
Frans melangkahkan kakinya keluar dari gerbang lapas. Hari ini ia dapat menghirup udara kebebasan. Frans di jemput oleh Mamanya. Saat Mamanya melihat Frans keluar, wanita paruh baya itu pun berlari menghampiri anaknya dan memeluk nya dengan erat.
"Mama rindu Frans..!" Ucap Mamanya sambil menangis bahagia.
Frans tersenyum dengan ragu, lalu ia membalas pelukan Mamanya dengan erat.
"Maafkan Frans Ma," Ucap Frans lirih.
"Mama maafkan nak, berubah lah menjadi lebih baik ya."
Frans mengangguk dan mencium kedua pipi Mamanya mereka pun masuk kedalam mobil dan pergi menuju rumah mereka.
..
Meli menatap lelaki yang berdiri di depan nya. Ia tidak menyangka lelaki itu mengajak nya berkenalan. Meli sedikit risih dengan lelaki itu, karena ada anak-anak nya disana.
"Bunda, Om itu ajak bunda kenalan? kok tidak di sambut?" Ucap Ar kepada Meli.
Meli tersenyum ragu menatap Ar, lalu ia kembali menatap Arya. Tiba-tiba Meli seperti tidak asing dengan senyuman lelaki di depan nya itu. Dengan ragu, Meli menyambut tangan lelaki itu.
"Meli."
"Arya." Ucap Arya sambil tersenyum menatap Meli. Meli pun membalas senyuman Arya dengan ragu.
"Permisi Ibu," Ucap salah satu waiters yang mengantarkan pesanan Meli dan anak-anaknya. Meli hanya mengangguk dan memperhatikan pegawainya yang mulai menata hidangan di atas mejanya.
"Maaf bila saya mengganggu, silahkan makan Mbak Meli," Ucap Arya dengan sopan. Lalu Arya kembali ke mejanya.
Rasa bahagia di hati Arya tidak dapat di lukiskan. Ia kembali ke mejanya dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya.
Meli menoleh ke arah Arya yang terus tersenyum kepadanya.
"Seperti tidak asing." Gumam Meli.
Meli melahap makan malam nya bersama anak-anak nya. Sedangkan Arya terus menatap Meli dan anak-anaknya. Ia bahagia sekali melihat Aris dan Retno yang makan dengan lahap.
Tiba-tiba saja, kepala Arya terasa sakit yang tak tertahankan. Hingga membuat lelaki itu terjatuh dari kursinya.
Meli sebagai owner restoran itu dengan sigap menghampiri dan membantu pelanggan nya. Meli berteriak memanggil manager restoran tersebut, untuk meminta bantuan.
Arya pun dibopong ke musholla yang berada di belakang restoran itu. Dengan sigap Meli membubuhi minyak kayu putih yang selalu berada di dalam tas nya, untuk mengembalikan kesadaran Arya.
__ADS_1
"Apa teman mu punya penyakit?" Tanya Meli kepada Jono yang terlihat panik melihat majikan nya yang tiba-tiba terjatuh pingsan.
"Di-dia majikan saya Bu. Setahu saya, tidak ada penyakit. Cuma beliau sering pusing karena kecelakaan yang beliau alami enam tahun yang lalu." Terang Jono.
Meli pun menatap Arya dengan khawatir. Entah mengapa ia merasa khawatir dengan lelaki yang baru saja sepuluh menit yang lalu berkenalan dengan nya.
"Apa kita bawa saja kerumah sakit ya?" Tanya Meli kepada Jono.
"Jangan Bu, jangan..!"
"Kenapa?" Tanya Meli sambil mengernyitkan dahinya.
"Saya takut nanti Nyonya marah-marah dengan Tuan."
Jono keceplosan mengatakan hal itu, lalu ia menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.
"Kenapa marah? kan sakit?" Tanya Meli penasaran.
"Pokok nya jangan Bu, Tuan baik-baik saja, sebentar lagi juga siuman." Ucap Jono kepada Meli.
Meli menghela napasnya dan menaruh punggung tangan nya di atas kening Arya.
Meli terperangah dan menatap Arya dengan tak percaya, ia begitu jelas mendengar bahwa lelaki itu menyebutkan namanya.
Meli menatap lekat-lekat lelaki itu, Ia merasa tidak asing dengan guratan-guratan wajah lelaki itu, terlebih dengan suara lelaki itu. Meli menjauhkan tangan nya dari kening Arya. Tubuhnya mulai gemetar, karena ia baru menyadari lelaki itu hampir mirip dengan suaminya yang telah lama meninggal dunia.
"Mas Aris..!" Ucap Meli pelan.
Jantung nya berdebar kencang, lalu ia pun pergi meninggalkan Arya dan kembali menuju meja makan nya.
Ar dan Re di jaga oleh beberapa pelayan yang membantu mereka menghabiskan makan malam nya. Meli duduk di bangku mejanya, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa aku sudah berhalusinasi? Apakah aku hanya rindu kepada Mas Aris?" Gumam Meli.
"Bunda kenapa? bagaimana keadaan Om itu?" Tanya Re kepada Meli.
"Bunda tidak apa-apa nak, kamu sudah selesai makan nya sayang?" Tanya Meli.
Re hanya mengangguk dan meraih gelas yang berisi air minum di hadapannya. Lalu, gadis kecil cantik itu menghabiskan minuman nya dan berdiri di hadapan Meli.
"Re dan Ar sudah selesai makan, bolehkah kami melihat Om itu Bunda?"
__ADS_1
Meli tertegun mendengar pertanyaan Anaknya. Dengan ragu, Meli mengangguk dan meminta pegawainya mengantarkan Re dan Ar untuk melihat Arya. Sedangkan Meli melanjutkan makan malamnya yang tertunda dengan hati yang risau.
Lima belas menit kemudian, Meli baru saja menyelesaikan makan malam nya. Lalu, ia meminta pegawainya untuk segera membereskan piring-piring kotor di atas mejanya dan ia pun melangkah menuju musholla untuk menyusul anak-anak nya.
Saat Meli hampir saja sampai di musholla, Meli mendengar ocehan anak-anak nya yang sedang berbincang dengan Arya.
"Om mirip sama Ayah nya Ar loh," Ucap Ar kepada Arya.
"Oh ya, ganteng dong Ayah nya Ar?"
"Ganteng banget, tapi Ayah sudah tiada Om," Ucap Ar dengan nada suara yang terdengar sedih.
"Tiada? kemana Ayah nya Ar?" Tanya Arya kepada Ar.
"Kata Bunda, sudah meninggal karena kecelakaan mobil sebelum kami lahir." Ucap Ar kepada Arya.
Arya tertegun mendengar ucapan anak laki-laki tampan yang sedang di pangkuannya itu.
"Kami belum pernah bertemu dengan Ayah, tetapi kami melihat foto-foto Ayah," Ucap Re dengan polos.
"Oh begitu, kalian kangen ya sama Ayah?" Tanya Arya kepada anak-anak itu.
"Iya Om."
"Ok, sekarang, anggap saja Om ini Ayah kalian," Ucap Arya sambil tersenyum manis kepada anak-anak itu.
"Asikkkkkk....!" Seru Ar dan Re. Lalu, mereka kembali bercanda bersama.
Meli menyandarkan tubuhnya di dinding luar musholla. Tanpa di sadari nya, air mata menetes di pipi Meli.
Meli baru menyadari bila anak-anak nya sangat merindukan sosok seorang Ayah. Terlebih mulai dari lahir hingga sebesar ini Ar dan Re tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah.
Hati Meli terasa begitu pilu, ia sudah bertekad tidak akan menikah lagi. Karena baginya tidak ada satu orang pun yang mampu menggantikan Aris di sisinya. Hal itu lah yang membuat ia bertahan dari segala godaan lelaki di luar sana.
Meli pun mengintip dari balik jendela musholla, ia melihat Ar dan Re yang begitu bahagia bergelayutan di punggung Arya. Arya pun terlihat begitu bahagia saat bersama anak-anak nya.
Sedangkan Jono pun tersenyum-senyum melihat majikan nya yang terlihat begitu bahagia saat bersama anak-anak yang baru saja majikan nya kenal.
Selama ini Jono melihat Arya tidak pernah seantusias ini saat bersama anak-anak. Baru kali ini ia melihat Arya begitu bahagia bermain bersama anak-anak.
Jono mengabaikan panggilan masuk dari Alisya di ponselnya. Ia tidak mau merusak kebahagiaan sesaat yang di rasakan Arya saat ini. Apa pun konsekuensinya, Jono lebih rela melihat Arya bahagia dari pada harus menyuruh Arya segera pulang.
__ADS_1