
Hari ini Aris sangat malas untuk pergi kekantor nya. Semua pekerjaan dia serahkan kepada asisten kepercayaannya. Ia masuk ke dalam kamar Meli, melihat kesekeliling kamar tersebut. Semua yang dipakai Meli tidak lain adalah milik almarhumah istrinya. Hingga saat ini, tidak ada satupun yang benar-benar barang milik Meli dikamar itu. Dan yang paling parah, dirinya tidak tahu apa-apa tentang istrinya sendiri.
Aris mencoba membuka lemari dikamar tersebut. Disentuhnya satu persatu baju yang tergantung disana. Lima bulan sudah Retno meninggalkannya.
Tiba-tiba, Aris pun menyadari, semua yang ada di lemari tersebut bisa pas dan sesuai ukurannya dengan badan Meli.
Mulai dari baju, sepatu, tas dan perhiasan. Aris memperhatikan foto Meli di dalam pigura yang terletak diatas meja rias.
"Gadis ini hampir mirip dengan Retno, apa Retno memilih gadis ini karena dia merasa mirip dengan Meli?" Tanyanya di dalam hati.
Kini ia menyadari, Retno dan Meli memang benar-benar mirip secara keseluruhan. Aris pun, mengangguk-angguk dan mulai merasa paham.
Aris keluar dari kamar Meli dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja kamarnya. Lalu, ia pun pergi ke suatu tempat.
Setelah mengendarai mobilnya beberapa menit, tibalah Aris di sebuah boutique ternama.
"Selamat siang Bapak Aris, lama tidak kesini?" Sapa pemilik boutique langganan Retno.
"Selamat siang." Jawabnya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya pemilik boutique itu lagi.
"Saya mencari gaun koleksi terbaru, yang simpel dan elegan." Jawab Aris.
"Baik pak, akan saya bantu." Ucap pemilik boutique dengan ramah.
Lalu pemilik boutique itu membantu Aris untuk memilih gaun yang akan Aris belikan untuk Meli.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Aris pun, langsung menuju ke sebuah toko perhiasan langganan Retno dan membeli sebuah cincin diamond yang indah.
Aris sangat yakin, bila ukuran jari Meli akan sama dengan ukuran jari Retno. Setelah itu, dirinya juga mampir ke toko bunga untuk membeli sebuket bunga untuk Meli.
Di pikirannya saat ini adalah, ia hanya ingin bertemu Meli dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada gadis itu.
Aris pun langsung tancap gas menuju kampus Meli.
Saat Aris tiba di kampus Meli, Aris pun langsung mencari mobil milik Meli. Tetapi, ia tidak menemukan mobil tersebut. Aris baru teringat bahwa mobil meli sedang di perbaiki.
__ADS_1
Entah pakai apa Meli berangkat ke kampus hari ini, ia tidak sempat bertanya kepada Meli tadi pagi. Karena gadis itu masih marah kepadanya.
Karena menunggu terlalu lama, Ia pun mulai merasa bosan. Lalu, ia mulai bertanya keberadaan Meli kepada setiap mahasiswa dan mahasiswi yang sedang lewat di depannya.
Tetapi, tidak ada satupun yang tahu karena berbeda jurusan. Hingga akhirnya ia melihat Frans yang sedang berjalan dengan seorang gadis yang sedang menuju kantin. Ternyata, gadis itu adalah Meli. Aris sempat merasa kesal dan ingin menghampiri mereka berdua. Tetapi, ia mengurungkan niatnya setelah dirinya melihat sikap Meli yang risih dengan Frans.
Dari kejauhan Aris melihat Frans memegang kedua pundak Meli. Hingga keduanya saling berhadapan. Meli memandang Frans, sedangkan Frans seperti mengatakan sesuatu kepada Meli.
Tidak lama kemudian Frans menurunkan tangannya dari bahu Meli. Lalu, Meli pergi meninggalkan Frans begitu saja. Rasa emosi pun menghinggapi hati Aris.
"Seenaknya saja megang-megang istri orang..!" Ucapnya geram. Lalu, ia kembali masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan kampus itu.
.
Saat Aris sampai dirumah, ia melihat seorang mekanik mengantarkan mobil Meli. Setelah ia bertanya-tanya kepada mekanik itu, lalu Aris pun membayar semua tagihan perbaikan mobil Meli.
Seperti cerita Meli, apa yang dikatakan mekanik itu sesuai dengan fakta. Tetapi, hatinya masih belum ingin percaya. Dia tetap mencurigai bahwa Meli dan Frans ada hubungan spesial.
Satu jam kemudian Meli tiba dirumah, dengan cepat Aris langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya ke kamar.
"A-ada apa Mas?" Tanya Meli yang kebingungan saat Aris menarik tangannya dengan kasar. Pertanyaan Meli tidak di gubris oleh Aris. Setiba di kamarnya, Aris langsung mendorong Meli yang langsung terduduk di atas ranjang milik Aris.
"Jelaskan kepadaku apa hubunganmu dengan Frans!" Bentaknya.
Meli menghela nafasnya dengan berat.
"Saya sudah menjelaskannya kemarin." Jawab Meli dengan suara yang pelan.
"Tidak ada apa-apa, tetapi dia memegang pundak mu saat di kampus? Apa itu tidak ada apa-apa!"
Meli terkejut saat mengetahui bahwa Aris tahu kejadian di kampus tadi.
"Mas mengikuti ku?" Tanya Meli sambil menatap mata Aris yang memerah.
Aris pun, terdiam mendengar pertanyaan Meli.
"Mas kenapa sih? aku mohon maaf bila aku ada salah. Tetapi, aku gak ngerti kenapa Mas akhir-akhir ini kurang bersahabat." Ucap Meli lagi.
__ADS_1
Aris pun menatap Meli dengan tatapan yang beringas.
"TIDAK KAH KAU MENGANGGAP AKU INI SUAMI MU? HAH..!. SEHINGGA KAMU BEBAS MELAKUKAN APA YANG KAMU MAU DILUAR SANA DENGAN LAKI-LAKI LAIN..!"
Meli terkejut dengan perkataan Aris yang penuh dengan emosi.
"Mas cemburu?" Tanya Meli dengan suara yang bergetar.
"Apa Mas juga menganggap aku ini istri Mas?" Sambung Meli lagi.
Aris pun terdiam.
"Frans memegang pundak ku karena ia menyatakan cintanya kepadaku. Tetapi, aku tidak berminat dengan pria manapun. Karena aku selalu merasa aku ini seorang istri. Tetapi, aku tidak pernah merasa di anggap istri oleh Mas. Aku sadar, kita menikah bukan karena cinta dan aku tidak tau harus bagaimana. Mas selalu marah-marah, Mas tidak mau sekamar denganku. Aku memang bukan Nyonya Retno, aku hanya bayang-bayangnya saja. Tetapi, bisakah Mas tidak bersikap kasar kepadaku?"
Meli memberanikan diri untuk mengatakan itu semua, walaupun dengan menangis tersedu-sedu.
Kata-kata Meli barusan membuat Aris terpukul. Dia pun menyadari, selama ini dirinya bersikap kurang baik kepada Meli. Tetapi, amarah masih bersarang di dadanya. Aris tidak mampu mengatakan apa-apa lagi, dengan gontai ia pergi meninggalkan Meli sendiri.
...
Meli menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Air mata terus mengalir membasahi bantalnya. Bik Parni yang mendengar mereka berdua bertengkar, mencoba menghibur Meli.
"Neng, udah dong nangisnya."
Bik Parni mengusap lembut punggung Meli. Tetapi, gadis itu tidak bergeming. Meli terus menangis, Ia tidak tahu menangis karena apa. Padahal di sisi lain ia cukup merasa puas karena sudah berani mengatakan perasaannya yang terdalam mengenai sikap Aris.
Aris masih berdiam diri di kamarnya. ucapan Meli terus terngiang ditelinganya, memang benar ia belum menganggap Meli sepenuhnya sebagai istri.
Tetapi, perasaan-perasaan emosi bila melihat Meli bersama lelaki lain tidak bisa ia bendung. Hal itu membuat dirinya menjadi bersikap kasar kepada Meli.
Aris mulai berpikir Apakah benar yang dikatakan Meli, bahwa dirinya sedang cemburu?
"Ah, tidak, tidak.. aku sedang tidak cemburu." Gumamnya.
"Tidak mungkin aku cemburu, aku tidak mungkin mencintai dia." Batinnya lagi.
Akhirnya Aris memutuskan tidak lagi mau mengambil pusing dengan perasaannya. Lalu,Aris pun beranjak tidur.
__ADS_1
.....