Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 31. Meli, kembalilah...!


__ADS_3

"Sudah selesai Pak, sekarang Bapak boleh pulang. biar saya yang urus semuanya," Ucap Gatot, salah satu pengacara Aris.


Aris hanya mengangguk dan langsung menghubungi supirnya untuk menjemputnya di kantor polisi.


"Sialan si Alisya..!" Gumam Aris.


Hati nya terasa sakit sekali. Ia takut sekali apa bila semua berita bohong ini menyebar ke media atau ke rekan-rekan bisnisnya. Bisa-bisa semua rekanan nya memutuskan hubungan kerja sama dengannya.


"Kamu urus disini, nanti yang lain nya akan ke rumah Alisya. Sebagian lagi ke Rumah sakit, cari dokter yang sudah memberikan informasi palsu. Dan satu lagi, bungkam media apabila berita ini sudah terlanjur di up."


Perintah aris dengan pengacara dan anak buah nya.


"Baik Pak."


Mereka pun membubarkan diri dan menjalankan perintah Aris.


Aris mencoba untuk menghubungi Meli. Tetapi, nomor ponsel Meli tidak aktif. Rasa cemas pun bersarang di dadanya. Ia takut sekali bila Meli sudah pergi dari rumah. Akhirnya Aris menghubungi telepon rumahnya.


Bik Parni yang sedang mengepel lantai tergopoh-gopoh menghampiri meja telepon di ruang tengah. Setelah berdering beberapa kali, ia pun mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, rumah Bapak Aris disini." Sapa Bik Parni dengan ramah.


"Bik, Meli mana?" Tanya Aris tanpa berbasa-basi.


"Tuan? Alhamdulillah Tuan.. Tuan kapan pulang Tuan?" Bik Parni mulai menangis.


"Saya mau pulang sebentar lagi, Meli nya ada?" Tanya Aris.


"Hmmm... anu tuan.. hmmm...


"Buruan dong Bik, Meli nya ada apa tidak?" Desak Aris.


"Gak ada tuan, sudah satujam yang lalu, Neng meli pergi Tuan."


"Hah...! pergi kemana?"


"Bibik juga gak tahu Tuan. Bibik tidak bisa mencegahnya. Maafkan Bibik ya Tuan."


Aris menghela napas dengan berat. Lalu, ia memijat kepalanya yang tidak pusing.


"Ya sudah Bik, terima kasih."


"Iya Tuan."


Aris pun mengakhiri panggilan nya. Lalu, ia terduduk lemas di kursi ruang tunggu.


"Kenapa jadi begini sih, aku benar-benar bodoh datang ke acara itu..!" Sesal Aris sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.


Tak lama kemudian, supir dan mobil Aris pun datang. Lalu, dengan cepat Aris masuk ke dalam mobilnya dan memerintahkan supirnya untuk segera pulang kerumah.


Sepanjang jalan, Aris merasa cemas. Dirinya mulai yakin bila Meli pasti pergi menuju stasiun atau terminal bus untuk pulang ke kampungnya.

__ADS_1


"Ben, kita ke stasiun atau terminal Bus sekarang." Perintah Aris.


"Baik pak."


Benny, supir pribadi Aris langsung melajukan mobil menuju ke stasiun kereta.


Sekitar hampir empat puluh menit kemudian, Aris dan Benny tiba di stasiun kereta. Aris langsung keluar dari mobil dan berlari menuju pintu masuk stasiun itu dan menghampiri petugas yang berada di sana.


"Saya mau mencari seseorang, saya mau masuk tetapi tidak memiliki tiket. Apa saya boleh masuk? Dan apakah kereta api ke Cirebon sudah berangkat?" Tanya Aris kepada petugas itu.


"Bapak masuk saja, Kereta ke Cirebon belum berangkat. Masih ada di peron ketiga Pak."


"Baik Pak terima kasih."


Aris berlari masuk ke dalam, ia pun mencari peron nomor tiga. Matanya mulai menyisir setiap penumpang yang sedang lalu lalang disana.


"Apa Meli sudah pergi dengan kereta sebelumnya ya?" Batin Aris.


Tetapi ia tetap mencoba mencari sosok Meli di tengah keramaian. Tidak ada Meli disana, ia pun memutuskan untuk melihat ke gerbong kereta api yang sebentar lagi akan berangkat.


Dirinya sempat di cegah oleh petugas yang mempertanyakan tiketnya. Tetapi, setelah ia menjelaskan dan memohon akhirnya ia di izinkan untuk mencari di dalam gerbong kereta.


*


Meli mengusap air matanya, ia sudah berada di dalam kereta api tujuan Cirebon. Ia menatap kosong ke luar jendela kereta yang sebentar lagi akan berangkat.


Sekilas ia melihat Aris yang sedang berlari memasuki gerbong kereta yang ia tumpangi. Ia pun menggelengkan kepalanya.


"Mel...!" Seru Aris, memanggil Meli.


"Mas Aris..!" Meli terperangah melihat Aris yang sedang terengah-engah sambil menatap dirinya.


"Mel, Ayo pulang"


Aris menurunkan koper Meli dari bagasi atas, lalu menarik tangan Meli untuk ikut dengan bersamanya.


"Enggak Mas, Meli mau pulang ke rumah Bapak."


Meli berusaha melepaskan tangan Aris.


"Mel, dengar dulu. Kalau aku bersalah, silahkan kamu pergi. Tetapi, izinkan aku membuktikan nya terlebih dahulu Mel."


Aris berusaha memberikan pengertian kepada Meli, ia menatap Meli dengan genangan air mata di pelupuk matanya.


"Mel, aku bersumpah, bila aku memang bersalah kamu bisa lakukan apa pun kepada diriku. Sekarang mari kita buktikan bersama-sama ya."


Aris memohon kepada Meli, dengan memegang kedua bahu Meli.


"Bila aku lelaki nakal, aku sudah mencampak kan Retno saat dia sakit. Tetapi, aku tidak melakukan itu Mel..! Aku menahan semuanya sendirian tanpa melakukan hal-hal yang tidak baik..! Sekarang aku mempunyai istri yang sehat dan melayaniku dengan baik. Mengapa aku harus melakukan itu di luar?"


Meli terdiam mendengar penjelasan Aris.

__ADS_1


Suara klakson kereta berbunyi, menandakan kereta akan segera berangkat. Beberapa petugas menghampiri Aris dan Meli. Dan memberikan pengertian bila kereta tidak akan bisa menunggu mereka selesai berdebad untuk berangkat.


"Ayuk kita pulang ya sayang, aku akan urus ini semua. Beri aku kesempatan untuk membela diriku sayang, aku butuh suport dari kamu."


Air mata Aris jatuh di pipinya, sorot matanya penuh harap memohon kepada Meli.


Akhirnya Meli pun luluh, ia mengangguk dengan pelan. Aris memeluk tubuh Meli, lalu merangkulnya untuk turun dari gerbong kereta itu.


Setelah mereka turun, kereta pun mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Aris menatap Mata meli dengan lekat-lekat, lalu kembali memeluknya dengan erat.


"Terima kasih sudah memberiku kesempatan. Tidak akan aku sia-siakan kepercayaan mu Mel, sungguh." Ucap Aris dengan bersungguh-sungguh.


Meli hanya terdiam dan mengikuti Aris yang menggandeng tangannya menuju keluar stasiun.


Di perjalanan, Meli masih diam seribu bahasa. Sedangkan Aris cukup mengerti mengapa sikap istrinya seperti itu. Ia tidak menyalahkan Meli yang ingin meninggalkan dirinya saat ia sedang tersangkut kasus seperti ini. Selayaknya seorang istri, pasti tidak akan terima bila suaminya melakukan hal yang keji kepada wanita lain dan menghianati perkawinan. Ia pun bersyukur Meli mau melunak untuk nya.


Saat Meli dan Aris tiba di rumah, Bik Parni, Kang Jaja dan Surti pun menyambut mereka dengan gembira.


Tetapi, mereka tidak ingin mengganggu Tuan dan Nyonya nya yang sedang terlihat tidak ingin di ganggu. Maka dari itu mereka hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya saja kepada Meli.


Meli hanya tersenyum dan terus mengikuti Aris yang menuntunnya menuju kamar.


Saat tiba di kamar, Aris duduk di atas ranjang, di samping Meli. Meli masih tidak mau mengeluarkan sepatah katapun. Karen ia masih belum percaya dan masih merasa marah kepada Aris.


"Mel, aku mandi dulu ya. Nanti kita bicarakan masalah ini, izinkan aku mandi dan sholat dulu."


Meli hanya mengangguk, lalu kembali berdiam.


"Sayang, saat aku mandi, kamu jangan kabur ya. Jangan pernah berpikir meninggalkan aku ya sayang."


Meli kembali mengangguk tanpa mau menatap Aris.


"Ok, aku mandi dulu."


Aris beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke kamar mandi.


Meli pun beranjak dari duduk nya dan bergegas menuju pintu kamar dan membuka pintu kamarnya.


Aris yang sedang di dalam kamar mandi pun, mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Sontak saja Aris langsung keluar dari kamar mandi dan berlari mengejar Meli.


"Sayang, katanya gak mau kabur..!"


Aris langsung memeluk Meli dari belakang.


"Aku mau ke dapur, mau makan...! Aku mau mengisi tenaga untuk bertengkar, karena bertengkar butuh tenaga." Ucap Meli, dengan ketus.


"Oh, kirain mau kabur." Ucap Aris sambil melepaskan pelukannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Meli menghentakkan kakinya ke atas lantai dan membuka pintu kamar dengan kasar. Lalu, ia keluar dari kamar dengan terburu-buru.


Setelah Meli keluar dari kamar, Aris pun tersenyum sendiri.

__ADS_1


"istri ku lucu ya.." Ucapnya sambil terus tersenyum geli.


__ADS_2