
Di dalam kamar, tampak Addan yang sedang melakukan panggilan dengan seseorang. Sebelah tangannya masuk kedalam saku celananya, matanya memandang foto pernikahannya dengan Kana yang terpajang dinding.
"Untuk sementara Hobby akan membantuku di perusahaan, lebih baik kau perhatikan kondisi istrimu dirumah."Ucapnya.
"Beri saya waktu satu minggu Bos."Pinta Soka.
Addan menghela nafas, lalu mengalihkan tatapannya ke arah jendela. Ia menatap dedaunan yang terbang diterpa angin sepoi-sepoi.
"Baiklah, kau ku beri cuti satu minggu."Putusnya.
"Lalu siapa yang mengawasi Nyonya Bos? Apa perlu saya sewa bodyguard perempuan?"Tanya Soka.
Addan menyisir rambutnya dengan jari tangan.
"Tidak perlu. Aku tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain, selain Sasha tidak ada satu perempuan pun yang bisa ku percaya menjadi bodyguard istriku."Tegasnya.
"Lalu siapa yang anda percayakan Bos? Saat ini begitu banyak musuh Anda yang mengincar Nyonya dan bayinya."
Lumayan lama Addan berpikir, hingga akhirnya terlintas satu nama di benaknya...
"Ghani! Akan kupercayakan padanya."
......................
Tuk...Tuk...Tuk...
Dengan alat pembantu berjalan (walker) Addan menuruni anak tangga secara pelan-pelan, tanpa dibantu oleh siapapun. Sedari tadi dia menunggu Kana di dalam kamar, namun yang ditunggu tak kunjung datang, hingga ia pun memutuskan turun kelantai bawah untuk mengecek keberadaan sang istri.
Setibanya dibawah, Addan mencari istrinya kesana kemari.Tiba-tiba ia mendengar suara yang amat dikenalnya yang berasal dari dapur, ia pun menghampiri suara itu.
"Kenapa Nenek ada disini? Lalu, siapa perempuan yang disebelahnya itu?"Gumam Addan pelan.
Mata Addan beralih ke arah wastafel, alangkah terkejutnya dia melihat istrinya mencuci begitu banyak gelas dan piring yang menumpuk. Dan hal itu disaksikan oleh Neneknya, bahkan Neneknya itu seperti seorang komando yang memberikan perintah kepada sang istri. Tak ada sedikitpun rasa iba yang terpancar dari raut wajah si Nenek, bahkan dengan teganya ia memarahi Kana, apabila ia mengeluh kesakitan ketika perutnya terasa kram.
Seketika amarah Addan memuncak melihat pemandangan itu. Dimana semua pembantu yang ia beri pekerjaan? kenapa membiarkan istrinya bekerja layaknya seperti pembantu itu.
Brak!!
Addan memukul meja dapur minimalis dengan cukup kuat, sehingga aksinya itu mengundang semua orang yang mendengarnya. Nenek Suci dan Belinda terperanjat kaget ketika mendengar suara yang dibuatnya.
"Dimana semua pembantu di rumah ini?!"Teriak Addan yang emosi, matanya menelisik area dapur, mencari sosok para pembantu yang bekerja di rumahnya.
Astaga! Apa dia melihat semuanya?, batin Nenek Suci dengan hati yang diselimuti perasaan cemas.
Nenek Suci berjalan mendekat ke arah Addan, tangannya ragu-ragu memegang pundak cucunya itu. "Dan, kamu kenapa disini?"Tanya Nenek Suci yang gugup.
Addan diam, ia tidak menjawab pertanyaan Nenek Suci, karena dia juga merasa sangat marah akan perlakuan Neneknya terhadap Kana. Di diamkan oleh sang cucu, Nenek Suci melampiaskan kekesalannya dengan menatap Kana penuh benci, padahal Kana tidak berbuat apa-apa saat itu.
"Kemana semua pembantu dirumah ini?!"Teriak Addan lagi, kali ini suaranya lebih keras.
"Ah! Mas...?"Kana kaget sekaligus takut melihat ekspresi suaminya yang menyeramkan menurutnya. Ia meletakkan gelas yang belum sempat dibilasnya, lalu berjalan pelan menghampiri Addan.
"Mas..."Panggilnya sambil memegang lengan Addan, dengan maksud menenangkan sang suami."Kamu kenapa? kok tiba-tiba marah."Tanya Kana lembut. Kana tidak tau apa yang membuat suaminya itu tiba-tiba marah, karena matanya hanya terfokus pada piring dan gelas kotor di wastafel.
Semua pembantu yang tadi undur diri, kini menampakkan batang hidungnya setelah mendengar suara teriakan majikannya. Addan menatap mereka satu- persatu dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh amarah. Gimana tidak marah, istrinya yang sedang hamil dibiarkan begitu saja melakukan pekerjaan yang terbilang cukup berat untuknya. Lagi pula apa gunanya mempekerjakan banyak asisten rumah tangga, kalau pada akhirnya sang Nyonya rumahlah yang melakukannya.
"Kalian saya gaji mahal, tapi kalian malah membiarkan istri saya bekerja seperti pembantu! Apa kalian sudah bosan bekerja disini?"
__ADS_1
Mereka semua hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani menyaut. Dan diamnya mereka, membuat Addan semakin tambah emosi.
Plak!
Addan menghempaskan walker (alat bantu berjalan) ke lantai begitu saja. Semua yang berada di dapur terkejut dan bahkan ada yang beringsut mundur ke belakang, menghindari amukan Addan yang kapan saja tak terkontrol.
"Apa kalian tidak punya telinga? atau kalian itu bisu."Makinya. Semua pembantu semakin menundukkan kepalanya.
Bi Isah memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kepada Tuan mudanya itu, walaupun nantinya si Nyonya besar bakal marah dan mengamuk padanya. Ia lebih memilih dimarahi Nenek Suci dibandingkan dimarahi oleh Addan yang memiliki emosional dahsyat, dan tentunya berakhir dengan dirinya dipecat. "Tu tu tu...an, kami..."
Nenek Suci berkeringat dingin, ketika Bi Isah akan mulai berbicara.
"Addan, kamu kenapa marah-marah tidak jelas seperti ini? Lagi pula istrimu kelihatannya tidak keberatan mengerjakan semuanya."Nenek Suci langsung memotong ucapan Bi Isah, karena tidak mau kalau Addan mengetahui bahwa dialah yang menyuruh semua pembantu meninggalkan pekerjaan mereka. Kemudian membiarkan Kana membereskan dapur, bahkan meminta Kana memasak makanan yang cukup banyak.
Addan menatap Nenek Suci."Marah-marah tidak jelas? Nek, Kana sedang hamil, seharusnya saat ini ia istirahat. Bukan bekerja seperti ini."Nenek Suci mendelik mendengar perkataan cucunya itu.
Addan menarik tangan Kana untuk lebih dekat dengannya."Dan kamu, kenapa kamu melakukan pekerjaan ini. Bukankah Dokter Sammy sudah menegaskan untuk banyak istirahat."Ujarnya datar, jangan lupa dengan tatapannya yang masih sama seperti tadi, tatapan tajam itu seperti siap memangsa siapa saja yang dilihatnya. Kana tentu merasa takut, tubuhnya bergetar kecil ketika matanya bersibobrok dengan mata elang sang suami.
Tak dapat dipungkiri, meski rasa cinta Addan terhadap Kana begitu besar. Tetap saja sifat tempramentalnya sulit di kendalikan ketika emosinya sudah meledak-ledak, tapi tipe tempramental Addan tidak sampai ke tahap penganiayaan.
Belinda memutar bola matanya malas, tanganya bersidekap di dada."Berlebihan banget sih!"Gumam nya pelan, dan ucapannya pun hanya bisa didengar olehnya sendiri.
Addan tersadar ketika menatap mata Kana yang sudah berkaca-kaca, ia memijit pangkal hidungnya. Lalu kembali menatap Kana, dan kali ini tatapannya lembut seperti yang ia tunjukkan di depan sang istri biasanya. Tangannya terulur mengusap pipi Kana dengan lembut, seraya berkata."Maaf...Mas ngak bermaksud memarahi kamu, lain kali jangan ulangi lagi! Sekarang kamu istirahat di kamar ya?"Bisik Addan, nafas hangatnya menerpa kulit wajah Kana yang kini sudah merona. Kana membalas ucapan Addan hanya dengan menganggukkan kepalanya.
Tatapan Addan beralih kepada para pembantu yang masih berdiri disamping Nenek Suci.
"Lanjutkan pekerjaan kalian, kalian di gaji bukan untuk bersantai. Nanti...saya akan memberi perhitungan kepada kalian semua."Ucapnya dengan penuh penekanan kepada semua pembantu.
Kemudian melirik Nenek Suci."Untuk Nenek, mari kita mengobrol di ruang tamu."Sambungnya.
...****************...
Di ruang tamu, Addan, Nenek Suci dan Belinda duduk di sofa. Sepertinya Addan ingin mempertanyakan perihal Nenek Suci yang datang tanpa kabar dan kehadiran Belinda dirumah mereka.
"Nenek datang kemari bersama kakek?"Tanya Addan, dan di jawab anggukan oleh Nenek Suci.
"Tapi Kakek tidak terlihat, dimana beliau sekarang?"Tanya Addan lagi.
"Dia bilang mau berkunjung ke apartemen Lano. Nanti sore dia bakal kemari."Jawab Nenek Suci.
"Oh iya, Kami berencana mulai sekarang akan menetap dan tinggal disini."Sambungnya.
"Terserah Nenek, ini kan rumah kakek."Jawab Addan santai.
Pertanyaan yang sedari tadi bersarang di pikirannya, akhirnya terucapkan.
"Kamu kok sudah berada dirumah? Bukankah seharusnya kamu dirawat dirumah sakit." Tanya Nenek Suci.
Alis Addan sedikit terangkat, ada kecurigaan yang dia rasakan terhadap Neneknya itu.
"Aku tidak nyaman berada disana, aku pun sudah hampir sembuh jadi tidak perlu dirawat di Rumah Sakit."Jawab Addan santai.
"Apa istrimu becus merawatmu? Nanti bukannya sembuh tapi sakitmu malah bertambah parah."Sinisnya.
Addan mengerutkan keningnya.
"Apa maksud Nenek berkata demikian? Justru karena istriku, aku cepat pulih. Jangan buat diriku marah akan perkataan Nenek itu, perbuatan Nenek yang tadi saja belum kumaafkan."Ujar Addan dengan nada sedikit tinggi, dan menatap neneknya tajam.
__ADS_1
"Kamu membela wanita itu, dibanding Nenekmu sendiri."Balas Nenek Suci geram.
"Bukan membela, tapi aku mencoba melindungi istriku dari suatu hal yang akan mengancam nyawanya."
"Ck! Kamu takut istrimu bernasib sama dengan mantan pacar Lani?"Nenek Suci berdecih mendengar perkataan Addan yang seakan menuduh dan menghakiminya.
"Semua orang pasti akan takut kalau orang yang dicintainya terluka. Dan aku pun begitu, ketakutanku akan ada, apabila istriku tidak lagi di sisiku."
"Ck!"Nenek Suci berdecih lagi.
"Siapa wanita asing ini? Nenek tahukan, kalau orang asing yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kita tidak diizinkan masuk kedalam rumah ini."Tunjuk Addan.
Nenek Suci mengikuti arah tunjuk Addan.
"Linda bukanlah orang lain, sebentar lagi dia kan menjadi bagian dari keluarga kita, keluarga Nicolas."
Addan mengerutkan dahi. "Bagian dari keluarga? Maksud Nenek apa, Nenek mau mengadopsinya?"
"Bukan, dia akan menjadi Nyonya rumah ini. Setelah istrimu yang tidak berguna itu melahirkan, ceraikan dia. Lalu menikahlah dengan Linda."Ucap Nenek Suci dengan entengnya, tanpa basa-basi langsung mengutarakan keinginannya terhadap sang cucu.
"Apa?!"Addan kaget.
Praang!...
Ketiga gelas yang berisi teh hangat ditangan Kana, jatuh berderai dilantai. Air matanya mengalir begitu saja, padahal tadi dia sudah mempersiapkan diri agar tidak menangis, tapi tetap saja kepedihan dihatinya mengalahkan ketegarannya.
Seketika Addan berdiri, kemudian menghampiri Kana yang sedang susah payah berjongkok karena perutnya yang agak besar, dan hendak memilih pecahan gelas dilantai.
Addan menahan kedua bahu Kana.
"Dek...Bukankah sudah Mas minta kamu istirahat, siapa yang menyuruhmu membuatkan teh?"
"Hm...Maaf, gelasnya pecah Mas."
"Jangan pikirkan gelasnya, berdirilah...Biar Bibi Isah yang membersihkan."Sambil memeluk bahu Kana, Addan membantu Kana berdiri.
"Bi Isah...!"Teriak Addan.
"Ya Tuan?"Sahut Bi Isah, sambil berlari menghampiri Addan.
"Tolong bersihkan pecahan gelas ini."
"Baik Tuan."
Addan menatap Neneknya tajam.
"Apa aku tidak salah dengar? Nenek ingin aku menikahi wanita ini, apa Nenek sudah tidak waras?"Bentak Addan, matanya pun melotot menatap Nenek Suci.
"Nenek melakukan ini demi kamu, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik. Bukannya berterimakasih, kamu malah membentak Nenek."Balas Nenek Suci kesal.
Nenek menatap Kana dengan penuh kebencian.
"Pasti kamu, pasti kamukan...yang mempengaruhi cucu saya hingga ia bersikap kurang ajar seperti ini, dasar wanita tak tau diri."Sambung Nenek Suci dan menunjuk-nunjuk wajah Kana yang tertunduk.
"Cukup!..."
Bersambung...
__ADS_1