Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 38. Jadilah wasit..!


__ADS_3

Pintu kamar dimana Meli di sekap terbuka, seorang wanita masuk kedalam kamar membawa sebuah baki berisi makanan di atasnya. Wanita itu menaruh makanan untuk Meli di atas meja di dalam kamar tersebut.


"Kamu siapa?" Tanya Meli dengan suara yang gemetar.


Wanita itu hanya diam saja, tanpa sepatah kata pun, ia keluar dari kamar itu.


Karena kesal, Meli berlari ke arah pintu dan memukul-mukul pintu tersebut. Hingga ia kelelahan dan terduduk di atas lantai kamar yang dingin itu. Meli menangis, ia benar-benar tidak tahu apa yang akan ia lakukan.


Tidak berapa lama, wanita itu pun kembali dengan membawa baju-baju untuk Meli. Meli tidak mau kehilangan kesempatan, ia pun berlari ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.


Bruggggg.....!!!!


Tubuh Meli terjatuh saat ia bertabrakan dengan tubuh seorang lelaki yang berdiri di depan pintu. Meli pun berusaha bangkit dari lantai dan menatap wajah lelaki itu.


"Frans....!!!!!!"


Meli terkejut saat melihat Frans yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu tersenyum semringah, lalu berusaha akan menolong Meli untuk berdiri.


"Jangan sentuh aku!!!!" Meli menepis tangan Frans dari lengannya.


Frans tertawa kecil lalu menyuruh pelayan wanitanya untuk pergi dari kamar tersebut. Setelah pelayan wanita itu pergi, Frans pun mengunci pintu kamar itu dan berjalan mendekati Meli.


"Begini lah akibat kamu mengabaikan aku Mel," Ucap Frans sambil tersenyum licik.


Meli menatap lelaki itu dengan tatapan penuh amarah.


"Kamu sama seperti Tante mu ya Frans, sama-sama sakit jiwa..!" Ucap Meli.


Lagi-lagi Frans hanya tersenyum kepada Meli. Lelaki itu duduk di atas Sofa yang terletak di sudut kamar itu.


"Please bersikap baik lah kepada ku Meli. Bila kamu begini, kamu tidak akan pernah bisa melihat dunia luar lagi," Ucap Frans.


Meli pun terdiam saat mendengar ancaman dari Frans.


"Apa mau mu?" Tanya Meli, ia menatap Frans dengan tajam.


"Jadilah milik ku selamanya," Ucap Frans.


Meli mengernyitkan dahinya dan menatap Frans dengan tak percaya.


"Kamu gila? kamu tahu kan aku sudah menikah?" Tanya Meli kepada Frans.


"Aku sudah mengirimkan pesan kepada suami mu, agar ia melupakan kamu selamanya," Ucap Frans. Lalu ia tertawa terkekeh.


Meli terbelalak saat Frans mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Apa!" Ucap Meli, tak percaya.


"Iya, aku lakukan itu. Aku yakin ia akan percaya, karena aku menggunakan ponsel mu dan keberadaan mu tidak akan bisa terlacak oleh siapa pun." Ucap Frans.


Lalu, lelaki itu berdiri dari duduk nya dan berjalan menghampiri Meli dengan perlahan.


"Kamu mau apa!" Tanya Meli sambil berjalan mundur untuk menghindari Frans.


"Aku ingin tidur dengan mu.." Ucap Frans dengan tatapannya yang dingin.


"Frans, kamu tidak bisa begini..! Frans aku istri orang..!" Ucap Meli dengan suara yang gemetar.


"Mel, bila aku tidak bisa memilikimu dengan mudah, aku akan melakukannya dengan cara apa pun."


Suara Frans terdengar sangat menakutkan di telinga Meli.


"Frans.., aku sudah bersuami. Aku tidak mungkin bisa bersama mu Frans..!"


Langkah mundur Meli pun berakhir saat kakinya terbentur pinggiran ranjang.


"Kamu bisa bercerai dengannya Mel, dan menikah dengan ku. Lalu Om Aris akan bahagia dengan Tante Alisya Mel,"


Tangan Frans mulai menyentuh kedua bahu Meli. Dengan Cepat Meli menepis tangan Frans dan berlari ke arah yang lain di ruangan itu.


"Frans, kamu jangan gila. Ini tindak kriminal..!!!"


Bentak Frans, Meli pun terdiam.


Sorot mata Frans terlihat semakin buas. Meli pun gemetar ketakutan.


"Frans aku mohon... jangan lakukan hal ini kepadaku, lepaskan aku Frans..!"


Frans tertawa saat Meli memohon kepadanya.


"Mel...Mel.., dulu saat aku memohon kepadamu untuk menerima cinta ku, apakah kamu tanggapi? Tidak..!"


"Sekarang kamu memohon kepada ku untuk tidak melakukan nya, apakah kamu pikir aku akan menanggapi permohonan mu?"


Frans menyeringai, memperlihatkan deretan gigi nya dengan tatapan yang menakutkan.


"Sekarang, tidurlah dengan ku...!!"


Frans menghampiri Meli dengan cepat lalu menarik tubuh Meli dan mendorong nya ke atas ranjang.


"Aaaaaaaaaaa..!"

__ADS_1


Tubuh Meli mendarat di atas ranjang, kepalanya terasa pusing karena Frans mendorongnya dengan kasar.


"bagaimanapun kau harus menjadi milikku!!!!" Seru Frans.


Lalu, lelaki itu menghampiri Meli dan berusaha untuk melakukan pemaksaan kepada Meli. Dengan sekuat tenaga, Meli pun berusaha melepaskan diri dari Frans. Tetapi, ia tidak sanggup untuk melawan tenaga Frans yang sangat kuat.


Hampir saja Meli kehilangan akal, ia pun memejamkan kedua matanya sesaat, lalu ia kembali membuka matanya dan menatap kedua mata Frans yang sedang berusaha untuk memaksa dirinya untuk melayani lelaki itu.


"Frans, Ok.. aku mau menjadi kekasih mu. Kalau kamu cinta dengan ku, kamu tidak akan melakukan ini kepadaku. Kalau kamu menginginkan aku, kamu tidak akan menyakitiku." Tegas Meli.


Frans pun terdiam, lalu memandang Meli dengan seksama.


"Ayo kita jalani secara wajar, kamu buat aku jatuh cinta. Lalu, aku akan meninggal kan suami ku." Ucap Meli lagi dengan berurai air mata.


Tentu saja itu hanya akal-akalan Meli. Meli tidak mungkin melakukan hal itu demi Frans yang telah menyekap nya. Meli hanya ingin dirinya aman sampai suatu saat Frans percaya dengan nya dan melepaskan dirinya. Atau sementara dirinya aman sambil menunggu kedatangan Aris atau bantuan lainnya.


Meli cukup cerdas untuk membuat Frans tenang. Lelaki itu luluh, lalu ia duduk di samping Meli dan mengusap rambut Meli dengan perlahan.


"Aku cinta sama kamu Mel, kamu cinta kan sama aku?"


"Iya Frans, aku coba ya."


Meli berusaha tersenyum walaupun ia merasa ketakutan.


"Aku tidak suka bahasa yang seperti itu Mel, kamu cinta apa tidak dengan ku..!" Ucap Frans dengan wajah yang kembali menakutkan.


"I-i-iya aku cinta kamu," Ucap Meli dengan jantung yang berdebar kencang.


Frans tersenyum lega dan mencium kening Meli dengan lembut.


"Sekarang kamu milik ku kan Mel?"


"I-iya.. te-te-tetapi bi-bi-bila ka-kamu mau melakukan hal i-itu, ja-jangan sekarang. Ki-kita belum sah..!" Ucap Meli terbata-bata, karena menahan rasa takutnya.


"Kenapa harus sah?"


"Frans, kamu mau aku kan? Kamu bisa kan percaya dengan aku? Kita pacaran yang sehat dulu ya. Nanti kalau aku sudah bercerai baru kita ke jenjang yang serius ya Frans?" Ujar Meli.


Meli tau kata-kata nya itu salah, ia telah memberikan harapan kepada Frans. Tetapi, yang ia lakukan saat ini demi kebaikan dirinya sendiri.


Bila ia membuat sedikit saja Frans tersinggung, mungkin ia akan celaka. Meli paham bila Frans sangat terobsesi pada dirinya. Ia pun harus bisa mengendalikan Frans.


"Karena untuk mengendalikan pemain, kita harus menjadi wasit yang mempunyai peraturan untuk di patuhi pemain."


Kata-kata itulah yang pernah Meli dengar dari seseorang yang sangat ia hormati, yaitu almarhumah Retno.

__ADS_1


Frans pun melunak, Frans mulai tersenyum kepada Meli. Drama hari itu di tutup dengan Frans menemani Meli makan siang di dalam kamar itu.


__ADS_2