Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 81. Terimakasih Ayah dan Bunda


__ADS_3

Surti yang duduk di halaman belakang, tampak sedang asyik dengan ponselnya. Tejo yang sedang melintas di halaman belakang, tampak penasaran dengan apa yang Surti lakukan.


"Mai suit hert, lagi apa?" Tanya Tejo.


Melihat Tejo yang datang tiba-tiba, membuat Surti buru-buru menyembunyikan ponselnya.


"Eh, ada Kang Mas Tejo." Ucap Surti sambil tersenyum manis.


"Kamu lagi ngapain Dek? kok ponselnya disembunyikan. Kamu sedang tidak berselingkuh kan Dek?" Tanya Tejo curiga.


"Tidak kok Mas, wong Surti lagi nonton pilem Korea kok." Ucap Surti sambil menundukkan pandangannya.


"Tenan Dek, kok mencurigakan ngunu." Ucap Tejo, tak percaya.


"Tenan kok Mas." Ucap Surti, mencoba meyakinkan Tejo.


"Oh, yo wes nek ngunu. Aku tak bali ke pos yo Dek."


"Ok Mas." Ucap Surti.


Tejo pun kembali ke pos di samping gerbang rumah.


Surti kembali menyalakan ponselnya dan melanjutkan WhatsApp nya dengan Jono.


"Sabar yo Dek, besok Mas pulang."


Surti tersenyum membaca pesan WhatsApp dari Jono. Hatinya berbunga-bunga membayangkan wajah Jono, hingga ia tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu ngapain Sur? kok kayak orang gila seperti itu?" Tanya Bik Parni, yang baru saja muncul dari pintu belakang arah dapur.


"Ah, ini Bik, Surti lagi bertukar pesan dengan Lee min ho KW." Ucap Surti sambil tersenyum malu-malu.


"Ya ampun Surrrrrr. Kalau Tejo tahu tamat riwayat mu, bukannya kamu sudah mau menikah dengan Tejo?" Tanya Bik Parni dengan wajah serius.


"Bik, kalau gantinya seperti Jono. Ya Surti rela toh, gagal nikah sama Mas Tejo yang wajahnya pas-pasan kayak dompetnya."


"Matre kamu Sur..!"


"Ya nggak toh Bik, di mana-mana wanita ingin mendapatkan suami yang lebih baik. Mulai dari segi wajah, sampai dengan ketebalan dompetnya. Nek Tuan Aris gelem sama Surti, Surti juga mau. Sayangnya Tuan Aris nggak mau sama Surti."


"Waduh, bibit pelakor nih..! Parni harus segera mengamankan Kang Jaja." Gumam Bik Parni.


"Tapi tenang Bik, Surti gak gelem sama Kang Jaja."


"Eh kok Surti tahu, apa yang ada di hati Parni." Gumam Bik Parni lagi.


"Kenapa gitu Sur?" Tanya Bik Parni penasaran.

__ADS_1


"Elek, kelek e mambu, sepet, koyok wedhus lanang." Ucap Surti.


"Artinya apaan sih Sur? ngomong bahasa Indonesia aja. Bibik gak ngerti..!"


"Baguslah Bik, nek gak paham." Ucap Surti Sambil tertawa dan beranjak dari hadapan Bik Parni.


"Surti ngomong apa sih..!" Ucap Bik Parni sambil menggerutu.


...


"Kalian tinggal dimana?"


Tanya Elis kepada Ar dan Re di beranda rumah neneknya Elis.


"Di Jakarta." Jawab Ar.


"Wah Jakarta bagus ya, Elis nggak pernah ke Jakarta. Kalian juga punya Ibu dan Ayah yang baik, Elis tidak pernah punya Ibu dan Ayah." Ucap Elis dengan polos.


Re dan Ar terdiam menatap wajah Elis yang tampak sedih.


"Kamu mau ikut ke Jakarta bersama kita? tinggal di rumah kita." Ucap Re.


"Enggak ah, kasihan Nini sendirian, nanti kalau Nini sakit, siapa yang ngurusin Nini." Ucap Elis dengan wajah yang murung.


"Bu, dengan kerendahan hati. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas insiden yang terjadi, sehinggaIbu dan keluarga harus kehilangan Kang Agus." Ucap Aris sambil menggenggam tangan Ibunda Agus.


"Tidak Bu, biar saya yang memindahkan dan saya akan menguburkannya di sini dengan layak. Sebagai tanda permintaan maaf dari kami." Ucap Aris.


"Terima kasih Pak, Bu." Ucap Ibunda Agus sambil menangis haru.


"Dan satu lagi Bu, bila Ibu berkenan, saya berniat untuk membawa Ibu dan Elis ke Jakarta. Saya ingin sekali menyekolahkan Elis dan menganggapnya sebagai anak saya sendiri. Dengan begitu, Elis akan tumbuh seperti anak yang lainnya, dapat merasakan kasih sayang dari sosok Ayah dan Ibu." Ucap Meli.


Ibunda Agus terdiam mendengar ucapan Meli. Ia menatap wajah Aris dan Meli.


"Bagaimana ya Pak, Bu. Bukannya saya tidak mau, tetapi rasanya kok kurang pantas saya untuk tinggal bersama Bapak dan Ibu."


"Mengapa begitu Bu?" Tanya Meli kepada Ibunda Agus.


"Kesannya saya mengambil kesempatan atas tragedi anak saya."


"Oh tidak Bu, saya tidak berpikir seperti itu. Ini tulus dari hati saya, saya menginginkan Elis menjadi anak saya. Saya mohon ya Bu." Ucap Meli dengan bersungguh-sungguh.


Ibunda Agus menghela napasnya dengan berat, lalu ia kembali memandangi wajah Meli dan Aris.


"Ibu mau kan? anggap saja saya adalah Agus dan Ibu adalah Ibu saya. Saya juga sudah lama kehilangan kedua orang tua saya, jadi saya membutuhkan kasih sayang Ibu." Ucap Aris dengan bersungguh-sungguh.


Ibunda Agus pun menangis haru menatap Aris.

__ADS_1


"Jangan panggil kami Ibu dan Bapak. Saya Aris dan ini istri saya Meli, Ibu bisa memanggil kami Aris dan Meli saja." Ucap Aris.


Ibunda Agus pun mengangguk, ia mengusap air matanya dan memandangi wajah Aris seperti saat dia memandangi wajah Agus yang telah meninggal dunia.


"Iya saya mau."


"Alhamdulillah." Ucap Aris sangat bersyukur.


"Elis... sini nak."


Ibunda Agus memanggil Elis, Elis pun masuk kedalam rumah dan duduk di samping neneknya.


"Iya Ni." Sahut Elis.


"Salim sama Ibu dan Ayahmu yang baru." Ucap Ibunda Agus kepada cucunya.


Elis mengernyitkan dahinya dan menatap neneknya dengan bingung.


"Maksudnya Ni?"


"Neng geulis, mulai sekarang Bapak dan Ibu ini adalah orang tua kamu."


Mata Elis tampak berbinar-binar, ia menatap Neneknya dengan tak percaya. Lalu ia menatap Aris dan Meli. Meli dan Aris tersenyum menatap Elis yang terlihat sangat bahagia.


"Benar Ni? Elis sekarang punya Ibu dan Ayah?" Tanya Elis mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Neneknya mengangguk sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Meli membuka tangannya lebar-lebar menunggu Elis memeluk dirinya.


"Sini peluk Bunda dan ayah." Ucap Meli dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.


Tanpa membuang waktu, Elis memeluk tubuh Meli dan menangis di dada Meli."


"Bunda, terimakasih bunda..!" Ucap Elis sambil menangis tersedu-sedu.


"Iya sayang." Ucap Meli dengan suara yang tercekat.


"Sekarang, Ar dan Re adalah adik kamu. Kita akan tinggal bersama sebagai keluarga yang bahagia. Bunda akan mencintai kalian sepenuh hati Bunda." Ucap Meli.


"Jadi Elis ikut kita ke Jakarta Bunda?" Tanya Ar dan Re.


"Iya sayang, tidak hanya Elis, tetapi Nini juga." Ucap Meli dengan mata yang berbinar-binar.


"Horeeeeee...! Terima kasih Bunda, Ayah...!" Ucap Ar dan Re.


Lalu, mereka berdua pun ikut memeluk Elis yang sedang berada di pelukan Meli.


*Terkadang suatu penderitaan, bila kita lalui dengan ikhlas. Maka akan ada kebahagiaan yang menanti kita di ujung sana. Tuhan tidaklah kejam, hanya kita saja yang tak sabar* (De'rini)

__ADS_1


__ADS_2