Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 67. Tes DNA


__ADS_3

Meli membuka pintu kamar Re dan Ar. Meli pulang terlalu malam, sehingga Ar dan Re sudah tertidur dengan lelap di kamar mereka. Seperti biasa, bila ia pulang terlalu malam, Meli menyempatkan dirinya untuk melihat anak-anaknya yang sedang tertidur. Lalu, mencium mereka satu persatu.


Saat Meli membetulkan letak selimut Ar dan Re, Meli mendengar Ar yang sedang mengigau memanggil "Ayah".


Meli terdiam menatap wajah anaknya yang sedang mengigau itu.


"Ayah..! aku mau Ayah..! Ayah kapan kesini? Ayah, pulang ayah..!" Ucap Ar saat mengigau.


Meli langsung mendekap tubuh Ar, tidak terasa air mata jatuh di pipinya.


Awalnya, ia merasa anak-anaknya akan baik-baik saja tanpa sosok seorang Ayah. Tetapi Meli salah, anak-anak tetap sangat membutuhkan kedua orang tuanya.


Prinsip Ibu bisa menjadi seorang ayah itu salah, Ibu tetaplah seorang ibu. Sedangkan Ayah tetaplah seorang Ayah. Itulah mengapa di dunia ini diciptakan berpasangan dan saling melengkapi.


Anak-anak membutuhkan porsi yang seimbang saat masa tumbuh kembangnya. Mungkin bisa saja seorang ibu menemani putranya bermain bola, atau memperlakukan anak perempuannya seperti princess. Tetapi, bagaimana feeling sang anak? Mungkin kita menganggap mereka baik-baik saja, tetapi ternyata tidak. Image seorang ayah ataupun ibu tidak akan pernah tergantikan.


Setelah Ar tenang, Meli duduk di lantai di samping ranjang Ar. Ia menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut nya. Ia mulai menyesali pikiran nya yang menganggap kedua anaknya baik-baik saja. Tetapi, ternyata ia salah.


Meli mulai memikirkan Arya. ia mulai berfikir, bila Arya memanglah Aris, pasti kedua anaknya akan sangat bahagia. Tanpa Meli sadari, Ia pun berdoa meminta kepada sang pencipta. Bahwa Arya benar-benar Aris, suami nya.


Meli pun tidak sabar menunggu pagi menjelang. Karena memikirkan tes DNA yang akan dilaksanakan besok pagi, malam itu Meli tidak bisa sedetik pun memejamkan matanya. Ia terus berdoa, semoga apa saja yang tertutupi akan terbuka.


Arya menaruh kopernya di samping ranjang di kamar hotel yang sudah ia booking untuk malam ini. Arya merebahkan dirinya di atas ranjang untuk sejenak mengusir rasa lelahnya saat itu.


Di matanya terbayang-bayang wajah Meli, saat di cafe tadi. Ada perasaan menggebu jauh didalam lubuk hatinya, bila dirinya sedang mengingat Meli. Sangat berbeda apabila ia mengingat wajah Alisya. Arya pun tersenyum sendiri, ia menyadari bahwa ia sedang tidak jatuh cinta. Melainkan menemukan cinta yang telah lama hilang.


Arya beranjak dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi. Ia membilas tubuhnya, setelah itu mengambil wudhu. Malam itu, Arya berdoa di atas sajadahnya, setelah ia selesai sholat. Ia memohon dengan sepenuh hati, agar kebenaran kini berpihak kepadanya.


Arya menangis dalam doa-doanya, saat memohon kemurahan hati sang pencipta untuk mengabulkan segala keinginannya saat ini.


..


"Kita mau kemana Bunda? kok tumben pagi-pagi Bunda mengajak Ar dan Re jalan-jalan?" Tanya Ar dengan wajah polosnya.


Meli tersenyum sambil membantu Ar menggunakan sabuk pengaman di mobil nya.

__ADS_1


"Ada deh, pokok nya kalian pasti senang." Ucap Meli sambil mencubit lembut pipi kedua anaknya.


"Memangnya ada yang membuat kami senang, kecuali bertemu dengan Ayah?" Ucap Re dengan ketus.


Sejak pulang dari Yogyakarta, Re menjadi sedikit ketus dengan Meli. Sepertinya ia tidak rela berpisah dari Arya. Sejak saat itu juga Re terlihat murung dan menjadi sedikit pendiam.


Meli menatap Re dengan seksama, ia merasa iba kepada Re. Lalu, Meli mencoba tersenyum, sambil mengacak rambut Re.


"Bunda memang mau mengajak kalian untuk bertemu Ayah kok." Ucap Meli sambil memandangi kedua anaknya.


Sontak saja, ekspresi wajah Ar dan Re berubah menjadi sangat antusias.


"Beneran Bunda?" Tanya ke dua anak kembar itu. Meli pun mengangguk sambil tersenyum manis.


"Bunda tidak berbohong kan?" Ucap Re, gadis kecil itu menatap manik mata Meli dengan seksama. Ia mencoba mencari kesungguhan dari mata Bundanya.


"Berbohong itu tidak baik. Jadi, Bunda sangat berusaha untuk tidak berbohong." Ucap Meli.


Ar dan Re menatap Meli dengan mata yang berbinar-binar, lalu anak kembar tersebut berebut untuk memeluk tubuh Meli. Meli pun tertawa bahagia saat melihat senyum di wajah kedua anaknya.


Arya membaca pesan dari Meli. Ia membaca alamat rumah sakit yang Meli janjikan untuk bertemu dan melakukan test DNA. Tanpa membuang waktu, Arya langsung bergegas menuju Rumah sakit tersebut.


Empat puluh lima menit kemudian, akhirnya Arya sampai di depan rumah sakit itu. Setelah membayar taksi, Arya langsung melangkah masuk kedalam rumah sakit itu.


Ia langsung menemui Meli yang sudah terlebih dahulu menunggunya di samping ruang laboratorium. Saat Arya tiba di sana, ia melihat Ar dan re yang duduk dengan gelisah di samping Bundanya.


Tanpa basa-basi, Arya langsung berlari menghampiri kedua anak kembar tersebut.


"Anak-anak Ayah....!" Teriakan Arya mengundang semua orang yang sedang berada di sana untuk menoleh kepada mereka.


"Ayahhhhhh...!!!!" Pekik Ar dan Re saat melihat kehadiran Arya di sana.


Beberapa detik kemudian, Ar dan Re sudah berada di gendongan Arya. Ar di kanan dan Re di kiri. Walaupun tubuh Ar dan re lumayan tinggi dan berisi, tetapi Arya tetap kuat menggendong kedua anak kembar tersebut.


Meli menatap kedua anaknya dengan haru. Lalu, ia menatap Arya dan tersenyum kepada lelaki itu.

__ADS_1


"Ayah lagi sakit ya? Kok kita ketemuannya di rumah sakit?" Tanya Re dengan wajah polos nya yang menggemaskan.


"Tidak, Ayah tidak sakit. Tetapi, Ayah mau minta tolong kepada Ar dan Re."


"Apa itu Ayah?" Tanya ke dua anak kembar itu.


"Nah, mau tahu kan? kalau begitu kita masuk dulu ya, nanti Ar dan Re juga Ayah di periksa di dalam." Ucap Arya.


Ar dan Re hanya mengangguk lalu mereka pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu, pengambilan contoh DNA pun di mulai


Arya dan Meli berdo'a di dalam hati mereka, semoga kecocokan DNA Arya dan anak-anak cocok. Bila cocok, sudah di pastikan bahwa Arya adalah Aris.


Setelah pengambilan contoh selesai, Arya mengajak Meli dan anak-anaknya pergi ke Mall. Meli tidak bisa menolak ajakan Arya. Karena ia melihat anak-anaknya yang begitu bahagia saat Arya mengajak mereka ke Mall.


Arya merasa menang saat Meli tidak berdaya untuk menolak ajakannya. Arya begitu pintar memanfaatkan keadaan untuk tetap dekat dengan Meli. Mereka pun pergi ke Mall dengan mobil Meli.


"Biar aku saja yang menyetir." Ucap Arya kepada Meli.


Meli hanya terdiam saat Arya meraih kunci mobil dari tangannya. Kini Arya sudah duduk di belakang kemudi mobil. Sedangkan kedua anak Meli duduk di kursi penumpang di belakang. Saat Meli ingin duduk bersama dengan anaknya di belakang, Meli pun mendapat protes dari Ar dan Re.


"Bunda di depan aja duduk sama ayah." Ucap Re kepada Meli.


"Iya Bunda, temani Ayah biar kami yang di sini," Ucap Ar.


Meli mengangkat alisnya saat mendengar ucapan kedua anaknya. Lalu, dengan ragu, ia membuka pintu mobil yang di samping kemudi. Lalu, ia masuk kedalam dan duduk disamping Arya.


Arya tersenyum manis menatap Meli. Sedangkan Meli langsung menundukkan pandangannya dan memasang safety belt.


"Ready?" Tanya Aris kepada Ar dan Re.


"Readyyyyyyy....!!!!" Ucap Ar dan Re serentak.


"Let's go...!" Ucap Arya lagi.


"Yeayyyyyyyy....!"

__ADS_1


Si kembar berteriak dengan bersemangat. Meli hanya tersenyum kecil saat melihat tingkah Arya, Re dan Ar. Saat itulah hidup Meli terasa lengkap dan sempurna. Perasaan itu tidak bisa ia bendung. Meli benar-benar menikmati suasana ramai di dalam mobil nya.


__ADS_2