Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 49. Pernikahan Bik Parni dan Kang Jaja


__ADS_3

Suasana Rumah Meli begitu ramai pada hari ini. Semua keluarga Kang Jaja dan Bik Parni sudah berkumpul di rumah Meli. Mereka terpana saat melihat megahnya kediaman majikan keluarganya itu.


"Ja, majikan mu baik sekali mau mendanai pernikahan mu dan rela meminjamkan rumah tinggalnya untuk acara pernikahan mu," Ucap salah satu keluarga Jaja yang ikut ke rumah Meli.


"Memang majikan Jaja berhati malaikat, dia bukan wanita sembarangan. Dia dulu pernah susah seperti kita, jadi di tidak mau memandang berbeda dengan orang susah seperti Jaja," Ucap Jaja, membanggakan Meli.


"Selain itu, memang cantik ya orang nya. Kinclong kayak keramik mall Ja..!" Ucap keluarga Jaja lagi.


Jaja menatap Meli yang sedang menerima para tamu undangan dengan tangan terbuka dan ikhlas. Walaupun repot dan rumahnya menjadi kotor oleh ulah anak-anak kecil dari kedua keluarga mempelai, tetapi Meli bahagia bisa membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.


Sejak kepergian Aris, Meli memang bertekad hanya ingin membuat orang-orang di sekitarnya menjadi bahagia. Ia ingin membuat sisa hidupnya bermakna sambil menunggu anak-anak nya besar dan ajal menjemput dirinya.


Acara pun segera di mulai. Jaja mengucapkan ijab Kabul dengan lancar dan khidmat. Suasana begitu gembira saat kedua mempelai sudah sah menjadi sepasang suami dan istri.


Bik Parni terlihat cantik saat ini, Meli sengaja menyewa seorang perias pengantin profesional untuk merias Bik Parni. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pekerjanya.


Apa pun yang ia berikan saat ini tidak sebanding dengan pengorbanan dan kebaikan hati para pekerjanya selama ini untuk Meli. Mungkin tanpa mereka semua, Meli tidak tahu harus bagaimana. Selain mereka membantu Meli dalam segala hal, mereka juga mensuport Meli saat melalui masa-masa sulit.


Mereka adalah keluarga bagi Meli walaupun kini Meli bukan lah wanita sembarangan. Ia kini wanita berpendidikan, pengusaha dan terhormat. Tetapi, Meli tidak pernah lupa dengan asal usulnya yang pernah juga berjuang mencari sesuap nasi di Ibukota.


Meli sengaja membooking sebuah hotel untuk kedua mempelai dan keluarganya. Setelah acara selesai, Jaja dan Bik Parni serta keluarganya pun dapat menginap di hotel itu yang sengaja Meli booking untuk tiga hari kedepan.


Meli tidak pernah hitung-hitungan masalah berapa biaya yang ia keluarkan. Baginya setiap perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya dan sesama.


Meli merebahkan dirinya di atas ranjang, Ar dan Re pun menyerbu Meli saat kedua anak kembar itu menyusul Meli kedalam kamar.


"Bundaaaaaa.." Sapa mereka, lalu mereka tidur di samping Meli dan mencium pipi Meli.


"Eh, anak-anak Bunda. Kenapa belum tidur?" Tanya Meli dengan suara yang terdengar lembut, kepada anak-anak nya.


"Bunda, Bunda.. kita liburan yuk..!" Ucap Ar dengan bersemangat.


"Iya Bunda, Uncle Jaja dan Bibik Parni gak ada di rumah, jadi sepi Bunda. Bagaimana kalau kita liburan, Bunda juga sibuk, kapan ada waktu untuk kami?" Ucap Re.


Kedua anak Meli memang anak-anak yang cerdas. Mereka menuruni gen Meli yang cerdas di tambah dengan Ayah mereka, Aris yang memang cerdas dan pekerja keras.


Meli terdiam mendengar kata-kata Re. Ia pun mulai berpikir, selama ini ia memang hampir tidak punya banyak waktu untuk anak-anak nya. Meli terlalu sibuk dengan perusahaan yang di wariskan oleh Aris, serta rumah makan yang di wariskan oleh Retno yang kini sudah jauh lebih berkembang dengan beberapa cabang di seluruh Indonesia.

__ADS_1


Meli terlalu serius menjalankan bisnis-bisnis itu. Karena ia berjanji akan selalu memegang teguh isi surat wasiat dari Retno dan peninggalan suami nya.


Itu semua Meli lakukan demi anak-anak nya. Bila Meli tidak cerdas menjalankan semuanya, ada kemungkinan semua usaha yang di wariskan akan hancur di tangan Meli. Bagaimana nasib dari anak-anaknya? Meli tidak ingin anak-anak nya susah seperti dirinya dahulu.


Meli menghela napas panjang lalu ia membelai rambut kedua anak nya yang tampan dan cantik itu.


"Ok, jadi kita mau kemana?" Tanya Meli sambil menatap gemas kepada kedua anak nya.


"Aku mau ke Yogyakarta..!!!!" Ucap Ar dan Re.


"Yogyakarta?" Tanya Meli sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya Bunda..!" Ucap Ar dan Re.


"Kenapa Yogyakarta?" Tanya Meli penasaran.


"Gak tahu, kepingin saja kesana Bun. Kami menonton di internet, disana itu bagus, ada gunung nya, ada sawah nya, ada Malioboro, ada pantai. Disana semuanya lengkap..!" Ucap Ar dengan antusias.


Meli hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Bosen Bun... Re mau ke Yogyakarta aja. Tidak tahu mengapa, Re ingin sekali kesana..!" Ucap Re dengan tatapan memohon.


"Ok, baik lah anak-anak Bunda yang tercinta, bila mau ke Yogyakarta tidak apa-apa. Bunda akan siap kan semua nya untuk anak-anak bunda yang tercinta, tersayang, segalanya bagi Bunda," Ucap Meli sambil menciumi satu persatu anak-anak nya dengan penuh cinta.


"Terima kasih Bunda..!" Ucap Re dan Ar dengan kompak.


"Ya sudah, sekarang kalian tidur. Sudah malam kan? Bunda juga mau istirahat."


"Baik Bunda..!" Ucap mereka serentak.


Lalu, mereka menciumi pipi Meli dengan penuh kasih sayang. Meli menyambut ciuman dari anak-anak nya dan memeluk mereka satu persatu. Lalu, Meli mengantarkan kedua buah hati ya ke kamar mereka.


"I love you Aris, Retno,"


Ucap Meli kepada si kembar yang menggemaskan. Setelah itu ia menutup pintu kamar anak-anak nya dan bergegas kembali ke kamarnya.


Meli pun langsung membuka ponselnya untuk mencari informasi tentang Yogyakarta. Meli sudah pernah ke Yogyakarta dalam rangka urusan bisnisnya. Meli membuka restoran alam di sana. Walaupun ia sudah pernah ke Yogyakarta, tetapi tidak sekalipun ia datang untuk sengaja berlibur dengan kedua buah hatinya ke Yogyakarta.

__ADS_1


Meli menghubungi sekretaris nya untuk membooking hotel dan tiket untuk dirinya dan anak-anak. Juga meminta sekretaris nya untuk mengosongkan jadwalnya selama satu minggu.


Setelah semuanya beres, ia pun kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu, ia menoleh ke sisi ranjang yang kosong di sebelahnya. Ia pun tersenyum dan mengusap bantal kosong di sebelahnya.


"Good night Mas, semoga kita bertemu di alam mimpi ya Mas," Ucap Meli.


Meli selalu melakukan hal yang sama selama Aris sudah tiada. Meli merasa kepergian Aris merupakan kesalahan nya. Hal itu lah yang membuat dirinya tidak ingin memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mengisi hatinya. Ia tetap bertahan dengan kenangan tentang lelaki yang sudah memberikan nya dua anak tersebut.


...


"Sayang, kemana kamu seharian ini? aku telepon ke kantor, kamu tidak ada di kantor," Ucap Alisya kepada Arya.


Arya pun menatap Alisya dengan seksama.


"Al, aku keluar menemui client, maaf aku tidak memberitahu kamu," Ucap Arya.


"Kamu tidak berselingkuh kan sayang? Ingat, saat kamu tidak berdaya, aku tetap bertahan bersama mu. Jadi, jangan pernah berselingkuh dariku." Ucap Alisya.


Arya menunduk kan pandangan nya.


"Aku tidak pernah berselingkuh. Tidak sekali pun." Ucap Arya mencoba meyakinkan Alisya.


Alisya pun tersenyum puas.


"Al.., bisakah kamu menceritakan mengapa aku bisa hilang ingatan?" Tanya Arya dengan ragu.


Alisya mengeryitkan dahinya dan menatap Arya dengan tajam.


"Aku sudah bilang, aku tidak suka kamu mengungkit masa lalu..!" Ucap Alisya dengan geram.


"Kesalahan apa yang telah aku perbuat di masa lalu?" Tanya Arya dengan jantung yang berdebar.


Ia begitu takut dengan Alisya, entah mengapa ia merasa Alisya pernah berbuat sesuatu yang nekad terhadap dirinya. Hal itu muncul begitu saja di dalam pikiran Arya. Sehingga ia tidak mampu melawan Alisya.


"Kamu berselingkuh dengan seorang gadis muda dan kalian mengalami kecelakaan. Aku memaafkan kamu, aku merawat kamu dengan baik. Jangan pernah kamu tanyakan masa lalu lagi. Tutup semua nya, kita buka lembaran baru. Maka dari itu jangan pernah mengulangi perselingkuhan..!"


Ucapan Alisya membuat Arya merasa bersalah. Sejahat itukah dirinya di masa lalu?

__ADS_1


__ADS_2