
Siang ini Meli sedang berada di kantor dan tampak begitu sibuk dengan aktivitasnya. Tiba-tiba saja, pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.
"Masuk." Ucap Meli, mempersilahkan seseorang yang berada di balik pintu ruangan nya untuk masuk.
Pintu ruangannya pun terbuka, Meli melihat seorang pemuda dengan membawa buket bunga di tangannya.
"Ibu Meli?" Ucap pemuda pengantar bunga.
"Iya saya." Jawab Meli sambil memperhatikan pemuda tersebut.
"Maaf Ibu, saya mengganggu. Saya disuruh seseorang untuk mengantarkan bunga untuk Ibu." Ucap kurir pengantar bunga.
Meli mengernyitkan dahinya, selama ini banyak sekali pria yang mendekati dan mengirimkan bunga untuknya.
"Dari siapa lagi sih." Gumam Meli.
"Silakan masuk, taruh aja di sini." Ucap Meli, sambil menggeser laptop nya dan menunjuk space di atas meja nya.
"Baik Bu."
Lelaki itu pun masuk dan menaruh buket bunga di atas meja Meli.
"Terima kasih ya Mas." Ucap Meli kepada pemuda itu.
"Terima kasih kembali Bu. Saya pamit dulu."
Meli menganggukkan kepalanya, lalu pria itu pun beranjak keluar dari ruangan Meli.
Meli meraih kartu ucapan yang terselip diantara bunga-bunga yang indah itu. Lalu, ia membuka kartu tersebut dan membaca apa yang tertulis di sana.
Assalamualaikum sayang,
Walau sesibuk apapun, jangan lupa makan siang ya.
Dan nanti malam, bolehkah aku mengajakmu untuk kencan. Kita makan malam di restoran yang dulu aku pernah membawamu ke sana.
Masih ingatkan?
Waktu itu kamu memakai gaun hitam yang sengaja aku beli saat ulang tahunmu.
Aku harap kita bisa mengulanginya lagi. Aku sangat merindukan momen itu.
Dari calon suamimu, dan ayah dari anak-anakmu.
Aris.
Meli tersipu malu, saat selesai membaca isi dari kartu tersebut. Lalu, ia meraih buket bunga yang sengaja Aris kirimkan untuknya.
"Ada-ada saja kamu Mas." Ucap Meli, lalu ia tertawa kecil dan menggeleng gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering, Meli meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia membaca nama yang muncul di layar ponselnya.
Mas Arya.
__ADS_1
Memang, Meli belum mengganti nama Arya menjadi Aris di ponselnya. Dengan ragu, Meli menjawab panggilan dari Aris.
"Assalamualaikum" Sapa Aris dari ujung sana.
"Waalaikumsalam." Jawab Meli sambil tersenyum malu.
"Yes or No..?"nUcap Aris.
"Apanya?" Jawab Meli berpura-pura bodoh.
"Loh, bukannya sudah menerima bunganya ya?" Tanya Aris.
Meli pun mengulum senyumnya.
"Hmmmmmm... sudah."
"Jawaban nya?" Tanya Aris tak sabar.
"Di pikir-pikir dulu deh." Jawab Meli pura-pura acuh."
"Tanda-tanda bakal ditolak nih." Ucap Aris sambil tertawa.
Meli pun ikut tertawa geli. Andai Aris tahu, saat ini hatinya sedang berbunga-bunga karena menerima buket bunga dari Aris.
"Boleh bawa anak? Anak saya dua loh." Meli mencoba menggoda Aris.
"Hmmmmm... sepertinya saya ingin berduaan saja dengan Bunda nya. Soal nya, setiap hari saya sudah melakukan pendekatan dengan anaknya. Nah, nanti malam saya ingin mencoba mendekati Bundanya." Ucapan Aris membuat Meli tertawa geli.
Begitupun Aris, ia tertawa geli saat pura-pura menjadi lelaki asing yang mendekati wanita idaman nya.
"Aku yakin tidak akan ditolak." Ucap Aris, dengan percaya diri.
"Ya sudah, berarti tidak ditolak." Ucap Meli sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Yesssssss...! sampai jumpa nanti malam." Ucap Aris dengan semringah.
"Iya." Jawab Meli, lalu pembicaraan mereka pun berakhir.
...
"Halo Mas Anton, aku ingin meminta bantuan. Mas Anton bisa jual kan rumahku secepatnya, aku akan pindah dari Yogyakarta." Ucap Alisa lewat sambungan telepon kepada makelar properti kenalannya.
"Loh mau pindah ke mana Mbak?" Tanya lelaki itu.
"Wes ke mana aja pokoknya, sing penting omah ku terjual secepatnya." Ucap Alisya.
"Oke, gampang Mbak. Kita lanjut di WhatsApp saja. Mbak bisa kirimkan detail nya dan harga yang mbak mau, nanti saya tawarkan kepada calon pembeli."
"Oke siap." Ucap Alisya.
Lalu, ia mematikan sambungan telepon nya. Alisya duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Ia tampak sangat gelisah. Ia sangat takut apabila Meli benar-benar melaporkan dirinya dan ia terbukti telah menyembunyikan Aris selama ini.
Alisya bermaksud kabur dari Yogyakarta dan pergi ke mana saja ke daerah yang tidak bisa dilacak oleh Meli.
__ADS_1
"Pokoknya aku harus pindah dari sini. Jangan sampai perempuan gila itu menemukanku." Gumam nya.
....
Setelah maghrib, Meli sudah rapi. Ia berdandan dengan sempurna, baju yang saat ini ia kenakan adalah baju yang dulu pernah diberikan oleh Aris. Ia sengaja menggunakan baju yang sama. Diam-diam, Meli juga ingin bernostalgia dengan kenangan yang lalu bersama Aris.
Meli menyemprotkan parfum nya dan menggunakan high heels nya. Lalu, Meli keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Di sana, Aris sudah menanti Meli dengan gelisah.
"Mas." Sapa Meli.
Aris pun menoleh kebelakang dan menatap Meli dengan terkagum-kagum.
"Aku sudah siap." Ucap Meli lagi.
Aris menelan salivanya, wajah Meli yang cantik dan penampilan yang sempurna membuat ia tak sabar untuk segera menikahi lagi Ibu dari anak-anaknya itu.
Aris menghampiri Meli, lalu meraih tangan Meli. Lalu mereka berdua melangkah menuju ke mobil. Seperti mengulang kejadian enam tahun yang lalu, mereka berdua pun tampak sangat bahagia.
Dari dapur, Bik Parni dan Kang Jaja mengintip Meli dan Aris. Mereka pun tampak bahagia melihat kejadian yang sama, seperti enam tahun yang lalu.
"Alhamdulillah ya, akhirnya Neng Meli bisa bahagia juga akhirnya." Ucap Bik Parni.
"Iya mbeb, Alhamdulillah." Sahut Kang Jaja, sambil menatap Meli dan Aris yang berjalan menuju pintu depan.
"Andaikan saya gitu, diajak suami makan malam romantis pasti seru." Ucap Bik Parni, bermaksud untuk menyindir Kang Jaja.
Kang Jaja pun langsung menatap Bik Parni.
"Mbeb boneka beruang ku juga mau di ajak makan malam ya?" Tanya Kang Jaja.
Bik Parni pun memasang wajah cemberut manja, lalu ia mengangguk.
"Ya sudah sini aja mbeb."
Kang Jaja mengambil lilin dari atas kulkas, lalu ia duduk di lantai dapur. Bik Parni mengerutkan keningnya melihat apa yang di lakukan kang Jaja.
Kang Jaja menyendokkan nasi dan mengambil beberapa lauk. Lalu, meletakkannya di atas lantai. Kang Jaja pun menyalakan lilin dengan korek api nya.
"Mbeb, tolong matikan lampu." Perintah Kang Jaja.
"Memangnya mau ngapain sih?" Tanya Bik Parni, kebingungan.
"Sudah matikan lampu saja, terus kamu duduk di samping Akang."
Bik Parni mematikan lampu dapur lalu duduk di samping Kang Jaja di remang nya cahaya lilin.
"Nah kan, sudah persis seperti makan malam romantis di kape kape itu mbeb."
Bik Parni cemberut menatap Kang Jaja.
"Kok cemberut si mbeb?" Tanya Kang Jaja dengan wajah polos nya.
"Mbeb, ini bukan makan malam romantis, tapi lebih mirip lagi jagain suami ngepet. Sudah sana berangkat ngepet..! Biar aku yang jaga lilin nya. Nanti pulang bawa duit terus kita makan malam di kape..!" Ucap Bik Parni, kesal.
__ADS_1
"Yah... salah lagi aja Jaja mah..!" Ucap Kang Jaja sambil menatap Bik Parni yang kesal dan beranjak meninggalkan dapur.