
Setibanya dirumah, Aris langsung menggendong Meli menuju kamarnya.
"Ma-ma-Masss apa-apaan sih..?"
Meli merasa malu, saat Aris menggendongnya masuk kedalam kamar.
"Sstttt.. nanti ketahuan Bik Parni dan Kang Jaja." Bisik Aris.
Lalu, Meli pun menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
Saat tiba dikamar, Aris menaruh Meli diatas ranjangnya. Lalu, tanpa basa basi, ia mulai mendekati gadis itu.
"Ma-mas, mau ngapain?" Tanya Meli dengan wajah polosnya.
"Mau cium, boleh kan?" Tanya Aris dengan mimik wajah yang serius.
Meli mengangguk ragu. Aris mendekati bibirnya ke bibir Meli. Meli memejamkan matanya karena semakin ia lihat Aris mendekat, dirinya akan semakin grogi. "Lebih baik tutup mata saja" pikirnya.
Bibir mereka akhirnya bersentuhan. Aris yang lebih berpengalaman mendominasi ciuman panas tersebut. Sedangkan Meli, mengerutkan keningnya karena merasa aneh.
Aris mulai membuka kemejanya dan mulai akan menyentuh dada Meli. buru-buru meli menahan tangan Aris.
"Mas mau ngapain?"
Masih dengan wajah polos Meli kembali bertanya. Aris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Selugu ini kah?" Batinnya. Ia pun mulai salah tingkah.
Tanpa menjawab pertanyaan Meli, Aris langsung menjamah tubuh istrinya itu.
Meli terkejut, tubuhnya terpaku. Ia tidak bisa menolak apa yang Aris lakukan kepadanya.
Suasana mulai semakin panas, Aris sudah tidak sabar untuk melepaskan hasrat yang selama ini ia tahan. Saat dirinya ingin membuka baju Meli, lagi-lagi Meli bertanya.
"Mas mau ngapain?"
Kali ini Aris memandang Meli dengan frustasi. Ia tidak ingin menjawabnya, tetapi ia langsung mencoba untuk melanjutkan niatnya.
Dengan cepat Meli menahan tangan Aris.
"Maaf Mas, aku lagi haid." Ucapnya dengan polos.
Aris terdiam menatap gadis itu dengan wajah frustasinya.
"Oh, kenapa baru bilang?" Ucapnya.
"Kan Mas gak nanya...." Jawab Meli, lugu.
"Oh my God." Ucap Aris, sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sedangkan Meli menatap Aris dengan bingung.
"Ya sudah kalau begitu temenin aku tidur aja di sini."
Aris langsung memeluk tubuh Meli dari belakang. Malam ini, adalah malam pertama bagi mereka berdua tidur sekamar.
"Sabarrr, sabarr." Gumam Aris di dalam hatinya.
*
Meli membuka kedua matanya, lalu menggeliatkan tubuhnya. Ia melirik jam di dinding,
"Sudah Subuh ternyata." Gumamnya.
Samar, Meli mendengar dengkuran-dengkuran halus di sebelahnya. Meli menoleh ke sebelahnya dan menatap Aris dengan seksama. Meli memperhatikan setiap ukiran sang pencipta di wajah suaminya.
"I love you." Bisiknya.
"Mas, bangun."
Meli menyentuh lembut pipi Aris.
Lelaki itu menggeliat lalu membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Pagi sayang." Sapa Aris sambil membelai lembut rambut indah Meli.
"Pagi Mas," Sahut Meli dengan pipi yang merona.
"Mulai sekarang kamu tidur sama aku terus ya." Pinta Aris.
Meli pun menggigit bibirnya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Aris.
"Hmmmm, tidak apa-apa Mas." Ucap Meli sambil tersenyum manis.
"Oh ya sudah, aku mandi dan sholat dulu ya." Ucap Aris.
Meli pun langsung mengangguk sambil menatap suaminya dengan tatapan yang penuh cinta.
Seperti biasa, Meli melayani kebutuhan Aris terlebih dahulu di pagi hari. Setelah Aris berangkat ke kantor, giliran Meli yang bersiap-siap akan berangkat ke kampus nya.
Di depan rumah ia pun bertemu dengan Jaja.
"Pagi Kang Jaja." Sapa Meli ramah.
"Pagi..!" Sahut Jaja tanpa menoleh kepada Meli.
"Ih, kang Jaja kok acuh sama Meli?" Tanya Meli sambil berusaha melihat wajah Jaja yang berpaling darinya.
"Eh, Kang Jaja matanya kenapa?" Tanya Meli penasaran, saat melihat mata Jaja yang sembab.
"Tidak apa-apa kok Neng, ayam oke." Sahut Jaja masih dengan sikap acuhnya.
"I'm Kang, bukan Ayam." Ucap Meli sambil tersenyum geli.
Jaja hanya mencebikkan bibirnya.
"Ya sudah, kalau begitu Meli berangkat dulu ya Kang." Ucap Meli sambil berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Jaja hanya mengangguk, lalu kembali menyapu halaman.
"Neng bila rasaku Ini adalah rasamu, pasti kau akan terluka seperti apa yang Jaja rasakan saat ini." Ucap Jaja saat Meli sudah masuk kedalam mobilnya.
"Lebay kamu Ja...Ja..." Ucap Bik Parni yang tiba-tiba saja, sudah berada di belakang Jaja.
Sedangkan Bik Parni hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jaja.
..
Meli baru saja tiba di kampusnya. Ia memarkirkan mobilnya di halaman parkir khusus mahasiswa. Lalu, ia beranjak turun dari mobilnya.
Saat itu juga Meli kembali di hadang oleh Frans. Tanpa basa-basi, lelaki itu langsung bertanya kepada Meli.
"Apa benar kamu sudah menikah sama Om-Om itu?" Tanya Frans sambil menatap Meli dengan tajam.
Meli membalas tatapan Frans dengan tatapan yang tidak suka.
"Dia bukan Om-Om dan aku sudah lama menikah dengannya." Ucap Meli dengan ketus.
"Jadi di cafe..?"
Frans kembali bertanya demi membunuh rasa penasarannya.
Meli malas menanggapi pertanyaan Frans. Lalu, ia berjalan kedalam gedung fakultasnya.
Dari belakang, Frans mencoba mengejarnya. Tetapi, Meli terus mengabaikan dirinya. Karena merasa diabaikan, Frans pun merasa sakit hati.
"Woi..! teman-teman...! Meli main Om-Om. Jangan di ganggu, Meli itu pelihara Om Om..!"
Kata-kata Frans membuat semua orang yang berada di sana terperangah tak percaya.
"Meli kelihatannya aja lugu. Tetapi, ternyata dia simpanan Om-Om tajir..!" Ucap Frans lagi.
Meli menatap Frans dan orang-orang disekelilingnya yang mulai berbisik-bisik membicarakan dirinya. Sebagian ada yang tertawa melecehkan. Terutama gadis-gadis yang merasa kalah saing dengan Meli. Selain kalah saing dalam akademik, mereka juga kalah saing dalam segi wajah dan pesona dimata lelaki.
Meli pun menatap Frans yang tersenyum sinis. Air mata Meli mulai menetes di pipinya. Kini di kampus itu, berita tentang Meli sudah menyebar kemana-mana. Bahkan sampai ke Fakultas sebelah.
Setiap Meli berjalan di lingkungan kampusnya, pasti ada saja yang berbisik dan melecehkannya dengan kata-kata yang tak pantas.
__ADS_1
Terutama lelaki-lelaki yang pernah di tolak atau di abaikan oleh Meli.
"Sini gue bayarin deh, berapa sih..?" Celetuk seorang lelaki yang pernah tergila-gila kepada Meli.
Mendengar kata-kata itu, membuat Meli marah dan sakit hati.
Sejak saat itu Meli terlihat murung. Aris pun merasa janggal dengan perubahan Meli.
"kamu tuh kenapa?"
Tanya Aris yang ikut duduk di samping Meli di teras rumah mereka pada malam hari.
"Tidak apa-apa Mas." Jawab Meli dan mencoba tersenyum kepada Aris.
"Jujur saja, apa ada masalah di kampus?"
Aris menatap Meli dengan tatapan menyelidik.
"Gak ada kok." Ucap Meli dengan pelan.
"Pasti ada apa-apa, Frans ya?"
Aris mencoba menebak. Sedangkan Meli hanya menggelengkan kepalanya dengan ragu.
"Ya terus apa?" Desak Aris.
"Tidak ada apa-apa Mas, aku ke kamar dulu ya."
Meli beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Aris mengikutinya dari belakang.
Meli membuka pintu kamarnya, lalu ia masuk dan segera hendak menutup pintu kamarnya.
"Loh.. kenapa gak ke kamar ku. Katanya kita mau jadi suami istri beneran?" Tanya Aris sambil menahan pintu kamar Meli.
"Aku belum siap." Ucap Meli. Lalu ia menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Aris menatap pintu kamar Meli dengan tatapan kosong.
"Meli kenapa ya?" Gumamnya.
Lalu, dengan gontai ia berjalan menuju kamarnya. Ia terusik melihat perubahan sikap Meli, dan ia pun berniat untuk mencari tahu esok hari di kampus Meli.
Esoknya, Aris sudah siap untuk mengantarkan Meli ke kampusnya. Tetapi, Meli langsung menolak dengan alasan, ia ingin membawa mobilnya sendiri.
Hal itu membuat Aris menjadi semakin penasaran, ada apa sebenarnya yang terjadi. Diam-diam Aris mengikuti Meli ke kampusnya.
Tidak seperti biasanya saat di kampus. Kali ini, Aris melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya. Setiap Meli berjalan, selalu saja orang-orang berbisik-bisik seakan sedang membicarakan Meli.
Aris turun dari mobilnya, lalu berjalan disamping Meli. Meli pun terkejut melihat kehadiran Aris di sampingnya. Lalu, ia seperti merasa ketakutan melihat kesekelilingnya.
"Ada apa sih?" Tanya Aris.
Meli pun menatap aris dengan wajah putus asa.
"Kenapa?" Tanya Aris lagi.
"Mas ngapain disini?" Tanya Meli dengan setengah berbisik.
"Ya aku penasaran saja, kamu kenapa? ada apa di kampus dan ada apa dengan semua orang yang memandang kita seperti itu?" Tanya Aris penasaran.
"Tidak kenapa-kenapa kok, Aku masuk dulu ya." Ucap Meli.
Dengan cepat Aris menahan tangan Meli.
"Kamu kenapa?" Tanyanya lagi.
Kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan rasa kesalnya.
"Aku tidak apa-apa Mas..!" Bentak Meli. Lalu, Meli pergi meninggalkannya.
Aris terdiam melihat sikap Meli yang seperti itu kepada dirinya. Sedangkan beberapa mahasiswa dan mahasiswi menatap mereka dengan senyuman yang sinis.
"Saya suaminya...! kenapa..!" Bentak Aris kepada mahasiswa yang sedang bergerombol dan berbisik-bisik sambil menatap dirinya.
__ADS_1
Dengan kesal, Aris pun pergi meninggalkan kampus Meli.
..