
Frans memarkirkan kendaraannya di sebuah restoran. Lalu, ia mengajak Meli untuk mengikutinya masuk ke Restoran tersebut.
Dengan ragu, Meli mengikuti Frans masuk kedalam restoran itu.
Mereka berdua, duduk di kursi khusus yang hanya di sediakan untuk dua orang.
Setelah memesan makanan, Frans mulai banyak bertanya tentang Meli.
Tetapi, gadis itu masih merasa risih. karena baru kali ini dirinya duduk berdua dengan laki-laki lain selain Aris.
Meli mulai merasa bosan dengan pertanyaan-pertanyaan dari Frans. Meli pun, mengalihkan pandangannya kesekeliling restoran tersebut.
Restoran ini cukup nyaman dan mewah, dengan tema ala Belanda. Meli cukup menikmati suasana nyaman di restoran itu.
Tidak sengaja, matanya tertuju kepada dua orang yang sedang asik bercengkrama. Ia merasa seperti mengenal lelaki yang sedang duduk berdua dengan wanita cantik di tengahnya ruangan restoran itu. Meli mencoba memastikan sekali lagi dengan apa yang ia lihat.
"Ma-Mas Aris..?" Gumamnya di dalam hati.
Jantungnya langsung berdegup kencang. Entah karena takut Aris melihatnya bersama frans, atau karena dirinya memergoki Aris yang sedang asik bercengkrama dengan wanita lain.
Saking groginya, tidak sengaja Meli menyenggol gelas di depannya dan gelas itu pun terjatuh membentur lantai dan pecah.
Suara gaduh gelas yang pecah mengundang semua orang menoleh ke sumber suara, tidak terkecuali Aris.
Mata Aris langsung terbelalak melihat Meli yang duduk di seberang sana dengan seorang lelaki muda. Begitu pun Meli yang memandang Aris dengan salah tingkah.
Aris berdiri dari duduknya, dirinya ingin sekali menghampiri Meli dan menyeret gadis itu untuk pulang.
"Ah... itu Frans keponakan aku,"
Ucapan Alisya sukses membuat Aris menahan keinginannya.
"Sedang bersama cewek lagi, dasar anak muda. Ceweknya gonga-ganti terus. Tapi, yang ini kelihatannya anak baik-baik." Celetuk Alisya lagi, sambil tertawa kecil.
"Fransssss..!" Panggil Alisya.
Frans yang yang sedang membantu mengelap lengan Meli yang basah karena terguyur air pun, menoleh.
"Tante Alisya?" Gumamnya.
"Kita pindah kesana aja yuk.."
Tanpa persetujuan Meli, Frans menarik lengan gadis itu. Lalu, mereka berdua menghampiri Alisya dan Aris yang sedang duduk tak jauh dari kursi mereka.
Mau tidak mau, Meli terpaksa mengikuti Frans. Matanya terus bertatapan dengan mata Aris yang terlihat marah.
"Hai Tante, apa kabar?" Sapa Frans dengan ramah, kepada Alisya.
"Hai Frans keponakan tante yang ganteng, kabar Tante baik Nak, kabar mu bagaimana?"
__ADS_1
Alisya mencium pipi kiri dan kanan Frans.
Sedangkan Meli hanya berdiri mematung dengan kepala yang menunduk dibelakang Frans.
"Baik dong Tante.., ini kenalin, Meli"
Frans menarik tangan Meli untuk lebih mendekat ke meja Aris dan Alisya.
"Me-Meli." Ucap Meli pelan.
"Alisya."
Alisya menjabat tangan Meli, lalu ia tersenyum kepada Frans.
"Kamu ini ya, memang benar-benar, bisa saja mendapatkan gadis yang cantik seperti ini." Ucap Alisya sambil memukul lengan Frans dengan pelan.
"Ah tante bisa saja."
Frans terlihat salah tingkah.
"Oh iya, kenalin ini Aris." Ucap Alisya.
Aris pun, berdiri dan menjabat tangan Frans dengan erat.
"Aris." Ucapnya dingin.
Lalu, Aris mengulurkan tangannya di hadapan Meli. Dengan ragu, Meli menyambut tangan Aris.
"Aris."
"Wah, kalau begitu selamat bersenang-senang Om, Tante, Frans gak enak mengganggu."
Frans melirik Alisya dan Alisya pun, tersenyum dan mengangguk. Frans dan Meli pun, kembali ke meja mereka.
Sedangkan Aris terus menatap Frans dan Meli dengan mata yang mulai memerah.
"Itu keponakanku, ganteng ya... dia itu atlit renang. Bandel nyaaaa ampunn hahahahaa..! Mamanya itu kakak kandungku yang pertama. Sering cerita sama aku, Frans sering gonta-ganti cewek. Dasar anak muda jaman sekarang. Tidak bisa liat yang bening sedikit pun."
Cerita Alisya panjang lebar tentang Frans. Aris pun, mendadak muak. Lalu, dengan cepat ia menghabiskan kopinya dan beranjak dari duduknya.
"Ok, aku pulang dulu ya, senang bertemu kamu Lis."
"Loh kok buru-buru sih?"
Alisya pun, ikut beranjak dari duduknya.
"Iya ada masalah yang harus aku selesaikan." Ucap Aris dengan wajah dinginnya, sambil melirik Meli dan Frans yang duduk berdua di bangku mereka.
Aris mengepalkan kedua tangannya dengan geram.
__ADS_1
"Oh, Ok, kalau begitu, kapan-kapan boleh keluar bareng lagi?" Tanya Alisya dengan wajah tampak memohon.
"Atur saja Lis." Jawab Aris sambil sekali lagi melirik ke meja Meli dan Frans.
Tanpa diduga, Alisya langsung mencium pipi kiri Aris. Aris pun terperangah tak percaya.
"Aku masih kangen, Aku berharap kamu ada waktu untuk ku," Ucap Alisya sambil berbisik ditelinga Aris.
Aris hanya tersenyum simpul, lalu beranjak pergi dari restoran itu, di ikuti Alisya dibelakangnya. Alisya pun melambaikan tangannya ke pada Frans dan Meli dari jauh.
Meli melihat Alisya mencium Aris, jantungnya berdebar sangat kencang. Dirinya tidak tau apa yang sedang ia rasakan. Antara takut, emosi, cemburu, dan bingung. Tetapi, Meli hanya bisa terdiam membisu.
"Oh.. itu toh rupanya kekasih Tante Alisya," Ucap Frans sambil memotong daging steak nya.
"Ke-kekasih..??" Tanya Meli penasaran.
"Iya, Tante ku itu sudah ditinggal suaminya karena meninggal dunia. Jadi, sudah lama sendiri. Baru kali ini aku melihat Tante bersama lelaki lain dan mencium pipi lelaki itu seperti tadi."
Mendengar penjelasan Frans, membuat dada Meli terasa sesak.
"Ayo dimakan steak nya, nanti dingin." Ucap Frans, dan Meli pun mengangguk.
Saat mereka makan bersama, Frans terus mengoceh dan banyak bertanya kepada Meli. Yang membuat gadis itu merasa sangat bosan, di tambah Pikirannya tentang Aris yang sudah pasti akan marah besar dan menunggunya dirumah seperti biasanya.
Hampir semua ucapan dan cerita Frans tak di dengarkan Meli. Ia terus tenggelam dalam pertanyaannya dan perasaan takutnya.
Ia benar-benar takut akan menghadapi Aris di rumah dan ia juga bertanya-tanya apakah benar Aris mempunyai hubungan spesial dengan Alisya.
Bila benar Aris dan Alisya mempunyai hubungan, lalu apa gunanya dirinya bagi Aris?.
Tiba-tiba saja perasan Meli menjadi sedih, kini ia pun merasa sedang di duakan oleh Aris. Tetapi, apakah ia pantas untuk marah dengan Aris? Sedangkan dirinya hanya seorang istri yang terpaksa Aris nikahi karena terjerat wasiat dari Retno.
Setelah selesai makan, Meli mengajak Frans untuk tidak berlama-lama di restoran tersebut. Firasatnya sudah tidak enak, ia hanya ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan Aris untuk membahas ini semua.
"Kenapa terburu-buru?" Tanya Frans kepada Meli.
"Kita kan sudah selesai makan, Jadi tunggu apa lagi?" Tegas Meli.
"Tapi aku masih ingin duduk bersama mu Mel.."
"Frans.., aku ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan. Jadi, kita pulang ya."
"Tapi Mel.."
"Aku bisa pulang pakai taksi kok, terima kasih bantuan dan traktirannya ya." Ucap Meli. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan pergi keluar dari restoran tersebut.
Melihat Meli pergi meninggalkannya, Frans pun bergegas mengejar Meli.
"Mel, aku antarkan pulang ya.. sebentar aku mau bayar tagihannya dulu."
__ADS_1
Frans menahan tangan Meli dan Meli pun hanya bisa pasrah dan menunggu Frans membayar tagihan di Restoran itu.