
Jaja pulang dengan wajah yang kusut. Tubuhnya penuh dengan peluh. Ia pun, terduduk di teras rumah sambil memijat kakinya yang pegal.
"Kenapa Ja?" Tanya Bik Parni.
"Ini Bik, ban motor tiba-tiba meledak, malah tidak ada tukang ban lagi. Akhirnya dorong deh sampai rumah." Ucap Jaja yang tampak kesal.
Bik Parni pun tertawa terkekeh-kekeh.
"Syukurin kualat Kamu Ja sama Bibik."
Bik Parni tertawa puas sampai mengeluarkan air matanya.
"Bik, berdosa ngetawain orang yang sedang sengsara..!" Ucap Jaja sambil manyun.
"Kalau orangnya kamu mah, tidak berdosa atuh..!" Ucap Bik Parni, sambil tersenyum puas.
"Begini ini yang Jaja tidak suka dari Bik Parni," Ucap Jaja kesal.
"Suka atau tidak suka, Bibik tidak peduli Ja... Ja.." Ucap Bik Parni sambil meninggalkan Jaja begitu saja.
Jaja pun mencebikkan bibirnya ke arah Bik Parni.
"Itu orang tua tega banget ya." Ucap Jaja kesal.
...
"Mel...!!" Panggil Lastri teman dekat Meli di kampus.
"Ya, Las.." Sahut Meli sambil menoleh ke arah Lastri yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Lu tadi kenapa telepon gue..?" Tanya Lastri. Lalu, gadis itu duduk di samping Meli.
"Tadi aku butuh bantuan mu, cuma sudah kok." Ucap Meli yang sedang sibuk membaca materi.
"Oh, bantuan apa?" Tanya Lastri lagi.
"Aku lupa membawa dompet Las, jadi aku tidak bisa membayar taxi. Untung ada............
Ucapan Meli pun tertahan.
"Ada siapa?" Tanya Lastri penasaran.
"Frans" Jawab Meli.
"Frans..?" Tanya Lastri tak percaya.
Lastri tahu betul apa yang terjadi antara Meli dan Frans. Ia pun tahu bila Frans sudah menyebar gosip di kampus tentang Meli bermain dengan Om-om.
"Kok bisa?" Tanya Lastri.
"Cuma dia yang kebetulan sedang berada di situ." Jawab Meli.
"Sorry ya, tadi gue lagi nggak pegang ponsel, jadi gue nggak tahu. Lagipula gua setting silent di ponsel jadi nggak kedengaran." Ucap Lastri.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok Las," Ucap Meli sambil tersenyum menatap Lastri.
"Ya sudah, nanti pulangnya gue yang nganterin ya." Ujar Lastri.
Meli pun mengangguk dengan cepat sambil mengucapkan terimakasih.
...
Hari sudah beranjak sore. Aris yang masih berada di kantor sedang memandangi ponselnya dan membaca sekali lagi pesan dari Alisya. Ia menimbang-nimbang ingin hadir atau tidak ke acara yang Alisya adakan itu.
Sebenarnya Aris sangat malas dengan sikap agresif Alisya sekarang. Alisya yang sekarang sungguh berbeda dengan Alisya yang dulu. Alisya yang dulu sungguh pemalu dan sopan, hal itu juga yang membuat ia pernah tergila-gila dengan wanita itu. Tetapi, sekarang ia sudah mempunyai istri dan Alisya tidak pantas seperti itu kepadanya.
Lalu, Aris membaca pesan-pesan dari teman-temannya yang membujuk dirinya untuk hadir. Akhirnya ia pun menyerah, Aris berpikir tidak mungkin Alisya akan bersikap agresif terhadap dirinya di depan banyak orang. Jadi, ia memutuskan untuk berangkat ke rumah Alisya.
Sebelum berangkat, Aris mengirimkan Meli pesan untuk memberi kabar bahwa dirinya jadi berangkat ke acara reunian sekolahnya.
Aris memang tidak mengatakan kepada Meli bahwa acara dilaksanakan di rumah Alisya. Karena ia tahu betul bila Meli tidak menyukai Alisya semenjak kejadian di restoran dulu.
.....
Meli membaca pesan dari Aris. Lalu, Meli membalas pesan dari Aris dan memberikan izin kepada suaminya untuk menghadiri acara itu.
"Yuk Mel.."
Lastri yang sudah siap untuk mengantarkan Meli pulang, menyalakan mobilnya. Lalu, Meli masuk ke dalam mobil Lastri dan mereka pun bergegas menuju rumah Meli.
"By the way, suami lu nggak jemput Mel?" Tanya Lastri kepada Meli.
"Nggak Las, suamiku lagi menghadiri acara reuni sekolahnya dulu." Jawab Meli.
"Oh, begitu.." Ucap Lastri, paham.
..
Aris sudah berada di rumah Alisya, Suasana rumah Alisya sudah ramai dengan hadirnya sebagian teman-teman sekolahnya semasa SMA dulu.
Aris pun tenggelam dalam obrolan dan tawa bersama teman-temannya. Seperti biasa, bila mereka reunian, mereka selalu membahas kenakalan mereka dulu di waktu sekolah.
Alisya terus memandangi Aris, ia sudah bersiap-siap untuk melancarkan aksinya.
"Lihat saja, sebentar lagi kau akan menjadi milikku." Ucapnya dengan wajah yang culas.
Malam semakin larut, satu persatu teman-teman Aris sudah meninggalkan rumah Alisya. Tetapi, Alisya telah membuatkan Aris secangkir kopi, yang membuat Aris tertahan di sana lebih lama karena tidak enak menolak kopi yang sudah terlanjur Alisya buatkan untuknya.
Alisya terlihat biasa saja, Aris pun mulai nyaman karena Alisya hari ini berbeda dari sebelumnya. Alisya terlihat lebih kalem dari sikap yang biasa Alisya tunjukan kepada Aris.
"Kok tidak diminum kopinya? minum dong, itu kopi khusus loh. Kopi yang aku pesan langsung dari Lampung." Ucap Alisya dengan ramah.
Aris pun hanya mengangguk. Tanpa curiga, Aris mulai meminum kopi buatan Alisya.
"Gimana? enak?" Tanya Alisya sambil tersenyum memamerkan giginya yang rapi.
"Mantap..!"
__ADS_1
Jawab Aris sambil tersenyum.
Lalu, mereka mulai mengobrol-ngobrol dengan akrab seperti biasanya.
Beberapa menit kemudian kepala Aris mulai terasa pening. Ia pun berkali-kali memijat kepalanya saat berbicara dengan Alisya. Semakin lama Aris semakin tidak fokus, ia pun tertidur di sofa.
Alisya langsung menuju kamar atas dan memanggil Frans yang sengaja menunggu berjalannya jebakan Alisya.
Frans dan Alisya pun membopong tubuh Aris masuk kedalam kamar Alisya.
Dengan cepat, Alisya membuka semua apa yang menempel di tubuh Aris. Hal yang sama pun ia lakukan. Lalu, Frans bertugas untuk mengambil gambar Alisya dan Aris dengan menggunakan ponsel milik Aris dan Alisya.
Setelah niatnya terlaksana dengan lancar, Frans pun pulang dengan hati yang puas.
Alisya memandangi foto dirinya bersama Aris saat pura-pura sedang tidur dengan Aris. Ia pun tersenyum puas saat melihat foto Aris yang sedang merangkulnya dari belakang di atas ranjang.
Alisya pun kembali melancarkan aksinya. ia membuat sebuah pesan menggunakan ponsel Aris, dan mengirimkan nya kepada Meli.
Tringg....!!!
Bunyi pesan masuk dari ponsel milik Meli.
Meli yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menunggu Aris pulang pun langsung meraih ponselnya yang ia taruh di atas meja.
"Pasti dari Mas Aris." Gumamnya sambil tersenyum.
Seperti biasa, sebelum Aris pulang dari manapun, Aris selalu mengabari Meli dan bertanya apakah Meli menginginkan sesuatu untuk ia belikan.
Meli mulai membuka pesan dari Aris.
My husband
Terlampir sebuah foto disana.
Meli terbelalak saat melihat orang yang berada dalam foto tersebut. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Tak berapa lama, sebuah pesan kembali Meli terima.
"Maaf, aku tidak bisa pulang malam ini, Jangan tunggu aku, pergilah aku sudah nyaman bersamanya."
"Jadi, ini Firasat buruk yang tadi aku alami?" Gumam Meli.
Air mata mulai menetes di pipi Meli. Dadanya pun mulai terasa terbakar karena cemburu. Rasa sakit akan penghianatan Aris mulai menguasai emosi di jiwanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Meli pergi ke kamarnya dan langsung mengemasi semua barang-barangnya.
Alisya tersenyum puas saat pesan untuk Meli yang ia buat dari ponsel Aris, langsung di baca oleh Meli. Ia tertawa saat membayangkan hati Meli yang hancur saat membaca pesan yang ia buat seolah-olah dari Aris.
Alisya menghapus semua pesan yang telah ia kirim. Lalu, meletakkan ponsel aris di atas meja. Dengan nyaman, ia kembali merebahkan dirinya di samping Aris yang tak sadarkan diri, tanpa sehelai benangpun dan hanya terbalut selimut saja.
Alisya mengecup bibir Aris dengan lembut.
"Aku siap menjadi pengantin mu secepatnya..!" Ucapnya. Lalu ia tertidur di samping Aris.
__ADS_1