
Meli berlari menuju ruang keluarga, di mana Arya sedang terbaring di atas sofa. Meli pulang ke rumah setelah ia mendapatkan telepon dari Ar yang mengatakan bahwa Arya jatuh pingsan.
"Sudah berapa lama ia pingsan?" Tanya Meli kepada Kang Jaja yang sedang menjaga Arya.
"Sudah satu jam Neng." Ucap Kang Jaja yang terlihat khawatir.
Meli duduk di dekat Arya yang sedang terbaring di atas sofa, lalu ia memeriksa keadaan Arya. Meli sungguh khawatir kepada Arya, lalu ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi dokter pribadi nya.
Setelah Meli menelpon dokter pribadinya, Ia pun kembali menatap Arya.
"Bunda Ayah kenapa? kok tiba-tiba Ayah pingsan?" Tanya Re yang masih polos.
Meli tersenyum kepada Re, mencoba menenangkan anak perempuannya itu. Lalu ia memeluk kedua anaknya agar mereka tidak panik.
"Ayah sedang tidak enak badan, do'akan Ayah cepat sembuh ya." Ucap Meli kepada kedua anaknya.
"Iya Bunda." Ucap Ar dan Re.
Perlahan Arya pun membuka kedua matanya. Samar, ia melihat Meli, Ar dan Re yang sedang memandangi wajahnya. Lalu, Arya mencoba untuk duduk di bantu oleh Meli.
"Mas kamu baik-baik saja kan?" Tanya Meli, suara Meli terdengar sangat khawatir.
Arya menatap wajah Meli dengan penuh kerinduan, kini lelaki itu sudah mengingat siapa dirinya dan kenangan di dalam hidupnya. Genangan air mata terlihat di pelupuk mata Arya. Lalu, lelaki itu memeluk Meli dengan erat.
"Mel, aku rindu..." Ucap Arya, sambil memeluk Meli.
Meli terdiam sejenak lalu ia menatap Bik Parni dan Kang Jaja yang berada di sana.
"Ini aku Mel, Aris, suamimu." Ucap Aris, sambil menangis.
"Ingatanku sudah kembali Mel, aku benar-benar Aris. Wajahku di operasi plastik karena kondisi wajahku yang hancur saat terjadinya kecelakaan. Pantas saja kamu begitu sulit mengenaliku." Ucap Aris lagi.
Semua yang berada di ruangan itu pun terkejut mendengar pengakuan Arya. Meli melepaskan pelukan Arya dan menatap wajah Arya dengan seksama.
"Benarkah yang Mas katakan itu?" Tanya Melly tak percaya.
"Ini benar-benar aku Mel, aku mengingat semuanya sekarang. Malam itu ternyata Alisya lah yang menyelamatkan aku, lalu ia menyembunyikan aku darimu ucap Arya. Maafkan aku yang sudah meninggalkan kamu selama enam tahun ini Mel..!" Ucap Arya dengan suara yang bergetar dan air mata di pipinya.
__ADS_1
"Anak-anakku ini ayah Aris. Ayah sudah kembali nak, Ayah sudah mengingat semuanya. Kalian anak kandung ku." Ucap Arya.
"Jadi, ayah belum meninggal?" Tanya Ar dan Re.
"Belum, Ayah masih diberikan umur yang panjang untuk dapat bertemu dengan kalian." Ucap Arya dengan haru.
"Ayah..!" Seru si kembar lalu mereka berhamburan kepelukkan Arya. Arya menangis tersedu-sedu, ia memeluk erat kedua anaknya. Sedangkan Meli masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Tuan Aris." Ucap Bik Parni dan Kang Jaja.
Bik Parni dan Kang Jaja menangis haru menatap Arya. Arya pun melepaskan pelukannya dari anak-anaknya. Lalu, memeluk Bik Parni dan Kang Jaja.
"Bik, Kang, saya sangat merindukan kalian..!" Seru Arya, masih menangis tersedu-sedu. Suasana haru pun tidak bisa dihindari, tangisan bahagia menghiasi suasana pada siang itu.
Tubuh Meli gemetar, air mata mulai jatuh di pipinya. Rasa sakit karena ditinggal Aris selama enam tahun ini muncul, yang membuat Meli merasa geram kepada Alisya.
Arya melepaskan pelukannya dari Bik parni dan Kang Jaja. Lalu, ia menatap Meli yang tak bergeming.
"Mel, apakah kamu masih meragukan aku?" Tanya Arya.
Tubuh Arya gemetar, saat menunggu jawaban dan melihat tatapan Meli kepadanya. Sesaat kemudian, tangisan Meli pun pecah. Wanita itu menangis tersedu-sedu melepaskan semua rasa sakit yang pernah ia rasakan setelah Aris menghilang dari hidupnya. Melihat hal itu, Arya memeluk tubuh Meli yang gemetar.
Meli tidak kuasa menahan rasa rindu nya, lalu ia membalas pelukan Arya dengan erat. Meli terus menangis, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Melihat hal itu, Ar dan Re ikut memeluk kedua orang tuanya yang sedang melepas rasa rindu. Hari ini adalah keajaiban bagi keluarga kecil itu. Seorang Suami dan Ayah yang telah lama dianggap meninggal, kini kembali lagi ke pelukan mereka.
....
"Aku akan memberikan perhitungan kepada wanita licik itu." Ucap Alisya dengan bibir yang gemetar menahan emosinya kepada Meli saat ia baru saja sampai di rumah Frans.
"Aku yang telah menyelamatkan Aris, aku juga yang telah merawatnya dan aku yang sudah membiayainya selama ini. Enak sekali Meli mengambil keuntungan dari itu semua, setelah Aris sembuh dan terlihat normal dengan gampang ia mengambil suamiku..! Tidak akan pernah aku biarkan..!" Ucap Alisya lagi.
"Aku rasa Tante sudah gila, baiknya Tante dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ambisi Tante membuat kewarasan Tante berkurang drastis." Ucap Frans yang mendengar apa yang dikatakan Alisya barusan.
Alisya pun menatap Frans yang berdiri diambang pintu rumah. Sebelumnya ia tidak menyadari ada Frans di sana.
"Lancang kamu Frans, kamu masih anak kecil..! Kamu tidak mengerti perjuanganku untuk Aris." Ucap Alisya dengan emosi.
__ADS_1
"Siapa suruh Tante berjuang begitu banyak untuk lelaki itu? Apa Tante tidak mengerti orang yang hilang ingatan, suatu saat ingatannya akan kembali lagi. Harusnya Tante sudah bersiap-siap untuk kehilangan lelaki itu..!" Ucap Frans, sambil tertawa sinis.
"Semakin hari kamu semakin kurang ajar ya sama Tante, dasar anak tak tahu di untung..!" Bentak Alisya.
"Bila aku tidak tahu di untung, lalu Tante apa namanya? Tidak ada kata lain selain "gila" untuk Tante. Gara-gara saran dari Tante, makanya aku di penjara dan Tante lepas tangan saja, tanpa ikut menanggung dari hasil buah pikir Tante. Harusnya Tante berterima kasih kepadaku, karena aku tidak membuka mulutku dan tidak menyeret Tante ke dalam penjara." Ucap Frans tak kalah emosi.
"Tutup mulutmu..!"
Alisya mengangkat tangannya, hendak menampar pipi Frans.
"Apa-apaan ini..!" Mamanya Frans muncul dan terkejut melihat Alisya handak menampar anaknya.
"Ma, aku tidak sanggup lagi menahan rahasia. Yang menyarankan aku menculik Meli adalah tante Alisya. Dia adalah otak dari terpenjara nya aku." Ucap Frans kepada Mamanya.
Mamanya Frans pun terbelalak, lalu memandang Alisya dengan tak percaya.
"Apakah benar apa yang dikatakan anakku Alisya?" Tanya Mamanya Frans.
Alisya menggelengkan kepalanya dengan ragu, lalu menatap Frans dengan geram.
"Tidak kak, apa yang dikatakan frans itu bohong..!" Ucap Alisya membela diri.
"Bohong Ma, Tante Alisya yang berbohong. Selama ini aku menutupi rahasia ini karena aku masih kasihan kepada Tante Alisya. Aku tidak mau bila dirinya harus terseret ke dalam penjara. Tetapi aku salah, setelah aku selamatkan, ia malah melupakan aku dan membiarkan aku menghadapi ini semua sendiri." Ucap Frans.
Mamanya Frans menggelengkan kepalanya dan menatap Alisya dengan tajam.
"Ternyata kamu yang menghancurkan hidup dan masa depan anakku Alisya tega sekali kamu..!" Ucap Mamanya Frans.
"Jangan percaya kak, Frans berbohong..!" Ucap Alisya dengan panik.
"Apa kamu pikir anak ku menuduh orang lain sembarangan? Aku tidak pernah mendidiknya seperti itu..! Aku lebih percaya anakku dibandingkan kamu..! Sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah menampakan wajahmu yang memuakkan itu lagi..!" Ucap Mamanya Frans dengan penuh emosi.
Lalu, Mamanya Frans bergegas menuju kamar tamu dan ia memasukkan semua barang-barang Alisya ke dalam koper dan membawanya keluar dari rumahnya.
"Pergi kamu dari sini Aku jijik melihatmu..! Jangan pernah menampakan wajahmu lagi di hadapanku dan anakku. Kamu menghancurkan harapanku kepada anakku. Kamu menghancurkan masa depan anakku. Kamu bukan manusia Alisya..!" Ucap Mamanya Frans sambil melemparkan koper Alisya ke luar rumahnya.
"Oke, aku akan pergi dan aku pastikan suatu saat kalian akan menyesal memperlakukan aku seperti ini..!" Ucap Alisya, lalu ia memungut kopernya yang tergeletak di atas lantai teras.
__ADS_1
Dengan kesal, Mamanya Frans menutup pintu dengan kasar. Alisya pun bergegas pergi meninggalkan rumah kakaknya, sambil menyumpah serapah Ibu dan anak tersebut.