
Diruang kerjanya, seperti biasa Addan memantau kegiatan istrinya melalui layar monitornya. Bibirnya sedikit tertarik ke atas ketika teringat akan kejadian semalam, rasanya ia begitu ingin mengulangnya kembali. Addan memejamkan kedua matanya dan menggigit bibirnya dengan gemas, seraya mengingat kejadian panas tadi malam. Sentuhan-sentuhan sensual nan hangat tangan Kana, masih terasa dipermukaan kulitnya.
"Oi! Kau memanggilku kemari, apa cuman untuk menyaksikan kau yang sedang tersenyum-senyum sendiri?"tanya Hobby dengan nada jutek seraya berpangku tangan. Ternyata diruang itu Addan tidaklah sendiri, ia ditemani Hobby yang sedari tadi berdiri di hadapannya.
"Hm?"Addan perlahan-lahan membuka matanya, kemudian menegakkan badannya. Dengan senyuman yang masih tampak sama seperti tadi, Addan menjawab perkataan Hobby, "tentu tidak. Ada hal penting yang ingin ku sampaikan kepadamu."
Hobby menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik,"kau kesambet ya?...Hmm...atau jangan-jangan kau dapat jatah dari istrimu?"tebak Hobby dengan nada penuh semangat, membicarakan persoalan ranjang ia lah ahlinya.
Addan yang mendengar ucapan Hobby spontan membelalakkan matanya, wajahnya pun memerah karena malu.
Brak!
Hobby memukul meja dengan cukup keras, hingga membuat Addan sedikit terperanjat karena kaget.
"Nah...tebakanku benar. Uhuy besimu yang hampir berkarat akhirnya ditempa juga, Dan. Hahahaha..."ledek Hobby dan tertawa terpingkal-pingkal, entah dimana letak lucunya menurut Addan.
"Ngak lucu!"balasnya kesal.
"Sudah berapa bulan kau tidak main kuda-kudaan dengan Kana?"tanya Hobby penasaran, ingin sekali ia mengetahui keganasan sepasang suami istri itu diatas ranjang.
"Diam kau sialan!"Addan memukul kepala Hobby dengan map cukup keras, sehingga si empunya mengaduh kesakitan.
"Auhh...sakit!...Grrr suka sekali kau melakukan kekerasan terhadapku, Dan!"pekik Hobby sambil memelototkan matanya kearah Addan.
"Nih, bonus!"kali ini Addan menjitak kening Hobby dengan lebih kuat.
"Auch!bre***** kau!!"maki Hobby.
~~
Beberapa menit kemudian, kini mereka duduk berhadapan diatas sofa di dalam ruang kerja Addan. Tidak ada lagi candaan seperti tadi, kini mereka berbicara dengan serius.
"Kau ingat kan pria ini?"ujar Hobby seraya memperlihatkan foto seorang pria kehadapan Addan.
Addan meraih foto ditangan Hobby, kemudian memperhatikan foto itu seksama.
"Pria ini...bukankah, Asisten pria bertopeng itu?"
"Ya! Aku berencana akan mengajaknya bekerjasama, membantu kita menangkap pria bertopeng itu."
Addan mengerutkan alisnya,"bukankah dia sudah mati?"
Hobby menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Tidak, dia masih hidup. Sekarang, pria itu dirawat dirumah sakit. Dua hari yang lalu dia melangsungkan operasi pengangkatan peluru yang tertanam didada kanannya. Saat ini dia pasti sudah sadar."
Sejenak Addan menghela nafas, lalu menatap Hobby dengan tatapan serius."Jangan asal mengajak orang berkomplot, bagaimana kalau dia berkhianat hm?"
"Aku jamin...dia tidak akan berkhianat, kalau berani dia berkhianat, kekasihnya yang tercintalah menanggung akibatnya."balasnya dengan penuh keyakinan.
Addan menggeleng-gelengkan kepalanya lemah sambil tersenyum tipis."Kau selalu menggunakan perempuan sebagai media untuk mengancam."
Hobby menjentikkan jarinya, kemudian berkata,
"seorang pria kalau sudah jatuh cinta, perempuan lah kelemahannya. Contohnya seperti dirimu, Kana adalah kelemahanmu, sehingga musuh-musuhmu berbondong-bondong menargetkannya."
Tiba-tiba obrolan mereka dihentikan oleh sebuah ketukan pintu, dari luar. Dan itu membuat mereka secara spontan menoleh ke arah pintu.
Tok tok tok
"Ck! Siapa?"tanya Hobby dengan suara lantang.
__ADS_1
"Saya Tuan, Feni. Saya membawakan kopi atas perintah Nyonya muda untuk Anda berdua,"sahutnya dari balik pintu.
Hobby sejenak mengalihkan tatapannya ke arah Addan,"siapa Dan, pembantumu?"
"Iya, biarkan dia masuk,"ucap Addan dan diangguki oleh Hobby.
"Ok, masuk!"perintah Hobby.
Feni membuka pintu, kemudian ia masuk. Ditangannya membawa sebuah baki yang berisi dua buah cangkir kopi.
"Tuan...ini kopinya."Feni meletakkan satu persatu cangkir diatas meja, didepan Addan dan Hobby.
"Terimakasih!"ujar Hobby seraya tersenyum ramah,
Feni menganggukan kepala, lalu mengangkat kepalanya yang tertunduk untuk menatap lawan bicaranya."Sama-sama...Tu...an"Matanya terbalalak ketika bertatapan dengan pemilik mata coklat itu.
Dengan cepat Feni menundukkan kepalanya lagi, agar Hobby tidak melihat wajahnya dengan jelas.
"Eh?"Hobby bingung saat melihat tingkah Feni yang terlihat ketakutan setelah bertatapan dengannya, itu membuatnya sedikit curiga terhadap pembantu baru sahabatnya itu.
"Wanita ini, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?...Hmm...gerak-geriknya pun sedikit mencurigakan, tingkahnya se akan-akan keberadaanku adalah ancaman baginya, dalam menjalankan misinya."gumamnya, tanpa melepaskan pandangannya ke arah Feni.
Duhh...jangan sampai dia mengenaliku...Sebaiknya aku keluar saja dari ruangan ini, batin Feni, wajahnya memucat ketika di tatap menyelidik oleh Hobby. "Kalau begitu sa...saya...undur diri Tuan-tuan. Kalau ada yang Anda butuhkan, panggil saja saya,"suara Feni sedikit bergetar ketika mengucapkan kalimat itu. Ia membungkukkan badannya sedikit kaku, kemudian dengan cepat membalikkan badan.
Baru dua langkah Feni melangkahkan kaki, Hobby sudah lebih dulu mencegatnya.
"Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"tanya Hobby sambil menahan pergelangan tangan Feni.
Astaga...gimana ini...Aku jawab saja tidak pernah, batin Feni gugup, tangannya pun berkeringat dingin.
Feni mengalihkan pandangannya ke arah sudut ruangan agar matanya tidak bersibobrok dengan mata tajam milik Hobby, yang menatapnya penuh selidik.
"Eh? Te...tentu tidak pernah Tuan, sa__saya baru pertama kali ini berjumpa dengan Anda."ujarnya gugup seraya berusaha melepaskan bergelangan tangannya dari cengkaraman Hobby.
Huffh...akhirnya selamat!, batin Feni.
"Baik Tuan, permisi...."
"Tunggu!"Kali ini Addan yang mencegatnya.
"Ah, aa...iya Tuan...apa ada yang Anda butuhkan?"tanya Feni tergagap-gagap.
"Tolong kamu panggilkan istri saya kemari."
"Baik Tuan!...apa hanya itu saja Tuan?"
"Ya,"jawabnya singkat.
"Permisi...Tuan."Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Feni benar-benar pergi dari hadapan Addan dan Hobby.
~~
"Aku sepertinya pernah melihat wanita itu Dan....Arghh...dimana ya?" Hobby mengacak kasar rambutnya, sehingga rambutnya terlihat sedikit berantakan,"entah kenapa perasaanku tak enak ketika melihatnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada topan, dan tidak ada pula geledek. Aku tiba-tiba mencurigai wanita itu. Apa mungkin... dia...jeng-jeng...."sambungnya dengan sedikit candaan.
"Apa mungkin salah satu wanita penghangat ranjangmu?"ujar Addan asal tebak, kemudian terkekeh.
"Hah!? Ya enggaklah...wanitaku ngak ada satupun yang berpenampilan seperti itu. Norak banget!"Hobby memanyunkan bibirnya, namun beberapa detik kemudian wajahnya berseri-seri lagi."Eh! tadi aku lihat sekilas, semangkanya gede juga ya, ngak papa deh, lumayan jugalah...hahahaha,"tambahnya sambil menaik- turunkan kedua alis matanya, dan tertawa cekikikan.
Addan memutar bola matanya malas,
"Ck! Otakmu yang kotor itu, tolong kau cuci dengan deterjen sebelum bertemu denganku."
__ADS_1
"Hallah...sok-sok an kau...tadi kau menghayal hal -hal kotorkan? ngaku kau!"cibir Hobby, "masalah percintaanmu dengan istrimu juga meminta pendapat padaku,"sambungnya.
"Hufhh..."Addan menghela nafas panjang, ia mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan lalu menoyor kepala Hobby cukup kuat.
"Omonganmu itu sama sekali tidak berfaedah. Gara-gara saran gilamu itu, Kana membenci diriku."
"Hei! Ini yang ketiga kalinya kau menoyor kepalaku, Sialan...."geramnya.
Addan hanya mengedikkan bahunya, mengacuhkan Hobby yang tampak menahan emosi sambil mengepalkan tangan ke udara.
~
"Ck! Lupakan... bahas lah hal yang penting. Kita harus cepat-cepat menangkap pelakunya, agar nyawa Kana dan anakku tidak terancam lagi."ujar Addan serius.
"Hufh...Ok-ok Bos!"Sahut Hobby, "oh iya, masalah kemaren. Bagaimana? kau apakan pria yang hampir melecehkan istrimu?"tanyanya.
"Soka yang menanganinya. Entah bagaimana perkembangannya sekarang."
"Wah...kalau ditangannya, pasti pria itu..."Hobby menjeda ucapannya, kemudian bergidik ngeri ketika membayangkan hal yang mungkin saja dialami pria itu, "hiii...pasti dia mati dalam keadaan menggenaskan, anak buah Soka kan kanibal..."
Addan menepok jidatnya, "mereka tidak makan manusia, mereka merupakan sekelompok orang yang memiliki kepribadian psikopat yang gemar menyiksa."jelas Addan dan diangguki oleh Hobby.
"Hmm...istrimu mengalami traumakah?"
"...tidak, dia bahkan tidak ingat sedikitpun kejadian itu. Sekarang dia sedang marah padaku."
"Jadi...kalian melakukannya tidak saling sadar...?"
"Hm, ya begitulah..."balasnya singkat.
"...pfft....berarti kau melakukan pemerkosaan lagi terhadap istrimu? Dasar cabul!"ejek Hobby lalu membekap mulutnya, menahan tawa.
Puk! Kali ini Addan melempar map yang ditangannya tepat diwajah Hobby.
"jangan fitnah kau..."geramnya.
...****************...
Ctas!
"Akh..."jerit seorang pria yang dirantai diruang yang amat gelap, ia dicambuk dengan cemeti yang terbuat dari kulit hewan oleh anak buah Soka yang berbadan amat kekar.
Soka mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja.
"Ini pertanyaan saya yang terakhir kalinya. Siapa yang telah membayarmu untuk menjebak Nyonya muda?"tanyanya, lalu menjambak rambut pria itu dengan kasar hingga pria itu berteriak kesakitan.
"Cuih!"Pria itu meludahi wajah Soka, "Aku tidak akan memberitahumu, binatang!"pekiknya dengan tatapan menantang kearah Soka.
Soka mengelap kasar air liur pria itu yang menempel diwajahnya,"Hahaha..."Soka tertawa, mendengar suara tawa Soka membuat semua anak buahnya yang berbadan kekar, bergidik ngeri. Tak terkecuali pria yang terikat diatas kursi di hadapannya itu. "Ohhh....Ok! Ternyata kau sudah tidak menginginkan nyawamu lagi."sambungnya.
"Sebentar lagi istri Bosmu akan mati! Percuma kalian bersusah payah melindunginya, cepat atau lambat istri beserta anak yang dikandungnya ma__"
Buk! Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Soka lebih dulu menendang perutnya dengan sangat kuat dan penuh tenaga.
"Ugh...uhuk!uhuk!"pria itu terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
"Bereskan dia...tidak ada gunanya bertanya kepadanya, membuang tenaga saja."
"Baik Bos"sahut bawahannya.
Ctas! Ctas!
__ADS_1
"Akhhhh...."jerit pria itu semakin keras ketika cemeti itu sudah merobek kulitnya hingga darahnya berceceran dilantai.
Bersambung...