Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 32. Mau cari ribut


__ADS_3

"Ya.., ok saya akan kesana dua jam lagi, kamu tunggu saya dan terus awasi." Ucap Aris. Lalu, ia mengakhiri panggilan dari pengacaranya dan bergegas keluar dari dalam kamarnya.


Aris berjalan menuju ke ruang makan dan melihat Meli yang sedang duduk di kursi meja makan. Di samping meli, sudah ada dua piring kotor yang tertumpuk.


Aris terperangah saat duduk di depan Meli.


"Mel, itu piring bekas makan kamu?" Tanya Aris sambil menunjuk dua piring kotor di samping Meli.


Meli yang sedang makan dengan tangan nya hanya mengangguk sambil mengunyah dengan cepat.


Aris terus memperhatikan Meli yang sedang makan dengan lahap. Aris mengeryitkan dahinya saat melihat istrinya yang sedang makan seperti orang yang sedang kelaparan.


"Pelan-pelan makan nya dong sayang, nanti kamu tersedak loh."


"Aku emosi, jadi aku butuh pelampiasan." Ucap Meli sambil mengunyah. Beberapa butir nasi terjatuh dari bibir nya.


"Emosi sih emosi, tapi makan nya jangan begitu dong sayang," Ucap Aris sambil mengambil sepotong ayam bakar yang tersisa di atas meja itu. Dengan cepat Meli merebut Ayam bakar itu dan langsung mengigit dan mengunyahnya.


Aris hanya bisa tercengang saat melihat Meli menggigit Ayam bakar jatah nya.


"Kok aku gak di bagi?" Tanya Aris.


"Aku suka ayam bakar." Ucap Meli, ketus.


"Bik, apa ada lauk lagi?"


Bik Parni yang sedang menggoreng ikan mendatangi Aris yang baru saja memanggil dirinya.


"Ya Tuan..?" Tanya Bik Parni sambil menghampiri Aris dengan tergopoh-gopoh.


"Apa ada lauk lagi?"


Bik Parni terdiam saat melihat Ayam bakar di meja yang sudah habis. Lalu, ia memandang Meli yang sedang makan dengan lahap.


"Ada tuan, tapi sedang di goreng." Ucap Bik Parni tanpa melepaskan pandangannya dari Meli.


"Ya sudah, saya tunggu." Ucap Aris sambil terus memperhatikan istrinya.


"Baik Tuan."


Bik Parni kembali ke dapur dan melanjutkan menggoreng ikan.


Tak lama kemudian, Bik Parni muncul dari dapur dengan membawa gurame goreng kering dan bumbu kecap dengan irisan cabe rawit. Ia meletakkan ikan dan bumbu kecap itu di atas meja.


"Wah enak ini, terimakasih ya Bik" Ucap Aris kepada Bik Parni sambil tersenyum.


Ikan itu masih panas. Aris pun, menunggunya agar sedikit adem untuk menyantap nya. Setelah agak adem, Aris pun mulai mematahkan sebagian ikan gurame goreng itu dan memindahkan nya kedalam piringnya.

__ADS_1


Dengan cepat Meli mengambil potongan ikan yang baru saja Aris taruh di atas nasinya. Aris kembali terperangah melihat sikap Meli. Tetapi, ia menahan senyumnya saat melihat Meli melahap ikan itu.


Lalu, ia mengambil sebagian lagi dari ikan gurame goreng itu. Dengan cepat Meli kembali mencoba merebutnya.


Aris menjauhkan piring nya dan menatap Meli dengan heran.


"Aku gak boleh makan?" Tanya Aris.


"Gak" Ucap Meli singkat.


"Kenapa?" Tanya Aris kebingungan.


"Karena aku mau cari ribut." Jawab Meli sambil menatap Aris dengan kesal.


Aris tersenyum melihat ekspresi istrinya. Lalu, ia menaruh potongan ikan itu di atas piring Meli.


"Kok malah di kasih ke aku?" Tanya Meli kebingungan.


"Aku gak mau ribut, makanya aku kasih." Jawab Aris sambil tersenyum.


"Ih gak seru," Ucap Meli.


Aris pun tertawa terbahak-bahak.


"Makan lah, makan yang banyak biar sehat dan ndut.."


"Kok di kembalikan?" Tanya Aris, bingung.


"Lawan nya gak mau ribut ya sudah aku kembalikan saja." Jawab Meli


Lalu, ia menghabiskan sisa nasi nya dan beranjak ke dapur membawa tumpukan piring kotor.


"Semakin aneh sih istriku." Gumam Aris sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Meli meletakkan piring kotor di atas wastafel. Ia terdiam sejenak di depan wastafel dengan wajah yang kesal. Lalu, ia beranjak ke kamarnya.


Meli menghentikan langkahnya di depan Aris saat ia melintasi lelaki itu. Meli memasang wajah cemberut dan menghentakkan kaki nya sambil menatap Aris.


Setelah itu, Meli kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Aris hanya mengangkat kedua alis nya saat melihat tingkah istrinya yang kekanak-kanakan.


"Begini rupanya punya istri muda." Gumam nya, menahan geli.


Setelah makan, Aris menuju ke kamar untuk menemui Meli. Ia membuka pintu kamar perlahan, lalu melihat Meli yang sedang tertidur pulas.


Aris tersenyum lalu menghampiri Meli. Ia duduk di atas Ranjang nya dan mengecup kening Meli dengan lembut.


"Aku pergi dulu ya sayang ku, aku akan bereskan semuanya, dan mengembalikan kembali kepercayaan mu kepadaku."

__ADS_1


Lalu ia beranjak untuk pergi menemui pengacaranya.


*


Di kantor polisi, Aris kembali memberikan keterangan. Aris mengajukan permohonan untuk visum ulang Alisya di dokter yang berbeda. Dokter yang netral pilihan petugas.


Petugas menghormati permintaan Aris. Lalu, menjemput Alisya untuk di bawa ke dokter untuk kembali di visum.


Tok Tok Tok Tok...!


Terdengar ketukan dari pintu depan rumah Alisya.


Alisya yang sedang asik menonton televisi, dengan malas ia beranjak dari duduknya. Lalu, ia berjalan menuju pintu depan rumahnya.


Alisya sempat terkejut saat melihat petugas datang untuk menemui nya. Beberapa petugas meminta izin untuk memeriksa TKP. Dan beberapa lagi meminta Alisya untuk ikut dengan mereka untuk memenuhi permintaan Aris untuk mem-visum Alisya di dokter yang berbeda.


Alisya sempat menolak dan berpura-pura menangis. Ia berpura-pura merasa trauma saat di visum. Sikap Alisya yang sedikit mencurigakan membuat petugas semakin yakin untuk mengadakan visum ulang.


Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Alisya pasrah untuk ikut bersama petugas ke rumah sakit, setelah pemeriksaan di TKP.


Alisya tampak gelisah saat memasuki ruangan pemeriksaan. Tangan nya mulai mendingin dan tubuh nya menjadi kaku saat ia diminta untuk merebahkan dirinya di atas ranjang periksa.


Saat selesai di periksa, Alisya diminta untuk meninggalkan ruangan. Tetapi, Alisya mencoba untuk berbicara dengan dokter tersebut.


"Hmmm, Dok.. bagaimana kalau saya meminta Dokter membantu saya?" Tanya Alisya kepada Dokter tersebut.


"Membantu apa bu?" Tanya Dokter itu kepada Alisya sambil menulis hasil yang ia dapatkan dari pemeriksaan.


"Saya mau hasil nya positif ya Dok, masalah lain-lainnya Dokter tinggal berikan saja nomor rekening Dokter kepada saya." Ucap Alisya setengah berbisik.


Dokter itu hanya tersenyum. Lalu, menatap Alisya dengan seksama.


"Maksud nya apa ya Bu?" Tanya Dokter itu lagi.


"Masa Dokter tidak mengerti." Ucap Alisya sambil tersenyum penuh arti.


"Oh, iya, iya saya mengerti." Ucap Dokter itu pun, membalas senyuman Alisya.


Alisya mengeluarkan kartu namanya, lalu ia memberikannya kepada Dokter itu.


"Dokter bisa hubungi saya setelah ini."


Alisya tersenyum, lalu meninggalkan ruangan itu.


Dengan Harap-harap cemas, Alisya menunggu hasil visum keluar. Setelah beberapa saat kemudian, Dokter itu pun, keluar dan menyerahkan hasil visum itu kepada petugas.


Alisya menatap puas dan dengan santai ia mengikuti petugas ke kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2