
Pukul 7 malam Addan pun tiba di kediaman Nicolas , ia masuk ke dalam rumah dan melihat Lani yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
“Kamu sudah pulang ya Dan, kamu udah makan?” Tanya Lani namun tak di jawab oleh Addan.
Addan hanya diam saja, Lani yang melihat gelagat Addan yang acuh padanya menjadi heran.
"Ada apa denganmu. Apa karena urusan perusahaan? " Tanya Lani lagi.
"Bukan. Perusahaan dalam keadaan baik-baik saja" Jawab Addan dengan datar tanpa ekspresi.
" Lah! Kenapa kamu terlihat marah dan kusut gitu tampangnya? Cerita ke kakak ada masalah apa?"
"Tidak ada masalah. " Ucap Addan berbohong.
"Ngak mungkin ngak ada, pasti ada masalah ya Kan. Ngak biasanya kamu seperti ini. Ayo cerita sama kakak! " Ucap Lani memaksa Addan untuk menceritakan masalahnya.
Bukannya menjawab, Addan malah menatap tajam ke arah Lani, ia benar-benar dibikin pusing akan pertanyaan Lani yang tanpa henti itu.
"Kakak bisa diam tidak? Buat aku tambah pusing saja." Bentak Addan dan menatap Lani dengan tajam seakan menghunus Lani dengan pedang.
Lani yang mendengar bentakan Addan pun terperanjat karena kaget.
"Kakak hanya khawatir sama kamu. Kenapa..... " Ucap Lani namun terpotong oleh ucapan Addan.
"Dimana Kana? Jam segini tak mungkin dia sudah tidur." Tanya Addan dengan ekspresi datar sambil mengendurkan ikatan dasi di lehernya.
"Kamu baru pulang udah tanyain Kana. Kamu ada perlu apa mencarinya, Kana lagi tidak di rumah." Ucap Lani yang heran dengan pertanyaan Addan.
"Pergi kemana dia?" Tanya Addan marah dan menatap tajam ke arah Lani.
"Kamu kenapa sih? baru pulang marah-marah, apa-apaan tu dengan ekspresimu itu." Tanya Lani dengan marahnya akan sikap Addan. Namun tak ditanggapi Addan.
"Aku tanya sekali lagi. Kemana Kana pergi Lani?" Tanya Addan geram dengan mata yang melotot ke arah Kakaknya, membuat Lani ciut akan tatapan Addan.
"Lebih baik kamu minum dulu ya. Ngak baik langsung marah-marah , bicarakanlah dengan kepala dingin." Ucap Lani menenangkan Addan dan memberikan segelas air minum yang sedari tadi dia pegang.
Addan pun menerima air putih dalam gelas pemberian Lani, lalu meminumnya hingga tandas. Sedari tadi dia memang haus, tapi karena emosi yang sudah menguasai diri, ia lupa akan rasa hausnya.
Lani yang melihat Addan agak tenang, langsung menjawab pertanyaan Addan tadi.
"Huffff....Tadi siang dia di jemput sama pacarnya, katanya sih mereka mau kencan. " Ucap Lani sambil memperhatikan raut wajah Addan yang tiba-tiba berubah.
Padahal Addan tadi sudah agak tenang, tapi setelah mendengar tuturan Lani. Amarahnya kembali muncul dan malah semakin besar.
"Apa?" Teriak Addan emosi dan langsung menghempaskan gelas kaca yang dia pegang sehingga jatuh ke lantai dan pecah berderai.
__ADS_1
Lani terkejut akan tindakan Addan, ia memegang dadanya karena saking kagetnya
"Siapa pacarnya?" Tanya Addan lagi dengan wajah yang sudah merah padam.
"Namanya Gio. Kamu emosian gini pasti karena Kana kan? Kakak tau kamu suka sama Kana, tapi kakak minta tolong jangan pisahkan mereka!" Ucap Lani
”Oh jadi pria itu namanya Gio? Beraninya pria itu mendekati Kana, dan membawanya pergi. Aku tidak akan tinggal diam, kalau Kana sudah pulang nanti aku akan menghukumnya.” Ucap Addan emosi dan berapi-api
”Kamu mau apain Kana? Jangan macam-macam Dan. Biarkan saja dia bahagia sama orang yang dia sukai.” Ucap Lani marah, Addan mendengar tuturan Lani mengeratkan kepalan tangannya dengan kuat.
” Membiarkan dia bahagia dengan pria lain. Ingat ya Lani! hanya aku yang mampu membahagiakannya dan bisa menjamin kebahagiaannya. Dia hanya milikku Lani, hanya milikku.” Ucap Addan dengan sedikit teriak.
“Tapi…” Ucap lani tapi terpotong oleh ucapan Addan.
”Aku sudah begitu sabar Lani, aku sudah berusaha melupakannya tapi tak bisa. Malah rasa cintaku ini terhadapnya semakin besar, awalnya aku merasa bahwa diriku ini obsesi padanya tapi ternyata tidak! aku benar benar mencintainya dan tak ingin ia dimiliki pria lain , kamu harus mengerti itu LANI.” Ucap Addan kemudian pergi naik tangga menuju kamarnya yang ada diatas.
Lani hanya terdiam dan tak berani lagi menentang Addan, adiknya itu benar benar cinta mati terhadap sahabatnya.
Setibanya dikamar, Addan langsung mengeluarkan botol Whiskey dari tas kerjanya yang ia beli di Amsterdam. Addan meneguk air beralkohol dalam botol tersebut secara terus-menerus sampai tandas.
Setelah air alkohol itu tandas, Addan pun berjalan keluar kamar dalam keadaan sempoyongan, entah kemana tujuannya.
...----------------...
Jam 21: 30 Kana pun pulang dari kegiatan kencannya dengan Gio. Kana melihat keadaan rumah yang ternyata sepi.
Hanya seorang pembantu saja yang tampak olehnya yaitu Bi Isah. Kana pun menuju kamarnya yang ada diatas dan terletak disamping kamar Lani.
Saat masuk kamar, Kana melihat kamarnya dalam keadaan gelap. Padahal tadi, lampu kamarnya saat akan pergi dengan Gio sudah ia hidupkan.
Kana pun memencet kontak lampu dan seketika kamarnya pun terang, lalu ia berjalan ke arah ranjang dan menghempaskan badannya ke kasur.
“Aduh.. lelahnya, pegal semua badanku habis jalan-jalan.” Ucap Kana sambil menepuk-nepuk bahunya.
”Apa habis kencan..?” Ucap seseorang dengan suara beratnya, kana pun langsung terkejut.
Kana pun bangun dan berdiri, ia melihat kesumber suara yang berasal dari sofa yang terletak di sudut kamar. Seketika Kana syok dan membulatkan mata setelah mengetahui siapa orang itu.
”A aaddan! kam.. kamu ngapain di kamarku?”ucap Kana dengan suara yang bergetar karena ketakutan, melihat ekpresi marah Addan dan tampak menakutkan di mata Kana.
”Menurutmu. Hukuman apa yang pantas untukmu? Beraninya kamu berkencan dengan pria lain setelah menolakku” Ucap Addan dingin kemudian berdiri dan menghampiri Kana.
Kana mencium bau alkohol dari tubuh Addan.
"Addan, kamu mabuk?" Tanya Kana takut. Namun tak dijawab oleh Addan, Addan malah berjalan semakin mendekat ke arah kana.
__ADS_1
Kana yang melihat Addan yang mendekat, ia pun mundur sehingga ia jatuh di atas kasurnya. Addan pun lansung naik keatas kasur dan menindih tubuh Kana.
”Apa yang kamu lakukan.. menjauh dariku Addann” Teriak Kana.
Untuk menghentikan teriakan Kana, Addan pun membungkam bibir Kana dengan bibirnya agar Kana berhenti berteriak, dan tidak membangunkan Lani yang berada di samping kamarnya. Kana yang dicium oleh Addan secara tiba-tiba berusaha untuk memberontak, tapi tak bisa.
Tak lama kemudian Addan melepaskan penyatuan bibirnya dengan bibir Kana, terlihat Kana yang ngos ngosan. Tanpa pikir panjang Addan pun menanggalkan dasinya dan mengikat kedua tangan Kana.
”Lepaskan aku Addan….” Teriak Kana lagi sambil meronta-ronta.
Addan yang mendengar teriakan Kana lagi, langsung menyumpal mulut Kana dengan sapu tangannya.
Addan langsung membopong Kana di bahunya yang meronta ronta dan membawa kana kekamarnya yang lumayan jauh jarak nya ke kamar Lani agar Lani tak mendengar apa yang akan ia lakukan terhadap Kana.
Setibanya di kamar, Addan pun langsung meletakkan Kana di atas kasur yang berukuran besar, dan berseprai bewarna abu-abu miliknya.
Addan pun melemparkan jas yang ia kenakan ke sembarang arah dengan perasaan yang di penuhi emosi dan tak terkendali karena pengaruh alkohol. Kana yang melihat Addan membuka jasnya terkejut dan meronta- ronta diatas kasur.
Addan yang melihat Kana yang meronta-ronta kembali menindih Kana dan membuka sumpalan sapu tangan di mulut Kana.
”Addan aku mohon lepaskan aku…, jangan lakukan itu Addan…” Ucap Kana memohon sambil menangis. Addan hanya diam saja tak menangapi perkataan Kana, terlihat jelas di matanya yang dipenuhi amarah tersebut.
“Hiks hiks hiks aku mohon lepaskan aku….” Ucap Kana memohon dan menangis sesenggukan.
“Adddannnn……..” Teriak Kana.
Mendengar teriakan Kana lagi, Addan pun langsung ******* bibir Kana dengan rakus.
Tak lama kemudian, ciuman Addan berpindah ke leher Kana dan meninggalkan tanda kepemilikan disana. Addan yang dipenuhi emosi dan nafsu langsung merobek paksa gaun selutut yang dikenakan Kana.
Addan pun terhenti dan menatap Kana.
”Mulai Hari ini kamu benar-benar akan menjadi milikku seutuhnya Kana.” Tegas Addan dengan suara seraknya.
Malam itu Addan memperkosa Kana, meski pun Kana memohon-mohon padanya. Addan tetap tidak mengubris teriakan dan permohonan Kana padanya.
Kana hanya bisa menjerit pasrah menahan sakit akibat perlakuan kasar Addan padanya, seluruh badannya terasa sakit dan remuk. Ia benar-benar tak ada tenaga lagi untuk melawan, percuma dia melawan kalau hanya berujung sia-sia. Addan yang tak terkendali di bawah pengaruh alkohol tidak mendengar jeritan kesakitan yang saat ini Kana rasakan.
Kesuciannya yang ia jaga untuk suaminya kelak untuk orang yang dicintai dan mencintainya nanti telah pupus, akibat ulah pria yang menguasai tubuhnya sekarang atau pria yang telah ia anggap sebagai adik selama ini.
Addan terus melakukan hal itu pada Kana. Kana hanya diam dan menatap nanar ke arah loteng kamar sambil berurai air mata, ia pasrah karena tak kuasa lagi untuk melawan.
Adegan panas tersebut berlangsung lumayan lama hingga addan puas dan luapan emosinya berkurang , ia melakukannya sampai berulang kali, hingga membuat Kana terkapar tak berdaya dan pingsan di atas ranjang.
Di akhir permainan panas mereka, Addan melepaskan ikatan dasi yang mengikat di kedua pergelangan tangan Kana, Lalu memeluk erat tubuh Kana dan mencium keningnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Bersambung...