ada yang mencurigakan, begitupun telepon masuk dan keluar dari ponsel Arya. Alisya pun bernafas dengan lega, lalu ia tersenyum menatap Arya yang sedang tertidur pulas.
Lalu, Alisya tidak sengaja membuka galery foto di ponsel Arya. Wanita empat puluh tiga tahun itu pun terbelalak melihat foto Arya dengan sepasang anak kecil. Ia mengeryitkan dahinya, lalu ia melihat lebih banyak lagi foto dari ponsel Arya. Alisya memperhatikan wajah anak kecil yang berada di ponsel Arya.
"Mengapa begitu mirip dengan Aris?" Gumam Alisya.
Lalu, ia melihat foto berikutnya. Saat itu juga aliran darah Alisya terasa berhenti. Jantung nya pun berdegup dengan kencang.
"MELI...!!!"
Pekik Alisya saat ia melihat Foto Meli dan Arya saat berdua di pantai yang berada di ponsel Arya.
Arya terkejut saat mendengar pekikan Alisya, lalu ia membuka kedua matanya dan menatap Alisya dengan seksama.
Alisya gemetar saat ia menatap kedua mata Arya. Ia mencoba mengira-ngira apakah ingatan Aris sudah kembali pulih atau belum dan bagaimana pertemuan nya dengan Meli, serta siapa anak-anak yang berfoto dengan Meli dan Aris.
"Apakah anak-anak nya Aris? Sejak kapan mereka mulai kembali berhubungan Pantas saja Aris semakin cuek terhadap ku, belakangan ini."
Jutaan pertanyaan bersarang di otak Alisya.
"Meli? kamu menyebut nama Meli?" Tanya Arya kepada Alisya.
"Hmmm..., ngggg... anu... bu-bu-bukan," Ucap Alisya, panik.
"Kembalikan ponselku," Ucap Arya dengan tatapan yang dingin kepada Alisya.
"Kamu mengenal Meli?" Tanya Arya lagi.
__ADS_1
"Sepertinya ingatan Aris belum kembali." Gumam Alisya.