
"Syutttt....sudahlah, jangan menangis lagi. makhluk seperti dia untuk apa kamu tangisi, buang-buang air mata saja." Bujuk Lani menenangkan Kana yang sedang menangis di pelukannya, sambil menepuk punggung Kana pelan-pelan.
"Lihat ini! Bajuku sampai dipenuhi lendir ingusmu." Canda Lani tanpa melepaskan pelukannya.
"Kamu marah saat aku lap ingus di bajumu. Tapi kamu tetap saja memelukku dengan erat." Ucap Kana di dalam pelukan Lani dalam keadaan menangis.
"Haishhhh.....kubilang hentikan! Ku colek juga matamu. Emangnya cuman dia seorang pria di dunia ini? Kamu cantik, malah sangat cantik. Ngak akan bakal susah cari pasangan lagi." Ucap Lani agak jengkel.
"Aku bukan menangisinya Lani....hiks..hiks." Bantah Kana.
"Lah, lalu kamu menangis karena apa?" Saut Lani bingung.
"Aku menangis, karena belum terlontar Kata-kata mutiara dariku untuknya. Lalu Kata putus yang akan aku ucapkan hiks...hiks." Ucap Kana masih sesenggukan, tanpa air mata yang menetes lagi. Mungkin air matanya sudah kering.
"Kata putus yang belum kamu ucapkan apa susahnya coba, hubungi pria brengsek itu terus bilang putus padanya, itu pun ditangisi. Lalu maksud kata-kata mutiara itu apa sih?" Ucap Lani yang mulai frustasi akan tingkah Kana.
"Itu....Kata-kata yang kamu ucapkan tadi kepada mereka. Menurutku, itu kata-kata mutiara yang cocok untuk mereka, sayangnya hanya kamu saja yang mengucapkan."
"Hahahahhaha.....betul sekali, yang aku ucapkan di cafe tadi tu memang kata-kata mutiara. Kata-kata mutiara ala Lani, khusus untuk mahkluk astral seperti mereka." Ucap Lani sambil terkekeh.
"Tapi aku ngak percaya, kamu akan mengucapkan kata yang seperti aku ucapkan tadi. Kamu itu kan gadis yang lembut, pemalu. Jadi kurang percayalah aku." Canda Lani.
"Terserah apa yang kamu bilang!" Ucap Kana nyerah. Sebenarnya ia belum tentu bisa se bijak Lani tadi, karena Kana sudah terbiasa berbicara lembut kepada siapapun, ia jarang sekali untuk marah-marah.
"Sekarang sebelum kamu tidur atau besok, kamu chat atau hubungi lah si penipu dan pengkhianat itu bilang kamu ingin putus dengannya. Trus blokir dia, apa kamu mengerti?" Tegas Lani.
"Iya. Besok aja kalau sekarang aku capek dan ngantuk." Ucap Kana yang sudah tidak tahan dengan mata yang sudah berat sehabis menangis tadi.
"Hmmm tidurlah." Saut Lani lalu menyelimuti Kana yang tengah berbaring di kasurnya.
......................
Di sisi Lain..
"Bos! Tadi ada keributan di cafe tempat Nona Lani dan Nona Kana singgah, setelah nonton konser. Nona Kana melihat pacarnya selingkuh, lalu...Bla...bla..." Ucap Sasha menceritakan kronologi di cafe tempat Kana dan Lani nongkrong tadi, di balik telephone.
"Sudah Saya kira, hal itu pasti akan terjadi. Karena Saya sudah tau siapa pria itu, Saya sudah meminta Soka menyelidiki latar belakang pria itu." Ucap Addan sambil memijit pangkal hidungnya.
"Kenapa tidak bos bilang sama Nona Kana?" Saut Sasha.
"Karena Saya tau reaksinya, dia tidak akan semudah itu percaya. Dan sekarang dia mulai menghindari Saya."
"Sabar ya Bos. Saya selalu dukung anda Bos, berusahalah lah Bos lagian Nona Kana sekarang sudah jomblo kayaknya." Ucap Sasha dengan sedikit bercanda.
"Tentu. Mau dia jomblo atau tidak dia akan tetap milik Saya."
"Baiklah Bos...Maaf bos! saya mau tanya,kenapa Bos belum pulang ke kediaman Nicolas ya? Bos lagi di kantorkan." Tanya Sasha agak takut kalau Addan marah atas pertanyaannya.
" Ya Saya lagi dikantor, Saya ingin menyibukkan diri disini, nanti jam 1 dini Saya pulang." Saut Addan yang mulai malas berbicara. Addan memang agak kurang berbicara pada siapapun.
"Ehhemmm...Bos." Ucap Sasha di telephone.
__ADS_1
"Apalagi Hah?" Bentak Addan yang sudah mulai emosi, membuat Sasha yang disebrang sana terlonjak karena kaget.
''Waduhhh gawat...Bos udah mulai marah"teriak batin Sasha.
"Bos! Kalau anda pulangnya dini hari, gimana Mas Soka ya Bos...Saya dirumah sendirian. Biarkan Mas Soka pulang ya Bos?" Ucap Sasha dengan nada memohon.
"....." Addan hanya diam dan menghela napas.
" Bos?" Tanya Sasha dibalik telephone. Dan tiba-tiba ia terkejut mendengar suara keras Addan.
"SOKA! lebih baik kamu pulang. Istrimu memohon- mohon kepada saya untuk menyuruh mu pulang." Teriak Addan kepada Soka.
"Benarkah Bos? Makasi Bos...." Ucap Soka, Lalu mendekatkan mulutnya ke arah ponsel Addan dan berkata. "Sayang makasi ya? Im coming... tunggu aku di rumah." Ucap Soka semangat berbicara pada Sasha.
"Ah! minggir kau sana. Jika kau tak minggir, akan ku tarik kata-kataku untuk membiarkan kau pulang." Bentak Addan dihadapan Soka.
"Iya Bos...." Ucap Soka seraya tersenyum lemah.
"Sekarang Saya sudah mengabulkan permintaanmu, jangan lupa kau harus selalu memantau kegiatan Kana dan laporkan padaku atau Soka .Mengerti?" Ucap Addan kepada Sasha di telepon.
"Meng....." Ucap Sasha terputus karena Addan langsung memutuskan sambungan telephone sepihak. Entah apa reaksi Sasha di sebrang sana, mungkin ia memaki dan mengumpat Addan.
"Sekarang kau keluar dari ruanganku, dan pulanglah."Ucap Addan datar, dan mengusir Soka dengan mengibas ngibaskan tangannya.
"Baik Bos, dan terimakasih Bos." Saut Soka, dan pergi.
"Hmmmm" balas Addan.
Setelah beberapa jam lamanya Addan berkutat dengan laptopnya, akhirnya ia jenggah juga dan berniat untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
Addan membunyikan klakson mobilnya, sehingga Pak Lolo yang lagi enaknya tidur langsung terbangun lalu menghampiri gerbang dan membukakankannya untuk Addan.
Addan yang sudah keluar dari mobilnya setelah memakirkan mobilnya di tempat parkir mobil yang terdapat banyak mobil sport koleksi keluarga Nicolas, yang merupakan mobil editions terbatas.
Addan masuk kedalam rumah dan memerhatikan sekeliling yang terlihat sepi, mungkin semua orang sudah tidur. Saat dia berjalan menuju kamarnya Addan berpapasan dengan Kana yang hendak turun menuju dapur mengambil minuman.
Kana yang terkejut melihat Addan yang berada di hadapannya cepat- cepat berjalan melewati Addan. Tapi tangannya di cekal oleh Addan sehingga ia berhenti melangkah, dan menoleh ke arah Addan.
"Ada apa?" Ucap Kana sedikit lembut dengan suara paraunya akibat menangis.
Addan yang mendengar suara parau Kana dan melihat mata bengkak dan hidung Kana yang memerah, langsung terdiam dan menatap mata Kana dengan dalam, lalu memegang bahu Kana dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa? Siapa yang melukaimu dan membuatmu menangis Kana! bilang padaku." Ucap Addan khawatir dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Kana tadi.
"Tidak. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja Dan." Ucap Kana menyanggah ucapan Addan.
"Jangan bohong Kana. Katakan padaku, siapa yang membuatmu menangis. Biar aku yang akan membereskannya." Ucap Addan sedikit emosi karena melihat mata dan wajah sedih Kana. ia tak menyangka ulah mantan pacar Kana, membuat Kana sesedih ini. Addan benar-benar tak terima wanita yang dicintainya disakiti oleh orang lain.
"....." Kana hanya diam tak menjawab pertanyaan Addan.
"Apa Brian.Mantan pacarmu?" Tanya Addan yang membuat Kana terkejut dan menatap mata Addan.
__ADS_1
"Iituuu....ituuuu, itu bukan urusanmu!." Ucap Kana dan melepaskan tangan Addan yang berada di bahunya dengan kasar lalu melenggang pergi balik ke kamarnya, ia tak jadi pergi ke dapur untuk minum karena moodnya mendadak hilang.
Addan hanya diam mematung di tempat sambil menatap ke arah lantai dengan kedua tangan terkepal kuat sehingga menampakkan urat-uratnya. Rahangnya mengeras menahan amarah, ia marah bukan karena sikap Kana padanya. Ia marah karena ulah mantan kekasih Kana yang sudah membuat Kana sedih seperti itu.
"Aku akan membuat kau membayar semuanya Brian. Dengan kau menyakiti dan membuat Kana bersedih, itu sama dengan kau mengajak ku berperang. Aku akan membuatmu merasakan hidup segan mati pun enggan." Ucap Addan dingin dengan tatapan mata tajam dan tangan yang terkepal semakin kuat.
...****************...
Keesokan harinya Kana pun juga cepat bangun dan pergi ke toko kue saat semua orang belum bangun.
Ia masih menghindari Addan, saat ini ia benar-benar tidak mau melihat wajah Addan.
Sore harinya Kana pun balik ke kediaman Nicolas, karena toko kuenya sudah ia tutup.
Hanya 6 menit saja Kana sudah tiba di kediaman Nicolas dengan menggunakan ojek online.
Saat Kana akan masuk kemarnya,ia dikejutkan oleh sebuah tarikan.
“Kamu…. Ada apalagi sih Addan” ucap Kana sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Addan di tangannya.
"Kenapa kamu cepat sekali pergi pagi tadi, kamu ingin menghindariku lagi?” Tanya Addan sedikit emosi.
”Kalau ia memangnya kenapa? Mau kamu apa sih Addan.“ Ucap Kana marah, tapi masih dengan suara yang lemah.
"Kamu ingin tau mau aku apa. Sekarang aku beritahu kamu , mau aku itu kamu Aku mencintai kamu Kana. Sangat mencintaimu!” ucap Addan sedikit berteriak namun tak mengganggu penghuni lainnya.
”Kamu…”Ucap Kana pun terputus karena tiba-tiba Addan mencium bibirnya, ciuman Addan semakin lama semakin menuntut ia menghisap dan ******* bibir Kana dengan Ganas, Kana pun memukul mukul bahu Addan namun ditahan oleh Addan, lama kelamaan Kana pun juga menikmati ciuman tersebut dan sesekali membalasnya.
Addan yang tersadar karena ia tak boleh kelewat batas dulu Addan pun menyudahi ciumannya, dan menempelkan keningnya dengan kening kana. Nafas mereka terengah-engah karena cumbuan yang dilakukan oleh Addan, Kana hanya bengong karena apa yang baru saja terjadi.
“Kana Ayo kita menikah ya? Aku akan menjagamu.Aku serius benar benar mencintai kamu. Dari kita bertemu sampai sekarang, sudah belasan tahun perasaanku padamu terpendam, posisi kamu tak pernah tergantikan di hatiku. Menikahlah denganku Kana” Ucap Addan dengan nada memohon, Kemudian berlutut dan mengeluarkan sebuah cincin berlian dan menyodorkannya kepada Kana.
Kana yang mendengarkan penuturan Addan pun tersadar dari lamuannya, ia syok, dan bingung. Kana masih diam mematung, Addan melamarnya. Kana sendiri tak memiliki perasaan apapun terhadap Addan, ia hanya menganggap Addan hanya sebagai adik tak lebih.
“ Aku...aakuu....aku tidak bisa Dan." Ucap Kana sedikit tergagap dan mengeluarkan peluh dingin dari dahinya.
"Kenapa? Apa karena kamu masih memikirkan pria itu." Ucap Addan datar.
"Bukan. bukan karena dia.." bantah Kana.
" Lalu?" Tanya Addan tak sabaran.
"Karena aku tak mencintai kamu, aku hanya menganggapmu sebatas adik, tak lebih. Aku benar-benar minta maaf Addan.” Ucap Kana sambil mendorong pelan cincin yang disodorkan Addan padanya.
Kana segera masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Addan yang mendengar penolakan Kana diam terpaku dan mengepalkan tangannya.
Ia kecewa, kesal dan marah. Addan yang tak dapat menahan rasa sedih dan kecewanya merosot ke lantai di depan pintu kamar Kana , matanya memerah menahan amarah sambil menatap pintu kamar Kana.
Apa kurangnya, ia kaya, tampan, tinggi dan pasti setia dan akan menyayangi Kana seumur hidup itulah janjinya. Tapi apa? Ia malah di tolak mentah-mentah.
Tak lama kemudian Addan pun beranjak pergi menuju kamarnya, setibanya di kamar Addan pun menghempaskan seluruh barang-barangnya kelantai, bunyi pecahan kaca memenuhi ruang tersebut.Tapi tak terlalu terdengar sampai keluar.
__ADS_1
”Aku Addandra Nicolas tak akan pernah melepaskan kamu Kana, Aku akan selalu berusaha agar kamu bisa menerima aku di hatimu."Ucap Addan dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang tajam menahan amarah.
Bersambung...