Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 46. wil yu meri mi?


__ADS_3

Frans termenung di dalam sel nya. Ia menatap foto Meli yang sedang ia pegang. Ia membelai wajah Meli di dalam foto tersebut.


"Apa kabar kamu?" Ucap nya.


Satu minggu lagi, Frans akan keluar dari penjara. Karena kelakuan nya, Frans kena ganjaran hukuman selama enam tahun lamanya.


Frans mendapatkan beberapa pasal tuntutan yang di ajukan Meli kepadanya.


Upaya pemerkosaan, Penculikan dan penyekapan, serta penyebar fitnah. Meli cukup tegas memenjarakan Frans dan Meli juga meminta Frans untuk menandatangani perjanjian. Yang berisikan, bila Frans bebas nanti, Frans harus menjaga jarak dari Meli dan keluarganya dan tidak boleh berkomunikasi atau mengganggu. Bila Perjanjian itu di langgar, Meli tidak segan-segan untuk memenjarakan Frans hingga seumur hidup lelaki itu.


Meli cukup trauma dengan lelaki itu. Maka dari itu Meli melakukan proteksi terhadap dirinya dan keluarganya.


Ia tidak mau berlaku lembek dan di tekan terus menerus. Apalagi memberikan pengampunan seperti Aris memberikan pengampunan terhadap Alisya.


Bagi Meli, seseorang yang sudah terobsesi terhadap orang lain, itu sudah tidak bisa di katakan normal lagi. Ia hanya tidak ingin mengambil resiko dan menyia-nyiakan keselamatan dirinya dan orang-orang yang ia sayangi.


...


"Neng, sudah enam tahun kita bersama. Kali ini kang Jaja serius Neng, Kang Jaja ingin Neng Surti menjadi istri Kang Jaja, Kang Jaja mau menghalalkan Eneng."


Jaja berlutut di hadapan Surti. Surti mengangkat kedua alisnya saat menatap lelaki yang sudah enam tahun belakangan ini mengejar cintanya.


"Neng, Kang Jaja sudah berumur Neng. Sudah seharusnya Kang Jaja punya pendamping hidup. Neng Surti mau ya jadi istri Akang." Ucap Jaja dengan bersungguh-sungguh.


"Surti my darling kamu lagi apa?"


Tejo, satpam rumah yang baru saja datang dari arah pintu belakang terkejut saat melihat Jaja yang sedang bertekuk lutut di hadapan Surti.


Jaja menoleh ke arah Tejo dan mengerutkan keningnya saat mengingat Tejo memanggil Surti dengan sebutan "My darling".


"My darling? kok Tejo panggil Neng Surti my darling?" Tanya Jaja dengan wajah polosnya.


Surti terlihat salah tingkah dan memasang wajah yang sedih saat menatap Jaja.


"Maaf ya Kang Jaja, sebenarnya Surti sudah lama pacaran dengan Tejo. Kami bektrit Kang."


Ucap Surti dengan bahasa Inggris seadanya sambil memutar-mutar ujung bluss nya.


"Hah...!"


Jaja terlihat sangat terkejut. Ia tidak menyangka bila Surti selama ini sudah berpacaran dengan Tejo satpam yang tak lain adalah temannya sendiri.


"Surti dan Tejo rencananya mau menikah Kang, ini cincin dari Tejo sudah Surti pakai."

__ADS_1


Surti memamerkan cincin di jari manis nya.


"Aduh Ambu....!!!!"


Jaja terduduk di lantai dapur. Ia mulai menangis memikirkan nasib cintanya.


"Maaf ya Kang Jaja." Ucap Surti sambil mengusap lembut punggung Jaja.


"Lepaskan...! jangan sok kerrr dengan Kang Jaja..! Kang Jaja tidak apa-apa..!!!"


Jaja menepis tangan Surti yang mencoba menenangkan dirinya. Surti hanya terdiam sambil berpandangan dengan Tejo.


"Penghianat kamu Tejo..! Aku curhat setiap malam kepada mu tentang Surti, tetapi kamu menikung Jaja..!" Ucap Jaja sambil menangis meraung-raung.


"Maaf ya Kang." Ucap Tejo sambil menggandeng tangan Surti.


"Nama nya cinta Kang, Surti cintanya sama Tejo, jadi Akang harus nerimo ngeh." Ucap Tejo lagi.


"Huaaaaaaaa...!!!!!"


Tangisan Jaja semakin kencang hingga membuat Bik Parni keluar dari kamar nya.


"Ada apa sih...!" Ucap Bik Parni sambil menatap Surti, Tejo dan Jaja.


"Kenapa lagi kamu Ja..!" Tanya Bik Parni sambil menatap Jaja dengan khawatir.


Surti dan Tejo pun meninggalkan Bik Parni dan Jaja berdua di dapur.


"Jaja mau mati saja, Jaja gak pernah dapat cinta sejati di hidup Jaja..!" Ucap Jaja sambil menangis tersedu-sedu.


"Aduh Ja, kamu teh jangan putus asa begitu. Masih banyak wanita yang bisa kamu nikahkan Ja. Tidak harus Surti kan?"


Bik Parni berusaha menenangkan Jaja.


"Tapi, tidak ada yang tulus kepada Jaja, apa lagi yang mencintai Jaja Bik..!" Ucap Jaja sambil mengelap air matanya dengan lengan kaos nya.


"Kamu belum bertemu saja dengan gadis itu Ja." Ucap Bik Parni lagi.


"Kok tumben Bibik baik kepada Jaja?" Tanya Jaja sambil menatap wanita yang lima tahun lebih tua dari dirinya tersebut.


"Ya saya walaupun begini tetap memperhatikan kamu Ja. Kita senasib Ja, sama-sama hidup di rantau, sama-sama berjuang. Kamu saja yang kadang suka bikin saya kesal Ja..!"


Bik Parni cemberut sambil menatap Jaja.

__ADS_1


Jaja memperhatikan wajah Bik Parni saat berusaha membuat dirinya tenang. Bola mata Jaja mulai melebar saat menatap Bik Parni dengan seksama.


"Bik, ternyata Bibik cakep juga seperti enjelina joli, tapi bedanya bodi Bibik agak ginuk-ginuk."


Bik Parni mengerutkan keningnya saat Jaja mengucapkan hal itu kepada dirinya.


"Maksud kamu Ja..?" Tanya Bik Parni terheran-heran sambil menatap Jaja yang sudah berhenti menangis.


"Jaja teh baru sadar, ternyata Bibik teh orang nya baik, soleha, rajin dan keibuan. Jaja teh mendadak terseponah dengan Bibik." Ucap Jaja sambil menatap Bik Parni dengan malu-malu kucing.


Bik Parni pun tersipu malu saat Jaja berusaha menggombal dirinya.


"Tumben kamu so swit Ja."


Bik Parni pun duduk di sebelah Jaja dengan anggun nya.


"Bik, walaupun target Jaja Neng Meli dan Surti gagal. Tetapi, akhirnya Jaja sadar, ternyata selama ini cinta sejati Jaja sudah berada di dekat Jaja, maaf kan Jaja ya Nona Parni.!" Ucap Jaja malu-malu.


Bik Parni memandang wajah Jaja yang terlihat tampan pas-pasan. Lalu, Bik Parni mengulum senyumnya.


"Wil yu meri mi Nona Parni?" Ucap Jaja sambil menyodorkan cincin imitasi nya di hadapan Bik Parni.


"Yes ai wil." Ucap Bik Parni dengan mata yang berkaca-kaca.


Bik Parni terharu, setelah sekian lama ia menanti cinta Jaja, akhirnya Jaja pun mengerti bila dirinyalah yang tulus kepada Jaja.


"Yessss...!!" Ucap Jaja dengan lantang.


"Ambuuuuu.. Jaja kawinnnn...!!!"


Jaja pun melompat-lompat kegirangan.


"Hustt... ayang mbeb, jangan bilang kawin atuh. Nikah gitu..!" Ucap Bik Parni dengan malu-malu.


"Eh iya, Nikah ya mbeb"


Ucap Jaja sambil mencolek pipi Bik Parni yang semok. Mereka berdua pun tersenyum malu-malu di dapur di dekat galon air di samping meja kompor.


Bik Parni belum pernah menikah sebelumnya. Sama seperti Jaja, pejuang cinta yang selalu mencari jodohnya. Bik Parni sebenarnya selama ini memendam rasa kepada Jaja. Tetapi, lelaki itu tidak pernah memandang nya seperti layak nya seorang wanita seutuhnya. Hal itulah yang membuat Bik Parni selalu sewot, kesal dan selalu marah kepada Jaja.


"Kita urus ke KUA ya mbeb.. secepatnya, Jaja teh sudah karatan. Jadi kepengen gitu buru-buru di asah." Ucap Jaja kepada Bik Parni.


Bik Parni mengangguk sambil tersenyum malu-malu.

__ADS_1


"Iya mbeb," Ucap Bik Parni dengan mata yang berbinar-binar.


__ADS_2