Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 53. Janji ya Om..?


__ADS_3

"Tante Alisya tinggal dimana sekarang Ma?" Tanya Frans kepada Mamanya.


"Di Yogyakarta, dia sudah menikah," Ucap Mamanya Frans sambil memberikan Frans sepiring nasi goreng buatan nya.


Frans meraih sepiring nasi goreng dari tangan Mamanya dan mengucapkan terima kasih. Frans sudah banyak berubah, kini ia lebih santun terhadap Mamanya.


"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Tante Alisya?" Tanya Mamanya penasaran.


"Tidak apa-apa Ma, ngomong-ngomong Tante Alisya menikah dengan orang mana? Yogyakarta?" Tanya Frans kepada Mamanya.


"Iya orang Yogyakarta, makanya dia ikut pindah ke sana."


Frans mengangguk-angguk, lalu melahap nasi goreng buatan Mamanya.


...


"Ar, Re, Jangan ganggu Om ya. Om nya sakit," Ucap Meli yang berdiri di ambang pintu musholla.


Arya menatap Meli, lalu tersenyum kepada Meli. Senyuman Arya membuat Meli menjadi salah tingkah, baru kali ini ia merasa salah tingkah dengan senyuman seorang lelaki setelah Aris tiada.


"Bagaimana keadaan nya Mas?"


Meli memberanikan diri untuk bertanya kepada Arya.


"Alhamdulillah baik," Ucap Arya.


Tatapan Arya membuat Meli semakin grogi.


Seorang waiters mengantarkan teh manis hangat untuk Arya dan menaruhnya di depan Arya.


"Saya tidak pesan," Ucap Arya kepada waiters itu.


"Minum saja, itu gratis," Ucap Meli kepada Arya.


Arya mengeryitkan dahinya sambil menatap Meli.


"Terima kasih ya," Ucap Arya.


Lalu, ia menyeruput teh hangat itu. Setelah itu, ia kembali bermain dengan Ar dan Re.


"Jon, ini dompet saya, tolong bayar semua pesanan kita."


Arya menyerahkan dompetnya kepada Jono.


"Tidak usah bayar, semua Free," Ucap Meli kepada Arya.


Arya kembali mengernyitkan dahinya dan menatap Meli lekat-lekat.


"Apa hari ini restoran ini Free? tahu begitu saya memesan lebih banyak lagi tadi," Ucap Arya sambil tersenyum geli.


Meli pun, mengulum senyumnya.


"Ini bayar sana Jon."


Dengan ragu, Jono meraih dompet Arya dan beranjak dari duduk nya.


"Saya bilang tidak usah. Menurut pegawai saya, kalian adalah pelanggan setia restoran saya," Ucap Meli.

__ADS_1


Arya pun, terpaku menatap Meli.


"Masih muda sudah punya restoran..? Hebat..!!!" Batin nya.


"Jadi, Mbak yang punya restoran ini?"


Meli hanya tersenyum ragu, lalu ia mengangguk pelan.


"Hebat..! masih muda sudah punya usaha sebagus ini." Puji Arya.


Meli hanya tersenyum kecil.


"Saya hanya mengembangkan usaha yang sudah ada Mas, Alhamdulillah rezeki saya disini," Ucap Meli.


Arya mengangguk-angguk paham. Ia berpikir mungkin saja Meli meneruskan usaha orangtuanya.


"Seperti nya sudah terlalu malam Mas, saya harus kembali ke hotel. Karena saya baru saja tiba tadi siang dari Jakarta. Jadi, kita semua butuh istirahat."


"Yah Bunda..."


Ar terlihat kecewa saat Bunda nya ingin mengajak nya kembali ke hotel.


"Jakarta?" Tanya Arya kepada Meli.


"Iya, kita tinggal di Jakarta, disini hanya main saja." Ucap Meli.


"Re gak mau kembali ke hotel, Re mau bermain sama Om Arya," Ucap Re sambil mendekap erat tubuh Arya.


Meli mengangkat kedua alis nya dan menatap Re dengan tak percaya.


"Re sayang, Om juga mau pulang loh. Besok kita kan mau jalan-jalan ke alun-alun, mau ke pantai juga kan?"


"Re dan Ar mau dekat dengan Om Arya..!" Ucap Ar dan Re.


Selama ini anak-anak nya tidak pernah membantah apa pun yang di katakan Meli. Tetapi, kali ini ia pun merasa bingung hanya demi seorang yang baru saja di kenal, anak-anak nya membantah ucapan nya.


Melihat Meli yang mulai bingung, Arya pun berusaha membujuk Ar dan Re.


"Anak ganteng dan cantik, jangan bantah Bunda ya. Besok mau kemana? Om pasti akan datang, kita akan bermain bersama lagi. Bagaimana?" Ucap Arya kepada kedua anak kembar itu.


"Janji ya Om?"


"Iya Om janji, laki-laki tidak boleh ingkar janji."


Arya mengangkat kedua jarinya sambil tersenyum.


"Besok kami mau ke alun-alun dan pantai. Om datang ya...!" Ucap Re.


"Siapppp Om pasti datang," Ucap Arya dengan mata yang berbinar.


"Ok, kita kembali ke hotel dulu ya Om. Tapi, sebelumnya Ar mau tanya nomor ponsel Om. Jadi, bila Om ingkar janji, Ar bisa telepon Om dan marah-marah sama Om."


Arya tertawa terbahak-bahak melihat betapa pintarnya anak-anak Meli.


"Iya, Om janji, Ini kartu nama Om."


Arya menyerahkan kartu namanya kepada Ar.

__ADS_1


"Ok thank you om, see you tomorrow. Assalamualaikum..!" Ucap Ar dan Re sambil mencium tangan Arya.


Arya sungguh terpesona dengan sikap anak-anak Meli. Ia pun memuji di dalam hatinya tentang betapa hebatnya Meli mendidik anak-anak nya sendirian.


Meli hanya tersenyum kepada Arya dan Jono. Lalu, ia pergi membawa anak-anak nya kembali ke hotel.


Malam itu Meli tidak dapat tidur, ia terus merasa gelisah. Meli terus terbayang-bayang senyuman Arya dan sikap Arya kepada anak-anak nya.


Ia pun mulai menangis, mengingat Aris yang sudah lama meninggal dunia.


"Mas, anak-anak merindukan mu, aku pun merindukan mu Mas." Gumam nya lirih.


Meli menatap kedua anak nya, lalu ia membetulkan letak selimut yang menyelimuti tubuh anak-anak nya. Lalu, ia mencium kening Ar dan Re.


Meli merebahkan dirinya di atas ranjang sebelah ranjang Ar dan Re. Ia mulai bergelung di bawah selimut. Meli menggenggam tangan nya, ia mencoba merasakan sentuhan yang ia ingat dari Aris di tangan nya. Tetapi, tiba-tiba ingatan itu mengarahkan ingatan nya kepada bayangan Arya.


"Astaghfirullah..!" Ucap nya.


Lalu, Meli duduk di atas ranjang nya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak..! tidak..! Astaghfirullah..!" Ucapnya.


...


"Dari mana saja kamu..!" Tanya Alisya saat melihat Arya yang baru saja tiba di rumah.


Arya hanya menatap Alisya sekilas, lalu ia pun beranjak kedalam kamarnya.


"Arya...! aku bertanya kepadamu..!" Bentak Alisya.


Arya tidak memperdulikan Alisya, Ia pun menaruh tas nya di atas ranjang dan lalu beranjak menuju ke kamar mandi untuk membilas tubuh nya yang terasa lengket.


"Arya..!" Alisya berteriak histeris.


Tetapi, Arya tidak bergeming. Lelaki itu masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya.


Arya membilas tubuhnya, dimatanya terbayang-bayang dua anak kembar yang telah mencuri hatinya. Lalu, bayangan wajah Meli yang sedang tersenyum pun melintasi benak nya.


Arya tersenyum sendiri, tidak tahu mengapa ia seperti tidak bisa mengendalikan diri kepada keluarga kecil itu.


Arya keluar dari kamar mandi. Seketika Alisya menghampiri dirinya.


"Kamu selingkuh?" Tanya Alisya dengan murka.


"Selingkuh?" Tanya Arya dengan menatap Alisya dengan tak percaya.


"Iya kamu selingkuh? tidak biasanya kamu pulang semalam ini dan sudah hampir satu bulan kamu selalu pulang terlambat. Sebenarnya kamu kemana? siapa perempuan itu?" Tanya Alisya dengan emosinya.


Arya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Al... Al.., pikiran mu itu kotor sekali, kalau kamu curiga terus menerus kepada ku? Sama saja kamu menyuruh ku melakukan hal itu."


Alisya pun terdiam terpaku mendengar ucapan Arya.


"Sudah, aku mau tidur dulu."


Arya pun beranjak ke ranjang nya dan bergegas untuk tidur. Alisya menahan emosinya. Tetapi, kata-kata Arya membuatnya tidak berani lagi untuk bertanya kepada lelaki itu. Ia benar-benar merasa gila dengan lelaki itu.

__ADS_1


Arya adalah Aris, sampai kapan pun ia adalah Aris. Alisya keluar dari kamar, lalu ia menyeduh kopi untuk menemaninya berpikir bagaimana caranya untuk membuat Aris kembali seperti yang ia mau.


__ADS_2