Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 19. Meli itu istri saya..!


__ADS_3

Hari berikutnya Aris tidak dapat bekerja dengan tenang. Bayangan wajah Meli terus muncul di pelupuk matanya. Ingatannya tentang Meli dan Frans, selalu terlintas dan bermain di pikirannya. Seakan-akan Meli dan Frans sedang menertawai dirinya yang sedang gusar.


Aris melirik arlojinya, jarum jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Ia menutup laptopnya dan langsung menuju kampus Meli.


Aris sengaja menunggu Meli diparkiran mobil. Ia ingin tahu apa yang Meli lakukan sebelum pulang. Cukup lama ia menunggu Meli. Akhirnya gadis itu keluar dari gedung Fakultasnya dan menuju parkiran.


Baru saja ia hendak menghampiri Meli, lagi-lagi ia melihat Frans dibelakang Meli. Aris mengeryitkan dahinya dan memperhatikan sikap Frans kepada Meli.


Memang benar, gadis itu tidak sama sekali menganggap Frans. Justru berkali-kali meli merasa risih. Aris masih terus memperhatikan dibalik kacamata hitamnya. Hingga Ia melihat sikap Frans kepada Meli yang tidak bisa ia terima, saat itu Frans mencoba memaksakan kehendaknya kepada Meli. Yaitu menarik tangan Meli dengan kasar. Tanpa banyak berpikir lagi, Aris berlari menghampiri mereka berdua.


...


"Mel, tunggu..!" Seru Frans.


"Apa lagi sih Frans..?"


Meli menatap Frans dengan malas.


"Jawab aku Mel, apa aku tidak berarti bagimu? Aku mencintaimu Mel..!"


Meli merasa risih dengan ucapan Frans lalu berusaha mengabaikannya.


"Meli tunggu..!"


Frans menarik pergelangan tangan Meli dengan kasar, hingga jam tangan Meli terlepas dan terjatuh di atas tanah.


"Kamu apa-apaan sih Frans..!"


Meli merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Lepasin gak..!" Bentak Meli.


"Mel, aku cinta sama kamu..! aku ingin kita coba ya Mel." Frans memohon kepada Meli.


"Gak bisa.."


Meli melepaskan tangan Frans dari pergelangan tanganya dan lalu, memungut arlojinya yang terjatuh di tanah.


Frans seorang cowok beken di kampusnya, kini bertekuk lutut di hadapan Meli. Tidak di pedulikannya orang-orang yang melihat dirinya mengemis cinta kepada Meli.


"Ada apa ini...!"


Aris menarik tangan Meli untuk menjauh dari Frans. Meli terkejut melihat Aris yang datang dengan tiba-tiba, begitu juga dengan Frans. Dirinya mencoba mengingat-ingat lagi lelaki yang sedang memegang tangan Meli itu.


"Om, kan pacarnya Tante Alisya?" Ucap Frans kepada Aris.


"Saya bukan Om kamu..! dan saya bukan pacar Tante mu..! Dan satu lagi.. jangan pernah mengganggu istri saya..!" Ucap Aris dengan penuh emosi.


"I-is-istri? Istri Om siapa? Saya tidak menggangu istri siapa-siapa." Jawab Frans dengan terbata-bata dan ekspresi wajah kebingungan.


"Meli istri saya dan saya suaminya. paham kamu.!"


Ucapan Aris membuat Frans terkejut dan tak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


"Ayo pulang..!"


Aris menarik tangan Meli dengan kasar, agar Meli mengikutinya ke parkiran mobil.


Sesampainya di parkiran, Aris mendorong Meli masuk kedalam mobilnya dan dengan kasar ia membanting pintu mobil itu. Lalu ia berputar menuju kemudi mobil dan ia pun masuk kedalam mobilnya.


Aris mengendarai mobilnya dengan cepat saat meninggalkan kampus itu.


"Mas gak malu kayak tadi?"


Meli melirik Aris yang sedang mengendarai mobil dengan wajah yang kesal.


"Malu? malu kenapa? dia harus diberikan pelajaran. Jangan seenaknya saja megang-megang istri orang." Ucap Aris dengan kesal. Meli pun, menatap wajah Aris dengan datar.


"Kenapa kok wajahmu datar begitu?" Tanya Aris dengan wajah yang masih memendam emosi.


"Mas kenapa sih?"


Meli balas bertanya.


"AKU CEMBURU..! Puas kamu..!"


Dan mereka berdua terdiam. Sepanjang perjalanan pulang tidak terdengar sepatah katapun dari bibir Meli dan Aris.


Aris memarkirkan mobilnya dengan sembarang. Lalu, keluar dari mobilnya dan membanting pintu mobilnya. Lalu, ia bergegas menuju pintu mobil di sisi kirinya dan membukanya untuk Meli. Aris pun, menarik lengan Meli dan menyeret Meli masuk kedalam kamarnya.


Aris mengunci pintu kamarnya dan melepas kemejanya.


"Kamu mau di anggap sebagai istri kan? layani aku sekarang." Ucapnya dengan wajah marah dan nafsu yang menjadi satu.


Meli bergerak mundur.


"Kamu istri ku..! Kamu harus melayaniku mulai dari sekarang..!" Bentak Aris.


"Kamu istriku..! kamu harus aku miliki seutuhnya..!" Sambungnya lagi.


Jantung Meli berdebar kencang.


Aris membuka sabuknya, lalu menghujani Meli dengan ciuman dengan buas.


"Humppp Mas... Mas.. lepasin Mas.. aku.. humppp.."


Bibir Meli tersumpal oleh bibir Aris. Aris terus menggigit lidah dan bibir Meli. Hingga gadis itu tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.


Tangan nya mulai menjamah tubuh Meli, sedangkan Meli meronta mencoba meloloskan diri dari Aris. Tetapi, lelaki itu bukanlah lawan yang sepadan untuk Meli. Tubuhnya tidak sanggup untuk melawan tenaga Aris yang sedang seperti orang yang kesurupan.


Air mata menetes di sudut mata Meli. Aris mulai membuka baju meli dan menjamahnya dengan leluasa. Meli pun menangis tersedu-sedu.


Mendengar tangisan Meli membuat Aris menghentikan aktivitasnya. Lalu, ia terduduk di ranjang tepat di samping Meli. di tatapnya wajah gadis polos itu, kini ia merasa bersalah karena memperlakukan Meli seperti itu.


Mereka saling diam. Akhirnya Aris kembali memakaikan baju Meli yang sudah ia buka. Lalu, memeluk gadis itu dengan erat.


"Maaf... maafkan aku," Ucapnya penuh penyesalan.

__ADS_1


Mendengar kata maaf Aris, membuat Meli semakin menangis dengan kencang.


"Stttt... maaf ya, aku gak bermaksud, aku memang gila."


"Mas jahat..!" Hardik Meli dengan suara bergetar.


"Maaf ya, aku hanya cemburu. Karena... Karena..."


"Karena apa..!" Meli membentak Aris.


Aris terdiam beberapa saat, lalu ia beranjak dari ranjangnya. Aris memunguti pakaiannya dari atas lantai dan kembali memakainya.


Ia pun berjalan menuju lemari pakaiannya. Lalu, mengambil sebuket bunga yang hampir layu dan kotak kado di tangannya. Lalu, Aris menghampiri Meli yang masih menangis dengan menundukkan kepalanya.


"Selamat ulang tahun, maaf terlambat" Ucapnya pelan.


Aris menaruh bunga dan kado itu ke pangkuan Meli. Lalu, ia membuka kotak cincin di tangannya dan menyematkannya dia jari manis Meli.


"Aku mencintaimu." Ucapnya sambil menatap gadis itu dengan sendu.


"Maafkan sikapku selama ini, aku bingung bagaimana cara bersikap denganmu. Hari ini aku akui dengan kesadaran dan kejujuran dari hatiku yang paling dalam, Meli Andini.. aku cinta kau istriku." Ucapnya dengan lantang dan tegas.


Meli menatap lelaki itu dengan tak percaya.


"Ini cincin pernikahan kita yang belum sempat aku berikan kepadamu, jadilah istriku sepenuhnya." Pinta Aris dengan tulus.


Meli tidak bisa berkata apa-apa lagi. selain menangis haru dan memeluk Aris, suaminya.


"Apakah kau mau menjadi istriku seutuhnya Meli?"


Aris bertekuk lutut dihadapan Meli, dan menghapus air mata di pipi Meli.


Meli menatap jauh ke dalam manik mata Aris. Ia ingin melihat kesungguhan dimata lelaki itu. Hingga akhirnya Meli mengangguk dengan pasti.


"Iya aku mau." Ucapnya lalu mereka berdua menangis dan tersenyum bahagia.


...


Seperti biasa Aris menuju ruang makan untuk sarapan. Ia melihat Meli yang sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya. Hatinya pun bersorak gembira, karena Meli sudah kembali seperti biasanya.


Pagi ini, Meli terlihat lebih cantik dari biasanya. Bik Parni yang sedang membantu Meli, langsung menyapa Aris saat melihat lelaki itu menghampiri mereka. Aris pun hanya sedikit mengangguk saat Bik Parni menyapanya. Lalu Aris menghampiri Meli yang tersenyum kepadanya. Lalu, Aris mengecup kening Meli dengan lembut.


"Pagi sayang." Ucapnya. Lalu, Aris duduk di kursi meja makan.


Bik Parni pun terpaku melihat sikap Aris kepada Meli. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Sedangkan Meli, menjadi salah tingkah karena itu kali pertama Aris menciumnya dan di depan orang lain. Bahkan ini kali pertama Aris memperlakukannya seperti seorang istri. Sedangkan Aris terlihat santai saja. sikapnya masih tetap tanpa cela seperti biasanya.


"Makan dulu Mas." Kata Meli. Lalu Meli meletakkan sepiring nasi goreng buatannya di depan Aris.


"Terimakasih sayang."


Aris tersenyum kepada Meli.

__ADS_1


Bik Parni mengangkat kedua alisnya. Lalu, menatap Meli yang tidak berani menatap dirinya.


Bik Arni merasa begitu bahagia pada pagi ini. Ia merasa do'a nya selama ini di dengar oleh Tuhan.


__ADS_2