You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Permainan Hidup dan Mati


__ADS_3

KLIK (bunyi saklar lampu)


Seketika ruangan yang keadaannya yang lumayan gelap, menjadi terang benderang.


Prok prok prok (suara tepuk tangan Jane)


"Hahahahaha...kau masuk kedalam perangkapku."Jane tertawa dan mengedipkan matanya kearah Addan.


Addan yang sadar telah masuk perangkap memperhatikan keadaan di sekelilingnya, ternyata ia sudah dikelilingi oleh beberapa pria berbadan kekar.


"Ternyata tuan Nicolas yang terkenal akan kekejaman, kepandaian dan kecerdikannya, hanya karena cinta ia bisa berubah menjadi pria bodoh. Kenapa kau tidak teliti sama sekali...ck ck ck."Ucap Jane dengan raut wajah yang sok prihatin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Seret dia kemari!"Ucapnya lagi.


Tiba-tiba seorang pria berbadan kekar suruhan Jane menyeret Hoby yang telah dipukuli hingga babak belur.


"Hoby..."gumam Addan menatap iba kearah Hoby. Ia tidak menyangka kalau persembunyian diketahui.


"Dan..."Hoby dengan suara lemah, wajahnya dipenuhi luka dan darah.


"Ternyata sedari tadi mereka menyadari kehadiran kami."Addan membatin.


"Apa kamu sudah membawakan apa yang aku minta? sertifikat rumah, surat-surat pengalihan perusahaan dan harta yang akan kamu jadikan sebagai jaminan nyawa istri dan anakmu?"


"Semua yang kau inginkan berada dalam tas ini."Addan mengangkat tas yang bewarna hitam di tangannya.


"Letakkan dilantai."Ucap Jane.


"Aku akan meletakkannya, kalau kau melepaskan Istriku."


Jane memutar bola matanya malas kemudian melirik ke arah pria berbadan besar yang berdiri di belakang Addan.


“Ck, rebut tas ditanganya!”Perintah Jane kepada orang suruhannya.


“Baik Nona” Saut salah satu pria berbadan kekar itu.


Pria itu menarik tas ditangan Addan, namun dengan cepat Addan menghindar lalu memukul bagian punggung pria itu dengan siku tangannya hingga pria itu jatuh tersungkur dan wajahnya pun menyentuh tanah.


“Sial”Pria suruhan Jane itu merasa kesal, ia bangkit kemudian menyerang Addan. Namun, Addan dengan mudahnya menangkis serangan pria itu hanya dengan satu tangan. Kemudian Addan memberi pukulan pada perut pria itu hingga darah menyembul dari mulutnya, karena saking kerasnya pukulan yang Addan berikan. Tidak sampai disitu saja, Addan juga menendang wajah pria itu sehingga ia terkapar tak sadarkan diri seketika.


“Jika kalian ingin bernasib sama seperti pria ini, maka majulah!”Ucap Addan menantang semua suruhan Jane, sambil melipat lengan kemejanya sampai ke siku.


Melihat kegesitan dan kehebatan Addan dalam bertarung, Jane merasa sangat kesal, yang bisa ia lakukan hanya menggigit jari.


“Sialan, petarung yang dibayar Mr. Gone. Begitu mudahnya dikalahkan oleh bajingan ini.”Jane membatin.


“Maju semuanya!”Teriak Jane yang kesal.


Semua pria berbadan besar dan kekar yang mengelilingi Addan maju secara bersamaan, akan tetapi sebelum mereka akan menyerang Addan, tiba- tiba dihentikan oleh seseorang yang datang entah darimana, memakai jubah hitam dan wajahnya pun tertutup dengan topeng.


“Jangan terburu-buru Jane, jangan bertindak seperti pengecut. Kita harus bertindak adil, bagaimana kalau kita melakukan suatu permainan seru.”Ucap orang berjubah hitam itu.


“Maaf Mister…”Ucap Jane dengan kepala tertunduk.


“Kalian semua mundur.”Perintah orang berjubah hitam kepada para pria berbadan kekar dan besar itu.


“Baik Bos!”Seru mereka bersamaan.


Addan menolehkan kepalanya ke arah Kana yang terikat dikursi. Hatinya terasa tersayat-sayat melihat keadaan sang istri yang memprihatinkan, kedua pipi Kana memerah dan sedikit bengkak, dari kepala sampai kaki basah kuyup, rambut yang berantakan dan jejak airmata yang masih membekas dipipinya.


"Kana..."Panggil Addan dengan suara bergetar.


Kana mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, mereka pun saling bertatapan. Kana tersenyum melihat Addan yang datang menyelamatkannya.


"Mas..."Saut Kana dengan raut bahagia sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


Addan hendak melangkahkan kakinya ke arah Kana, namun dicegat oleh beberapa pria berbadan kekar dan besar tadi.


"Minggir! Jangan menghalangi jalanku."Teriak Addan marah.


"Jangan terburu-buru...Mari kita bermain suatu permainan yang seru, sebentar."Saut orang berjubah hitam atau yang dipanggil dengan Mr. Gone oleh Jane.


"Kau pikir, kedatanganku kemari untuk bermain-main denganmu?"Geramnya dan menatap Mr. Gone dengan tajam.


"Ya...Kalau tidak mau ya sudah! Kau sendiri yang akan menyesal karena itu satu-satunya cara untuk membebaskan istrimu, Tuan Addan..."


Prok prok (tepukan tangan Mr. Gone)


Datanglah tiga pria menghampiri Kana, mereka melepaskan semua ikatan Kana dikursi . Kemudian melilit tubuh Kana dengan tali yang ukurannya lebih besar, kemudian menarik Kana keatas hingga mecapai ketinggian 20 meter.


“KYAA....”Pekik Kana histeris sambil menangis, ia takut dengan ketinggian.


“Brengsek!! Apa yang kau lakukan sialan? Lepaskan istriku. Kalau tidak, aku tidak segan-segan membunuh kalian semua”Teriak Addan yang sangat marah.


“Hahahaha, tenang…tenang tuan Addan, ini cuman sementara kalau kau bisa menentukan pilihan diantara keenam kotak itu (sambil menunjuk troli yang berada disamping Rafael). Semakin cepat kau menentukan pilihan yang tepat maka semakin cepat istrimu turun. Akan tetapi apakah turunnya dalam keadaan terjun dari atas atau turun secara pelan-pelan? Itu semua tergantung padamu, kalau kau salah memilih kotak maka istrimu langsung terjun kebawah, dan….bushh…death. Hahahaha”


"Jika kamu tidak menuruti apa yang dikatakan Mister, aku akan menembak istrimu. Dan juga minta semua anak buahmu untuk mundur semuanya!"Ancam Jane sambil mengarahkan pistol keatas, kearah Kana terikat dan tergantung di udara.


Addan mengepalkan tangannya, dengan terpaksa ia menerima tantangan tersebut dan menyetujui permintaan Jane.


“Baiklah…aku terima. Tapi jika kalian coba-coba menipuku, maka kalian semua akan ku hancurkan saat itu juga.”


"Hahahahah Ok...Ok."Ucap Mr. Gone dengan nada mengejek.


"Hufff..."Helaan nafas Addan.


Addan mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh telinganya, ia berkomunikasi dengan Soka melalui earpiece yang terpasang ditelinga bagian belakang.


"Soka! Mundur dan keluarlah dari gedung ini."Perintah Addan.


"..."


"..."


"Cepat lakukan!!" Teriak Addan, lalu mencabut secara paksa earpiece yang terpasang ditelinganya.


"Apa kalian puas sekarang?"Ucap Addan sambil menatap Jane dan Mr.Gone dengan tatapan tajam dan penuh kebencian, matanya pun memerah karena menahan amarah.


"Tentu."Balas Jane dan tersenyum sinis.


"Mari kita mulai permainannya sekarang. Raf, bawa kehadapan Tuan Addan keenam kotak itu."


"Baik Bos!"Saut Rafael, tangan kanan Mr. Gone.


Ia mendorong sebuah troli hingga sampai dihadapan Addan, lalu ia kembali ke sisi Mr.Gone.


"Silahkan dipilih Tuan Addan, waktu anda cuman 15 detik saja untuk memilih satu kotak pertama."Ucap Mr. Gone


"Mmass....hiks hiks hiks."Panggil Kana sambil menangis sesenggukan. Ia berharap Addan bisa menyelamatkannya dan janin yang ada dalam perutnya.


Addan menatap Kana dengan tatapan sedih, perasaan menyesal timbul dalam hatinya, ia merasa telah gagal melindungi istri dan calon anaknya.


"Maafkan aku, karena diriku nyawa kamu dan anak kita terancam Kana. Percayalah padaku, aku pasti akan menyelamatkan kalian berdua meski nyawaku sebagai taruhannya."Batin Addan hingga tak sadar meneteskan airmata.


"Owh...melonkolis sekali...Bicara hati kehati dengan istri tercinta ya, ingin mengucapkan salam perpisahankah? Hahahahah...."Ujar Jane mengejek dan tertawa.


Mendengar perkataan Jane, Addan menatapnya dengan tatapan menghunus seperti memberi sebuah peringatan 'Setelah ini, walaupun kau memohon padaku aku tidak mengampuni nyawamu'. Begitulah arti dari tatapan yang Addan tunjukkan kepada Jane.


Jane yang melihat tatapan Addan yang sangat menakutkan, detak jantungnya berdetak kencang, tiba-tiba keringat dingin mengucur di wajahnya, entah kenapa setelah melihat tatapan Addan, ia merasa panik dan gelisah.


"Tenang Jane, tidak perlu takut. Setelah istrinya mati, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi."Jane membatin, mencoba meyakinkan dirinya dan menenangkan debaran jantungnya yang berdetak tak karuan karena takut.

__ADS_1


"Silahkan Tuan Addan, waktunya sudah berjalan. tinggal 10 detik lagi."Ucap Mr. Gone.


Addan melihat keenam kota dengan warna yang berbeda-beda yaitu warna hitam, kuning, hijau, merah, ungu dan biru.


"Ya Allah selamatkan istri dan calon anakku."Addan membatin, kemudian memejamkan kedua matanya. Dengan penuh keyakinan Addan memegang kotak bewarna kuning.


"Raf, tolong buka kotak yang dipilih Tuan Addan."Perintah Mr. Gone


"Baik Bos."Saut Rafael, ia pun membuka kotak tersebut yang ternyata berisi secarik kertas. Ia mengambil kertas tersebut " 300 centi meter (cm)"Rafael membaca tulisan yang tertera di kertas itu.


"Turunkan dia 3 meter."Perintah Mr. Gone kepada tiga pria yang memegang kendali tali yang mengikat Kana.


Mereka menurunkan Kana tiga meter.


"Sekarang anda beruntung Tuan Addan, tetapi tidak tahu apakah keberuntungan anda akan terus berlanjut. Berdoalah semoga istrimu tidak turun 17 meter. Hahahahaha"Ucap Mr. Gone dan tertawa.


"Sekarang pilihlah kotak selanjutnya."Ucapnya lagi.


Dengan perasaan sedikit gundah, Addan memegang kotak bewarna ungu. Rafael membuka kotak bewarna ungu yang berisi secarik kertas seperti tadi, ia pun membacanya "500 centi meter."


"Turun 5 meter"Ucap Mr.Gone


Jane merasa geram karena Addan yang begitu beruntung.


"Tak akan aku biarkan wanita ini hidup."Batin Jane kesal sambil menggenggam erat gagang pistol.


"Wah...anda sudah beruntung dua kali, tapi tidak tau selanjutnya."Ucap Mr. Gone.


Addan kembali memilih, ia memilih kotak bewarna hitam yang merupakan warna kesukaannya. Namun setelah dibuka oleh Rafael, ternyata isi dari kotak tersebut ialah satu buah pistol dan secarik kertas yang bertuliskan...


"Tembakan dengan mata tertutup."Ucap Rafael.


"Gantung patungnya!"Perintah Mr. Gone


Sebuah patung digantung, tepat berada disamping Kana.


"Tuan Addan, jangan sampai anda membunuh istri anda sendiri. Pakailah penutup mata ini."Ucap Mr. Gone, kemudian memberikan penutup mata ketangan Addan.


"Kau..."Geram Addan sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Ambil. Atau istri anda langsung diturunkan 12 meter."Ancamnya.


Dengan terpaksa Addan menerima tantangan itu.


"Ya Allah bantu lah aku...Selamatkanlah istriku."Addan memohon pertolongan Allah di dalam hati.


Addan menatap Kana yang tergantung setinggi 12 meter dengan perasaan cemas dan sedih, Kana yang terlihat pucat, pandangannya hanya lurus kedepan. Addan yang melihat istrinya yang seperti itu, hatinya terasa amat sakit.


Addan menutup kedua matanya dengan penutup mata, ia pun menggenggam pistol.


"Huffhh..."Dengan tangan sedikit gemetar Addan mengarahkan pistolnya ke arah Kana dan patung yang tergantung


DORR!!


Bersambung...


_


_


Apakah Kana selamat dari tembakan Addan? Hanya author dan Allah lah yang tahu.


Kalau penasaran apa yang terjadi selanjutnya, terus pantau karya author yang satu ini ya readers.


Jangan lupa like, favoritkan, vote & comment dari readers, agar author lebih semangat lagi updatenya.😊

__ADS_1


See you...🥰


__ADS_2