
"Saya terima nikah dan kawinnya Meli Andini dengan mas kawin tersebut tunai..!"
"Sah?"
"Sahhhhhh...!!!!" Seru para saksi di pernikahan Meli dan Aris.
Aris tersenyum menatap Meli. Pernikahannya kali ini dengan Meli bukankah karena terpaksa atau wasiat dari Retno. Tetapi, Aris benar-benar mencintai Meli dan benar-benar berniat untuk menikahi Meli.
Kini wasiat dari Retno hanyalah sebuah simbol, jalan untuk menemui wanita yang tepat bagi Aris. Wasiat dari Retno adalah wasiat cinta, yang membawa kebahagiaan bagi kehidupan mereka.
Pernikahan Meli dan Aris digelar dengan sederhana. Hanya keluarga dan para sahabat yang diundang. Keluarga dan sahabat yang mengetahui Aris ternyata masih hidup, cukup terkejut dan terharu atas kembalinya Aris ke tengah keluarganya lagi.
Mereka cukup antusias mendengarkan cerita tentang perjuangan Aris dan Meli selama enam tahun hidup berpisah. Acara pernikahan mereka menjadi acara mendengarkan kisah dari kedua insan itu.
Setelah acara selesai, mereka pun beristirahat di kamar mereka. Setelah sholat Isya, Aris pun mulai mendekati Meli.
"Mel, ini kan malam pertama kita, kita kan sudah shalat Isya. bagaimana kalau kita....
Aris tidak melanjutkan ucapannya dia hanya tersenyum penuh arti kepada Meli.
Meli pun tersenyum malu-malu kepada Aris.
"Kita ngapain?" Ucap Meli.
"Duh, jangan bilang kamu lagi haid seperti alasanmu dulu." Ucap Aris, sambil tertawa mengingat alasan Meli dulu saat menolak dirinya untuk tidur bersama.
"Ya nggak lah Mas, barusan kan aku shalat Isya." Ucap Meli sambil tersenyum geli.
"Ih, ternyata istriku sudah dewasa sekarang." Ucap Aris. Lalu, ia memeluk dan membelai lembut rambut Meli.
Meli menatap Aris dengan penuh cinta. Kali ini mereka berdua benar-benar merasa sedang kasmaran.
Aris mengecup lembut bibir Meli. Mereka pun memulai sentuhan-sentuhan yang telah mereka rindukan selama ini. Yaitu sentuhan cinta dari pasangan yang dicintai dan mencintai diri mereka.
Klikkkkk..!
Bunyi pintu kamar di buka. Aris dan Meli pun buru-buru menghentikan aksi mereka. Pintu pun terbuka, Ar dan Re menatap kedua orang tuanya dengan seksama.
"Mas nggak mengunci pintunya tadi?" Tanya Meli.
"Aku lupa." Ucap Aris sambil menepuk dahinya.
"Ayah dan Bunda sedang ngapain?" Tanya Ar dan Re.
__ADS_1
"Nggak, ayah sedang mengambil sesuatu dari rambut bunda. Ada kotorannya tadi." Ucap Aris terbata-bata.
"Oh begitu." Ucap Ar.
"Anak Bunda kenapa belum pada tidur?"
"Kami ingin tidur bersama Ayah dan Bunda." Ucap Ar dan Re.
Aris pun menelan salivanya. Ia menatap Meli dengan tatapan memelas. Meli membalas tatapan Aris dengan tertawa geli.
"Ya sudah, sini tidur dekat bunda dan Ayah."
Tanpa membuang waktu, Ar dan Re pun naik ke atas ranjang. Lalu, mereka merebahkan diri di antara Aris dan Meli.
Aris semakin gelisah, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Malam pertama mereka pun, di awali dengan tidur bersama dengan anak-anak mereka yang yang merindukan suasana mempunyai anggota keluarga yang lengkap.
...
Tok Tok Tok..!
Ketukan terdengar berkali-kali di depan pintu rumah Alisya. Alisya yang baru saja selesai sarapan pada pagi hari itu, langsung beranjak menuju pintu depan.
"Mas Anton sudah datang." Gumamnya.
"Ibu Alisya?" Sapa seorang petugas kepada Alisya.
"Bu-Bu-Bukan saya." Ucap Alisya.
Petugas pun mengernyitkan dahinya lalu menatap Alisya dengan seksama.
"Mohon maaf ibu, tetapi sepertinya Ibu adalah Ibu Alisya yang kami cari." Ucap petugas itu sambil memperlihatkan foto Alisya dari ponselnya.
"Anda salah, saya bukan Alisya." Ucap Alisya lagi.
"Mohon kerja samanya ya Ibu, kami mempunyai surat penangkapan Ibu Alisya dengan beberapa tuduhan dari dua pelapor."
"Apa-apaan ini? saya salah apa?" Tanya Alisya berpura-pura bodoh.
"Anda dilaporkan oleh Bapak Aris, dengan tuduhan penculikan dan penipuan. sedangkan laporan yang satu lagi dari Ibu Meli, atas tuduhan penyerangan, fitnah, perzinaan, serta penculikan suami nya yang lupa ingatan."
Alisya terbelalak saat mendengar tuduhan-tuduhan yang di layang kan kepada dirinya.
__ADS_1
"Tetapi saya tidak melakukan itu Pak."
Ting ting ting..!
Ponsel, salah satu petugas pun berdering. Lalu, petugas itu mengangkat telpon dari rekan nya. Petugas itu tampak mengangguk paham dengan ucapan dari rekan nya melalui sambungan telepon. Setelah itu, ia pun mengakhiri panggilan telepon tersebut, lalu ia kembali menghampiri Alisya.
"Maaf ibu Alisya, kali ini bertambah satu laporan lagi. Dari saudara Frans, dengan tuduhan otak dari penculikan Ibu Meli enam tahun yang lalu, serta menyembunyikan seseorang atau menculik seseorang dan merubah identitas nya. Serta pemalsuan identitas."
Alisya tercengang. Ia tidak menyangka Frans juga akan melaporkan dirinya.
"Ini fitnah Pak..! saya tidak seperti itu..!" Ucap Alisya, panik.
"Maaf Bu, lebih baik Ibu ikut bersama kami untuk memberikan keterangan. Bila tidak bersalah, ibu akan di lepaskan lagi. Jadi jangan khawatir." Ucap petugas itu sambil menggiring Alisya menuju mobil mereka.
"Lepasin gak..! kalian bisa saya tuntut..! kalian tidak tahu siapa saya hah...!" Bentak Alisya kepada para petugas.
"Ibu sebaik nya menurut saja. Ikuti kami, jangan membuang-buang waktu kami." Ucap salah satu petugas, tak sabar.
Alisya pun di paksa masuk kedalam mobil petugas. Alisya meronta-ronta sekuat tenaga nya. Tetapi, para petugas tidak menyerah. Akhirnya, Alisya pun berhasil di masukan kedalam mobil dan di bawa ke kantor polisi.
Alisya menangis meraung-raung seperti orang gila di dalam mobil petugas. Ia mencoba membuka pintu mobil yang sedang melaju dengan kencang. Kesabaran petugas pun habis. Akhirnya Alisya harus di borgol agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan petugas dan dirinya sendiri.
...
Frans mengintip Meli, Aris dan kedua anak mereka dari gerbang rumah Meli. Ia tersenyum melihat senyuman Meli yang tampak sangat bahagia saat bermain air bersama Aris dan anak-anaknya.
"Ngapain Mas?" Tanya Tejo yang menyadari ada seseorang yang mengintip dari balik gerbang rumah.
"Tidak Pak, saya hanya ingin menitip surat ini untuk Meli." Frans memberikan sepucuk surat kepada Tejo.
Tejo menatap Frans dengan seksama. Lalu, dengan ragu ia menerima surat dari Frans.
"Terima kasih, tolong sampaikan ya Pak." Ucap Frans.
Tejo pun mengangguk dan berusaha tersenyum dengan ramah.
"Saya permisi dulu Pak." Ucap Frans, lalu Frans bergegas pergi dengan mobil nya meninggalkan rumah Meli dan Aris.
Tejo memperhatikan surat tersebut, lalu ia menatap Meli yang sedang asik bermain air bersama Ar dan Re.
"Ah, nanti saja lah ngasih surat nya."
Tejo pun mengurungkan niat nya untuk memberikan surat tersebut.
__ADS_1
Frans mengusap air mata nya, saat ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
"Mel, semoga kamu mau memaafkan aku." Gumam Frans.