
Aris melajukan mobilnya menuju ke sebuah Restoran untuk menghadiri undangan reuni dari teman-temannya dulu, semasa sekolah di SMA. Beberapa hari yang lalu dirinya menerima undangan reuni dan ia merasa tidak enak bila tidak menghadiri undangan tersebut.
Aris Suryo, walaupun kini usianya sudah tiga puluh tujuh tahun, tetapi wajahnya tetap awet muda. Gayanya yang santai dan elegan membuat wanita mana pun terpesona kepadanya.
Selama pernikahannya dengan Retno, banyak sekali wanita-wanita yang mendekati dirinya. Tetapi tidak satupun yang mampu menggoyahkan iman dan prinsipnya. Ia tetap setia kepada Retno, walaupun saat Retno tidak lagi bisa melayaninya dengan baik.
Aris melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe dan menghampiri teman-temannya. Setelah menyapa beberapa teman, Aris melihat seorang wanita cantik yang tersenyum kepadanya.
"Alisya?" Sapanya sambil menunjuk wanita cantik itu.
"Syukurlah, kamu masih ingat denganku." Ucap Alisya sambil menjabat tangan Aris.
"Kamu apa kabar?" Tanya Aris.
"Baik Ris." Jawab wanita itu dengan senyumannya yang menawan.
Alisya adalah seorang wanita yang dulu sempat Aris sukai waktu duduk di bangku SMA. Ia juga sempat beberapa kali jalan bersama Alisya. Tetapi, walaupun begitu, Aris tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan perasaannya kepada Alisya.
Sebenarnya Alisya pun, juga sangat menyukai Aris, waktu itu. Tetapi, karena tidak kunjung ada kepastian, akhirnya Alisya berpacaran dengan orang lain. Tentu saja, Aris sempat merasa kecewa kepada wanita itu.
"Kamu berubah drastis ya Ris, kamu lebih tampan sekarang." Puji Alisya.
Aris hanya tersenyum mendengar pujian wanita itu.
"Oh iya, anak suami kok gak diajak?" Tanya Aris yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Anak-anak sudah pada besar, jadi suka gak mau di ajak Maminya. Kalau suami..."
Wajah Alisya mulai terlihat murung.
"Suami?" Tanya Aris.
"Beliau sudah meninggal karena diabetes Ris, satu tahun yang lalu."
"Oh, maaf aku baru tahu."
"No problem lah," Ucap Alisya dengan senyuman tipis yang tersungging di bibirnya.
"Aku juga mau mengucapkan turut berdukacita atas berpulangnya istrimu ya Ris. Maaf, waktu itu aku tidak bisa datang, karena lagi di luar Negeri."
"Tidak apa-apa." Ucap Aris sambil tersenyum dan beranjak duduk di depan Alisya.
Setelah semua teman-temannya berkumpul, Mereka pun segera memulai acara temu kangen tersebut, dengan makan bersama dan bercengkrama mengenang masa remaja mereka.
Tawa dan canda mengiringi acara tersebut.
Disela hiruk pikuknya suasana, Alisya memandang Aris dengan takjub. Semakin bertambah usia pesona Aris semakin bersinar. Karena merasa dirinya selalu di perhatikan oleh Alisya, Aris pun balas menatap Alisya yang sejak tadi menatap dirinya.
"Ada apa?" Tanyanya kepada Alisya.
"Ah tidak apa-apa." Jawab Alisya dengan pipinya yang mulai merona merah.
__ADS_1
"Oh iya, kamu punya anak berapa?" Tanya Alisya.
"Tidak ada," Jawab Aris dengan pembawaannya yang santai.
"Oh,"
Alisya tersenyum tipis dan sedikit merasa bersalah.
Setelah sekian jam berlalu, akhirnya acara pun berakhir. Satu persatu teman-teman mereka pamit pulang. Sedangkan Aris masih menunggu kopinya yang sudah terlanjur ia pesan.
Melihat Aris yang belum mau pulang, Alisya berinisiatif untuk menemaninya dengan mengobrol santai. Mereka berdua pun, larut dalam cerita nostalgia.
...........
"Duh, mobilnya kenapa ya?"
Meli menepikan mobilnya disisi kiri jalan yang ramai.
"Ya Allah, aku gak tau ini kenapa."
Meli terlihat panik, ia pun keluar dari mobilnya dan lalu membuka kap mesin mobilnya.
Sudah cukup lama mobil itu tidak diservis, karena Meli terlalu sibuk dengan kuliahnya. Mungkin karena itulah, makanya mobil Meli mogok.
Meli tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Meli hanya hanya berdiri di depan mobilnya sambil mencoba mencari informasi bengkel mobil terdekat lewat internet.
Tiba-tiba saja sebuah mobil mewah menepi dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Meli.
"Mel, mobilnya kenapa?" Tanya Frans dengan khawatir."
"Hmmm, aku gak tau." Jawab Meli dengan polos.
"Oh ya sudah, aku suruh mekanik ku untuk datang kesini ya, biar nanti dibenerin sama mereka dan diantar pulang kerumah mu."
Meli pun langsung mengangguk.
Frans menghubungi mekanik langganannya dan menyuruh mereka untuk datang ke lokasi, dimana mobil Meli yang sedang mogok.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya datanglah dua orang mekanik yang mengendarai sepeda motor menghampiri mereka.
"Kenapa Bos?" Tanya salah satu mekanik.
"Lu periksa dah, mobil ini punya Mbak ini. Lu perbaiki, nanti lu antar aja kerumahnya." Perintah Frans kepada mekanik tersebut.
"Mel, kasih kuncinya dan alamat rumahmu ya."
"Ta-tapi, bisa gak aku menunggu saja?" Tanya Meli dengan gelisah.
"Mereka orang kepercayaan aku, jadi jangan khawatir. Pasti beres kok."
Frans mencoba meyakinkan Meli.
__ADS_1
Sedangkan Meli masih menatap kedua mekanik dengan wajah yang bimbang.
"Untuk sekarang kamu aku antar pulang ya, aku tidak keberatan kok."
Meli menatap frans dengan seksama.
Lelaki itu terlihat sangat baik, tidak ada mengindikasikan lelaki itu berniat jahat kepada dirinya.
"Ayo, tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok." Frans kembali mencoba meyakinkan Meli.
Akhirnya gadis lugu itu pun menerima tawaran Frans. Meli masuk kedalam mobil frans, lalu mereka pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Frans adalah lelaki tampan yang di gandrungi banyak wanita cantik di kampus nya, kecuali Meli. Meli, tidak pernah perduli dengan lelaki manapun.
Frans yang tampan adalah keturunan Swiss dan Indonesia. Bapaknya asli Swiss dan Ibunya asli suku Jawa. Wajah belasteran tidak bisa di pungkiri dan sangat terlihat di wajahnya.
Tubuhnya atletis, karena Frans adalah Atlit renang. Postur tubuhnya yang tinggi membuat tampilannya secara keseluruhan semakin perfect.
Meli dan Frans berkenalan di perpustakaan kampus. Saat itu Frans yang terlebih dahulu mengajak Meli berkenalan.
Saat pandangan pertama, Frans sudah jatuh hati kepada Meli. Tetapi, gadis ini cukup cuek dan tidak suka mencari perhatian seperti kebanyakan gadis di kampus. Tentu saja, hal itulah yang membuat Frans semakin penasaran dan selalu berusaha mendekati Meli. Tetapi, selalu tidak ada kesempatan baginya.
Hari ini, Frans bagaikan mendapatkan durian runtuh. Tanpa sengaja, Frans bertemu dengan Meli yang sedang membutuhkan bantuan. Bagaikan malaikat, kehadirannya sangat tepat saat ini.
"Makan dulu yuk,"
"Tidak usah, aku makan di rumah saja."
Meli berusaha menolak ajakan Frans.
"Ayo lah, anggap aja kamu berteri makasih kepadaku dengan menemani aku makan."
Frans mulai mengungkit kebaikannya.
Meli pun mulai merasa tidak enak untuk menolak Frans.
"Baiklah," Ucap Meli.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Frans sambil melirik Meli yang terlihat tidak nyaman dengan dirinya.
"Apa saja terserah," Sahut Meli
"Dasar cewek." Gumam Frans, lalu ia tersenyum sendiri.
"Steak mau?" Tanya Frans lagi.
"Terserah." Sahut Meli yang tampak acuh.
"Ya sudah, Steak ya.."
Frans mencoba memastikan sekali lagi kepada Meli, gadis itu hanya mengangguk pelan dan membuang pandangannya keluar jendela mobil. Sedangkan Frans tersenyum senang saat Meli berhasil ia ajak untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Selama ini tidak ada gadis yang menolak ajakannya. Hanya Meli lah yang selalu menolak ajakannya. Tetapi, tidak kali ini. Frans berhasil mengajak Meli untuk makan bersama dan diantarkan pulang. Tentu saja, hal itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi Frans.