
Aris baru saja pulang dari kantornya. Ia melihat Meli yang sedang tertegun di dalam kamar dengan laptopnya.
"Gak makan sayang?" Tanya Aris kepada Meli. Meli hanya menggeleng pelan.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Aris lagi.
"Tidak apa-apa, hanya lelah." Jawab Meli tanpa menoleh kepada Aris.
Aris mengeryitkan dahinya saat melihat sikap Meli kepadanya. Meli tidak menceritakan atas kejadian Alisya yang mendatangi nya ke rumah dan tidak juga menceritakan tentang kejadian waktu di kampus kepada Aris.
"Oh ya sudah, aku makan dulu ya. Kamu istirahat saja," Ucap Aris kepada Meli.
Lalu, Aris meninggalkan Meli sendiri di kamarnya.
Meli mulai berpikir, apakah Aris memang sengaja membebaskan Alisya karena Aris memang masih mencintai Alisya. Tetapi, mengapa Aris tidak merundingkan nya dulu kepada dirinya?.
Meli mulai merasa ada yang aneh dari sikap Aris, mengapa Aris begitu baik memberikan kesempatan kepada Alisya. Sedangkan gara-gara Alisya rumah tangga mereka kemarin terancam bubar.
Setelah menyantap makan malam nya, Aris kembali ke kamar. Meli pun kembali mengacuhkan Aris. Meli terus terngiang kata-kata yang di lontarkan oleh Alisya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Aris penasaran.
"Ah tidak ada apa-apa," Ucap Meli sambil tersenyum masam.
"Ada apa sih, jujur saja."
"Aku bilang tidak ada apa-apa!!!!!" Bentak Meli, Aris terdiam saat Meli sikap seperti itu kepadanya.
"Maaf mungkin aku memaksa kamu, tetapi aku......
"Sudah lah Mas, aku mau tidur..!" Ucap Meli. Lalu, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memunggungi Aris. Aris semakin bingung dengan sikap Meli kepadanya.
..
Esok hari nya, Meli berangkat ke kampus untuk mengurus sesuatu. Ia sudah rapi dengan dress dan tas di tangan nya. Meli men-starter mobilnya dan bergegas berangkat ke kampus.
Di kampus ia langsung mengurus keperluannya dan setelah itu ia pun berniat untuk pulang.
Saat ia menuju keparkiran, ia melihat ban mobilnya kempis. Meli pun merasa panik, ia merasa seseorang mengerjainya dengan mengempiskan ban mobilnya.
Meli kebingungan, suasana di parkiran saat itu sepi sekali. Hanya beberapa mobil yang terparkir disana, karena kegiatan belajar mengajar memang tiada, karena sedang libur semester. Saat ini yang berada di kampus hanya mahasiswa dan mahasiswi yang mengurus daftar ulang atau ujian her mereka.
__ADS_1
Meli mencoba, mencari nomor bengkel mobil terdekat dari kampusnya di internet. Saat Meli sedang sibuk mencari nomor bengkel, tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berjalan mendekati dirinya. Lalu, seseorang membuka pintu mobil itu dari dalam dan menarik Meli untuk masuk ke dalam mobil hitam itu.
Meli pun berteriak meminta tolong, tetapi hal itu hanya sia-sia baginya. Mulut meli disumpal dan di ikat oleh dua orang lelaki yang tak di kenalnya. Matanya pun di tutup oleh sebuah kain berwarna hitam.
Meli merasa cemas dan ketakutan. Ia menyadari dirinya sedang di culik oleh seseorang yang tak di kenalnya.
Meli terus berusaha melepaskan dirinya. Tetapi apa daya, cengkraman kuat dari tangan-tangan yang kekar membuat dirinya tak berdaya.
Perjalanan sekitar tiga jam lamanya. membuat Meli yakin, dirinya di bawa keluar Kota oleh para lelaki itu. Meli pun pasrah dengan keadaan yang ia alami.
Aris baru saja pulang ke rumah nya, ia langsung menuju ke kamar untuk mencari Meli. Tetapi, ia tidak menemukan keberadaan Meli disana. Lalu, Aris mencoba mencari Meli di dapur, disana hanya ada Bik Parni dan Surti saja.
"Nyonya Meli belum pulang?" Tanya Aris kepada Bik Parni dan Surti.
"Belum Tuan, apa Nyonya Meli tidak memberitahukan nya kepada tuan?" Tanya Bik Parni kepada Aris.
"Tadi siang memberitahu, tetapi sampai sekarang tidak Bik. Ponselnya juga tidak aktif, apa baterainya habis ya?" Ucap Aris kepada Bik Parni.
"Mungkin Tuan, mungkin saja Nyonya sedang dalam perjalanan pulang," Ucap Bik Parni.
Aris hanya mengangguk dan perlahan ia pun beranjak ke ruang makan. Aris duduk di meja makan menunggu Meli pulang.
"Ja, Neng Meli sudah pulang belum?" Tanya Bik Parni kepada Jaja.
Jaja yang sedang meneguk minumannya pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Ja, bukan nya tadi siang Neng Meli hanya pamit sebentar ya?"
Jaja hanya mengangguk dan menaruh cangkirnya di dalam wastafel.
"Kamu teh geleng-geleng, ngangguk-ngangguk Bibik seperti ngomong sama burung perkutut Ja..!" Ucap Bik Parni kesal.
"Lah, orang Jaja sedang minum Bik..! Lumayan masih di jawab, kalau Jaja cuekin gimana coba?" Jawab Jaja sambil merapikan rambutnya saat melihat Surti yang baru saja masuk kedalam dapur.
"Bibik teh khawatir Ja, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Neng Meli." Ucap Bik Parni dengan cemas.
"Gak ada Bik, jangan di do'ain ah," Ucap Jaja sambil memperhatikan Surti yang mengeringkan rambutnya setelah selesai mandi dan keramas.
"Ih, kamu itu ya Ja..! sebal Bibik sama kamu. Bibik teh sudah anggap Neng Meli anak kandung sendiri, jadi nya Bibik khawatir Ja..!"
"Iya Bik, Jaja juga sudah anggap Neng Meli pacar sendiri."
__ADS_1
Shutttttttttt..!
Serbet pun melibas bibir Jaja.
"Aduh apaan sih Bik..!"
"Mulut mu itu loh Ja..! kalau Tuan mendengar bagaimana!" Ucap Bik Parni, gemas.
Jaja pun menutup bibir nya dengan kedua tangannya.
"Maaf Bik, Jaja khilaf." Ucap Jaja.
"Ya sudah, kamu berdiri di depan sana..! bila Neng Meli pulang, beri tahu Bibik." Perintah Bik Parni kepada Jaja.
"Iya.. iya...," Ucap Jaja sambil bersungut-sungut.
Jaja pun melangkah menuju pintu depan. saat ia melewati Surti, Jaja pun berbisik kepada Surti.
"Neng, temenin atuh Kang Jaja, di depan." Ucap Jaja sambil mengulum senyumnya. Surti hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Mau ya... Surti kan istri masa depan nya Kang Jaja." Ucap Jaja lagi.
"Sana pergi..! Penyakit berhayal mu tidak sembuh-sembuh Ja...!" Ucap Bik Parni, Jaja pun lari terbirit-birit saat melihat Bik Parni mengangkat gagang sapunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aris dengan gelisah menunggu Meli di kamarnya. Ia pun memutuskan untuk duduk di teras rumah saja, sambil menunggu Meli pulang.
Di depan ia bertemu dengan Jaja yang juga sedang menunggu kepulangan Meli.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Aris kepada Jaja.
"Nungguin Neng, eh.. Nyonya Meli Tuan. Di suruh sama Bik Parni," Ucap Jaja dengan sikap canggung nya.
"Oh, ya sudah, temani saya duduk di sini saja. Kalau bisa kamu buat kan kopi buat saya ya Ja,"
"Siap Pak Boss..!" Ucap Jaja.
Lalu Jaja pun bergegas ke dapur untuk membuat dua gelas kopi untuk dirinya dan Aris.
Aris masih terus menghubungi Meli, tetapi ponsel Meli tidak kunjung aktif. Ia pun mulai merasa khawatir yang luar biasa.
"Meli.. kamu di mana?" Gumamnya.
__ADS_1