Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 14. Aku mulai memperhatikan kamu


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, kini Meli sudah menjadi seorang mahasiswi jurusan manajemen bisnis. Meli juga sudah bisa menyetir mobil sendiri untuk berangkat ke kampusnya.


Meli yang cantik, cukup menarik perhatian banyak mahasiswa. Terutama senior-seniornya di kampus. Tidak hanya satu atau dua orang yang mendekati Meli. Tetapi, terlalu banyak lelaki yang mencoba untuk mendekati dirinya. Tetapi, Meli selalu mengabaikan mereka semua. Meli tetap membatasi diri untuk tidak terlalu akrab dengan lawan jenis. Karena Meli sadar, kini ia bukanlah wanita single.


Hari ini Meli tiba di rumah agak malam, karena ada kegiatan di kampusnya. Meli memasukan mobilnya kedalam garasi yang sudah di buka oleh Bik Parni.


"Terima kasih Bik," Ucapnya sambil memeluk wanita paruh baya tersebut.


"Sama-sama Neng. Oh iya, Tuan dari tadi sudah menunggu Neng Meli. Kok Neng Meli pulangnya malam sekali? Tumben Neng?" Tanya Bik Parni sambil menutup kembali pintu garasi.


"Iya Bik, tadi ada kegiatan yang harus Meli ikuti. Tuan dimana Bik?"


"Ada Neng di ruang tamu."


Meli pun mengangguk, lalu ia melangkah masuk ke dalam rumah. Saat itu juga Aris langsung menghadangnya.


Meli terkejut sampai dirinya tersender ke daun pintu. Aris mendekatkan tubuhnya hingga berjarak hanya sejengkal saja dari tubuh Meli. Tangan kanannya memegang daun pintu, sedangkan tangan kirinya masuk kedalam saku celananya.


Lelaki itu terlihat tampan dengan celana hitam dan kemeja putih yang tiga anak kancingnya dibiarkan terbuka.


"Dari mana saja?" Tanya Aris sambil mengangkat kedua alisnya.


"Da-dari kampus... ma-Mass." Jawab meli dengan gugup.


Aroma parfum dan dada bidang yang mengintip dari balik kemeja Aris membuat Meli semakin grogi.


"Kenapa pulangnya malam sekali?" Tanya Aris sambil melirik ke arloji di pergelangan tangannya.


"A-ada kegiatan." Jawab Meli terbata.


"Oh...,"


Aris menurunkan tangannya dan beranjak kembali ke kamarnya. Setelah Aris pergi, Meli pun menghembus napas lega.


Sudah hampir dua bulan mereka menikah, tetapi mereka tidak pernah satu kamar. Jangankan untuk saling bersentuhan, hingga saat ini mereka jarang sekali saling bertatap mata.


Meli masuk kedalam kamarnya dan pergi untuk mandi. Setelah mandi, Meli membuka ponselnya, lalu mengirim pesan kepada orangtuanya di Kampung. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena kelelahan, akhirnya Meli terlelap hingga pagi.


Meli tersentak dari tidurnya, lalu ia menatap jam di dinding kamarnya.


"Hah...? pukul delapan?" Serunya.


Dengan tergesa-gesa, Meli langsung keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan untuk menemui Aris. Tetapi, lelaki itu tidak berada disana.


"Bik, Tuan mana?" Tanyanya kepada Bik Parni.

__ADS_1


"Sudah berangkat dari tadi, Neng." Jawab Bik Parni.


"Aduhhh.., aku kesiangan." Ucapnya dengan gusar.


Lalu, ia berlari menuju kamar dan menyambar ponselnya dengan cepat. Meli pun langsung mengirim pesan kepada Aris.


"Selamat pagi, maaf saya kesiangan. Jadi, saya tidak menyiapkan baju untuk Mas dan tidak menemani Mas untuk sarapan, maaf kan saya." Ketiknya, lalu ia mengirimkannya kepada Aris.


Tidak berapa lama, ia pun menerima balasan dari Aris


Tuan Aris


"No problem."


Setelah membaca balasan dari Aris.


Dia pun, merasa lega.


Walaupun Meli hanya istri yang di wasiatkan, tetapi sehari-hari dirinya tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Mempersiapkan Jas dan kemeja, memasak dan menyiapkan sarapan untuk Aris, serta menemani lelaki itu sarapan dan makan malam.


Kecuali satu, tugasnya untuk melayani Aris di ranjang tidak pernah ia lakukan. Lelaki itu sangat dingin, bahkan seperti tidak punya nafsu kepada dirinya. Hal itu membuat Meli merasa minder. Ia tahu, dirinya tidak secantik Retno dan ia cukup sadar diri, bila dirinya tidak mungkin dicintai oleh suaminya sendiri, yaitu Aris.


....


Setelah sekian menit menunggu, tiba-tiba Aris mulai menyadari, bahwa ia kini sudah mulai terbiasa dengan gadis itu.


Aris mulai bertanya-tanya dengan hatinya sendiri, mengapa belakangan ini ia terus merasa nyaman berada di dekat Meli dan ia selalu berharap Meli melayaninya seperti biasa.


Aris mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu, ia mengambil kemejanya dari dalam lemari dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Saat ia dalam perjalanan ke kantor, ia menerima pesan dari Meli. Meli meminta maaf kepadanya karena tidak melayaninya seperti biasa. Aris pun tersenyum saat menerima dan membalas pesan dari meli.


Sesaat kemudian, Aris pun kembali tersadar, bahwa kini ia selalu memikirkan gadis itu bahkan sampai tertawa sendiri.


"Ahhhh...! apa-apaan ini..!!" Batinnya.


Ia pun merasa kesal kepada dirinya sendiri.


..


Aris sengaja pulang lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa ia sangat ingin bertemu dengan gadis itu secepatnya. Lalu, ia memacukan kendaraannya lebih cepat lagi, agar sampai di rumah lebih cepat.


Saat Aris sampai dirumah, ia langsung bergegas mencari Meli. Tetapi, ia tidak menemukan Meli di mana pun. Aris mulai bertanya-tanya dan merasa khawatir. Seharusnya Meli sudah tiba di rumah. Aris sedikit merasa kecewa karena Meli tidak berada di rumah.


"Kemana gadis itu?" Gumamnya.

__ADS_1


Aris memutuskan untuk menunggu Meli di ruang tamu seperti biasanya.


Hingga malam menjelang, akhirnya Meli pulang tepat pukul sebelas malam. Saat Meli masuk kedalam rumah, dengan segera Aris menghadang istrinya itu.


Ingin sekali Aris banyak bertanya. Kemana saja? Dengan siapa? Ngapain dan lain sebagainya. Tetapi, setiap melihat mata gadis itu, pertanyaan itu buyar begitu saja dari benaknya.


"Arghhhh, ada apa denganku?" Batinnya.


Lalu, ia beranjak dari hadapan Meli tanpa sepatah katapun.


Meli yang sempat terkejut melihat Aris yang tiba-tiba saja menggadang dirinya. Kini, menjadi bingung dengan Aris yang tidak bertanya apa-apa kepadanya.


Meli menatap punggung Aris yang berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Lalu, Meli pun masuk kedalam kamarnya dengan pertanyaan di benaknya.


"Tuan Aris Aneh," Gumamnya


Sikap Aris masih seperti itu saat mereka sarapan bersama pada esok harinya. Meli menatap Aris yang sedang makan dengan lahap, menu sarapan yang di buatkan oleh Meli.


"Mas, maaf ya.. semalam aku pulang malam lagi." Ucap Meli, mencoba untuk membuka obrolan di antara mereka berdua.


"Hmmmm.."


"Mas marah?" Tanya Meli lagi.


"Gak." Jawab Aris dengan singkat.


"Maaf ya,"


"Untuk apa?" Tanya Aris sambil menatap Meli dengan tatapannya yang dingin.


"Karena saya pulang malam." Jawab Meli.


"Lakukan saja sesuka mu, asal kamu lulus kuliah dengan angka yang memuaskan. Jangan main-main, ingat... aku yang membiayai mu."


Aris meletakan sendoknya di atas piring, lalu bergegas untuk berangkat ke kantor.


"I-iya Mas, aku paham."


Aris menatap Meli beberapa saat, lalu meninggalkan Meli begitu saja.


Meli merasa tidak enak hati, satu sisi dia adalah seorang mahasiswi yang aktif dalam kegiatan apa saja, sedangkan satu sisi ia adalah seorang istri.


Lagi-lagi Meli hanya dapat memandangi punggung Aris yang melangkah dengan cepat menuju pintu depan.


Meli menghela napas panjang, lalu ia kembali menyantap sarapannya.

__ADS_1


__ADS_2