Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 17. Hepi Besdey Neng Meli


__ADS_3

Meli meminta Frans untuk menghentikan mobilnya tepat di sebuah gerbang rumah mewah. Frans memperhatikan gerbang rumah megah tersebut dari balik kemudinya.


"Ini rumah kamu?" Tanya Frans yang merasa takjub. Meli hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Lalu, ia bergegas turun dari mobil Frans. Tetapi, lengannya buru-buru di tahan oleh Frans.


"Tunggu Mel.." Ucapnya. Lalu, Meli pun menatap lelaki itu dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Ya?" Tanya Meli.


"Kamu punya kekasih tidak?" Tanya Frans lagi.


Meli terdiam, lalu melepaskan tangan Frans dari lengannya.


"Aku duluan ya, terima kasih."


Meli turun dari mobil Frans dan meminta satpam penjaga rumah untuk membukakan gerbang untuknya.


Sikap Meli membuat Frans semakin penasaran. Sikap acuh dan wajah Meli yang cantik membuat Frans semakin jatuh cinta kepada Meli. Dirinya pun bertekad untuk memiliki gadis polos tersebut.


"Aku akan mendapatkan mu Mel, bagaimanapun caranya." Gumamnya.


Meli melangkah masuk kedalam pekarangan rumah. Dirinya melihat mobil Aris yang sudah terparkir di tempat biasanya. Dengan perasaan yang bercampur aduk, akhirnya Meli memberikan diri untuk membuka pintu rumah.


Saat itu Meli tidak melihat siapapun di dalam rumah, Meli pun dapat bernapas dengan lega. Lalu, dengan perlahan ia melangkah menuju kekamarnya, yang berada tepat di sebelah kamar Aris.


Ia menatap pintu kamar Aris, saat ia melintasi kamar lelaki itu. Ingin sekali dirinya mengetuk dan menjelaskan apa yang terjadi di restoran tadi.


Tetapi, ia mengurungkan niatnya. Karena, ia juga tidak tahu Aris akan bersikap seperti apa, setelah pertemuan dengan Meli yang tak disengaja tadi.


Meli kembali melangkahkan kakinya sampai di depan pintu kamarnya. Dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya, lalu masuk kedalam kamar itu.


"Siapa dia?"


Suara Aris membuat jantung Meli terasa mau copot. Pandangannya beralih ke sofa dibawah jendela kamarnya. Disitu Aris sedang duduk menunggu dirinya.


Meli hanya terdiam, ia tidak berani menatap mata Aris yang sedang memandanginya dengan tatapan menghakimi.


"Tidakkah kamu mendengar pertanyaan ku..!"


Kali ini nada suara Aris mulai meninggi.


"Teman." Jawab Meli pelan.


"Teman? hanya berdua? di restoran seperti itu?" Tanya Aris dengan tatapan yang sinis.


"Iya, dia hanya teman," Ucap Meli lagi.


"Ck,"


Aris tersenyum sinis.


"Mobilnya tadi rusak dijalan. Terus, saya bingung harus bagaimana. Lalu, kebetulan Frans lewat dan menawarkan bantuan. Di tengah jalan Frans mengajak saya makan dan saya tidak enak menolaknya."

__ADS_1


Meli berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepada Frans.


"Dia membantumu atau mengajakmu berkencan?"


Aris tetap melontarkan pertanyaan-pertanyaan dengan sinis. Yang membuat Meli semakin merasa bersalah.


"Saya harus mengatakan apa lagi? agar Mas percaya?" Tanya Meli dengan putus asa.


Aris beranjak dari duduknya. Lalu, menghampiri Meli yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya.


Aris meraih dagu Meli dengan jari telunjuknya.


"Retno salah menilai kamu," Ucapnya pelan menahan emosi. Mata Meli terbelalak, tak terima dengan apa yang diucapan Aris.


"Ini semua salah paham Mas." Ucap Meli, yang berusaha untuk terus menjelaskan.


Tetapi, Aris tidak menghiraukannya. Lalu, ia menjauh dari Meli dan hendak keluar dari kamar Meli.


"Terus siapa wanita itu! apakah aku berhak juga untuk salah paham?" Tanya Meli.


Langkah kaki Aris tertahan. Ia menoleh dan menatap Meli dengan tak percaya.


"Maksudmu?"


"Iya, Alisya. Kenapa dia mencium pipi Mas? Mengapa Mas berdua saja dengan dia di restoran seperti itu? Apakah kalian mempunyai hubungan spesial?"


Pertanyaan Meli membuat emosi Aris mulai tak bisa ia bendung.


"Aku pun salah menilai Anda Tuan Aris," Ucap Meli dengan penuh emosi.


Kini, tak ada lagi Meli yang selalu takut saat berbicara dengan Aris. Saat ini, hanya ada Meli yang penuh dengan emosi dan siap untuk melawan Aris.


Aris terperangah tak percaya mendengar ucapan Meli. Lalu, ia pergi meninggalkan Meli dan membanting pintu kamar Meli dengan kasar.


Malam itu malam yang paling tegang yang pernah Meli rasakan di rumah itu. Dirinya tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Yang jelas, dirinya merasa tidak suka saat melihat Aris duduk berdua bersama Alisya dan melihat pipi Aris di kecup mesra oleh wanita itu. Rasanya amarah dan benci menguasai hatinya.


Aris masuk kedalam kamarnya. Lalu, membanting pintu kamarnya dengan kesal.


"Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu kepadaku" Ucap Aris, geram.


Dirinya tidak mengerti kenapa ia sangat marah saat Meli bersama lelaki lain. Ia merasa seperti sedang di khianati oleh Meli. Dan ia pun merasa kesal karena Meli menuduhnya punya hubungan spesial dengan Alisya.


Aris termenung di atas ranjangnya, amarah masih menguasai hatinya. Ia benar-benar curiga bila Frans dan Meli mempunyai hubungan spesial dan kecurigaan itu membuat dirinya tidak merasa tenang.


"Arghhhh..! aku bisa gila kalau begini, aku harus mengawasi mereka." Tekadnya.


...


Pagi-pagi sekali, Bik Parni dan Kang Jaja sudah sibuk menyiapkan kue alakadarnya untuk ulang tahun Meli.


Beberapa waktu yang lalu, sebelum Meli sah menjadi istri Aris, Jaja pernah bertanya kepada Meli prihal ulang tahun Meli. Tidak lupa, Jaja mencatatnya di ponsel miliknya dan mengeset alarm untuk pengingat dirinya di hari ulang tahun Meli.

__ADS_1


Hari ini Meli genap berusia 20 tahun. Meli baru saja selesai berdandan untuk berangkat kuliah pagi. Sebelum ia berangkat, ia selalu menemui dan berpamitan dengan Bik Parni di dapur.


Baru saja Meli sampai di dapur, dirinya disambut meriah oleh Bik Parni dan Kang Jaja.


"hepi besdey Neng," Ucap Kang Jaja. Lalu, Kang Jaja menghampiri Meli dan ingin memeluk Meli.


Melihat hal itu, Bik Parni langsung menarik kerah baju Jaja dari belakang.


"Eeee, eeee,eeee... gak sopan kamu Ja..!"


Ucap Bik Parni dengan kesal.


"Ya, maaf." Ucap Jaja sambil menggulung-gulung tepi kemejanya.


"Neng, selamat ulang tahun ya. Semoga panjang umur, sehat selalu dan...."


Bik Parni menghentikan ucapannya.


"Dan apa bik?" Tanya Meli dengan lembut.


"Dan selalu akur dengan Tuan." Sambung Bik Parni.


Meli langsung terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Maaf Neng, tapi harapan Bibik sungguh-sungguh. Bibik kepengen Neng sama Tuan menjadi suami istri yang bener gitu neng. Satu kamar saling cinta. terus punya anak deh." Ucap Bik Parni lagi.


Sedangkan Jaja langsung mencolek Bik Parni mengisyaratkan agar Bik Parni berhenti bicara.


Meli tersenyum lalu mengucapkan terima kasih kepada Bik Parni dan Kang Jaja. Lalu Meli memeluk Bik Parni dengan erat.


"Ada apa ini?"


Suara berat dan dingin terdengar dari pintu dapur.


"Eh tuan, sarapannya sudah saya siapkan." Ucap bik Parni sambil membawa sepiring salad buah dan segelas juice sehat yang ia buatkan khusus untuk Aris.


"Saya tanya ada apa?" Tanya Aris sekali lagi.


Sedangkan Meli masih terpengaruh emosi pertengkaran semalam, Ia tidak ingin menatap Aris. Bahkan melirik pun tidak.


"Anu Tuan, Neng Meli.. eh.. Nyonya ulang tahun." Jaja mencoba menjelaskan.


"Ulang tahun?" Tanya Aris.


"Iya Tuan, yang ke 20 tahun." Sahut Bik Parni.


Mendadak Aris merasa konyol. Kenapa pembantunya lebih tau tentang istrinya dari pada dirinya sendiri. Lalu, Aris beranjak ke ruang makan.


Tidak lama kemudian, saat Aris sedang sarapan, ia melihat Meli melintas begitu saja di depannya. Tanpa menyapa dirinya apalagi berpamitan kepadanya.


Aris pun semakin gemas melihat sikap Meli yang acuh kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2